09 May 2013

Komunitas Jiyuan De Jiao Hui, Surabaya



Setelah keran kebebasan dibuka lebar usai reformasi, 1998, berbagai komunitas Tionghoa tumbuh subur di tanah air. salah satunya JIYUAN DE JIAO HUI. Diperkenalkan di Surabaya pada 2005, perkumpulan yang mencoba menggali kebajikan lama Tionghoa ini mulai mendapat simpati dari masyarakat.

Tanpa banyak promosi atau perekrutan anggota, saat ini Jiyuan De Jiao Hui sudah punya sekitar 500 anggota. Tak ada persyaratan berbelit-belit, iuran, proses penjenjangan, dan sebagainya. Siapa saja, tua muda, boleh bergabung.

"Jiyuan De Jiao Hui ini bukan sekte dari agama tertentu. Kita hanya ingin belajar budi pekerti atau moralitas," kata Yuan Li, salah satu pengurus Jiyuan De Jiao Hui, Surabaya, kepada saya.

Ketika pertama kali muncul di Surabaya, menurut wanita yang aktif dalam kegiatan sosial ini, peminatnya tak sampai 10 orang. Pun belum ada markas atau sekretariat. Karena itu, mereka bisa bertemu di mana saja sesuai kebutuhan. Perlahan-lahan Jiyuan De Jiao Hui mulai dikenal setelah aktif menggelar bakti sosial.

"Kita selalu menggandeng pihak lain seperti Rotary Club Surabaya Jembatan Merah dan Palang Merah Indonesia (PMI) agar bersama-sama mengadakan kegiatan sosial," kata Yuan Li.

Dari baksos-baksos pembagian sembako dan donor darah inilah, Jiyuan De Jiao Hui mulai dikenal oleh masyarakat. Ini karena spanduk woro-woro donor darah dan pembagian bingkisan bahan pokok selalu dipajang di pinggir Jalan Mayjen Sungkono, kompleks Darmo Park, Surabaya.

"Syukurlah, sekarang ini sudah sekitar 500 orang yang gabung. Ada yang aktif, ada yang pasif, atau hanya simpatisan. Satu dua kali datang, tapi kemudian tidak datang lagi karena kesibukan masing-masing," katanya.

Salah satu acara rutin di markas Jiyuan De Jiao Hui adalah minum teh bersama. Teh yang disajikan pun teh hijau asli Tiongkok dengan kualitas terbaik. Menyeduh cungkuocha ini pun tidak sembarangan. Ada meja khusus, cangkir, dan cara penyeduhan tertentu untuk mendapatkan rasa yang khas.


Nah, sambil menyeruput teh itulah, mereka saling diskusi, sharing, berbagi pengalaman tentang berbagai hal. "Kita juga membaca buku-buku dan diktat yang dikirim dari Malaysia," tuturnya.

Asal tahu saja, Jiyuan De Jiao Hui ini paling banyak anggotanya di Penang, Malaysia. Komunitas itu dikenal sebagai Che Hoon Khor Moral Uplifting Society di negara jiran itu. Perkumpulan ini dibawa dari Tiongkok ke Singapura pada 1954, kemudian dibawa ke Penang.

Dan, rupanya, komunitas 'bengkel moral' ini cepat populer di kalangan warga Tionghoa di Asia Tenggara. "Kita di Indonesia baru kenal tahun 2005," kata Yuan Li.

Yuan Li dan para aktivis Jiyuan De Jiao Hui mengaku tak punya target muluk-muluk selain belajar untuk lebih peduli sesama, rendah hati, selalu bersikap positif.

"Tidak ada satu manusia pun yang sempurna. Selalu rendah hati, tidak marah, jangan sombong. Orang yang sombong itu cepat atau lambat akan jatuh," kata Yuan Li mengutip salah satu prinsip Jiyuan De Jiao Hui, yakni Be Humble.

1 comment: