28 May 2013

Tabrak Lari Makin Mencemaskan

Sabtu pagi (18/5/2013), usai mengikuti senam Ling Tien Kung bersama komunitas Tionghoa di Lapangan Ole-Ole, Ngagel, Surabaya, saya berjalan kaki melewati Makam Bung Tomo dan Ngagel Jaya Selatan. Tiba-tiba... braaaak!!! Seorang remaja berjilbab terlempar dari sepeda motornya.
Jalan raya sangat ramai. Penuh sesak memang Jalan Ngagel Jaya Selatan setiap pagi dan sore. Orang seakan balapan agar tidak terlambat masuk kerja. Nah, sepeda motor baru si cewek terpisah sekitar lima meter. Saya dan dua orang lain cepat-cepat membantu si korban.
"Awakmu gak popo Ning? Kamu enggak apa-apa?" saya bertanya.
Si gadis itu meringis kesakitan. Dan.. langsung kami bopong ke pinggir jalan, depan toko bahan kimia. Syukurlah, nona ini pakai helm standar, lukanya pun tidak berat. Namun, dia tidak bisa berjalan karena perih luar biasa. Syukurlah, beberapa karyawati kantor sebelah mengajak korban untuk istirahat di kantor mereka. Sambil menunggu jemputan dari keluarga adik remaja itu.
Lantas, di mana laki-laki yang menyerempet korban dari belakang itu?
Ini pertanyaan konyol di Surabaya. Mana ada penabrak yang turun untuk membantu korbannya? Membawa ke rumah sakit atau memperbaiki kendaraan yang rusak? Yang terjadi selama ini di Surabaya, juga kota-kota lain di Jawa Timur, adalah TABRAK LARI.
Setelah menabrak orang, si penabrak lekas-lekas kabur agar tak diketahui orang. Tak peduli korban luka parah, bahkan meninggal dunia. Tabrak lari bahkan sudah menjadi budaya yang sangat merisaukan kita semua. Mudah-mudahan si penabrak lari itu tidak menjadi korban tabrak lari suatu ketika.
Begitulah. Jalan raya di Surabaya, juga kota-kota lain, makin padat dan merisaukan. Hanya Tuhan yang bisa melindungi kita. Sesama manusia pemakain kendaraan justru menjadi serigala bagi manusia lain. Menabrak orang, lalu cepat-cepat melarikan diri. Sangat sedikit penabrak lari yang bisa tertangkap karena polisi kita tidak punya kemampuan untuk mendeteksi pelaku penabrakan.
Di Surabaya hampir tak ada lagi kesempatan buat para penyeberang jalan. Tempat penyeberangan (zebra cross) pun tidak aman. Manusia-manusia di Surabaya tidak menghargai orang yang menyeberang jalan. Ketika ada orang menyeberang, di zebra cross, bukannya memperlembat laju kendaraan, pengendara-pengendara di Surabaya justru mempercepat lajunya.
"Orang Surabaya ini lebih takut menabrak kucing ketimbang manusia. Kalau ada kucing yang lewat, kendaraan-kendaraan pasti berhenti agar tidak membuat kucing itu mati," kata teman saya yang tinggal di Sidoarjo.
Ah, rupanya nyawa kucing lebih mahal daripada nyawa manusia!
Sudah begitu banyak korban tabrak lari, yang meninggal dunia, di Surabaya. Saya teringat Silvana, wartawan RRI Surabaya, yang tewas akibat tabrak lari di Jagir Wonokromo. Silvana meninggalkan dua anak yang belum dewasa. Di mana tanggung jawab dan rasa kemanusiaan para penabrak itu?
Ironisnya, hampir semua jalan utama di Surabaya menggunakan sistem satu arah, sehingga seharusnya lebih aman. Tabrak lari biasanya nyenggol atau nyerempet dari belakang. Karena itu, para korban tak akan pernah tahu wajah penabraknya. Juga tak pernah mengingat nomor motor atau mobil yang dipakai penabrak.

Nama sebagai Kata Ganti Orang Pertama

SAYA mau tamasya berkliling-kliling kota
Hendak melihat-lihat keramaian yang ada
SAYA panggilkan becak kereta tak berkuda
Becak becak coba bawa SAYA 

SAYA duduk sendiri dengan mengangkat kaki
Melihat dengan aksi ke kanan dan ke kiri
Lihat becakKU lari bagai takkan berhenti
Becak becak jalan hati-hati


Lagu BECAK ciptaan Ibu Sud, 1942


Vitalia Shesya, yang dikabarkan dekat dengan Ahmad Fathanah, jelas bukan anak-anak atau remaja belasan tahun. Tapi di televisi, TVOne, model ini selalu menyebut namanya, Vita, dan bukan menggunakan kata ganti orang pertama. Bukan hanya Vita, setiap hari kita menyaksikan sebagian besar artis kita juga punya gaya bahasa seperti itu.

“Vita sudah pakai uang itu untuk membeli… Tapi Vita usahin kalo memang harus dikembaliin ke KPK. Vita gak nyangka kalo jadinya kayak gini,” kira-kira begitulah ucapan Vitalia Shesya.

Dari dulu saya cenderung alergi mendengar orang dewasa menggunakan namanya, bukan kata ganti orang pertama. Bukan apa-apa. Guru bahasa Indonesia saya di sebuah SMP Katolik di Larantuka, Flores Timur, dulu sangat tegas dalam mengoreksi kalimat murid-muridnya.

“Pakai SAYA, bukan namamu!” kata Pak Aldo dengan nada tinggi. “Boleh pakai AKU untuk teman-teman sebaya, orang yang akrab, tapi jangan untuk orang yang lebih tua. BETA hanya cocok untuk bahasa percakapan logat Kupang.”

Inilah pelajaran dasar kata ganti orang alias PRONOMINA PERSONA tingkat SMP. Bahasa Nagi atau Melayu Larantuka, yang jad bahasa persatuan di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, NTT, tidak mengenal kata SAYA atau AKU atau BETA atau GUE untuk orang pertama. Orang Larantuka selalu pakai KITA meskipun untuk dirinya sendiri atau orang pertama tunggal.

Karena itulah, guru-guru bahasa Indonesia di Flores Timur, khususnya Pak Aldo ini, sangat keras mengoreksi kalimat murid-murid yang menggunakan kata KITA, KAMI, ANDA, dan sebagainya. Pelajar tidak boleh menyebut nama diri, tapi harus pakai kata ganti orang pertama.

“Vita sakit, Vita mau pulang,” kata-kata macam ini hanya akan jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas saya di Flores Timur.

“Kamu seperti anak-anak saja. Sudah besar, tapi cara berbahasanya masih kekanak-kanakan,” kata Pak Aldo yang berasal dari Adonara Timur itu.

Kalau saya amati di televisi, juga di lingkungan pergaulan sehari-hari di Surabaya, Jakarta, Malang, dan kota-kota besar di Jawa, banyak sekali orang dewasa seperti Vita yang selalu menggunakan namanya, tidak memakai SAYA, AKU, GUE, dan sebagainya. Mirip gaya bahasa anak-anak. Hanya anak-anak yang dibenarkan menggunakan namanya karena memang belum mengenal kata ganti orang atau pronomina persona.

Majalah AYAH BUNDA, majalah untuk ibu muda dan sang suami yang masih mengurus bayi dan anak-anak, pun sering membahas persoalan ini. Salah satu artikel menarik di AYAH BUNDA berjudul: Melatih Balita Menggunakan Kata Ganti Orang. Jadi, pelajaran bahasa Indonesia tentang kata ganti orang memang sebaiknya dimulai sejak balita.

Di Flores tidak bisa karena bahasa Indonesia baru mulai dikuasai (itu pun masih jauh bangun) sejak SMP. Kalah jauh dengan anak-anak Tionghoa di Surabaya yang sejak balita sudah diajari bahasa Indonesia, Jawa, Tionghoa, Inggris, dan entah bahasa apa lagi. Saya sendiri baru bisa berbahasa Indonesia setelah berusia 14 tahun. Itu pun gado-gado dengan Melayu Larantuka alias bahasa Nagi.

Majalah AYAH BUNDA menulis:

Buah hati Anda tiba-tiba menyebut Bunda dan Ayah dengan kata KAMU. Ia juga sudah tak lagi menyebut nama diri sebagai kata ganti SAYA. Jangan kaget,  ini pertanda salah satu ciri perkembangan bahasa yang baik. Latih dia menggunakannya dengan tepat.”

Kembali ke Vita si model cantik. Mengapa dia masih tetap bergaya bahasa Indonesia ala anak-anak (balita) di forum diskusi formal di televisi yang disiarkan ke seluruh Indonesia?

Ada beberapa kemungkinan:

1. Pelajaran bahasa Indonesia yang diterima Vita di SD, SMP, SMA  kurang bermutu. Topik kata ganti orang pertama dianggap sepele.

2. Guru bahasa Indonesianya tidak sempat mengoreksi kalimat-kalimat muridnya. Mungkin terlalu sibuk atau cuek bebek.

3. Ayah bundanya membiarkan Vita tetap bermanja-manja dengan nama dirinya.

4. Kecerdasan bahasa si Vita memang  kurang. Sudah tua tapi masih tetap merasa bak anak kecil.

5. Menganggap remeh bahasa Indonesia.

27 May 2013

Bapak Bulutangkis Tiongkok Asal Solo

Wang Wenjiao bersama tim Piala Thomas Tiongkok, 1982.


Mengapa pemain-pemain bulutangkis Tiongkok atau China begitu trengginas? Putra dan putri? Tunggal dan ganda? Bibit-bibit unggul tak pernah habis? Sementara kita, Indonesia, makin kesulitan menemukan bibit-bibit unggul setelah surutnya generasi emas Alan Budikusumah, Susi Susanti, Ardy Wiranata, Lius Pongoh, kemudian Taufik Hidayat?

Jawabannya ini: Gara-gara orang Solo!

Dialah WANG WENJIAO, pelatih badminton bertangan dingin yang lahir di Kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia. Pak Wang ini mendapat gelar The Father of China’s Badminton. Bapaknya bulutangkis negeri Tiongkok!

Kebanyakan orang Indonesia, bahkan pengurus olahraga, kurang mengetahui asal-muasal badminton disosialisasikan di Tiongkok. Namun, sejak 1980-an, ketika Tiongkok menggebrak dengan pemain-pemain bintangnya, dunia pun terperanjat. Lalu, sejumlah pengamat bulutangkis mancanegara, salah satunya Dev S. Sukumar, berusaha mencari tahu apa gerangan resep di balik kesuksesan Tiongkok dalam pembinaan bulutangkisnya.

Pada 1950-an Wang Wenjiao sudah dikenal sebagai pebulutangkis muda berbakat di Indonesia. Namun, suasana di Republik Indonesia yang baru berusia sembilan tahun, meminjam istilah kepolisian, saat itu sangat tidak kondusif. Pergolakaan di mana-mana. Revolusi fisik masih berlanjut. Politik kian memanas menjelang pemilihan umum. Cari uang susah.

Bagi warga Tionghoa, ada masalah serius soal kewarganegaraan. Maka, banyak huaqiao atau overseas Chinese memilih kembali ke negara leluhur: Republik Rakyat Tiongkok yang baru diproklamasikan oleh Mao Zedong (baca: Mao Tse-tung) pada 1 Oktober 1949. Padahal, mereka pun tak tahu bagaimana nasib mereka di negara yang sebenarnya masih kacau-balau oleh perang saudara itu. Hidup itu ibarat perjudian. Siapa tahu nasib baik di Zhongguo (baca: Cungkuo, nama resmi Tiongkok alias China).

Nah, Wang Wenjiao ikut dalam rombongan perjudian nasib ke Tiongkok. Pada 1954, ketika masih berusia 21 tahun, Wan Wenjiao berangkat ke Tiongkok. Tak lupa membawa berbagai peralatan untuk bermain bulutangkis. “Saya sendiri belajar main bulutangkis di Solo,” katanya.

Bersama tiga temannya yang juga penggila bulutangkis, Wang Wenjiao perlahan-lahan memperkenalkan olahraga raket itu.

“Waktu itu tidak ada orang Tiongkok yang tahu badminton atau bulutangkis. Saya dan teman-teman harus keliling seluruh Tiongkok untuk demonstrasi. Memperlihatkan kepada masyarakat, khususnya anak-anak muda, begini lho caranya main bulutangkis. Akhirnya, pelan-pelan bulutangkis mulai dikenal dan makin lama makin populer,” ujar pelatih yang menghasilkan pemain-pemain hebat seperti Han Jian, Luan Jin, Tian Bingyi, dan Li Yongbo itu.

Tiongkok yang dikuasai rezim Partai Komunis saat itu masih sangat tertutup. Namun, Ketua Mao sangat berambisi membawa Tiongkok menjadi negara yang terkenal di seluruh dunia. Salah satunya lewat olahraga. Termasuk bulutangkis. Karena itu, Wang Wenjiao difasilitasi negara untuk menyemaikan bibit-bibit ke seluruh Tiongkok. Wang diminta membangun sistem pembinaan, teknik main, hingga mencetak bocah-bocah cilik menjadi pemain bintang di usia emasnya. Bapak Wang ini pun diangkat sebagai pelatih nasional Tiongkok.

Sejak awal Wang Wenjiao sangat menekankan satu aspek penting: SPEED. Kecepatan!

Dia merancang sistem pelatihan yang sangat menekankan SPEED. Ketika pemain punya teknik atau skill yang seimbang, maka kecepatanlah yang akan membedakan. Pemain yang punya SPEED-lah yang bakal menang.

“Saya memaksa semua murid saya, putra atau putri, kalau kalian ingin menjadi juara dunia, kalian harus bisa main CEPAT dan KUAT. Skill sedang-sedang saja tidak apa-apa,” kata Wang Wenjiao  beberapa waktu lalu.

Kutipan dalam bahasa Inggris ini lebih jelas menggambarkan filosofi permain bulutangkis Tiongkok yang ditanamkan secara sistematis oleh Wang Wenjiao:

“The main thing was SPEED. I developed a system which was compulsory throughout China. If someone wanted to become a coach, they had to learn my syllabus for three months. The government backed us. We had a lot of  players, and we rewarded them well. That’s why we were able to excel.”

Tidak gampang menemukan remaja yang punya bakat SPEED dan STRONG. Apalagi di Tiongkok bagian utara yang sama sekali tidak mengenal bulutangkis hingga 1970-an. Olahraga yang sangat populer justru sepak bola. Maka, Wang meminta salah satu asistennya untuk melihat anak-anak yang berlatih sepak bola. Siapa yang punya kecepatan diajak mengikuti badminton training camp. Nah, di lapangan sepak bola itulah ditemukan bibit unggul bernama HAN JIAN.

“Waktu main bola, Han Jian itu punya kecepatan luar biasa. Gerakan kakinya, footwork, juga luar biasa. Yah, kami ambil dan latih dia main bulu tangkis. Han Jian itu sebetulnya tidak punya skill dan pertahanan yang baik. Tapi dia punya SPEED, footwork, dan kuat. Itu yang saya butuhkan,” papar Wang.

Siapa tak kenal Han Jian?

Dialah pemain bintang yang menggoncang jagat badminton pada 1980-an. Dimotori Han Jian, tim nasional Tiongkok pertama kali merebut Piala Thomas pada 1982.

Saat itu Han Jian merontokkan Liem Swie King (Indonesia) dengan 15-12, 11-15, dan 17-14. Setelah Rudy Hartono kalah melawan Luan Jin pada partai pertama, pertandingan Han Jian vs Liem Swie King di London pada 21 Mei 1982 ini disebut-sebut sebagai pertandingan bulu tangkis terdahsyat di ajang Piala Thomas. Sebab, kualitas kedua pemain bintang ini sangat berimbang.

Dominasi Tiongkok makin terasa di ajang Kejuaraan Dunia tahun 1985. Peta bulutangkis pun berubah total. Orang mulai ngeh bahwa ancaman dari pemain-pemain negara tirai bambu itu tidak main-main.

Sebelumnya, pemain-pemain bintang generasi pertama Tiongkok pun sudah sangat disegani, tapi tidak mendapat kesempatan tampil di turnamen atau kejuaraan bergengsi sekaliber Piala Thomas dan All England. Mereka antara lain Hou Chia Chang, Fang Kai Hsiang, Tang Hsien-hu (alias Tong Sinfu), yang nota bene juga kelahiran Indonesia.

Saat itu bulutangkis dunia dikuasai Denmark, Indonesia, dan Malaysia. Tiongkok belum boleh ikut berbagai kejuaraan karena tidak masuk organisasi bulutangkis dunia. Barulah tahun 1977, ketika Tiongkok bergabung, dunia mulai tercengang melihat hasil penggemblengan Wang Wenjiao yang menekankan SPEED & STRONG itu tadi.

Dalam lawatan pertama ke Denmark, Wang dan kawan-kawan sempat dicemooh di televisi setempat. “Apakah orang Tiongkok bisa main bulutangkis? Kok mereka datang ke Denmark untuk melawan Erland Kops?” sindir warga setempat. Asal tahu saja, Erland Kops itu juara All England enam kali.

Wang hanya tertawa pahit menyaksikan cemoohan itu. Esoknya, apa yang terjadi? “Pemain kami mengalahkan Erland Kops dengan skor 15-0 pada game pertama,”  Wang mengenang.

Posisi Wang sebagai pelatih nasional kemudian diambil alih Hou Chia Chang, Tang Hsien-hu, dan sekarang Li Yongbo. Sistem pelatihan sudah berubah, apalagi ada perubahan sistem scoring dari 15 poin ke 21 poin.

Dan, justru dengan sistem mutakhir, 21 angka rally point, filosofi SPEED & POWER yang dirintis oleh Wang di Tiongkok makin diperlukan. “Saya justru mendorong pelatih-pelatih Tiongkok untuk pergi ke berbagai negara untuk menyebarkan filosofi saya,” katanya.

Sumber: KOMPASIANA

Meditasi Waisak 2013 di Surabaya

Umat Buddha di berbagai wihara di Surabaya mengenang detik-detik Waisak 2557 BE, Sabtu 25 Mei 2013. Jemaat larut dalam meditasi dan keheningan. Di Vihara Dhammadipa, Jalan Pandegiling 260, Surabaya, upacara Trisuci Waisak dipimpin Bhante Viriya Daro.

Bhante Viriya mengatakan, Waisak merupakan upacara khusus untuk mengenang tiga peristiwa penting bagi umat Buddha. Yakni, kelahiran Siddharta Gautama, Gautama mencapai pencerahan sempurna menjadi Buddha, dan parinibana atau wafatna Sang Buddha. Ketiga peristiwa ini terjadi pada saat purnama sidhi yang tahun ini jatuh pada pukul 11.24 WIB.

Jauh sebelum puncak acara atau detik Waisak, umat sudah berkumpul di wihara yang berafiliasi dengan Majelis Theravada Indonesia itu. Mereka melakukan aksi sosial atau dana untuk konsumsi serta lilin-lilin kristal yang akan diletakkan di altar. Pada pukul 10.30 ritual dimulai dengan Padakkhina. Masing-masing jemaat memegang bunga teratai berjalan menuju ke vihara di lantai tiga.

Usai pujabakti, tibalah momentum yang paling ditunggu umat Buddha di seluruh dunia. Yakni meditasi untuk mengenang tiga peristiwa paling penting bagi umat Buddha itu. Ditandai dengan bunyi lonceng kecil, Bhante Viriya mengajak sekitar 300 umatnya untuk melakukan meditasi bersama.

Suasana benar-benar khusyuk. Bahkan, anak-anak kecil pun larut dalam semedi waisak. Meditasi berlangsung sekitar 15 menit. Bhante Viriya kemudian menyampaikan pesan Waisak 2557 bertajuk Keteladanan Dasar Kemuliaan. "Pesan ini juga disampaikan kepada umat Buddha di seluruh Indonesia," katanya.

Bhante Viriya menjelaskan, keteladanan itu meliputi keteladanan ibu, ayah, guru, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa. Ajaran agama harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. "Ajaran itu hanya konsep pikiran kalau belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Mengutip kata-kata Sang Buddha, Bhante Viriya mengatakan, biarpun seorang banyak membaca kitab suci, tapi tingkah lakunya tidak seperti ajarannya, maka orang itu seperti gembala yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tidak memperoleh manfaat dari kehidupan luhur.

Rohaniwan ini juga menekankan perjuangan hidup dengan penuh semangat. Hindarkan rasa malas. "Sia-sia orang berumur 100 tahun, tapi malas dan tidak bersemangat. Lebih baik orang yang hanya hidup sehari, tapi berjuangan dengan penuh semangat," kata Bhante Viriya.

Selamat Hari Waisak! Semoga semua makhluk berbahagia!

23 May 2013

Pemilihan gubernur NTT putaran kedua 2013

Esthon Foenay (kiri) dan Frans lebu Raya.

Sudah terlalu lama proses pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Timur berlangsung. Pilgub belum juga tuntas karena harus sampai dua putaran. Kamis 23 Mei 2013, rakyat NTT kembali datang ke bilik suara untuk mencoblos lagi.
Frans Lebu Raya (gubernur NTT sekarang) yang berpasangan dengan Benni Alexander Litelnoni melawan Esthon L Foenay (wakil gubernur NTT sekarang) yang berpasangan dengan Paul Edmundus Tallo. Sama-sama inkumben, sama-sama sudah tahu kekuatan dan kelemahan lawan. Mereka harus bertarung setelah sebelumnya terlihat sangat kompak selama lima tahun.

Pemilihan langsung seperti ini memang sulit ditebak hasilnya. Tapi, sebagai petahana, Frans sudah menang start. Dia praktis sudah kampanye lebih lama ketimbang Esthon. Tapi, jangan lupa, Esthon yang jarang kampanye ternyata mampu mendekati perolehan suara Frans pada putaran pertama.

Ini membuktikan bahwa ada arus besar yang menginginkan perubahan di NTT. Dan Esthon Foenay dianggap sebagai tokoh alternatif yang bisa melakukan perubahan. Yah, perubahan menuju NTT yang lebih baik. NTT yang bisa menyediakan lapangan kerja untuk penduduknya. NTT yang tidak ditinggal ramai-ramai oleh anak kandungnya karena terpaksa mencari nafkah di luar provinsi.

Buat apa berkali-kali memilih gubernur tapi NTT jalan di tempat? Ingat, NTT merupakan provinsi yang sudah cukup tua. Sudah 55 tahun. Satu-satunya kemajuan yang menonjol adalah pertambahan jumlah kabupaten. Kalau dulu kita hanya tahu 12 kabupaten, sekarang jadi 22 kabupaten. Luar biasa!

Sayangnya, pemekaran wilayah ini belum berdampak negatif pada kemajuan daerah. Ironisnya, di kabupaten-kabupaten pemekaran banyak terjadi skandal korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sangat parah.

Akhirnya, selamat mencoblos untuk rakyat NTT. Kami, warga NTT di luar NTT, hanya bisa kirim salam dan doa dari jauh.

Bae sonde bae Flobamora lebe bae!

20 May 2013

TEMPO era Orde Baru lebih asyik

Meskipun rutin membaca beberapa koran, plus laman-laman berita di internet, saya tidak puas kalau belum membaca majalah TEMPO. Karena itu, saya setiap Senin pasti membeli TEMPO di pinggir jalan. Dulu berlangganan, tapi datangnya kalah cepat ketimbang eceran. Mendingan beli eceran yang datangnya lebih cepat.

Membaca majalah TEMPO itu, bagi saya, untuk mengasah perasaan bahasa. Gaya bahasanya enak, pilihan kata oke, ceritanya runut, penuh kejutan. TEMPO juga cenderung anti-akronim, melawan jargon bahasa, cocok dengan filsafat bahasa yang saya anut. TEMPO juga masih memberi tempat untuk catatan pinggir Goenawan Mohamad, yang selalu saya baca meskipun sering kurang saya pahami.

Isu-isu yang sudah dibahas habis koran-koran selama seminggu masih asyik dinikmati di TEMPO. Hanya karena sajiannya yang enak.

Bahkan, majalah TEMPO yang sudah lama pun tetap enak dibaca. Beda dengan koran-koran yang selesai dibaca langsung dipakai untuk membungkus kacang atau dikilokan. Saya tak tega mengkilokan majalah TEMPO meskipun stok saya sudah menumpuk. Eman eman...!

Di saat senggang, saya tetap saja asyik menikmati majalah TEMPO meskipun usianya sudah dua tahun atau tiga tahun silam.

Anehnya, majalah TEMPO edisi lama, sebelum terbit kembali usai reformasi, menurut saya, jauh lebih enak dibaca ketimbang majalah TEMPO hari ini. Majalah TEMPO super lawas, tahun 1980-an, yang pakai kertas koran, hitam putih, halaman warnanya cuma satu dua (untuk iklan dan sampul) itu jauh lebih enak dibaca. Cara berceritanya runut, bahasanya indah, ada humor, ibarat pendekar sakti yang sudah sangat mahir di dunia silat kata-kata.

Kayaknya kepiawaian wartawan dan redaktur TEMPO era reformasi ini dalam bermain kata masih kalah jauh sama para seniornya pada era 1980-an dan 1990-an. Persis musik pop kita yang jauh lebih berkualitas pada era sebelum 2000. Padahal, teknologi rekaman digital dan berbagai fasilitas saat ini 100 kali lebih canggih ketimbang era 1980-an.

Lagu-lagu pop lawas tetap membekas sampai sekarang. Beda dengan lagu-lagu sekarang yang lewat begitu saja. Padahal, kita belum sempat hafal liriknya, apalagi mengendapkannya ke dalam kalbu.

Nah, majalah TEMPO juga begitu. Kehebatan TEMPO generasi 2000-an hanya di tampilan visual. Banyak sekali grafis, kayak pamer seni desain visual, dengan warna-warni dan gambar norak. Sebagai penggemar kata-kata dan bahasa, saya hanya suka membaca komposisi atau ramuan artikelnya.

Jangan-jangan pembaca TEMPO sekarang (mayoritas) lebih doyan info grafis yang sangat dominan itu? Yang jelas, saya termasuk yang minoritas saja deh.

Karena suka majalah TEMPO lawas, maka saya sering mampir ke pusat buku dan majalah bekas di Jalan Semarang, Surabaya. Saya mencoba mencari majalah TEMPO era Orde Baru yang sangat fenomenal itu. Ternyata tidak gampang. Yang banyak di lapak-lapak itu justru majalah-majalah wanita dan semi porno ala Popular dan sejenisnya.

"Majalah TEMPO itu termasuk yang sering dicari orang, tapi stoknya nggak ada," kata Lia, gadis asal Madura, penjaga lapak buku-buku bekas di Kampoeng Ilmu Surabaya, Jalan Semarang.

Hmmm... rupanya para pelanggan majalah TEMPO tempo doeloe mirip saya. Tak mau mengkilokan majalahnya karena ketagihan membaca majalah yang dirintis penyair Goenawan Mohamad itu.

14 May 2013

Robert Rosihan Merawat Rumah Keluarga Han di Surabaya




Salah satu objek wisata di Surabaya yang makin diminati pengunjung sejak reformasi adalah kawasan pecinan atau Chinatown. Di kawasan Jalan Karet terdapat tiga rumah sembahyang keluarga konglomerat Tionghoa yang sangat berpengaruh pada masa Hindia Belanda. Yakni, rumah keluarga Han, Tjoa, dan The. Di antara tiga bangunan tua itu, rumah keluarga Han di Jalan Karet 72, Surabaya, sering dikunjungi wisatawan dan berbagai komunitas di Kota Pahlawan.

Berikut petikan percakapan Lambertus Hurek dengan Robert Rosihan, ahli waris dan pemilik bangunan bersejarah di dekat Jembatan Merah, Surabaya, itu.

Bisa diceritakan sedikit sejarah keberadaan keluarga Han di Nusantara?

Keluarga Han pertama kali tiba di di Lasem, Jawa Tengah, pada tahun 1673. Sementara rumah sembahyang keluarga Han di Jalan Karet 72 ini baru didirikan sekitar abad ke-18 atau ke- 19 oleh Han Bwee Koo, generasi keenam.

Perlu saya tegaskan, meskipun sering dikatakan masyarakat sebagai rumah abu, sebetulnya tidak ada abu yang disimpan di rumah ini. Silakan dilihat. Yang ada adalah kayu-kayu simbolis dengan tulisan nama keluarga yang telah meninggal dunia yang disebut sinci.

Papan-papan nama itu ada berapa?

Kalau tidak salah 131. Ini menunjukkan leluhur kami, marga Han, yang telah meninggal dunia untuk selalu didoakan dan dihormati dalam perayaan-perayaan Tionghoa. Kalau melakukan ritual di sini, misalnya saat Sincia (tahun baru Imlek), maka kami harus menyediakan teh sebanyak 131 cangkir. Simbol penghormatan kepada 131 leluhur marga Han.

Dalam setahun berapa kali Anda dan keluarga besar Han mengadakan upacara di sini?

Tiga kali. Yakni, tahun baru Imlek, Ceng Beng setiap tanggal 5 April, dan sembahyang rebutan. Tiga perayaan itu merupakan tradisi yang sangat dikenal masyarakat Tionghoa. Yah, kami ikut melestarikannya, sekaligus merawat bangunan yang cukup bersejarah ini.

Bisa diceritakan bagaimana bangunan ini di masa Orde Baru?

Yah, kita tahulah di masa Orde Baru itu terjadi begitu banyak tekanan kepada para pemilik atau ahli waris bangunan-bangunan tua di kawasan pecinan Surabaya ini. Bangunan-bangunan lama di kawasan ini diklaim karena dianggap tidak ada pemiliknya, telantar, dan sebagainya. Bahkan, ada selentingan mau di-demolish untuk dibangun pusat perbelanjaan seperti mal atau plaza. Ini yang membuat sebagian pemilik bangunan di sekitar sini masih trauma sampai sekarang.

Syukurlah, kami berusaha mempertahankan bangunan ini sehingga masih bisa dinikmati sampai sekarang. Pemkot Surabaya juga telah memasukkannya sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kota Surabaya. Ini sebuah kemajuan yang layak disyukuri karena pemerintah sudah mengakui bahwa bangunan ini punya nilai sejarah yang tinggi, khususnya buat generasi kita di masa mendatang. Lha, andai kata bangunan ini sudah berubah menjadi mal, kelak masyarakat hanya bisa tahu dari buku-buku atau internet.

Mungkin gara-gara trauma, mereka terkesan tertutup. Sepertinya tidak ingin bangunannya dikunjungi mahasiswa, peneliti, wartawan, atau komunitas pencinta sejarah.

Betul sekali. Bagaimanapun juga trauma selama rezim Orde Baru itu tidak bisa hilang begitu saja meskipun sekarang sudah era reformasi.

Lantas, apa tujuan Anda membuka kembali rumah sembahyang keluarga Han ini?

Sederhana saja. Saya ingin agar paling tidak anak saya mengetahui bahwa bangunan ini milik leluhurnya. Selain itu, banyak pihak seperti pakar arsitektur, peneliti sejarah, mahasiswa, berbagai komunitas, maupun masyarakat umum tertarik melihat bangunan ini, karena bentuknya merupakan perpaduan tiga budaya. Atap di aula gaya Jawa, ubinnlantai gaya Eropa, dan tempat sembahyang tentunya bergaya Tionghoa. Bahan-bahan kayu yang dipakai pun sangat istimewa karena didatangkan dari luar negeri.

Apa kesulitan Anda dalam mengelola bangunan ini?

Wah, kesulitannya banyak sekali. Kalau mau jujur, bangunan ini sebetulnya cost center, bukan profit center. Sejauh ini kita tidak dapat keuntungan finansial sama sekali. Yang terjadi adalah kita harus mengeluarkan banyak anggaran untuk pemeliharaan. Apalagi, bangunan sebesar ini biaya perawatannya tidak sedikit. Karena itu, banyak bagian bangunan ini yang masih kurang terawat.

Bagaimana dengan usulan dari pihak Universitas Kristen Petra agar dibentuk yayasan untuk memelihara tiga rumah sembahyang di kawasan pecinan ini? Maksudnya agar biaya perawatan bisa ditangani yayasan dan penyandang dananya?

Begini. Dulu, pihak keluarga Tjoa dan keluarga The sebenarnya sudah mengkontak saya untuk membahas permasalahan ini bersama-sama. Sebab, tiga rumah sembahyang di Jalan Karet ini memang punya persoalan yang hampir sama. Yakni, beratnya beban biaya perawatan. Tapi, dalam perjalanannya, masih ada kendala-kendala internal di kalangan keluarga masing-masing. Dan itu tidak mudah karena ahli waris ketiga marga ini sudah terpencar di berbagai kota, bahkan luar negeri.

Bagaimana dengan rencana pemkot untuk menjadikan kawasan pecinan, khususnya Jl Karet, sebagai objek wisata kampung pecinan?

Bagus sekali. Saya tentu sangat mendukung. Bahkan, kami, para pemilik bangunan-bangunan tua di kawasan ini pun pernah diajak bicara oleh pihak pemkot. Kami ingin agar pemerintah membantu upaya pelestarian bangunan-bangunan tua, terutama yang berada di kawasan bisnis. Mengapa? Beban pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) rasanya sangat berat. Sebab, rata-rata tanah dan bangunan tua sangat luas dan berada di kawasan bisnis.

Kami hanya ingin pemkot sedikit meringankan beban kami. Tidak perlu berupa uang tunai, dalam bentuk keringanan PBB saja, kami sudah bersyukur.

Apa lagi yang perlu dilakukan pemerintah?

Dari segi keamanan dan pengembangan infrastruktur kalau mau dijadikan daerah wisata. Kawasan pecinan ini kan siangnya ramai, penuh dengan truk dan kendaraan-kendaraan besar, tapi malamnya sepi dan dirasa kurang aman. Nah, semua ini harus dipikirkan oleh pemerintah agar kelestarian bangunan-bangunan lama di pecinan ini bisa terjaga.

Apakah pemerintah kita bisa melakukannya? 

Mengapa tidak? Negara-negara lain saja sudah melakukannya, dan hasilnya memang sangat positif bagi pengembangan pariwisata. Singapura misalnya berhasil melestarikan bangunan-bangunan tua yang bersejarah menjadi aset wisata yang ramai dikunjungi wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. (*)

Musafir Isfanhari Pengabdi Musik di Surabaya



Di usia 67 tahun, Musafir Isfanhari masih sibuk mengajar musik, melatih paduan suara, memberi pelatihan musik kerocong, menjadi juri lomba paduan suara hingga karaoke di Surabaya. Aktivitas permusikan seperti ini membuatnya bahagia menikmati masa pensiun.

Berikut petikan percakapan dengan Musafir Isfanhari:

Sebagai musisi, komposer, dan guru musik, bagaimana Anda melihat apresiasi masyarakat terhadap musik di Indonesia, khususnya Jawa Timur?

Begini. Indonesia ini sangat pekat dengan feodalisme. Dan feodalisme itu pada akhirnya menjadikan cara pandang masyarakat Indonesia tentang sebuah musik sudah terkotak-kotak dan tersekat-sekat.

Maksudnya?

Seperti musik keroncong dicap sebagai musiknya orang tua. Dangdut musik orang kelas bawah. Jazz musik para mahasiswa yang status ekonominya berkecukupan dan musik orang elite. Musik klasik untuk orang yang aristokrat. Pengotakan-pengotakan tersebut yang membuat musik di Indonesia tidak bisa berkembang.

Sebetulnya, ketika musik-musik tersebut diciptakan sang komposer, tidak ada tujuan bahwa musik dangdut adalah musiknya tukang becak, musik jazz adalah musiknya mahasiswa, musik klasik adalah musiknya aristokrat. Jadi, siapa pun boleh menikmati atau menggemari musik apa pun. Tukang becak boleh-boleh saja mendendangkan jazz. Musik dangdut sah-sah saja didengarkan oleh para mahasiswa dan eksekutif muda. Mengapa harus disekat-sekat dan dikotak-kotakkan?

Anda punya pengalaman tentang budaya feodalisme ini?

Suatu ketika saya mengajar di rumah seorang siswa yang orang tuanya berkecukupan. Di rumah itu terdapat piano yang harganya mencapai Rp 60 juta. Saya mencoba memainkannya. Nah, ketika membuka selubung piano itu, tampak debu yang sangat tebal melingkupi piano tersebut. Saya bertanya siapa yang biasa main piano ini. Dijawab, tidak ada yang main.

Inilah gambaran kondisi masyarakat kita yang belum paham betul akan arti pentingnya musik. Piano yang mahal itu sebagai simbol dan status sosial saja. Gambaran sebuah kehidupan yang artifisial, tidak otentik.

Anda juga dikenal concern dengan musik keroncong. Bagaimana perkembangan musik keroncong saat ini?

Jelas kalah jauh dibanding jenis musik lain seperti jazz, dangdut, pop, R&B, rock. Musik keroncong yang lembut dianggap kurang menghentakkan jiwa kaum muda. Kejernihan keroncong tak sejernih musik klasik, kata sebagian masyarakat. Keroncong menjadi musik yang nanggung. Karena itu, musik keroncong butuh penyegaran, inovasi, dan kreativitas baru agar bisa bertahan.

Lantas, apa yang pernah Anda lakukan?

Tahun 2007, saya membuka pelatihan musik gratis bagi musisi keroncong di Surabaya dan sekitarnya. Gratis! Pelatihan ini murni idealisme demi memajukan musik keroncong. Saya memberikan materi ilmu musik untuk pengembangan skill. Para peserta diberi kebebasan untuk berkreasi dan mempraktikkan teori musik tersebut pada latihan-latihan di orkes-orkes keroncongnya sendiri. Namun, pelatihan tersebut hanya berlangsung selama empat bulan saja. Pesertanya semakin lama semakin berkurang hingga habis.

Mengapa tidak ada minat dari musisi keroncong?

Yah, ini memang kelemahan dari para musisi keroncong kita. Dalam pikirannya selalu terbersit setiap crong itu harus dapat duit. Hal itu tidak salah dan sah-sah saja. Namun, dibanding band-band besar seperti Nidji, Dewa 19, Noah, setiap kali mereka jrieng, mereka dapat duit. Tapi jangan lupa bahwa proses dari jrieng sampai menjadi dapat duit tersebut, mereka melalui proses yang dinamakan berlatih. Mereka juga mempunyai gaya sendiri dalam memainkan musiknya sendiri. Menemukan gaya dan corak merupakan pilihan sebuah group musik.

Bagaimana Anda melihat kualitas pemusik keroncong kita?

Dari segi kemampuan bermusik atau skill sangat bagus. Tapi pengetahuan musiknya sangat kurang. Setiap orkes keroncong pun dituntut untuk secara kreatif dan inovatif menemukan gaya dan coraak sendiri, meski tetap dalam jalur keroncong. Nah, misi dari pelatihan yang saya berikan itu adalah membuka wawasan bermusik para musisi keroncong. Jika sudah terbuka, silakan berkreasi sekreatif mungkin.

Mengapa musik dangdut berkembang pesat, padahal skill pemusiknya pun tidak istimewa?

Jangan lupa, dangdut itu punya Rhoma Irama. Dulu Rhoma Irama itu musisi rock, tapi kemudian terjun ke dangdut. Dia mencoba meramu musik dangdut dengan musik rock. Musik dangdut tetap dangdut, tetapi dengan kemasan yang baru.

Nah, pada tahun 1970-an itu dangdut itu disepelekan sebagai musik kampungan, musiknya pemabuk, dan lain lain yang citranya negatif. Rhoma berhasil mengangkat citra musik dangdut sehingga menjadi sangat populer seperti sekarang.

Coba lihat sekarang, siapa yang tidak suka musik dangdut? Sekarang dangdut jadi sumber uang yang luar biasa. Rock masih kalah. Kunci sukses Rhoma Irama itu berasal dari ketekunannya menjaga image dangdut jangan sampai jatuh dan semangatnya untuk selalu memperbaharui musik dangdut secara terus-menerus.

Rupanya, keroncong tidak punya tokoh sekaliber Rhoma Irama di dangdut?

Betul. Keroncong membutuhkan ide-ide segar dan pembaharuan seperti yang dilakukan Rhoma Irama untuk musik dangdut. Keroncong yang kita dengarkan saat ini adalah hasil evolusi musik dari zaman dulu. Bentukan musik keroncong tentulah tidak sama persis dengan musik keroncong zaman dulu. Jadi, jangan takut untuk berkreasi dan melakukan revolusi musik. Keroncong harus mengikuti perkembangan zaman, lebih menampilkan kreativitas yang segar agar mendapat tempat di generasi muda. (lambertus hurek)



Musik Religi untuk Taman Bungkul 


Meski lahir di Malang Musafir Isfanhari ikut mendalami sejarah lokal Kota Surabaya. Salah satu yang dibahas ayah tiga anak ini adalah Taman Bungkul, tempat ziarah islami, yang kini dilengkapi dengan taman kota yang indah.

Menurut Isfanhari, wilayah Bungkul dibuka sekitar 700 tahun lalu oleh Ki Ageng Supo alias Syech Mahmuddin sekitar 700 tahun silam. Ki Ageng Supo, bangsawan Majapahit, itulah yang akhirnya disebut Sunan Bungkul atau Mbah Bungkul. "Beliau kemudian dimakamkan di situ," ujar Isfanhari.

Menilik catatan sejarah yang ada, menurut dia, sejak dulu wilayah Bungkul merupakan kawasan religi. Tempat para peziarah datang berkunjung atau belajar agama pada Bungkul sana. Konon, Sunan Ampel pernah berkunjung ke sana. "Bahkan, sebuah sumber mengatakan bahwa Sunan Ampel menjadi menantu Sunan Bungkul," tutur pria yang ramah ini.

Waktu berganti, zaman pun berubah. Bungkul yang mulanya hutan lebat, gung liwang liwung, adoh lor adoh kidul, akhirnya menjadi daerah yang ramai. Kemudian menjadi kawasan elite Kota Surabaya dengan Jalan Raya Darmo yang terkenal itu. Namun, Taman Bungkul masih dijadikan jujukan para peziarah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Taman Bungkul kemudian ditata ulang menjadi ruang terbuka hijau dengan taman yang bagus.

"Rencana awalnya, penataan ulang dimaksudkan untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat. Jika ada peziarah datang ke makam Mbah Bungkul, mereka bisa beristirahat dan rekreasi di ruang terbuka dan hijau di kawasan Bungkul tersebut," ujarnya.

Hingga kemudian muncul polemik, bahkan DPRD Surabaya meminta agar tidak boleh ada pergelaran musik di kompleks Taman Bungkul. Guru musik yang kerap memberikan kultum ini pun terkejut. Menurut Isfanhari, sebetulnya banyak musik yang baik yang justru membuat seseorang makin dekat dengan Tuhan.

Dia menyebut contoh lagu-lagu Bimbo dengan syair religius seperti Sajadah panjang, Rindu Rasul, Ada anak Bertanya pada Bapaknya. Lagu-lagu yang ditulis Trio Bimbo bersama penyair Taufiq Ismail pada 1970-an itu masih populer sampai sekarang.

Di Surabaya juga banyak grup samroh (kasidah) bermutu dan berprestasi. Juga grup-gup Nasyid, jenis musik Islami masa kini, semisal Fatwa Voice, Revha Voice, Lentera Voice, White Voice, dan Alkhafinita. "Lagunya, pesan syairnya, aransemen musiknya, maupun tampilan busananya sangat islami," katanya.

Musik-musik religius seperti ini, menurut Isfanhari, justru perlu diberi peluang untuk tampil di Taman Bungkul. Jadi, tidak semua musik dilarang ditampilkan. (*)

12 May 2013

Pak Suryo, Pendiri PPLH Seloliman, Trawas, Wafat

Saya terkejut bukan main saat membaca berita di internet: Suryo Wardhoyo Prawiroatmodjo meninggal dunia pada 8 Mei 2013 di Jakarta. Pak Suryo, sapaan akrab dokter hewan alumnus Universitas Arlangga, sangat terkenal di kalangan aktivis lingkungan hidup di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Dialah yang mendirikan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto, pada 1988.

PPLH di dekat situs petirtaan Candi Jolotundo, kaki Gunung Penanggungan, ini jadi jujukan warga Surabaya yang ingin rekreasi atau sekadar belajar lingkungan hidup. Setiap hari ada saja rombongan anak sekolah, mahasiswa, komunitas, hingga keluarga berkunjung dan bermalam di sana. Biasanya, sekali datang ke PPLH, orang akan ketagihan. Datang lagi, lagi, dan lagi... seperti saya.

Tidak mudah bagi Pak Suryo, kelahiran Surabaya, 22 Juni 1956, untuk merintis sebuah pusat pendidikan lingkungan hidup di desa yang cukup terpencil itu. Orang-orang kampung heran dan bertanya-tanya. Ada apa agenda di balik kompleks PPLH? Maklum, PPLH Seloliman saat itu baru pertama di Indonesia.

Tapi, berkat keluwesannya bergaul dengan orang desa, penghayatan budaya Jawa yang dalam, Pak Suryo berhasil menarik simpati warga Seloliman. Dia menggandeng warga desa untuk terlibat dalam kegiatan PPLH. Termasuk memasok bahan-bahan makanan untuk Restoran Alas, khas PPLH. Nama Pak Suryo pun menjadi sangat harum di Seloliman meskipun dia sudah sangat lama menarik diri dari PPLH.

Manajemen PPLH yang sudah berganti beberapa kali pun selalu dibanding-bandingkan dengan Pak Suryo. Kok pengurus PPLH sekarang tidak seperti Pak Suryo? Dulu, waktu dipegang Pak Suryo, PPLH tidak seperti ini. Saya selalu mendengar kata-kata seperti ini. Begitulah, lain koki lain masakan. Dan masakan Pak Suryo rupanya paling pas dengan selera warga Desa Seloliman, lokasi PPLH yang terkenal itu.

"Wafatnya Pak Suryo mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk membela lingkungan hidup masih jauh dari sukses. Kita kehilangan perintis, pejuang dan praktisi yang luar biasa," kata Eka Budianta, sahabat almarhum, yang juga penggiat lingkungan.

Pada tahun 1990, Suryo Wardhoyo Prawiroatmodjo mendapat penghargaan internasional Rolex Awards atas kepedulian dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup. Bagi Suryo, lingkungan hidup bukan sekadar menanam pohon, tapi meyakinkan orang untuk "mencintai tanah dan tidak akan pernah mengangkat kaki dari bumi," demikian pendapat Suryo yang terpampang pada laman Rolex Awards for Enterprises.

Dua tahun kemudian, 1992, perjuangannya kembali mendapat pengakuan internasional. Kali ini dari Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) The Global 500 Award. Suryo menerima penghargaan ini di Rio de Janeiro, Brasil.

Pak Suryo juga piawai dalam melakukan kaderisasi pejuang lingkungan. Begitu banyak anak-anak muda, yang baru lulus perguruan tinggi, yang diajak bergiat di lingkungan hidup. PPLH pun dia tinggalkan karena sudah ada regenerasi. Kini, begitu banyak kader Pak Suryo yang bergiat di berbagai pusat lingkungan hidup di seluruh Indonesia.

Saya sendiri terkejut ketika bertemu Pak Suryo di markas komunitas Hakka di Surabaya, Jalan Slompretan, beberapa bulan lalu. Saat itu Pak Suryo mendampingi puluhan mahasiswa Universitas Ciputra yang sedang melakukan kuliah budaya di lapangan. "Saya tidak mau para mahasiswa ini hanya kuliah di kelas saja, tapi buta lapangan," katanya.

Karena itu, kunjungan ke markas Hakka itu dinilai. Oh, ternyata Pak Suryo sudah jadi dosen Universitas Ciputra. Saya pun berencana menulis profilnya secara panjang, khususnya pengabdian di bidang lingkungan hidup serta kebudayaan. Namun, rencana itu belum sempat terwujud karena harus antre dengan nama-nama lain yang sudah disiapkan.

Eh, ternyata Tuhan punya rencana lain. Pak Suryo pun dipanggil kembali ke haribaan-Nya. Selamat jalan Pak Suryo! Semoga Anda berbahagia bersama Tuhan, Sang Penguasa Alam Raya!

11 May 2013

Perjuangan Oposisi Malaysia Masih Panjang

Kita semua sudah tahu hasil pemilihan raya (pemilihan umum) di Malaysia. UMNO dan kawan-kawan menang lagi. Oposisi atau pembangkang, dengan tokoh utama Anwar Ibrahim, kalah. Tidak mengagetkan karena pemilu di Malaysia memang sudah dirancang sedemikian rupa agar UMNO cs menang terus. 

Sehebat apa pun kekuatan pembangkang, dia boleh dikata mustahil mengalahkan Barisan Nasional. BN itu macam Golkar di Indonesia pada masa Orde Baru. Soeharto dan kaki tangannya merancang sistem politik sedemikian rupa agar Golkar menang terus... sampai kiamat.

Malaysia itu pada hakikatnya sama dengan Golkar di masa Orde Baru. Status quo dipertahankan sedemikian rupa dengan berbagai cara. Termasuk rekayasa, fitnah politik, indoktrinasi, hingga aksi teror dan kekerasan untuk lawan-lawan politik. Siapa saja yang tidak suka Golkar + Orde Baru dicap komunis. Anti-Pancasila, antipembangunan, dan sebagainya.

Tak ada pers bebas semasa Orde Baru. Media dikontrol ketat. Tak boleh ada kritik terhadap Pak Harto dan Orde Baru. Masih lebih baik Malaysia yang punya oposisi, Orde Baru membantai habis gerakan oposisi sampai ke akar-akarnya. Suara kritis para tokoh yang tergabung dalam Petisi 50 ditanggapi dengan reaksi yang sangat keras. Semua tokoh Petisi 50 dianggap musuh negara. Ada yang dijebloskan ke penjara.

Di Malaysia situasinya mengingatkan kita pada Orde Baru. Anwar Ibrahim dijebloskan ke penjara dengan tuduhan yang aneh-aneh. Kaum pembangkang tak punya media untuk sosialisasi dan menyuarakan pendapat. Media-media resmi setiap hari memuat berita dan ulasan miring tentang pembangkang. 

Tapi rupanya pemilihan raya pada 5 Mei 2013 lalu menunjukkan hasil yang lumayan mengejutkan. Koalisi oposisi menang popular vote atau meraih suara terbanyak. Tapi, ketika dikonversi menjadi kursi dengan sistem distrik murni (beda dengan di Indenesia), Pakatan Rakyat justru kalah telak. Ya, begitulah politik. Selalu ada sistem dan cara untuk mengekalkan kekuasaan!

Anwar Ibrahim, Pakatan Rakyat, koalisi oposisi memang sudah kalah. Najib Razak sudah dilantik jadi perdana menteri kembali. Tapi hasil pemilu kali ini sudah berbicara kepada dunia bahwa rezim UMNO, yang menggunakan politik SARA (isu rasial dan agama) untuk mempertahankan status quo itu tidak lagi sekuat dulu. Sudah banyak rakyat Malaysia yang menginginkan perubahan. Dan jumlahnya lebih banyak ketimbang pendukung status quo BN, terlihat dari popular vote yang memenangi oposisi.

Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa angin perubahan makin kencang berembus di Malaysia. Bahwa cepat atau lambat kekuasaan status quo UMNO akan berakhir suatu saat. Mungkin lima tahun lagi, 10 tahun, 20 tahun, atau 50 tahun lagi. Mendobrak tembok status quo memang butuh stamina panjang... sangat panjang... karena rezim petahana selalu punya cara dan sumber daya untuk mengekalkan kekuasaannya. 

09 May 2013

Komunitas Jiyuan De Jiao Hui, Surabaya



Setelah keran kebebasan dibuka lebar usai reformasi, 1998, berbagai komunitas Tionghoa tumbuh subur di tanah air. salah satunya JIYUAN DE JIAO HUI. Diperkenalkan di Surabaya pada 2005, perkumpulan yang mencoba menggali kebajikan lama Tionghoa ini mulai mendapat simpati dari masyarakat.

Tanpa banyak promosi atau perekrutan anggota, saat ini Jiyuan De Jiao Hui sudah punya sekitar 500 anggota. Tak ada persyaratan berbelit-belit, iuran, proses penjenjangan, dan sebagainya. Siapa saja, tua muda, boleh bergabung.

"Jiyuan De Jiao Hui ini bukan sekte dari agama tertentu. Kita hanya ingin belajar budi pekerti atau moralitas," kata Yuan Li, salah satu pengurus Jiyuan De Jiao Hui, Surabaya, kepada saya.

Ketika pertama kali muncul di Surabaya, menurut wanita yang aktif dalam kegiatan sosial ini, peminatnya tak sampai 10 orang. Pun belum ada markas atau sekretariat. Karena itu, mereka bisa bertemu di mana saja sesuai kebutuhan. Perlahan-lahan Jiyuan De Jiao Hui mulai dikenal setelah aktif menggelar bakti sosial.

"Kita selalu menggandeng pihak lain seperti Rotary Club Surabaya Jembatan Merah dan Palang Merah Indonesia (PMI) agar bersama-sama mengadakan kegiatan sosial," kata Yuan Li.

Dari baksos-baksos pembagian sembako dan donor darah inilah, Jiyuan De Jiao Hui mulai dikenal oleh masyarakat. Ini karena spanduk woro-woro donor darah dan pembagian bingkisan bahan pokok selalu dipajang di pinggir Jalan Mayjen Sungkono, kompleks Darmo Park, Surabaya.

"Syukurlah, sekarang ini sudah sekitar 500 orang yang gabung. Ada yang aktif, ada yang pasif, atau hanya simpatisan. Satu dua kali datang, tapi kemudian tidak datang lagi karena kesibukan masing-masing," katanya.

Salah satu acara rutin di markas Jiyuan De Jiao Hui adalah minum teh bersama. Teh yang disajikan pun teh hijau asli Tiongkok dengan kualitas terbaik. Menyeduh cungkuocha ini pun tidak sembarangan. Ada meja khusus, cangkir, dan cara penyeduhan tertentu untuk mendapatkan rasa yang khas.


Nah, sambil menyeruput teh itulah, mereka saling diskusi, sharing, berbagi pengalaman tentang berbagai hal. "Kita juga membaca buku-buku dan diktat yang dikirim dari Malaysia," tuturnya.

Asal tahu saja, Jiyuan De Jiao Hui ini paling banyak anggotanya di Penang, Malaysia. Komunitas itu dikenal sebagai Che Hoon Khor Moral Uplifting Society di negara jiran itu. Perkumpulan ini dibawa dari Tiongkok ke Singapura pada 1954, kemudian dibawa ke Penang.

Dan, rupanya, komunitas 'bengkel moral' ini cepat populer di kalangan warga Tionghoa di Asia Tenggara. "Kita di Indonesia baru kenal tahun 2005," kata Yuan Li.

Yuan Li dan para aktivis Jiyuan De Jiao Hui mengaku tak punya target muluk-muluk selain belajar untuk lebih peduli sesama, rendah hati, selalu bersikap positif.

"Tidak ada satu manusia pun yang sempurna. Selalu rendah hati, tidak marah, jangan sombong. Orang yang sombong itu cepat atau lambat akan jatuh," kata Yuan Li mengutip salah satu prinsip Jiyuan De Jiao Hui, yakni Be Humble.

04 May 2013

Wartawan mati meninggalkan tulisan



"Wartawan yang tidak mencintai bahasa adalah bebal.
Wartawan yang malas terjun melakukan reportase adalah goblok."

Dua kalimat pedas ini disampaikan almarhum Budiman S. Hartoyo dalam berbagai kesempatan. Budiman adalah mantan wartawan majalah Tempo yang sangat concern pada bahasa wartawan. Dia bedah habis kata-kata wartawan, baik magang, yunior, senior, hingga pensiunan, hingga kita tersadar, oh, logika kalimat tidak jalan. Kalimatnya kacau-balau.

Saya tiba-tiba teringat Pak Budiman S. Hartoyo ketika beberapa redaktur mengeluhkan tulisan anak buahnya, wartawan masa kini. "Payah. Yang kita lakukan ini bukan lagi editing, tapi rewriting. Harus menulis ulang, bongkar total susunan tulisannya," kata seorang redaktur yang suka gerundel.

Keluhan klasik. Dalam sebuah pelatihan jurnalistik yang diampu Budiman, yang juga seorang sastrawan, keluhan ini pun terlontar. Dan, solusinya tidak bisa instan atau seketika jadi. "Kuncinya adalah membaca," kata Budiman suatu ketika. Wartawan yang tidak membaca adalah bebal."

Membaca apa? "Apa saja?" katanya.

Membaca selain membuat pengetahuan kita bertambah, pun mengasah logika. Orang yang terbiasa berpikir logis niscaya akan menulis dengan runut. Tidak melompat-lompat. "Biasakan wartawan Anda untuk membaca. Jangan terlalu asyik main games komputer," pesannya. Sederhana saja, tapi aktual.


Ada lagi pesan Budiman S. Hartoyo yang kudu diingat-ingat wartawan dan siapa saja yang bergulat dalam dunia tulis-menulis:

"Seorang penulis yang baik ialah yang menguasai dan mencintai bahasa, sehingga ia mampu menggunakannya sebagai alat pengungkap ekspresi yang pas dan penuh warna."

Pak Budiman sudah cukup lama meninggal dunia. Namun, jejaknya masih sempat terlacak di internet. Posting terakhirnya di wordpress bertanggal 31 Desember 2008. Sayang, blog Budiman yang satunya lagi, di Multiply, sudah tak mungkin lagi kita akses karena Multiply memang sudah menutup layanan blogging. Jejak Budiman S. Hartoyo di internet pun tinggal sedikit.


Gajah mati meninggalkan gading
Wartawan mati meninggalkan tulisan