21 April 2013

HUT Makco, Kelenteng Mojokerto nanggap wayang kulit

Dalang Tionghoa: Tee Boen Liong.

Berbagai kegiatan digelar pengurus dan jemaat kelenteng untuk memeriahkan ulang tahun Makco Thian Siang Sing Bo. Kelenteng Hok Siang Kiong, Mojokerto, pekan depan (28/4) mengadakan bakti sosial pengobatan gratis di halaman kelenteng yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman 1, Mojokerto.

"Baksos pengobatan gratis ini terbuka untuk masyarakat umum. Tapi kami utamakan warga yang kurang mampu," kata Eko Gunawan, ketua panitia, kemarin. Baksos seperti ini selalu diadakan pihak kelenteng untuk menyambut hari-hari besar Tionghoa seperti Sincia (tahun baru Imlek), sembahyang rebutan, dan hari jadi Makco.

Menurut Eko, pengurus kelenteng dan pantia bekerja sama dengan sejumlah dokter dan rumah sakit setempat. Tentu saja, kalangan pengusaha ikut berpartisipasi sebagai donatur untuk pengadaan obat-obatan dan berbagai fasilitas lain. "Kita ingin menjaga hubungan baik antara warga Tionghoa dan masyarakat umum yang sudah berlangsung ratusan tahun," katanya.

Seperti diketahui, Makco Thian Siang Sing Bo yang juga dikenal sebagai dewi laut sangat dihormati warga keturunan Tionghoa, khususnya di Asia Tengara. Ini terlihat dari banyaknya kelenteng di Pulau Jawa yang dibangun untuk menghormati Makco. Karena itu, ulang tahun Makco biasanya digelar besar-besaran ketimbang perayaan tahun baru Imlek atau Cap Go Meh.

Selain bakti sosial pengobatan gratis, menurut Eko, peringatan sejit Makco tahun ini juga dimeriahkan dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk di halaman kelenteng. Dalangnya Tee Boen Liong alias Ki Sabdo Sutedjo, dalang keturunan Tionghoa dari Kapasan, Surabaya. Pertunjukan kesenian tradisional Jawa pada 1 Mei 2013 juga menampilkan pelawak Kirun dan Topan.

"Jadi, kita sekaligus melestarikan seni pewayangan dan tradisi Jawa di tanah air. Jangan sampai generasi muda kita lebih gandrung budaya luar daripada budaya leluhurnya sendiri," tegasnya.

Menurut Eko, wayang kulit itu tidak hanya sekadar tontonan atau hiburan, tapi juga mengandung tuntutan serta filsafat kebudayaan. Karena itu, warga Tonghoa di Jawa, khususnya generasi lama, biasanya sangat gandrung wayang kulit. Bahkan, ada generasi muda seperti Boen Liong yang serius mempelajari wayang kulit hingga menjadi dalang terkenal.

No comments:

Post a Comment