02 April 2013

Ceng Beng di rumah sembahyang keluarga Han

Hubert, generasi ke-10 marga Han di Indonesia.


Banyak cara untuk merayakan Ceng Beng. Robert Rosihan bersama istri, anak, dan kerabatnya melakukan nyekar bersama di perairan kawasan Tanjung Perak, Surabaya. Upacara tahunan ini intinya sama dengan ziarah kubur dan membersihkan makam setiap tahun 10 hari sebelum dan sesudah tanggal 5 April 2013.

"Kami menyewa sebuah kapal untuk melakukan acara larung di laut. Lokasinya persis di tempat abu jenazah keluarga yang dilarung dulu," ujar Robert. Usai berdoa secara Katolik, Robert bersama keluarga secara bergantian melarung berbagai hantaran ke laut.

Upacara Ceng Beng alias Qing Min (bahasa Mandarin) masih berlanjut. Robert bersama istri, Tan Ling Mei, dan dua anaknya, Hubert dan Richard, mengadakan upacara lanjutan di rumah sembahyang keluarga Han di Jalan Karet 72 Surabaya. Di bangunan tua yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Surabaya ini Robert sekeluarga membawa aneka jenis makanan untuk disajikan kepada para leluhur yang sudah tiada.

Jenis penganan yang diletakkan di altar antara lain buah-buahan seperti pisang, apel, jeruk, rambutan, srikaya. Kemudian makanan basah seperti ayam, kepiting, ikan, babi, bebek. Tak lupa kue-kue basah seperti wajik dan roti mangkok. Juga minuman putao chee chiew, sejenis anggur rendah alkohol.

"Acara Ceng Beng di sini hampir sama dengan sembahyang saat tahun baru Imlek. Dalam satu tahun, keluarga besar kami tiga kali mengadakan sembahyang bersama di sini. Setelah ini akan ada sembahyangan lagi saat sembahyang rebutan," jelas Robert, yang tercatat sebagai generasi kesembilan keluarga Han di Indonesia.

Meski sering disebut rumah abu, menurut Robert, tak ada abu jenazah leluhur keluarga Han yang disimpan di sini. Yang ada hanya sinci-sinci atau papan bertuliskan nama-nama leluhur keluarga Han dalam aksara Tionghoa alias hanzi. Sinci-sinci itu disimpan di lemari kaca di atas meja altar.

Rumah sembahyang ini didirikan oleh Han Bwee Ko, generasi keenam keluarga Han pada abad ke-18. Sejarah rumah dengan arsitektur campuran Tionghoa, Jawa, dan Eropa ini diawali dengan kedatangan Han Siong Kong ke Lasem, Jawa Tengah, pada 1673.

Salah satu keturunannya, Han Bwee Koo, diangkat menjadi Kapiten der Chineezen oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi pemimpin masyarakat Tionghoa di Surabaya. Keluarga Han kemudian menjadi pengusaha kaya raya dan terlibat dalam pemerintahan di era prakemerdekaan.

Tak hanya keluarga Robert, beberapa kerabat dan kenalan Robert pun datang untuk sembahyang saat perayaan Ceng Beng ini. Dan, seperti biasa, Robert dan istri, Tan Ling Mei, menunggu beberapa jam hingga para leluhur memberikan 'restu' untuk mengakhiri peribadatan. "Kita harus bertanya dulu pakai cara tertentu," kata Ling Mei.

Di akhir ritual, setelah mendapat izin dari leluhur, Robert sekeluarga membakar aneka hantaran dari kertas seperti uang-uangnya, mobil, laptop, dan aneka aksesoris di depan rumah sembahyang. 

6 comments:

  1. saya baru tahu kenapa kok tiap awal april makam kembang kuning selalu rame banget, macet total... ternyata ada upacara nyekar bersama org chinese

    ReplyDelete
  2. Kalau saya Cheng Beng ke pantai aja. Sebenarnya setelah abu jenazah udah ditabur di laut kita bisa memperingatinya di pantai mana saja.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Tahun Baru Sincia sampai Capgomeh kebanyakan saya kabur dari Tiongkok ke Eropa, sebab tidak tahan mendengarkan dentuman mercon, petasan dan kembang api yang memekakkan telinga. Dentuman2 itu berlangsung sepanjang hari dan malam, 24 jam, dan berlangsung selama 15 hari.
    Kalau tiba hari Ceng-beng, sebisanya saya mudik ke Indonesia, dari Jakarta terus bersama-sama
    saudara terbang ke Denpasar untuk ziarah kemakam ayah-bunda. Entah kenapa saya pribadi lebih mementingkan Ceng-beng daripada Sincia.
    Abang saya yang fasih berbahasa Mandarin, kalau kekuburan Cina selalu keliling kuburan, membaca tulisan2 aksara China yang terukir di-batu2 nisan, bongpay. Dari tulisan2 dibongpay kita bisa tahu, dari desa atau kabupaten mana di Tiongkok almarhum itu berasal. Dari nama anak2-nya yang tercantum dibongpay, kita bisa tahu, oh
    ini khan makamnya orang-tua teman sekolahku, sewaktu disekolah rakyat Tionghoa Hweekoan.
    Begitu juga waktu tamasya ke Belitung atau Lombok, kalau lihat kuburan Cina, kita selalu berhenti, membaca sejarah, asal usul orang yang meninggal tersebut. Yang kita incar adalah makam2 yang sudah tua. Kalau makam2 yang baru sudah pakai tulisan Latin dan sudah ganti nama,
    tidak tahu almarhum itu She atau marganya apa, dan tidak tertulis kakek-moyangnya berasal darimana. Macabre khan, hoby kita kekuburan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia Xiansheng sudah mau bagi2 cerita yg sangat berkesan. Adat istiadat pancen selalu berkembang dan khas di mana2... salam sehat.

      Delete
  5. Cheng Beng hampir tiba. Banyak orang ke Pantai atau Kuburan utk tabur bunga.

    ReplyDelete