10 April 2013

Romo Zakarias Benny Nihamaking meninggal dunia





Kaka, Romo Zaka Beni naika kae!

Begitu SMS yang saya terima pagi tadi (10/4/2013) dari adik saya di kampung halaman. Pesan pendek dalam bahasa Lamaholot (Flores Timur) ini artinya: Kak, Romo Zaka sudah pergi!

Oh, Tuhan! Saya tak bisa berkata banyak selain hening dan berdoa singkat. Semoga Romo Zakaria Benny Nihamaking Pr berbahagia di sisi Tuhan. Yah, Romo Zakarias Benny meninggal dunia dengan tenang. Jenazah pastor senior asal Desa Bungamuda, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT, ini akan dimakamkan di Larantuka, Flores Timur.

"Keluarga sudah menyerahkan urusan pemakaman kepada Keuskupan Larantuka. Jadi, jenazah Romo Zaka dimakamkan di Nagi Larantuka," kata adik saya yang tinggal di kampung, Ileape, Lembata, NTT.

Romo Zaka, sapaan akrab romo yang ramah ini, merupakan salah satu dari sedikit pastor yang berasal dari wilayah kecamatan kami. Ketika saya masih kecil, jumlah romo asal Ileape bahkan tak sampai lima orang. Karena itu, Romo Zaka menjadi kebanggan penduduk desa kami di pulau yang sebagian besar beragama Katolik itu.

Saya pribadi punya banyak kenangan dengan almarhum. Ketika masih SD di pelosok Lembata, Frater Zaka (belum jadi romo) sering mampir ke rumah saya. Ngopi, makan camilan jagung titi, ngobrol, dan sebagainya. Saat saya sekolah di SMPK San Pankratio, Larantuka, saya pun sering bertemu Romo Zaka yang bertugas di Adonara Timur.

Kenangan terakhir ketika saya mengikuti misa tahun baru, 1 Januari 2013, di Gereja Lewotolok, Ileape, Lembata. Romo Zaka yang memimpin misa pagi itu. Bicaranya tenang, halus, suaranya kurang terdengar karena saya kebetulan duduk di kursi paling belakang. Pengeras suara di kampung memang sangat buruk.

Setelah misa, saya menemui Romo Zaka di pastoran, belakang gereja. Ada bapak saya yang ikut membantu beliau membagi komuni. Juga beberapa bapak dan ibu yang bertugas mengurusi pastoran, khususnya makanan romo, pagi itu. Maka, kami pun makan bersama.

Sebelum makan pagi bersama, Romo Zaka memimpin doa dan memberkati makanan kampung yang sederhana itu. Nasi putih campur jagung, sayur merungge (kelor), ikan laut bakar, air putih. Kami pun menikmati hidangan itu dengan lahap. Tak lama kemudian mendung dan gerimis.

Saya pun sempat memotret Romo Zaka Benny bersama Ama Niko Hurek, bapak kandung saya. Keduanya tersenyum dan berpelukan. Ah, ternyata hari pertama tahun 2013 itulah kali terakhir saya bertemu dan makan bersama Romo Zaka. Begitulah, hidup manusia memang berada di tangan Tuhan. Kita tak tahu kapan harus kembali ke Rumah Bapa.

Pada pertengahan 2008, Romo Zaka Benny merayakan 25 tahun imamatnya di Witihama, Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur. Selama 20 tahun Romo Zaka memang bertugas di paroki itu. Maka, selama ini Romo Zaka sering disindir sebagai 'Dulin alawen' alias orang Adonara di kampung saya. "Kapan pindah ke Ileape?" tanya umat.

"Go koi hala. Kame nepe dore perentah Bapa Uskup Larantuka," katanya kalem. Sebagai pastor, kami hanya taat pada perintah Bapa Uskup Larantuka. Siap ditugaskan di mana saja. Cuma kebetulan tidak pernah ditugaskan di paroki kami, kampung halamannya.

Tahun 2013 ini, Romo Zakarias Benny genap 30 tahun mengabdikan sendiri sebagai pastor praja Keuskupan Larantuka. Sayang, sebelum mengadakan perayaan syukur 30 tahun imamat Romo Benny keburu dipanggil Sang Pencipta.

Selamat jalan Romo Zaka Benny!
Resquescat in pace!

Mo maiko molo, beng kame dore!

No comments:

Post a Comment