17 April 2013

Isu SARA di Pilgub NTT Tak Relevan


KATOLIK vs PTOTESTAN: Frans Lebu Raya (kiri) vs Esthon Foenay. 


Pemilihan gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) putaran kedua direncanakan berlangsung pada 15 Mei 2013. Gubernur dan wakil gubernur sekarang, Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay, pecah kongsi dan harus bertarung di putaran kedua. Pasangan Frans Lebu Raya-Benny Alexander Litelnony atau Frenly berhadapan dengan Esthon Foenay–Paul Edmundus Tallo alias Esthon-Paul.

Dibandingkan pilgub NTT lima tahun lalu, pilgub kali ini kurang begitu menarik. Setidaknya untuk warga NTT di luar NTT alias diaspora yang tersebar di Jawa, Kalimantan, Malaysia, Sulawesi, dan sebagainya. Sebab, tidak ada tokoh baru yang benar-benar fenomenal macam Jokowi-Ahok di Jakarta. Frans dan Esthon ini orang lama yang kinerjanya sudah bisa diketahui semua orang NTT.

Menjelang pilgub putaran pertama, saya melihat langsung di Lembata suasana adem ayem aja. Warga bahkan tidak tahu siapa saja yang bakal maju. Hanya ada satu dua spanduk Frans Lebu Raya di pinggir jalan raya dekat makam kampung Bungamuda, Ileape, Lembata. Gubernur Frans sebagai inkumben memang sudah lama promosi kalau tidak dibilang curi start kampanye. Ada program Anggur Merah dan kampanye susupan lewat mesin birokrasi.

Esthon Foenay memang wagub NTT sekarang, tapi rakyat di kampung tidak begitu kenal. Mereka hanya tahu Pak Frans, gubernur sekarang, karena kebetulan beliau berasal dari Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, yang sama-sama etnis Lamaholot. Sama-sama ata kiwan (orang kampung) yang bahasa ibunya bahasa Lamaholot. Kesamaan etnis dan agama harus diakui menjadi kelebihan Frans di bumi Lamaholot dan Flores umumnya.

"Daripada memilih orang lain, mengapa kita tidak memilih orang kita?" kata beberapa tokoh di Lembata.

"Bagaimana kalau orang kita itu prestasinya kurang bagus?" tanya saya.

"Memangnya Pak Esthon punya prestasi apa? Kan beliau itu wakilnya Pak Frans? Memangnya ada jaminan Pak Esthon akan lebih bagus kalau nanti jadi gubernur?" protes orang kampung yang rupanya pendukung berat Ama Frans, ata Lamaholot.

Hehehe.... Saya hanya bisa tertawa kecil. Sejak dulu memang tidak pernah ada jaminan bahwa seorang gubernur NTT bisa memajukan provinsinya. Begitu banyak gubernur mulai Lalamentik pada 1958, kemudian El Tari, Ben Mboi, Hendrik Fernandez, dan seterusnya. Tapi kenyataannya sampai sekarang NTT "masih seperti yang dulu", kata Dian Piesesha, penyanyi pop melankolis yang digandrungi orang NTT.

Jalan raya di Lembata tetap saja berlubang-lubang sejak 40-an tahun lalu. Dan politikus-politikus di Kupang macam Frans, Esthon, Benny Harman, Ibrahim, dan sebagainya tidak pernah merasakan jalan-jalan rusak di pelosok NTT. Begitu mau maju sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur, mereka-mereka ini baru mau turun ke pasar, kampung, terlihat merakyat. Virus pencitraan ala politisi Jakarta memang ikut menyebar di NTT.

Menjelang pilgub putaran kedua, isu SARA mencuat ke permukaan. Jadi bahan jualan kecap politik. Frans Lebu Raya Katolik, Adonara (Flores Timur); sementara Esthon Foenay sudah jelas Protestan, etnis Timor. Dari dulu isu Katolik vs Protestan, Flores vs Timor, memang selalu muncul. Bahkan, sebetulnya isu ini sengaja diciptakan para politisi NTT ketika gubernur masih dipilih oleh DPRD. Isu SARA macam ini sebetulnya makin lama makin kurang laku, dan hanya menunjukkan kelemahan sang politikus.

Contoh paling jelas adalah isu SARA menjelang pemilihan bupati Lembata putaran kedua. Para politisi dan tim suksesnya berusaha menghadang Yance Sunur dengan isu SARA karena Baba Yance ini memang keturunan Tionghoa. Kekatolikannya pun sempat dipertanyakan, katanya beliau ini jemaat Gereja Advent atau Gereja Pentakosta. Apa yang terjadi? Yance Sunur justru terpilih sebagai bupati Lembata. Yance jadi bupati Tionghoa pertama d NTT.

Yang paling gres bisa dilihat dalam pilgub DKI Jakarta. Ada kampanye sistematis, termasuk dari Rhoma Irama, raja dangdut, menghantam pasangan Jokowi-Ahok. Alasannya: Ahok beragama Kristen Protestan, Tionghoa, lahir di Belitung Timur. "Jangan pilih calon yang bukan Islam," kata Rhoma Irama yang memang juru kampanye Fauzi Bowo, calon petahana alias inkumben.

Hasilnya sudah terang benderang: Jokowi-Ahok yang terpilih. Warga sekarang sudah sangat cerdas. Isu SARA makin tidak laku di Indonesia, kecuali barangkali di Aceh atau Sumatera Barat.

Sebelum di Jakarta, yang lebih menarik adalah pemilihan gubernur Kalimantan Barat. Sangat fenomenal karena Cornelis yang Katolik (minoritas) yang dipercaya sebagai gubernur. Wakilnya pun Christiandy Sanjaya, yang Tionghoa. Padahal, penduduk Kalimantan Barat itu mayoritas beragama Islam.

Di negara yang makin demokratis, isu SARA perlahan-lahan akan mati karena tidak relevan dengan kesejahteraan rakyat. Presiden Taiwan Ma Ying-jeou beragama Katolik meskipun di Taiwan populasi umat Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta, dsb) tak sampai 1%. Orang melihat kompetensi, figur, kemampuannya untuk memimpin rakyatnya menghadapi berbagai tantangan hidup.

Orang NTT yang sederhana di kampung-kampung hanya ingin pemimpin yang bisa membawa NTT menjadi provinsi yang lebih maju. Bukan provinsi paling tertinggal di Indonesia. Bukan provinsi yang sebagian besar rakyatnya merantau, kabur ke Malaysia Timur, karena tak bisa cari uang di kampung halamannya sendiri.

2 comments:

  1. lebih fenomenal lagi Agustin Teras Narang yang sekarang ini jadi gubernur Kalteng pak ..

    Kalteng itu mayoritas penduduknya adalah suku Banjar dengan presentase 65% muslim ... sementara Kalbar lebih wajar karena selain memiliki presentase Tionghoa yang cukup besar, mayoritas penduduknya pun adalah suku Dayak yang mayoritas Kristen (bersaing dengan Melayu)

    ReplyDelete
  2. Saya barusan menonton acara televisi tentang India. India adalah, menurut issue koran2 orang bule, negara demokratis terbesar didunia. India yang selalu dipuji-puji oleh orang2 bule karena Demokrasi-nya, sedangkan Tiongkok selalu dihujat karena hanya ada satu partai, diktatoris.
    Maaf Bung Hurek, kali ini, setelah menonton dokumentasi tentang India, saya berani bersilang pendapat dengan Anda, bahwa di-negara2 demokratis issue SARA akan pudar. Mungkin itu hanya berlaku dipulau Flores.
    Di India warga Muslim adalah warga minoritas, mereka dinegerinya juga mengalami diskriminasi dan pogrom, sama halnya seperti warga minoritas di Indonesia. Di Indonesia ada laskar FPI dari radikal Islam, dan di India juga ada laskar RSS dari radikal Hindu. Kelakuan kedua laskar itu samimawon, tukang kipas SARA dinegerinya. Saya bingung melihat ribuan mayat kaum muslim yang dibantai lalu dibakar di India. Dan saya juga penasaran melihat orang2 FPI merusak mengobrak-abrik warung2 bakul sego dipinggir jalan, karena mbok-mbok berani berjualan dibulan suci Ramadhan.
    Baiknya di India yang demokratis, banyak sekali kaum cedekiawan Hindu yang berani membela kaum minoritas Muslim secara terang2-an, walaupun kosekuensi-nya mereka dimusuhi dan diancam akan dibunuh oleh kaum radikal Hindu, sehingga mereka harus dilindungi polisi India selama 24 jam. Sedangkan di Indonesia yang berani membela kaum minoritas hanyalah Nusron Wahid dan Ratna Sarumpet, itupun tidak setegas di India, pokoknya lumayanlah. Yang lainnya kura2 dalam perahu.
    Saya sarankan tukang2 kompor FPI, para Habib, terutama Rizieg, mencoba menetap sementara, selama 6 bulan, di Benares atau di Hyderabad, biar tahu rasanya hidup sebagai minoritas. Demikian pula pentolan2 RSS coba menetap selama 6 bulan di Aceh atau di Jakarta.
    20 tahun silam saya kedatangan tamu, seorang teman pribumi Batak, Guru Besar di Universitas Airlangga. Saya berkata : Mas, aku ta' mulih nyang Suroboyo wae.
    Pak Professor memandang saya dengan mata terbelalak, lalu berkata demikian :
    Kamu adalah seorang teman, jadi saya mau bicara sejujurnya kepadamu. Mengapa kamu mau pulang, di Eropa sudah penak, rumah besar, uang banyak, dipandang warga. Kamu lihat saya, seorang Pribumi Batak, sesungguhnya saya ini WNI kelas 2 , sebab saya orang Nasrani. Kamu lihat tampang-mu sendiri, di Indonesia kamu mau jadi WNI kelas piro ? Wis bok macem-macem !
    Mendengar perkataan si-Professor, kepala-ku terasa bak diguyur air dingin.
    Sewaktu saya masih sekolah di Sekolah Rakyat sampai SMP, kok rasanya orang Cina, Arab atau India statusnya sama di Indonesia ( sama2 Immigrant ), bahkan saya pernah berkelahi dengan si Fuad, Arab dari jalan Sasak-Surabaya. Sejak kapan si-Fuad bisa jadi WNI kelas wahid ?
    Ketika anak perempuan-saya melahirkan, saya menjenguknya dirumah sakit, setelah melihat si-bayi, saya bertanya, sudah lu kasih nama ?
    Sudah Pa, namanya Sarah. Dalam hati-ku agak tergetar. Lha kok namanya SARA.
    Konotasi-nya bagi orang Indonesia agak kurang sedap. Saya hanya tersenyum, lalu berkata: nama bule-nya urusan lu dan suami-mu, tetapi biarlah gua yang kasih nama Cina-nya.
    Issue SARA tak akan bisa punah, selama ada yang dinamakan: Pribumi, Immigrant dan Religion. Namun tiap orang wajib menjadi seorang Warga Negara yang baik.
    Lihatlah masa pemilu di Eropa, untuk menarik pemilih, para politikus partai
    berteriak: Kita sudah kebanjiran orang asing, budaya Kristen kita terancam, usir para Immigrant, terutama yang Muslim ! Donald Trump di USA juga memakai trick begitu. Ini Fakta !

    ReplyDelete