08 April 2013

Romo Kris Kia Anen SVD di Wonokromo

Romo Kris bersama anaknya Mbak Puji.
Saya sering misa di Gereja Santo Yohanes Pemandi, Wonokromo, Surabaya, karena dulu tempat tinggal saya di Jambangan Baru memang ikut paroki ini. Setelah itu, saya lebih banyak ke Pagesangan, Gereja Sakramen Mahakudus, setelah Paroki Wonokromo dimekarkan. Maka, saya tahu bahwa Paroki Yohanes Pemandi itu digembalakan imam-imam SVD, yang hampir semuanya berasal dari Flores, NTT.

Setelah cukup lama geser ke paroki lain, Sidoarjo, Juanda (Santo Paulus), kemudian Ngagel dan Katedral, saya mulai sering balik lagi ke Wonokromo. Soalnya, gerejanya tidak sepenuh di Ngagel atau Katedral. Terlambat lima menit masih dapat tempat. Beda dengan di HKY alias Katedral, datang 30 menit sebelum misa pun kita hanya bisa duduk di bawah tenda di halaman gereja.

Nah, meskipun sering misa di Wonokromo, saya ternyata tidak tahu kalau Romo Kris Kia Anen SVD ternyata orang Flores Timur, tepatnya Adonara Timur. Satu daerah dengan saya karena sama-sama etnis Lamaholot. Kami biasa berbahasa Lamaholot dalam pergaulan sehari-hari meskipun logatnya agak berbeda. Biasanya, logat Adonara sangat kental sehingga mudah dikenali. Tapi khusus Romo Kris Kia Anen SVD ini tidak kentara.

Saya bertemu Romo Kris ketika kepepet meminta renungan Jumat Agung untuk dimuat di koran. Maklum, dua romo 'langganan tetap' saya (Romo Eko dan Romo Budi) sudah pindah jauh di luar Surabaya. Maka, saya pun nekat ke Paroki Wonokromo karena saya tahu di sini tempatnya romo-romo Flores + Bali. Kedekatan-kedekatan etnisitas macam ini kadang sangat diperlukan dalam keadaan kepepet. Akan sulitlah saya meminta artikel instan dari seorang pendeta Protestan atau Pentakosta karena tidak kenal sebelumnya.

Begitu tahu kalau beliau asli Adonara Timur, saya pun lebih banyak berbahasa daerah. Saya pun senang karena renungan Jumat Agung sudah dia siapkan. "Tunggu sebentar, saya print dulu," katanya ramah. Dan... sepuluh menit kemudian Romo Kris keluar dari ruang kerjanya membawa selembar tulisan tentang makna sengsara dan wafat Yesus Kristus.

"Saya edit sedikit untuk dimuat di surat kabar," kata saya. Romo Kris pun oke-oke saja.

Ditahbiskan di kampung halamannya, Adonara Timur, Romo Kris Kia Anen SVD langsung ditugaskan di luar NTT. Lebih banyak berkutat di Sumatera Utara. Maklum, imam-imam SVD hampir 30 tahun ini tak lagi bertugas di paroki-paroki di NTT, khususnya Flores. Di Lembata misalnya tinggal satu paroki. SVD sebagai misionaris yang babat alas menyerahkan penggembalaan umat Katolik kepada romo-romo praja.

Setelah bertugas di Sumatera Utara, Romo Kris Kia Anen SVD ditarik ke Jawa. Tepatnya di Paroki Santo Yohanes Pemandi, Wonokromo, sejak dua tahun lalu. Rupanya, gaya sang romo yang kalem, murah senyum, bicara dengan nada rendah (bukan nada tinggi ala orang Adonara) cocok dengan umat di parokinya. Umat Katolik di Wonokromo ini dominan etnis Jawa yang masih suka berbahasa krama inggil, guyub, khas kota kecil. Karakter umat pun bukan tipe menengah-atas macam di Citraland atau Ngagel.

Karena bertemu muka pastor asal Adonara, saya menyinggung masalah perang tanding di Adonara Timur belum lama ini gara-gara rebutan tanah. Pemerintah dan aparat keamanan seeprtinya sulit menyelesaikan masalah lawas ini. "Kasus di Adonara ini tidak bisa diselesaikan secara legal formal atau dengan hukum biasa. Harus ada tokoh netral yang bisa dipercaya kedua belah pihak," katanya.

Sayang, diskusi soal kampung halaman alias Lewotanah ini tidak bisa berlanjut karena Romo Kris Kia hari itu sangat sibuk mengurus berbagai acara untuk pekan suci. Selamat melayani umat di Surabaya, Romo Kris!

No comments:

Post a Comment