24 April 2013

Bahasa Fuqing (Hokchia) terancam punah

Bocah-bocah Tionghoa Indonesia keturunan Fuqing. CIAMIK!!!

Sebagian besar generasi muda Tionghoa di Jawa Timur tidak bisa berbahasa Tionghoa. Tak hanya bahasa Mandarin, yang kini makin berkembang menjadi bahasa internasional, dialek lokal pun tak dikuasai anak-anak muda Tionghoa, khususnya yang lahir di atas tahun 1970.

Bisa dimaklumi, karena pada masa Orde Baru itu bahasa dan budaya Tionghoa memang dilarang keras oleh pemerintah. Akibatnya, para orang tua enggan mengajarkan bahasa Tionghoa kepada anak-anaknya.

"Bahkan, banyak orang tua yang juga tidak menguasai bahasa Tionghoa. Lha, bagaimana dia bisa mengajar anak-anaknya," kata Ira Puspasari, pengurus Fuqing Muda Surabaya, yang saya hubungi via telepon.

Karena itu, Ira dan pengurus Fuqing Muda belum lama ini membuka kursus bahasa Fuqing alias Hokchia di Yayasan Fajar Mulya, Jalan Jaksa Agung Suprapto 39-41 Surabaya. Menurut Ira, Fuqing atau Hokchia terletak di Provinsi Fujian, Tiongkok, dekat Kota Fuzhou.

Cukup banyak warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang leluhurnya berasal dari Fuqing. Mereka kemudian membentuk perkumpulan yang masih eksis sampai sekarang. Salah satu tokoh Fuqing terkenal adalah mendiang Liem Sioe Liong. Kemudian Alim Markus, bos Maspion Group, di Surabaya.

Nah, di masa lalu, para orang tua membiasakan anak-anaknya berbicara dalam bahasa daerah Fuqing di lingkungan keluarga. Dialek selatan Tiongkok itu juga dipakai dalam acara-acara sosial budaya masyarakat keturunan Fuqing di tanah air. "Tapi perlahan-lahan bahasa Fuqing ini makin tenggelam di Surabaya karena memang tidak dibiasakan di rumah. Kalau orang-orang tua sih masih lancar," kata Ira.

Ira dan kawan-kawan khawatir suatu ketika bahasa Fuqing ini hilang dari Jawa Timur jika generasi muda keturunan Fuqing tidak mau mempelajarinya. Begitu pula nasib bahasa-bahasa lokal lain seperti Hakka atau Kanton.

"Belajar bahasa Mandarin jelas sangat penting. Tapi bahasa Fuqing dilupakan," tegas Ira.

Saat ini kursus bahasa Fuqing digelar setiap Rabu malam di markas Fuqing Muda. Anak-anak muda dilatih percakapan dan aksara Tionghoa. "Peminatnya lumayan banyak meskipun tidak sebanyak bahasa Mandarin," kata Ira lantas tertawa kecil.

Dengan belajar bahasa Fuqing, menurut Ira, anak-anak muda sekaligus bisa melestarikan budaya leluhurnya.

11 comments:

  1. Sedikit tambahan, fuqing itu ejaan pinyin, bacanya kalau lidah melayu: fu-jhing atau lidah English: foo-ching.

    Yah, memang sayang kalau hilang, tapi mau belajar Mandarin aja sulit, apa lagi kalau ditambahi Hokchia hahaha.

    Wes, biarpun aku turunan Hokchia, gak papa, menyerah aja dulu.

    ReplyDelete
  2. wih, setidaknya masih ada generasi yang peduli agar bahasa fuqing tetap eksis, tetap semangat !

    ReplyDelete
  3. Di Nan-Yang, khususnya dipulau Jawa, Bali dan Sumatra, sejak zaman Belanda sampai runtuhnya Orde-Lama, bahasa Hok-chia tidak pernah memegang peranan yang begitu penting dalam pergaulan masyarakat Tionghoa. Yang menjadi lingua franca dalam perdagangan adalah bahasa Hok-kian atau Min-nan-hua.
    Jadi orang2 Hok-chia harus belajar menggunakan bahasa Hok-kian, jika ingin sukses berdagang di Nusantara, Malaya dan Philipina.
    Karena orang Hok-kian dan Hok-chia, dasarnya sama2 dari provinsi Fujian, maka lebih mudah bagi mereka untuk berassimilasi.
    Kalau orang Khek tidak sudi belajar bahasa Hok-kian, mereka memilih menggunakan Putonghua untuk berkommunikasi dengan suku China lainnya. Lacurnya orang Hok-kian lebih suka memakai bahasa Jawa atau bahasa2 daerah lainnya yang ada ditempat mereka berada, dan tidak mampu Putonghua, sebab itu antara suku Hok-kian dan Khek tidak bisa cocok.
    Suku Hok-kian lebih mudah bergaul dengan bangsa2 lainnya, sebab kampung2 mereka di Tiongkok, letaknya dipinggir pantai, sudah biasa hidup menjadi nelayan dan pelaut. Sedangkan orang Khek adalah manusia pedalaman dan pegunungan dikabupaten Meixian, mereka jika merantau cenderung ke Kalimantan Barat, Bangka-Belitung. Dasar orang Khek keras kepala, bukannya mereka yang belajar bahasa daerah Kalimantan, sebaliknya orang Dayak yang harus belajar bahasa Khek, agar supaya bisa berbelanja dan berdagang dengan orang Tionghoa itu.
    Karena suku Khek pandai berbahasa Mandarin, maka kebanyakan guru2 sekolah THHK adalah dari suku mereka.
    Dunia selalu berputar, dulu yang jadi Cukong kebanyakan dari suku Hok-kian, sekarang hampir semua cukong adalah keturunan Khek, kecuali Oei Ek Tjong atau Po Tjie Gwan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya ibukota Fujian itu di Fuzhou (kuno: Changle), yang bahasanya nota bene sangat mirip dengan Fuqing atau Hokchia, kota tetangganya. Tapi karena di perantauan jumlahnya kalah banyak, yang disebut bahasa Hokkian di luar justru Minnan hua, atau bahasa Hokkian selatan.

      Delete
    2. Fuzhou memang ibukota provinsi Fujian, tetapi Quanzhou sejak zaman dynasti Tang, jauh lebih terkenal daripada Fuzhou. Quanzhou zaman dulu adalah pelabuhan laut terbesar dan terramai diseluruh Tiongkok, menjadi ujung-pangkal dari Jalan sutra laut. Orang Arab dan Persia menyebutnya sebagai Zaytun. Quanzhou dizaman Antike pernah menjadi pelabuhan terbesar kedua diseluruh dunia, setelah Alexandria.
      Banyak contoh didunia, dimana sebuah ibukota kalah terkenal daripada kota lainnya, misalnya :
      Sydney lebih terkenal daripada Canberra.
      Sao Paulo lebih terkenal daripada Brasilia.
      Toronto ----- ;; -------------------- Ottawa.
      New York -----;; ---------------------Washington.
      Berlin ( 15 tahun silam ) ---;;------ Bonn.
      Dan banyak lagi didunia.

      Delete
  4. Adakah komunitas bagi warga hokchia ? pin b.b saya 52a503ed

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy keturunan hokchia (papa) - hokkian (mama). Tp karena kekerabatan dr papa sy kurang baik, sy lebih familiar dengan tradisi panggilan hokkian. Kalau boleh sy mau tanya tradisi panggilan keluarga hokchia. Boleh minta emailnya?

      Delete
  5. Setuju..

    Bahasa Hokchia sudah hampir punah, hanya hidup di kalangan generasi tua..

    Di Jakarta, Bandung, dan Surabaya ada lumayan banyak komunitas Hokchia, namun yang mudanya banyak yang sudah tidak bias Bahasa Hokchia..

    teman saya juga banyak orang Hokchia, tapi ngomongnya pakai Hokkian selatan dan/atau Indo

    ReplyDelete
  6. Bahasa yg tidak dipakai suatu saat pasti akan hilang. Itulah yg terjadi juga dengan bahasa2 daerah di Indonesia. Ketika bahasa Indonesia makin meluas, maka otomatis bahasa daerah terpinggir. Para pendatang asal luar Jawa yg berada di Surabaya atau Malang tidak kesulitan berkomunikasi karena ada bahasa Indonesia yg kita pahami bersama. Ini bagus. Tapi tidak bagusnya para pendatang itu tidak "dipaksa" lingkungan untuk belajar bahasa Jawa. Makanya sebagian besar pendatang asal NTT atau Maluku tidak bisa fasih berbahasa Jawa meskipun sudah tinggal 10 atau 20 tahun di Jawa.

    Sebaliknya orang Jawa yg tunggal di pelosok Flores Timur akan sangat cepat menguasai bahasa Lamaholot karena masyarakatnya berbahasa daerah. Begitu pengalamanku di lapangan.

    ReplyDelete
  7. fasih berbahasa hokchia, bisa belajar ke saya karena ama saya orang hokchia asli dari sana.
    mencari saya cukup search: suntomo peduli kasih kristus di facebook.
    atau telp 088806417857

    salam hokchia ren

    kangsia

    ReplyDelete
  8. Bahasa Hokchia perlu dilestarikan dan dikembangkan

    ReplyDelete