20 April 2013

Leonard Kristianto bos baru JK Records

Leonard Kristianto & Judhi Kristianto.

"Wah, NSP sampean kok kayak khotbah pendeta di gereja karismatik?"

"Hehehe.... Kebetulan saya baru menangani rekaman seorang pendeta. Yah, sekalian saja dipromosikan. Hehehe...."

Begitulah pembuka percakapan saya via telepon dengan Leonard Kristianto siang kemarin (19/4/2013). Pria berkacamata, musisi lulusan USA, ini tak lain bos JK Recods, Jakarta. Nyo, sapaan akrabnya, tak lain putra Judhi Kristianto, pendiri JK Recods, major label yang sangat populer di Indonesia pada 1980-an hingga menjelang 2000.

JK Records itu dulu dikenal sebagai pabrik artis pop melankolis. Artis-artis JK antara lain Meriam Bellina, Dian Piesesha, Annie Ibon, Lydia Natalia, Ria Angelina, Feni Bauty, Mega Selvia, Nindy Ellese, Meta Armys, Wahyu OS, Pance Pondaag, Obbie Messakh, Deddy Dores... dan masih banyak lagi. Lagu-lagu pop manis, yang dikritik Menpen Harmoko sebagai pop cengeng, dulu merajalela di TVRI. Satu-satunya televisi saat itu.

Nah, gara-gara sering menulis catatan tentang artis lawas, khususnya penyanyi-penyanyi JK, suatu ketika saya dihubungi orang JK dari Jakarta. Lantas, suatu ketika saya dapat telepon. "Saya Nyo, Mas," kata suara di telepon. Omong punya omong, Nyo ini tak lain Leonard Kristianto, bos JK Records saat ini. Nyo menggantikan ayahnya, Judhi Kristianto, yang sudah berusia 66 tahun.

Lahir dari keluarga musisi (Judhi itu pianis bagus), Nyo mulai main musik sejak usia 11 tahun. Pada 1988 Nyo bersama band-nya jadi juara pertama kejuaraan band di Jakarta. Dia lalu kuliah di Amerika Serikat,  Berklee College of Music majoring in Music Production & Sound Engineering and Music Synthesis, sehingga penguasaan musiknya tak diragukan lagi. Berbeda dengan musik JK, Nyo justru menekuni musik jazz.

"Saya juga belajar intensif sama almarhum Bubi Chen," katanya merujuk maestro jazz asal Surabaya itu. Maka, Nyo ikut menunggui jenazah sang guru, Bubi Chen, saat disemayamkan di Adi Jasa, Surabaya, dan mengantar ke Kembang Kuning untuk dikremasi.

Selain menangani rekaman Bubi Chen, Nyo menggarap rekaman artis papan atas macam Lulu Purwanto, Christian Bautista, dan Sam Conception. Studio XVI milik JK Recods yang dikelolanya memang tergolong laris di Jakarta. Karena itu, meski sejak 2000 tak ada artis-artis JK yang kondang, aktivitas rekaman di studionya tetap padat.

"Siapa bilang JK Records sudah tutup? Ngawur itu!" tegasnya ketika saya meminta konfirmasi atas gosip yang beredar di internet.  

Hanya saja, Nyo mengakui bahwa warna musik pop yang beredar saat ini di Indonesia sudah jauh berbeda dengan era 1980, 1990, atau 2000. Beda jauh dengan pop manis ala Pance, Obbie Messakh, Wahyu OS, Dian Piesesha, dan sebagainya. Ada plus minusnya. Suka atau tidak, itu soal selera dan pilihan belaka.

Sebagai pemusik lulusan USA, dengan pergaulan yang luas, Nyo tahu persis perkembangan ini. Karena itu, JK Records memilih sistem bisnis sendiri meskipun konsekuensinya masyarakat mengira perusahaan yang mulai merilis album perdana pada 1983, tiga puluh tahun lalu, ini bangkrut.

Bisnis musik itu butuh strategi dan timing. Itulah yang dilakukan Nyo dan manajemen JK. Mereka diam-diam sudah menyiapkan beberapa artis baru yang siap dirilis ke pasar. "Tapi tunggu saja perkembangannya," kata ayah tiga anak ini.

Leonard Kristianto alias Nyo justru mengaku kewalahan melayani penggemar artis-artis JK era 1980-an dan 1990-an. Mereka yang usianya di atas kepala tiga. Mereka-mereka ini ingin memiliki album-album artis idola dalam format CD/VCD atau DVD. Maka, dalam dua tahun terakhir Nyo sibuk memproduksi ulang album-album lama. "Semua itu karena permintaan penggemar dari seluruh Indonesia," katanya.

Bulan lalu, Nyo mencoba menguji loyalitas penggemar JK Records dengan menyelenggarakan konser Dian Piesesha. "Tante Dian Piesesha itu penyanyi yang punya karakter sangat kuat. Tante Dian punya komunitas penggemar yang sangat fanatik," katanya.

Konser yang dipersiapkan singkat saja itu ternyata sukses. Penonton membeludak. Konser itu jadi ajang jumpa fans dengan artis-artis JK lama macam Dian Piesesha, Chintami Atmanegara, Wahyu OS. Nyo pun mengaku sangat senang dan hampir tak percaya mengingat masa keemasan artis-artis itu sudah lewat 20-an tahun silam.

"Sekarang saya lagi memproduksi ulang album Wahyu OS," katanya.

"Vokalnya pakai yang lama, tapi musiknya kita rombak agar cocok dengan zaman sekarang. Saya juga pakai orkestra," tambahnya. Wahyu OS merupakan penyanyi orbitan JK yang punya kualitas vokal prima. Dia juga piawai menciptakan lagu-lagu pop yang jadi hit sampai sekarang.

"Nanti kita akan bicara lebih banyak di Surabaya ya! Saya ada rencana ke Surabaya dalam waktu dekat," kata Nyo yang siang itu rupanya sibuk melayani sejumlah musisi di studionya.

"Siap! Sampai ketemu di Surabaya dan semoga suatu saat jadi pendeta!" kata saya.

"Oh, yang terakhir itu saya nggak setuju. Saya nggak punya potongan jadi pendeta. Hehehehehe," balasnya lantas tertawa kecil.

Gayeng banget!

1 comment:

  1. Wah saya sudah ketinggalan zaman. Saya hanya kenal studio
    records ; Lokananta dan Irama. Achir2 ini juga kenal Aquarius Musikindo, cuma sayang, para artisnya tidak sesuai selera saya, sebab saya lebih cenderung mendengar musik yang berirama cengeng, ngak-ngik-ngok kata Bung Karno.

    ReplyDelete