27 May 2013

Meditasi Waisak 2013 di Surabaya

Umat Buddha di berbagai wihara di Surabaya mengenang detik-detik Waisak 2557 BE, Sabtu 25 Mei 2013. Jemaat larut dalam meditasi dan keheningan. Di Vihara Dhammadipa, Jalan Pandegiling 260, Surabaya, upacara Trisuci Waisak dipimpin Bhante Viriya Daro.

Bhante Viriya mengatakan, Waisak merupakan upacara khusus untuk mengenang tiga peristiwa penting bagi umat Buddha. Yakni, kelahiran Siddharta Gautama, Gautama mencapai pencerahan sempurna menjadi Buddha, dan parinibana atau wafatna Sang Buddha. Ketiga peristiwa ini terjadi pada saat purnama sidhi yang tahun ini jatuh pada pukul 11.24 WIB.

Jauh sebelum puncak acara atau detik Waisak, umat sudah berkumpul di wihara yang berafiliasi dengan Majelis Theravada Indonesia itu. Mereka melakukan aksi sosial atau dana untuk konsumsi serta lilin-lilin kristal yang akan diletakkan di altar. Pada pukul 10.30 ritual dimulai dengan Padakkhina. Masing-masing jemaat memegang bunga teratai berjalan menuju ke vihara di lantai tiga.

Usai pujabakti, tibalah momentum yang paling ditunggu umat Buddha di seluruh dunia. Yakni meditasi untuk mengenang tiga peristiwa paling penting bagi umat Buddha itu. Ditandai dengan bunyi lonceng kecil, Bhante Viriya mengajak sekitar 300 umatnya untuk melakukan meditasi bersama.

Suasana benar-benar khusyuk. Bahkan, anak-anak kecil pun larut dalam semedi waisak. Meditasi berlangsung sekitar 15 menit. Bhante Viriya kemudian menyampaikan pesan Waisak 2557 bertajuk Keteladanan Dasar Kemuliaan. "Pesan ini juga disampaikan kepada umat Buddha di seluruh Indonesia," katanya.

Bhante Viriya menjelaskan, keteladanan itu meliputi keteladanan ibu, ayah, guru, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa. Ajaran agama harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. "Ajaran itu hanya konsep pikiran kalau belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Mengutip kata-kata Sang Buddha, Bhante Viriya mengatakan, biarpun seorang banyak membaca kitab suci, tapi tingkah lakunya tidak seperti ajarannya, maka orang itu seperti gembala yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tidak memperoleh manfaat dari kehidupan luhur.

Rohaniwan ini juga menekankan perjuangan hidup dengan penuh semangat. Hindarkan rasa malas. "Sia-sia orang berumur 100 tahun, tapi malas dan tidak bersemangat. Lebih baik orang yang hanya hidup sehari, tapi berjuangan dengan penuh semangat," kata Bhante Viriya.

Selamat Hari Waisak! Semoga semua makhluk berbahagia!

No comments:

Post a Comment