09 April 2013

Aneh, preman NTT disambut bak pahlawan!

Nusa Tenggara Timur (NTT) belakangan makin populer di media massa bukan karena prestasi, melainkan premanisme. Yah, empat preman yang ditembak mati di Penjara Cebongan Jogja berasal dari NTT. Empat jenazah itu disambut begitu banyak orang di Bandara Eltari Kupang.

"Aneh, preman kok disambut kayak pahlawan aja!" kata Bung Nas di Surabaya. Sebagai orang NTT yang tinggal di Jawa, saya malu banget dengan komentar warga di warung kopi tentang preman NTT yang makin merajalela di kota-kota di Jawa.

"Yang namanya preman atau penjahat itu harus ditindak secara hukum. Apa pun suku agama ras dsb. Kebetulan saja empat preman yang didor oknum kopassus orang NTT," kata saya diplomatis.

Ulah preman asal NTT di Jawa sebenarnya tergolong baru. Baru 20an terakhir. Dulu kelompok preman berkedok pengaman swasta berasal dari beberapa daerah tertentu. Kalaupun ada yang NTT paling hanya kelas teri. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini merajalela di kota besar. Ironisnya lagi, ada preman yang tadinya polisi seperti kasus Cebongan ini.

Premanisme memang problem sosial ekonomi yang kompleks. Dus, perlu diselesaikan secara komprehensif. Membasmi empat preman di penjara ala oknum itu kelihatannya memberikan efek kejut tapi menimbulkan masalah baru. Seakan hukum negara tak berlaku dan hukum rimba yang bicara. Tapi masyarakat juga bisa memahami mengapa 11 oknum itu terpasa main hakim sendiri karena preman-preman itu sudah keterlaluan sadisnya. Bagaimana rakyat bisa merasa aman kalau dua kopassus saja dikeroyok sampai mati?

Kasus Cebongan ini mengingatkan kita pada kasus petrus, penembakan misterius, pada 1980an ketika preman dihabisi tanpa proses hukum. Rakyat yang gregetan sih senang saja karena preman-preman dibasmi. Tapi bagaimana dengan komitmen kita sebagai negara hukum? Bisakah hukum menjamin rasa aman masyarakat?

Gubernur NTT dan jajarannya perlu kerja keras untuk mendidik rakyatnya agar tidak jadi preman. Tak cukup hanya mengurus jenazah empat preman yang dihabisi oknum kopassus itu.

8 comments:

  1. Persoalannya bukan sekedar mendidik rakyat untuk tdk jadi preman. Tapi pertanayaan paling mendasar harus dijawab: mengapa ada preman? Dan mengapa preman tidak pernah habis. Maka kita harus jujur bahwa pengelolaan negara yang carut marut menjadi benih bagi tumbuh kembangnya premanisme.. Korupsi di mana2, penegakkan hukum yg tidak adil, jurang kaya dan miskin semakin menganga... efeknya adalah orang jadi tidak tukut dengan hukum atau hukuman kl sudah tau hukum bisa diperjualbelikan..orang jadi frustrasi ketika tidak punya peluang hidup layak... Maka jadi preman adalah pilihan...

    ReplyDelete
  2. saya kira preman2 itu perlu shock therapy agar ada efek jera. beking2 preman itu juga perlu dibasmi krn merekalah yg sengaja memelihara preman.

    ReplyDelete
  3. saya setuju dengan judul di atas, memang bangsa ini masih lemah dalam mencari jati diri..
    kita sudah tidak tau lagi mana yang baik dan berguna untuk kita lakukan dalam hidup ini..
    sayang yah....

    ReplyDelete
  4. salam hurek, salam kenal saya Ara dari Denpasar Bali, saya pingin kenal dengan anda, kapan jika ada di denpasar boleh kita jumpa teman, in alamat email saya:sunny.jangkang@gmail.com (itu alamat email), GBU :)

    ReplyDelete
  5. apa bedanya preman dan koruptor? itu kan cuma istilah dan jabatan...mereka sama2 mengambil hak orang lain. bedanya kalo koruptor kebanyakan berdasi kalo preman tdk... knpa selalu selalu membenci preman seperti binatang, pdhal koruptor jg sama saja, bahkan uang yg mereka ambil lebih bnyak sampai trilyunan rupiah, klo preman paling ratusan juta, klo gk ada koruptor indonesia sejahtera... skrg sya tanya, anda semua lebih benci preman atau koruptor?

    ReplyDelete
  6. bukan masalah ekonomi, tapi masalah diri mereka sendiri yang tidak kenal tuhan dan menghalalkan segala cara, walaupun miskin ato ekonomi pas pasan tapi kalo meraka punnya prinsip hidup yang benar dan akhlak yang baik dan takut tuhan, pasti mereka akan hidup benar.

    ekonomi selalu jadi kambing hitam, tapi diri mereka sendiri yang tidak mau mengubah moral mereka.

    yang namanya koruptor maling ato preman sama saja, karena preman ga da kesempatan aja untuk ambil yang besar kalo ada kesempatan pasti disikat juga.

    Preman dan koruptor hukum potong tangan karena sama-sama maling.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di tempat saya tinggal 90% orang berahlak tinggi walaupun tidak beragama. Ahlak jangan dihubungkan melulu dengan agama. Budi pekerti itu tidak hanya dilatih lewat agama. Hanya orang Indonesia saja yang keblinger beragama.

      Delete
    2. Hehe... Indonesia memang lain pak. Kalau ada kenakalan remaja dsb maka diusulkan agar pelajaran agama ditambah. Makanya saya juga heran saat ketemu orang Tiongkok dan Jepang yg sangat sopan halus ramah tamah... meskipun katanya tidak beragama. Di sini makin banyak orang mabok agama tapi makin tidak toleran sama orang lain yg beda keyakinan.

      Delete