24 April 2013

Bahasa Fuqing (Hokchia) terancam punah

Bocah-bocah Tionghoa Indonesia keturunan Fuqing. CIAMIK!!!

Sebagian besar generasi muda Tionghoa di Jawa Timur tidak bisa berbahasa Tionghoa. Tak hanya bahasa Mandarin, yang kini makin berkembang menjadi bahasa internasional, dialek lokal pun tak dikuasai anak-anak muda Tionghoa, khususnya yang lahir di atas tahun 1970.

Bisa dimaklumi, karena pada masa Orde Baru itu bahasa dan budaya Tionghoa memang dilarang keras oleh pemerintah. Akibatnya, para orang tua enggan mengajarkan bahasa Tionghoa kepada anak-anaknya.

"Bahkan, banyak orang tua yang juga tidak menguasai bahasa Tionghoa. Lha, bagaimana dia bisa mengajar anak-anaknya," kata Ira Puspasari, pengurus Fuqing Muda Surabaya, yang saya hubungi via telepon.

Karena itu, Ira dan pengurus Fuqing Muda belum lama ini membuka kursus bahasa Fuqing alias Hokchia di Yayasan Fajar Mulya, Jalan Jaksa Agung Suprapto 39-41 Surabaya. Menurut Ira, Fuqing atau Hokchia terletak di Provinsi Fujian, Tiongkok, dekat Kota Fuzhou.

Cukup banyak warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang leluhurnya berasal dari Fuqing. Mereka kemudian membentuk perkumpulan yang masih eksis sampai sekarang. Salah satu tokoh Fuqing terkenal adalah mendiang Liem Sioe Liong. Kemudian Alim Markus, bos Maspion Group, di Surabaya.

Nah, di masa lalu, para orang tua membiasakan anak-anaknya berbicara dalam bahasa daerah Fuqing di lingkungan keluarga. Dialek selatan Tiongkok itu juga dipakai dalam acara-acara sosial budaya masyarakat keturunan Fuqing di tanah air. "Tapi perlahan-lahan bahasa Fuqing ini makin tenggelam di Surabaya karena memang tidak dibiasakan di rumah. Kalau orang-orang tua sih masih lancar," kata Ira.

Ira dan kawan-kawan khawatir suatu ketika bahasa Fuqing ini hilang dari Jawa Timur jika generasi muda keturunan Fuqing tidak mau mempelajarinya. Begitu pula nasib bahasa-bahasa lokal lain seperti Hakka atau Kanton.

"Belajar bahasa Mandarin jelas sangat penting. Tapi bahasa Fuqing dilupakan," tegas Ira.

Saat ini kursus bahasa Fuqing digelar setiap Rabu malam di markas Fuqing Muda. Anak-anak muda dilatih percakapan dan aksara Tionghoa. "Peminatnya lumayan banyak meskipun tidak sebanyak bahasa Mandarin," kata Ira lantas tertawa kecil.

Dengan belajar bahasa Fuqing, menurut Ira, anak-anak muda sekaligus bisa melestarikan budaya leluhurnya.

21 April 2013

Alex Tan Bapak Gereja Bethany




Kesuksesan Pendeta ABRAHAM ALEX TANUSEPUTRA  alias ALEX TAN alias TAN LIAT GWAN dalam merintis Gereja Bethany Indonesia dari titik nol menjadi salah satu gereja terbesar di Asia Tenggara tak lepas dari kontribusi YENNY OENTARI. Menurut Alex, Yenny adalah istri yang selalu siap mendampingi dirinya dalam menghadapi segala situasi.

Oleh LAMBERTUS HUREK


"Tahu kalau suaminya akan memenuhi nazarnya untuk melayani Tuhan secara full time, Yenny memutuskan untuk mendukungnya," tutur Pendeta Abraham Alex Tanuseputra  (72 tahun).

Pada 1965, Alex memulai pelayananan di penjara. Rupanya, Alex yang waktu itu masih sangat muda, 24 tahun, mewarisi kebiasaan mamanya, Lena Tan, yang suka melayani sesama. Maka, Alex, yang didukung penuh sang istri, Yenny, mulai menjual satu per satu harta bendanya untuk mendirikan beberapa gereja kecil di Mojokerto dan sekitarnya. Mobil pribadi dijual, tabungan dikuras untuk merintis misi penginjilannya.

Kalau biasanya ke mana-mana Alex mengendarai mobil sendiri, kini diganti sepeda motor. Sepeda motor pun kemudian dijual, diganti sepeda pancal. Dana itu dipakai untuk membuka pos PI (Pekabaran Injil) di 14 desa antara lain di Puri, Randuagung, Gempolkerep, Pohjejer, Cakarayam, Banjar, Watesrejo, dan Dlanggu. Alex pun harus naik sepeda pancal untuk mendatangi 14 pos di kawasan Mojokerto tersebut.

"Kalau jalannya terkena lumpur tebal, maka sepedanya saya gendong sambil terus berjalan," kenangnya. Meski kondisi medan sangat berat, Alex mengaku tetap bersukacita merintis kariernya sebagai penginjil alias evangelis.

"Beliau seorang istri yang punya keteguhan hati," papar Alex. Dan, itulah yang membuat Alex semakin yakin dengan keputusan dan panggilan hidupnya.

Kesangsian Yenny terhadap Alex tentang perkataan sejumlah pendeta yang menubuatkan Alex bakal menjadi seorang pendeta besar perlahan-lahan sirna. "Bagaimana mungkin seorang seperti kamu mau melayani Tuhan? Wong sifatmu seperti itu?" begitu kata-kata yang sempat diucapkan Yenny ketika Alex Tan, suaminya, ingin menjadi hamba Tuhan.

Dulu, menurut Yenny, jika saya menyediakan makanan yang tidak sesuai dengan selera Alex, makanan itu akan dibuang. Taplak meja makan ditarik, sehingga semua makanan terbuang ke lantai," kenang Yenny.

Banyak orang di Mojokerto, yang mengenal Alex Tan, terheran-heran melihat perubahan drastis yang diperlihatkan Alex. Dari seorang yang dulu punya sembilan mobil, kini hanya tinggal satu sepeda pancal. Dari orang yang jauh dari Tuhan, tiba-tiba merintis 14 pos PI dan menjual harta bendanya untuk membiayai pelayanan rohaninya. Bahkan, paman-paman Alex pun tidak percaya kalau Alex benar-benar menjadi seorang hamba Tuhan (pendeta, Red).

Namun, sang mama, Lena Tan, tidak ragu dengan pertobatan Alex. Begitu tahu anaknya bertobat, Lena memberikan dukungan moral dan material untuk keberhasilan putranya.

Alex kemudian membangun gereja pertamanya di Jl Letkol Sumardjo, Mojokerto. Dia bahkan turun langsung sebagai mandor dan kepala tukang. Bangunan berkapasitas 250 orang itu pun akhirnya kelar. Selain berkhotbah dan memberikan pengajaran Alkitab, Alex bermain musik akordeon dalam band rohani.

Pada 1965, setelah peristiwa G30S/PKI, Alex merasa terpanggil untuk mendampingi orang-orang yang ia sebut 'kehilangan harapan'. Alex akhirnya mendapat surat izin khusus untuk melayani para tahanan politik di penjara. Maklum, pada masa yang genting itu tidak semua rohaniwan bisa masuk dan melakukan pelayanan rohani di dalam penjara atau rumah tahanan. Harus ada izin khusus.

Perjuangan Alex mula berbuah. Gereja yang baru dibangunnya di Jl Letkol Sumardjo, Mojokerto, itu pun makin berkembang. Banyak eks napol dan tapol yang menjadi jemaatnya. "Sampai-sampai ada orang yang menamai gereja itu dengan sebutan Gereja Penjara. Sebab, jemaat yang beribadah di situ banyak yang alumni penjara," katanya.





Abraham Alex Tanuseputra kemudian dipanggil untuk melanjutkan pelayanan di Surabaya pada 1977. Sebab, beberapa pendeta senior seperti Pendeta Gersom Sutopo melihat pendeta yang satu ini punya potensi dan energi yang sangat besar. Akan lebih efektif kalau Alex ditugaskan di Kota Surabaya.


Di Surabaya, Alex bersama istri (Yenny) dan tiga anaknya ditempatkan di sebuah kamar oleh Om Tyos, seorang pendeta, di Ngagel Jaya Selatan II. Enam orang harus hidup berdesakkan dalam satu kamar. Mereka hidup sangat sederhana dalam keterbatasan. Syukurlah, Yenny sangat kreatif mencari tambahan penghasilan untuk kebutuhan keluarga mereka.

Yenny bersama Asti (anak sulung) mencari kulit telur dari toko roti di kawasan Ngagel dan sekitarnya. Setelah dibersihkan dan dikeringkan, kulit telur itu dihaluskan untuk membuat bedak jerawat. Yenny juga mencari daun talas untuk dijadikan buntil yang diberi parutan kelapa muda dan bumbu. Panganan ini dititipkan di beberapa toko. Usaha kreatif Yenny ini ternyata cukup laris.

Sementara itu, selain menjadi pendeta, Alex nyambi sebagai sopir angkot jurusan Surabaya-Mojokerto, bahkan sampai Madiun. Kerja keras Alex, Yenny, dan anak-anaknya ini akhirnya bisa membuat dapur terus mengepul. "Masa-masa sulit itu kami jalani selama tujuh tahun," tutur Alex.

Roda nasib mulai berubah ketika alex dipanggil papamn-pamannya ke Mojokerto. Dia diminta membantu menjual rumah peninggalan Tan Tong Oen, yang tak lain kakek Alex. Paman-paman Alex meminta agar harga jual seluruh sertifikat Rp 170 juta. Namun, jika bisa menjual di atas harga itu, maka Alex berhak ambil semua keuntungan. Bahkan, Alex berhak menerima komisi 10 persen dari hasil penjualan.

Rupanya, Tuhan memberikan rezeki buat Alex Tan. Dia berhasil menjual rumah sang kakek dengan harga Rp 225 juta. Artinya, Alex berhak mendapat Rp 77,5 juta, nominal yang sangat tinggi pada masa itu.

Alex dan Yenny sempat berdebat keras, mau dibelikan apa uang sebanyak itu. Yenny ingin membeli perhiasan, sementara Alex ingin membeli mobil. Karena tak ada titik temu, mereka berdoa memohon tuntunan dari Tuhan. Akhirnya, Alex-Yenny sepakat membeli tanah untuk membangun gereja sebagaimana visi dan misi pelayanan mereka sejak dari Mojokerto.

Maka, siklus yang sama berulang kembali. Harta hasil penjualan rumah warisan sang kakek itu dihabiskan untuk membeli rumah di Jl Manyar Sindaru II/16 (sekarang Manyar Rejo). Di sinilah Alex mulai membuka gereja baru dengan jemaat tujuh orang. Karena jemaat bertambah, Alex pindah ke tempat yang lebih besar di Manyar Sindaru I/29 Surabaya.

Singkat cerita, pada 1987, sebuah gedung gereja di Manyar Rejo II/36-38 selesai dibangun. Pada saat itu, jemaat yang digembalakan Alex telah mencapai 2.000 jiwa dari tujuh orang pada 1977. Pada 1987 itulah Pendeta Alex Abraham Tanuseputra mengibarkan bendera GBI Bethany dengan slogan Successful Bethany Families.

Dalam otobiografinya, The Sower, Alex menyebutkan, selama 10 tahun (1990-2000) telah berdiri lebih dari seribu Gereja Bethany di Indonesia dan mancanegara. Dan, karena Gereja Bethany Manyar, yang berkapasitas 3.000 orang tak lagi memadai, maka dibangunlah Graha Bethany di Nginden yang berkapasitas 25 ribu tempat duduk.

Gedung yang selesai dibangun pada tahun 2000 ini bahkan disebut-sebut sebagai gedung gereja terbesar di Asia Tenggara. (*)






Nazar setelah Menabrak Bocah

Suatu hari di tahun 1965. Tan Liat Gwan alias Alex Tan bersama adiknya, Tan Liat Boen, bersama seorang teknisi mengendarai mobil mini Cooper. Tiba di Brangkal, Mojokerto, terjadi gangguan mesin. Mereka bertiga kemudian berusaha mencari tahu sumber kerusakan itu, sementara mobil masih terus bergerak. Tanpa mereka sadari, seorang bocah yang sedang bermain layang-layang tertabrak.

Anak itu terjerembab. Naik ke kap mesin hingga tiga kali. Sang bocah kemudian dibawa ke RS Rekso Waluyo di Jl Majapahit, Mojokerto. "Korban langsung ditangani seorang dokter asal Jepang," tutur Pendeta Alex Abraham Tanuseputra.

Sang dokter bilang korban sulit ditolong. Bahkan, Alex dan saudaranya diminta melarikan diri saja. Alex tentu saja ketakutan karena kondisi sosial politik saat itu kurang kondusif. Orang begitu mudah membunuh lawan-lawan politik. Nah, saat kalut itulah, Alex menemui Pendeta Christ da Costa di sebuah gereja kecil dekat rumah sakit. Akhirnya, mereka berdoa sepanjang malam memohon kepada Tuhan agar bocah itu diberi kehidupan.

Alex Tan pun bernazar, "Kalau anak ini sembuh, saya akan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh!" Esok harinya, bocah itu siuman. Nyawanya bisa diselamatkan. Tak henti-hentinya Alex mengucap syukur kepada Tuhan atas mukjizat itu. Keluarga korban pun bersedia menyelesaikan insiden ini secara kekeluargaan.

Tragedi tabrakan itu akhirnya mengubah jalan hidup Alex Tan. Dia menunaikan nazarnya, meninggalkan bisnisnya, dan mulai serius menjadi hamba Tuhan alias pendeta. Dia berpuasa selama 40 hari sambil membaca dan mendalami Alkitab (Bible). Ada saja gangguan selama berpuasa, tapi bisa dilalui Alex dengan baik. Bahkan, dia mendapat kekuatan baru untuk melakukan pelayanan pelepasan bagi orang yang dikuasai kuasa kegelapan semacam black magic.

"Kalau melayani pelayanan pelepasan, maka semua jimat yang mengikat seseorang harus dibakar terlebih dahulu dalam nama Tuhan Yesus. Ini penting agar kuasa yang ada dalam jimat itu tidak balik menyerang orang itu," katanya.

Sebelumnya, Alex Tan sebetulnya sudah diramal oleh Pendeta Djao Tze Kwan dan Pendeta EB Stube bahwa dirinya bakal menjadi pendeta. Melayani Tuhan sepenuh waktu dan sepenuh hati. "Waktu itu saya tidak tertarik menjadi hamba Tuhan karena, menurut saya, hamba Tuhan itu miskin, tidak punya masa depan," kenangnya.

Ternyata, peristiwa kecelakaan itu mengubah jalan hidup Alex Tan. Dan, nubuatan beberapa pendeta senior itu kemudian terbukti. (rek)


BIODATA SINGKAT

Nama : Abraham Alex Tanuseputra
Nama Tionghoa : Tan Liat Gwan
Lahir : Mojokerto, 1 Juni 1941
Istri : Yenny Oentario (menikah pada 23 Februari 1963)
Anak : Hanna Asti Tanuseputra, David Aswin Tanuseputra, dan Andreas Tanuseputra.

Jabatan di Gereja Bethany
Pendiri (Founding Father)
Gembala Senior (senior Pastor)
Bapak Bethany (The Father of Bethany)
Ketua Dewan Rasuli


Gelar/Penghargaan
Doctor of Philosophy dari International Christian Institute, AS, 1988
Doctor of Divinity dari Lee College, Cleveland, AS, 1995
Profesor dari Trinity Crown International University (TCIU), 2004

Alamat : Jl Nginden Intan Timur I/29 Surabaya
E-mail : info@bethanygraha.org
Website : http://www.bethanygraha.org

HUT Makco, Kelenteng Mojokerto nanggap wayang kulit

Dalang Tionghoa: Tee Boen Liong.

Berbagai kegiatan digelar pengurus dan jemaat kelenteng untuk memeriahkan ulang tahun Makco Thian Siang Sing Bo. Kelenteng Hok Siang Kiong, Mojokerto, pekan depan (28/4) mengadakan bakti sosial pengobatan gratis di halaman kelenteng yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman 1, Mojokerto.

"Baksos pengobatan gratis ini terbuka untuk masyarakat umum. Tapi kami utamakan warga yang kurang mampu," kata Eko Gunawan, ketua panitia, kemarin. Baksos seperti ini selalu diadakan pihak kelenteng untuk menyambut hari-hari besar Tionghoa seperti Sincia (tahun baru Imlek), sembahyang rebutan, dan hari jadi Makco.

Menurut Eko, pengurus kelenteng dan pantia bekerja sama dengan sejumlah dokter dan rumah sakit setempat. Tentu saja, kalangan pengusaha ikut berpartisipasi sebagai donatur untuk pengadaan obat-obatan dan berbagai fasilitas lain. "Kita ingin menjaga hubungan baik antara warga Tionghoa dan masyarakat umum yang sudah berlangsung ratusan tahun," katanya.

Seperti diketahui, Makco Thian Siang Sing Bo yang juga dikenal sebagai dewi laut sangat dihormati warga keturunan Tionghoa, khususnya di Asia Tengara. Ini terlihat dari banyaknya kelenteng di Pulau Jawa yang dibangun untuk menghormati Makco. Karena itu, ulang tahun Makco biasanya digelar besar-besaran ketimbang perayaan tahun baru Imlek atau Cap Go Meh.

Selain bakti sosial pengobatan gratis, menurut Eko, peringatan sejit Makco tahun ini juga dimeriahkan dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk di halaman kelenteng. Dalangnya Tee Boen Liong alias Ki Sabdo Sutedjo, dalang keturunan Tionghoa dari Kapasan, Surabaya. Pertunjukan kesenian tradisional Jawa pada 1 Mei 2013 juga menampilkan pelawak Kirun dan Topan.

"Jadi, kita sekaligus melestarikan seni pewayangan dan tradisi Jawa di tanah air. Jangan sampai generasi muda kita lebih gandrung budaya luar daripada budaya leluhurnya sendiri," tegasnya.

Menurut Eko, wayang kulit itu tidak hanya sekadar tontonan atau hiburan, tapi juga mengandung tuntutan serta filsafat kebudayaan. Karena itu, warga Tonghoa di Jawa, khususnya generasi lama, biasanya sangat gandrung wayang kulit. Bahkan, ada generasi muda seperti Boen Liong yang serius mempelajari wayang kulit hingga menjadi dalang terkenal.

20 April 2013

Leonard Kristianto bos baru JK Records

Leonard Kristianto & Judhi Kristianto.

"Wah, NSP sampean kok kayak khotbah pendeta di gereja karismatik?"

"Hehehe.... Kebetulan saya baru menangani rekaman seorang pendeta. Yah, sekalian saja dipromosikan. Hehehe...."

Begitulah pembuka percakapan saya via telepon dengan Leonard Kristianto siang kemarin (19/4/2013). Pria berkacamata, musisi lulusan USA, ini tak lain bos JK Recods, Jakarta. Nyo, sapaan akrabnya, tak lain putra Judhi Kristianto, pendiri JK Recods, major label yang sangat populer di Indonesia pada 1980-an hingga menjelang 2000.

JK Records itu dulu dikenal sebagai pabrik artis pop melankolis. Artis-artis JK antara lain Meriam Bellina, Dian Piesesha, Annie Ibon, Lydia Natalia, Ria Angelina, Feni Bauty, Mega Selvia, Nindy Ellese, Meta Armys, Wahyu OS, Pance Pondaag, Obbie Messakh, Deddy Dores... dan masih banyak lagi. Lagu-lagu pop manis, yang dikritik Menpen Harmoko sebagai pop cengeng, dulu merajalela di TVRI. Satu-satunya televisi saat itu.

Nah, gara-gara sering menulis catatan tentang artis lawas, khususnya penyanyi-penyanyi JK, suatu ketika saya dihubungi orang JK dari Jakarta. Lantas, suatu ketika saya dapat telepon. "Saya Nyo, Mas," kata suara di telepon. Omong punya omong, Nyo ini tak lain Leonard Kristianto, bos JK Records saat ini. Nyo menggantikan ayahnya, Judhi Kristianto, yang sudah berusia 66 tahun.

Lahir dari keluarga musisi (Judhi itu pianis bagus), Nyo mulai main musik sejak usia 11 tahun. Pada 1988 Nyo bersama band-nya jadi juara pertama kejuaraan band di Jakarta. Dia lalu kuliah di Amerika Serikat,  Berklee College of Music majoring in Music Production & Sound Engineering and Music Synthesis, sehingga penguasaan musiknya tak diragukan lagi. Berbeda dengan musik JK, Nyo justru menekuni musik jazz.

"Saya juga belajar intensif sama almarhum Bubi Chen," katanya merujuk maestro jazz asal Surabaya itu. Maka, Nyo ikut menunggui jenazah sang guru, Bubi Chen, saat disemayamkan di Adi Jasa, Surabaya, dan mengantar ke Kembang Kuning untuk dikremasi.

Selain menangani rekaman Bubi Chen, Nyo menggarap rekaman artis papan atas macam Lulu Purwanto, Christian Bautista, dan Sam Conception. Studio XVI milik JK Recods yang dikelolanya memang tergolong laris di Jakarta. Karena itu, meski sejak 2000 tak ada artis-artis JK yang kondang, aktivitas rekaman di studionya tetap padat.

"Siapa bilang JK Records sudah tutup? Ngawur itu!" tegasnya ketika saya meminta konfirmasi atas gosip yang beredar di internet.  

Hanya saja, Nyo mengakui bahwa warna musik pop yang beredar saat ini di Indonesia sudah jauh berbeda dengan era 1980, 1990, atau 2000. Beda jauh dengan pop manis ala Pance, Obbie Messakh, Wahyu OS, Dian Piesesha, dan sebagainya. Ada plus minusnya. Suka atau tidak, itu soal selera dan pilihan belaka.

Sebagai pemusik lulusan USA, dengan pergaulan yang luas, Nyo tahu persis perkembangan ini. Karena itu, JK Records memilih sistem bisnis sendiri meskipun konsekuensinya masyarakat mengira perusahaan yang mulai merilis album perdana pada 1983, tiga puluh tahun lalu, ini bangkrut.

Bisnis musik itu butuh strategi dan timing. Itulah yang dilakukan Nyo dan manajemen JK. Mereka diam-diam sudah menyiapkan beberapa artis baru yang siap dirilis ke pasar. "Tapi tunggu saja perkembangannya," kata ayah tiga anak ini.

Leonard Kristianto alias Nyo justru mengaku kewalahan melayani penggemar artis-artis JK era 1980-an dan 1990-an. Mereka yang usianya di atas kepala tiga. Mereka-mereka ini ingin memiliki album-album artis idola dalam format CD/VCD atau DVD. Maka, dalam dua tahun terakhir Nyo sibuk memproduksi ulang album-album lama. "Semua itu karena permintaan penggemar dari seluruh Indonesia," katanya.

Bulan lalu, Nyo mencoba menguji loyalitas penggemar JK Records dengan menyelenggarakan konser Dian Piesesha. "Tante Dian Piesesha itu penyanyi yang punya karakter sangat kuat. Tante Dian punya komunitas penggemar yang sangat fanatik," katanya.

Konser yang dipersiapkan singkat saja itu ternyata sukses. Penonton membeludak. Konser itu jadi ajang jumpa fans dengan artis-artis JK lama macam Dian Piesesha, Chintami Atmanegara, Wahyu OS. Nyo pun mengaku sangat senang dan hampir tak percaya mengingat masa keemasan artis-artis itu sudah lewat 20-an tahun silam.

"Sekarang saya lagi memproduksi ulang album Wahyu OS," katanya.

"Vokalnya pakai yang lama, tapi musiknya kita rombak agar cocok dengan zaman sekarang. Saya juga pakai orkestra," tambahnya. Wahyu OS merupakan penyanyi orbitan JK yang punya kualitas vokal prima. Dia juga piawai menciptakan lagu-lagu pop yang jadi hit sampai sekarang.

"Nanti kita akan bicara lebih banyak di Surabaya ya! Saya ada rencana ke Surabaya dalam waktu dekat," kata Nyo yang siang itu rupanya sibuk melayani sejumlah musisi di studionya.

"Siap! Sampai ketemu di Surabaya dan semoga suatu saat jadi pendeta!" kata saya.

"Oh, yang terakhir itu saya nggak setuju. Saya nggak punya potongan jadi pendeta. Hehehehehe," balasnya lantas tertawa kecil.

Gayeng banget!

19 April 2013

Lydia Natalia: Dulu Penyanyi, Kini Dokter

Lydia Natalia bersama kedua putrinya di sudio JK Records, 2013.

Bagi Dokter Lydia Natalia Hadidjaja, menyanyi hanya sekadar hobi, bukan profesi. Padahal, wanita kelahiran Jakarta, 16 Februari 1969, ini pernah populer sebagai penyanyi pop manis pada era 1980-an. Dia bahkan dikenal sebagai penyanyi yang sukses membawakan lagu-lagu karya Pance Pondaag, Obbie Messakh, Maxie Mamiri, dan Judhi Kristianto.

"Sekarang ini saya sibuk bekerja melayani sesama di bidang  kesehatan. Hampir tidak ada waktu lagi untuk menyanyi," ujar dr Lydia Natalia belum lama ini.

Lydia cukup gencar  memberikan semacam penyuluhan tentang hubungan antara imunitas (kekebalan) tubuh dengan penyakit, khususnya penyakit kanker. Penyakit yang satu ini sedemikian ganasnya dan sering baru didasari orang setelah terlambat. Stadiumnya sudah lanjut.

Dalam sebuah artikelnya dr Lydia Natalia menulis:

"Jika seseorang dinyatakan bebas dari kanker, ini hanya berarti bahwa dokter tidak dapat menemukan kanker itu. Ini berarti sel-sel kanker itu dapat bersembunyi bertahun-tahun. Sistim imun kita dapat menahan sel-sel kanker, tetapi tidak cukup kuat dan tidak cukup pintar untuk membunuh sel-sel tersebut. Inilah sebabnya, orang tersebut harus selalu meningkatkan dan menjaga sistim kekebalan tubuhnya walaupun kankernya telah lama hilang."

Selain menekuni profesinya sebagai dokter, spesialis kecantikan (aesthetic consultant), Lydia Natalia pun sibuk mendampingi kedua putrinya yang sudah beranjak remaja. Kedua anaknya ternyata ikut menekuni dunia musik seperti mamanya. Putri Lydia sangat piawai bermain piano. Mereka juga mengikuti perkembangan musik saat ini, khususnya musik dari luar negeri.

"Saya malah ketinggalan jauh," tutur penyanyi yang populer dengan lagu Kangen ini.

Meski tidak aktif lagi di blantika musik, Lydia belum lama ini datang lagi ke studio rekaman JK Records, Jakarta, untuk merilis ulang lagu-lagu lamanya. Suasana menjadi kian seru karena kedua anaknya pun ikut berdiskusi tentang musik. "Musik itu membuat kita lebih semangat," katanya.


Lydia Natalia, 1984, siswi SMAK Santa Ursula, Jakarta.

TIGA PULUH tahun lalu, nama Lydia Natalia mulai terdengar di belantika musik pop lewat album yang dirilis Musica Studio. Dari tempat yang sama, dua tahun kemudian, ia menelurkan Diskoria. Tapi ia kemudian membelot ke JK Records. 

Meskipun namanya ada embel-embel Natal, si bungsu dari dua bersaudara putri Prof. Dr. dr. Pinardi Hadidjaja (guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) ini, tidak lahir pada hari Natal. “Saya lahir pada 16 Februari 1969,” ujar Lydia Natalia lantas tertawa kecil.

Gemar menari dan menyanyi sejak usia 12, Lydia pernah selama emat tahun belajar vokal pada Meyer Hutabarat. Tapi, karena tidak begitu teratur, kemajuan yang diperolehnya kurang begitu mengejutkan. Pada 1980 misalnya, ia hanya bisa meraih predikat harapan I pada lomba menyanyi anak-anak yang diselenggarakan di Taman Ria Monas, Jakarta.

Tiga tahun kemudian ia ikut lagi berlomba. Karena usia meningkat kategori pop singer yang diikutinya pun menaik, jadi remaja. “Puji Tuhan, saya jadi juara dua,” katanya.

Musica kemudian menggaetnya. Di tempat ini Lydia sempat menelurkan dua volume. Tapi agaknya rekaman Lydia tak sukses di pasaran. “Malah kata mereka bisnis kaset saya merugi," ungkap Lydia.

Karena itukah, Lydia cabut dari Musica dan bergabung dengan Judhi Kristianto di JK Records?

“Gimana ya? Untuk bisa tampil di TVRI saja harus saya yang pontang-panting sendiri. Dari Musica boleh dibilang kurang ada perhatian. Kesan saya: setelah kelar rekaman ya sudah. Tidak ada apa-apa lagi. Promosi pun kurang sekali. Makanya, album saya kurang sukses. Tapi saya keluar dari Musica secara baik-baik. Saya minta izin sekalian mencari pengalaman."

Dan ia kemudian bertemu dengan Judhi Kristianto, bos JK Records, perusahaan yang pada 1980-an sukses mengangkat nama-nama penyanyi baru macam Chintami Atmanagara, Meriam Bellina, Dian Piesesha, Heidy Diana, Ria Angelina... dan Lydia Natalia!

Album perdana Lydia di JK Records berjudul UNTUKMU KUSERAHKAN karya Obbie Messakh, komposer lagu andalan JK. “Saya tidak ingin Lydia gagal lagi," ujar Judhi.

Judhi Kristianto benar. Perjalanan waktu membuktikan bahwa Lydia Natalia tak hanya sukses sebagai penyanyi, tapi juga sukses menjadi dokter, dan menjadi ibu rumah tangga yang bahagia. Ah, jadi ingat suara melankolis Mbak Lydia saat menyanyikan lagu Kangen:

KANGEN KANGEN KANGEN
AKU KANGEN PADAMU
MUNGKINKAH DIRIKU TELAH JATUH CINTA

18 April 2013

Mengenang Misa Bahasa Latin Era 1960-an

Siang tadi (18/4/2013), saya mampir ke pusat buku-buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya. Mampir ke kiosnya si Lia langganan saya di pinggir jalan. Ibu muda satu anak asal Madura ini sering kasih harga khusus untuk saya. Ehm... tidak ada buku-buku baru yang bagus selain belasan novel bajakan yang laris kayak karya Andrea Hirata.

"Sekarang agak sepi, belum ada buku yang benar-benar nendang," kata Lia.

Tapi saya tetap saja memelototi rak sebelah utara: buku-buku agama. Hampir semuanya buku-buku tentang Islam, tapi ada juga Kristen, Buddha, dan Hindu. "Wow, ada buku misa zaman dulu. Unik juga," saya terkejut melihat buku tua yang terselip di rak utara.

"Harganya berapa?"

"Terserah sampean mau kasih berapa?"

Saya tahu buku kumuh macam itu memang tak punya harga. Mana ada orang mau membeli? Saya pun langsung memberi duit Rp 20.000 untuk si Lia. "Kembalinya berapa?" tanya Lia memancing.

"Nggak usahlah, ambil aja uangnya. Buku itu sangat bersejarah bagi orang Katolik di Indonesia," kata saya. Si Lia kaget setengah mati karena harga buku itu sebenarnya hanya Rp 5.000.

"Matur suwun ya, sering-sering ke sini," katanya berkali-kali mengucapkan terima kasih. Lumayan, Lia bisa menambung banyak hari itu karena duit yang disetor ke bosnya pasti cuma Rp 5.000. Hehehehe....

Buku misa tempo dulu itu berjudul SEMBAHJANG MISA HARI MINGGU DAN HARI RAJA terbitan 1958. Dicetak di Ende, Flores, buku 914 halaman ini disusun oleh dua pastor terkenal pada era 1950-an, yakni Pastor Wahjo OFM dan Pastor Bouma SVD. Imprimatur oleh A. Djajasepoetra SJ pada 7 Juli 1956, yang berarti buku ini disahkan penggunaannya untuk umat Katolik di Indonesia.

Bagi orang Katolik yang lahir di setelah 1970, seperti saya, buku SEMBAHJANG MISA ini benar-benar barang baru. Saya tidak pernah melihat sebelumnya karena setelah Konsili Vatikan II, 1965, terjadi perubahan besar dalam liturgi Gereja Katolik. Salah satunya penggunaan bahasa lokal dalam perayaan ekaristi alias misa. Misa tidak lagi menggunakan bahasa Latin, tapi bahasa Indonesia.

Karena itu, orang Katolik di Indonesia sekarang (kecuali beberapa gelintir orang) pasti kebingungan menjawab ketika pastor mengatakan SUMSUM CORDA. Apa ya jawabnya? Padahal, seruan ini harus dijawab HABEMUS AD DOMINUM. Sangat lazim bagi umat Katolik di Eropa atau orang tua zaman dulu.

Itulah yang antara lain ditulis Citra, mahasiswi S3 di Taipei, Taiwan, ketika ikut misa Pekan Suci di Kedutaan Besar Vatikan pada 29 Maret 2013 lalu. Karena memang hampir tak pernah ada lagi misa berbahasa Latin dalam 40 tahun terakhir. Yang populer di Jawa justru misa dalam bahasa Jawa, khususnya di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Atau, misa bahasa Jawa di Puhsarang, Kediri, Jawa Timur.

Nah, BUKU SEMBAHJANG MISA versi 1958 ini tak lain TPE atau Tata Perayaan Ekaristi sebelum Konsili Vatikan II. Dus, misa menggunakan bahasa Latin, bahasa resmi Gereja Katolik sedunia. Imam atau romo yang memimpin misa membelakangi umat, tidak menghadap umat macam sekarang. Komuni diterima dengan mulut, bukan dengan tangan. Dan sejumlah syarat lain seperti berpuasa jika akan menyambut komuni.

Buku ini sangat detail memuat teks misa bahasa Latin di kolom kiri dan terjemahan bahasa Indonesia di kolom kanan. Karena itu, meski umat tidak paham bahasa Latin, dia tahu artinya dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

CONFITEOR DEO OMNIPOTENTI
BEATAE MARIAE SEMPER VIRGINI...

Diterjemahkan menjadi:

AKU MENGAKU KEPADA ALLAH JANG MAHAKUASA,
KEPADA SANTA MARIA TETAP PERAWAN.....

Versi yang berlaku di Indonesia sekarang:

SAYA MENGAKU KEPADA ALLAH YANG MAHAKUASA
DAN KEPADA SAUDARA SEKALIAN
BAHWA SAYA TELAH BERDOSA.....

Versi misa bahasa Jawa:

KAWULA NGAKENI INGARSAING ALLAH
INGKANG MAHAKUWASA
TUWIN PARA SADHEREK SADAYA
BILIH KAWULA SAMPUN NGLAMPAHI DOSA ........

Kalau saya cermati, teks misa pra-Konsili Vatikan II ini secara umum hampir sama dengan teks misa bahasa Indonesia yang kita pakai selama ini. Hanya saja, misa yang kita pakai sekarang jauh lebih sederhana ketimbang versi Latin ini.

Betapa tidak. Buku MADAH BAKTI atau PUJI SYUKUR yang dipakai di seluruh Indonesia itu sebagian besar berisi nyanyian liturgi, dan hanya sedikit (sisipan di tengah) yang memuat teks misa alias tata perayaan ekaristi.

Sebaliknya, buku SEMBAHJANG MISA (1958) ini 100 persen tata perayaan ekaristi atau buku misa. Sama sekali tidak ada nyanyiannya. Karena itu, saya menduga pada tahun 1960-an umat membawa dua buku setiap kali ke gereja: buku SEMBAHJANG MISA dan buku nyanyian. Atau, sama sekali tidak membawa buku apa pun. Sehingga, sering ada kritik bahwa zaman dulu umat Katolik di Indonesia asyik sendiri mendaraskan doa rosario ketika imam mempersembahkan kurban misa di altar.

Saya tidak pernah melihat buku SEMBAHJANG MISA ini di Flores Timur, khususnya di Larantuka atau kampung halaman saya di Lembata. Bahkan, kebiasaan membawa buku misa ke gereja tidak populer di Flores, khususnya desa-desa, sebelum tahun 2000. Itu pula yang menyebabkan orang Katolik di kampung saya hanya mengandalkan ingatan ketika menyanyi atau menjawab seruan pastor selama misa berlangsung.

Gara-gara mengandalkan ingatan, tidak pernah lihat notasi atau partitur, banyak lagu liturgi (gerejawi) yang nada-nadanya meleset, salah kaprah, sampai hari ini. Sulit sekali membetulkan nada-nada kromatis seperti Fis atau Bes yang sudah telanjur dinyanyikan sebagai F atau B.

Di Surabaya sendiri, dalam beberapa tahun terakhir ada sejumlah aktivis liturgi, seperti Pak Albert Wibisono, yang berusaha mempopulerkan lagi MISA TRIDENTINA yang berbahasa Latin. Cukup banyak umat yang penasaran dan ingin merasakan nuansa tempo doeloe ketika bahasa Latin masih menjadi bahasa resmi dalam perayaan ekaristi. Ini juga tak lepas dari figur Paus Benediktus XVI yang dikenal sebagai Paus yang sangat cinta liturgi nan indah ala Misa Tridentina.

Saya sih netral. Misa dalam bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, Latin, oke-oke saja. Yang susah adalah misa dalam bahasa Mandarin karena bahasanya yang terlalu sulit, punya banyak nada yang membedakan arti. Tapi saya selalu terkesan mengikuti siaran langsung misa yang dipimpin Sri Paus dari Vatikan yang menggunakan bahasa Latin.

17 April 2013

Isu SARA di Pilgub NTT Tak Relevan


KATOLIK vs PTOTESTAN: Frans Lebu Raya (kiri) vs Esthon Foenay. 


Pemilihan gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) putaran kedua direncanakan berlangsung pada 15 Mei 2013. Gubernur dan wakil gubernur sekarang, Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay, pecah kongsi dan harus bertarung di putaran kedua. Pasangan Frans Lebu Raya-Benny Alexander Litelnony atau Frenly berhadapan dengan Esthon Foenay–Paul Edmundus Tallo alias Esthon-Paul.

Dibandingkan pilgub NTT lima tahun lalu, pilgub kali ini kurang begitu menarik. Setidaknya untuk warga NTT di luar NTT alias diaspora yang tersebar di Jawa, Kalimantan, Malaysia, Sulawesi, dan sebagainya. Sebab, tidak ada tokoh baru yang benar-benar fenomenal macam Jokowi-Ahok di Jakarta. Frans dan Esthon ini orang lama yang kinerjanya sudah bisa diketahui semua orang NTT.

Menjelang pilgub putaran pertama, saya melihat langsung di Lembata suasana adem ayem aja. Warga bahkan tidak tahu siapa saja yang bakal maju. Hanya ada satu dua spanduk Frans Lebu Raya di pinggir jalan raya dekat makam kampung Bungamuda, Ileape, Lembata. Gubernur Frans sebagai inkumben memang sudah lama promosi kalau tidak dibilang curi start kampanye. Ada program Anggur Merah dan kampanye susupan lewat mesin birokrasi.

Esthon Foenay memang wagub NTT sekarang, tapi rakyat di kampung tidak begitu kenal. Mereka hanya tahu Pak Frans, gubernur sekarang, karena kebetulan beliau berasal dari Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, yang sama-sama etnis Lamaholot. Sama-sama ata kiwan (orang kampung) yang bahasa ibunya bahasa Lamaholot. Kesamaan etnis dan agama harus diakui menjadi kelebihan Frans di bumi Lamaholot dan Flores umumnya.

"Daripada memilih orang lain, mengapa kita tidak memilih orang kita?" kata beberapa tokoh di Lembata.

"Bagaimana kalau orang kita itu prestasinya kurang bagus?" tanya saya.

"Memangnya Pak Esthon punya prestasi apa? Kan beliau itu wakilnya Pak Frans? Memangnya ada jaminan Pak Esthon akan lebih bagus kalau nanti jadi gubernur?" protes orang kampung yang rupanya pendukung berat Ama Frans, ata Lamaholot.

Hehehe.... Saya hanya bisa tertawa kecil. Sejak dulu memang tidak pernah ada jaminan bahwa seorang gubernur NTT bisa memajukan provinsinya. Begitu banyak gubernur mulai Lalamentik pada 1958, kemudian El Tari, Ben Mboi, Hendrik Fernandez, dan seterusnya. Tapi kenyataannya sampai sekarang NTT "masih seperti yang dulu", kata Dian Piesesha, penyanyi pop melankolis yang digandrungi orang NTT.

Jalan raya di Lembata tetap saja berlubang-lubang sejak 40-an tahun lalu. Dan politikus-politikus di Kupang macam Frans, Esthon, Benny Harman, Ibrahim, dan sebagainya tidak pernah merasakan jalan-jalan rusak di pelosok NTT. Begitu mau maju sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur, mereka-mereka ini baru mau turun ke pasar, kampung, terlihat merakyat. Virus pencitraan ala politisi Jakarta memang ikut menyebar di NTT.

Menjelang pilgub putaran kedua, isu SARA mencuat ke permukaan. Jadi bahan jualan kecap politik. Frans Lebu Raya Katolik, Adonara (Flores Timur); sementara Esthon Foenay sudah jelas Protestan, etnis Timor. Dari dulu isu Katolik vs Protestan, Flores vs Timor, memang selalu muncul. Bahkan, sebetulnya isu ini sengaja diciptakan para politisi NTT ketika gubernur masih dipilih oleh DPRD. Isu SARA macam ini sebetulnya makin lama makin kurang laku, dan hanya menunjukkan kelemahan sang politikus.

Contoh paling jelas adalah isu SARA menjelang pemilihan bupati Lembata putaran kedua. Para politisi dan tim suksesnya berusaha menghadang Yance Sunur dengan isu SARA karena Baba Yance ini memang keturunan Tionghoa. Kekatolikannya pun sempat dipertanyakan, katanya beliau ini jemaat Gereja Advent atau Gereja Pentakosta. Apa yang terjadi? Yance Sunur justru terpilih sebagai bupati Lembata. Yance jadi bupati Tionghoa pertama d NTT.

Yang paling gres bisa dilihat dalam pilgub DKI Jakarta. Ada kampanye sistematis, termasuk dari Rhoma Irama, raja dangdut, menghantam pasangan Jokowi-Ahok. Alasannya: Ahok beragama Kristen Protestan, Tionghoa, lahir di Belitung Timur. "Jangan pilih calon yang bukan Islam," kata Rhoma Irama yang memang juru kampanye Fauzi Bowo, calon petahana alias inkumben.

Hasilnya sudah terang benderang: Jokowi-Ahok yang terpilih. Warga sekarang sudah sangat cerdas. Isu SARA makin tidak laku di Indonesia, kecuali barangkali di Aceh atau Sumatera Barat.

Sebelum di Jakarta, yang lebih menarik adalah pemilihan gubernur Kalimantan Barat. Sangat fenomenal karena Cornelis yang Katolik (minoritas) yang dipercaya sebagai gubernur. Wakilnya pun Christiandy Sanjaya, yang Tionghoa. Padahal, penduduk Kalimantan Barat itu mayoritas beragama Islam.

Di negara yang makin demokratis, isu SARA perlahan-lahan akan mati karena tidak relevan dengan kesejahteraan rakyat. Presiden Taiwan Ma Ying-jeou beragama Katolik meskipun di Taiwan populasi umat Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta, dsb) tak sampai 1%. Orang melihat kompetensi, figur, kemampuannya untuk memimpin rakyatnya menghadapi berbagai tantangan hidup.

Orang NTT yang sederhana di kampung-kampung hanya ingin pemimpin yang bisa membawa NTT menjadi provinsi yang lebih maju. Bukan provinsi paling tertinggal di Indonesia. Bukan provinsi yang sebagian besar rakyatnya merantau, kabur ke Malaysia Timur, karena tak bisa cari uang di kampung halamannya sendiri.

16 April 2013

Delay TIGA JAM Bersama Lion Air

Calon penumpang Lion Air ngamuk di ruang tunggu Bandara Juanda, 24 Desember 2012, gara-gara pesawat  telat hingga  tiga jam.
Puji Tuhan, 101 penumpang dan awak pesawat Lion Air selamat dalam kecelakaan di Bali, Sabtu (13/4/2013). Syukurlah, hanya beberapa orang yang cedera ringan. Syukurlah, pilot dan kopilot bisa melakukan pendaratan darurat di laut. Dan para penumpang pun bisa dengan cepat menyelamatkan diri ke darat.

Semoga kecelakaan ini menjadi pelajaran berharga buat Lion Air dan semua maskapai penerbangan di Indonesia. Maskapai yang terus tumbuh, kembang, berbuah karena gurihnya bisnis airline di Indonesia. Bahwa keselamatan dan layanan kepada penumpang harus tetap menjadi komitmen semua penyedia jasa penerbangan.

Lion Air? Siapa yang tak kenal. Baru-baru ini Lion Air yang dipimpin Rusdi Kirana membeli 234 pesawat Airbus senilai Rp 234,24 triliun. Sebelumnya, 18 November 2011, Lion Air juga membeli 230 pesawat dari Boeing senilai USD 21,7 miliar (berapa rupiah itu?). Kita lihat saja berapa pesawat lagi yang akan diborong Lion Air. Bisa jadi semua rute domestik bakal dikuasai Sang Singa Udara berikut anak perusahaannya.

Sayang sekali, kehebatan Lion Air dalam memborong pesawat, katanya sih maskapai paling pesat pertumbuhan di dunia, belum ditunjang kualitas pelayanannya. Yah, kualitas layanan pramugari dan---paling penting--adalah ketepatan waktu. Jangan pernah bicara on time schedule kalau sudah berurusan dengan Lion Air, khususnya rute Surabaya-Kupang (NTT).

Kalau dari Kupang ke Surabaya (Bandara Juanda) sih umumnya selalu on time, khususnya penerbangan pagi buta. Tapi, sebaliknya, Surabaya-Kupang?

Hehehe.... namanya aja Lion! Bayar murah kok minta on time! Lion Air memang dikenal sebagai rajanya penerbangan hemat alias low cost carrier alias budget airlines. "Kita hanya bisa pasrah mau telat ya terserah Lion Air," kata teman-teman asal NTT pelanggan Lion Air.

"Masih untung ada Lion Air yang mau buka rute ke NTT. Kalau kita kritik, apalagi gugat ke pengadilan, lantas Lion Air ngambek, tutup rute ke Kupang, lantas kita mau pulang kampung ke NTT naik apa? Kita harus bersyukur sekarang ini Lion Air konsisten melayani Surabaya-Kupang... meskipun suka delay," begitu komentar orang-orang NTT.

Saya hanya tertawa pahit. Maklum, sudah sering mengalami keterlambatan alias delay Lion Air. Lion Air terlambat berangkat 30-40 menit ke Kupang (Bandara El Tari) itu sudah sangat lazim. Bahkan, sudah dianggap ON TIME alias tepat waktu. Karena itu, kami, perantau NTT di Jawa, sudah biasa siap mental kalau pesawat dengan pramugari berbaju batik dan muda-muda itu telat 30 menit. Kita bisa main game di HP atau ngobrol basa-basi dengan sesama orang NTT di ruang tunggu terminal Bandara Juanda.

Persoalannya menjadi gawat, tidak main-main, kalau Lion Air itu terlambat TIGA JAM lebih alias 180 menit ++. Dan, keterlambatan itu terjadi pada 24 Desember 2012, yang malam harinya ada misa malam Natal yang sangat meriah di Flores, Sumba, Timor, Alor, Sabu, Rote, Labuanbajo, Lembata, dan daerah-daerah lain di NTT. Itulah yang saya alami bersama ratusan penumpang lain saat hendak mudik natalan ke kampung halaman.

Bagaimana kalau tidak sempat ikut misa Natal bersama orang tua, sanak kerabat, di Lembata atau Flores Timur? Kan bisa misa di Kupang yang tidak kalah ramai. Kampung halaman kan tidak akan lari. Betul. Tapi, persoalannya, sebagian penumpang Lion Air saat itu sudah membeli tiket pesawat dan kapal laut untuk moda transportasi lanjutan ke daerahnya masing-masing di NTT. Sudah habis uang banyak (jebol tabungan) untuk membeli tiket pesawat kecil itu.

Saya misalnya sudah beli tiket Susi Air rute Kupang-Lewoleba. Pesawat bermuatan 12 penumpang + dua awak (pilot dan kopilot) ini terbang ke Lembata hanya beberapa jam setelah Lion Air mendarat di Kupang. Saya sudah mengantisipasi, memberi ruang delay kepada Lion Air paling lama DUA JAM. Kalau telat dua jam masih ada cukup waktu untuk Susi Air. Bagaimana kalau telat sampai tiga jam? Gawat! Bukan hanya tiket hangus, tapi kesempatan untuk misa malam Natal di kampung halaman bersama ayah, yang sudah tua, menjadi sirna.

Saya pun kontak pihak Susi Air di Kupang menceritakan persoalan Lion Air yang sudah dua jam belum ada tanda-tanda akan berangkat. "Itu kan persoalan Anda. Lihat saj nanti setelah Anda sampai di Kupang," kata seorang gadis dari Susi Air. Jawaban standar yang benar, tapi membuat saya deg-degan.

Sementara itu, suasana di ruang tunggu Bandara Juanda makin panas. Tahu sendirilah orang NTT kalau marah karena pesawat sudah delay dua jam. Gantian satu per satu memaki-maki petugas Lion Air di ruang tunggu yang sebenarnya tidak tahu mengapa pesawat sampai terlambat begitu lama. "Ada masalah teknis, Pak. Mohon sabar dulu, semoga cepat teratasi," kata petugas dengan ramah.

"Sabar apa? Kami ini sebentar malam mau misa Natal di Flores. Siapa yang menjamin pesawat-pesawat kecil di Kupang mau menunggu kami sebelum berangkat?" protes seorang laki-laki dari Flores Barat.

Orang Rote bicara soal kapal feri yang sudah tak mungkin dikejar jadwalnya. Orang Ende komplain takut ketinggalan pesawat. Saya takut ketinggalan Susi Air jurusan Kupang-Lembata.

Seorang pria asal Jawa membuka BB-nya dan memperlihatkan pasal-pasal di undang-undang dan peraturan pemerintah soal penerbangan. delay atau terlambat itu biasa, apalagi ke NTT, tapi kalau sudah lebih dari dua jam tentu tidak bisa dibenarkan. "Kalian melanggar undang-undang!" teriaknya.

Calon penumpang lain makin ramai karena merasa senasib sepenanggungan. Maka, roti di dalam kotak yang dibagikan pihak Lion Air saat itu pun terasa pahit. Tak ada gairah makan meskipun hampir semua penumpang belum sarapan karena sudah standby di bandara sejak pukul 05.00 WIB.

Akhirnya, pesawat Lion Air pun berangkat. Terlambat tiga jam lebih sedikit. Doa saya sederhana saja, "Tuhan, semoga saya masih bisa mendapat Susi Air ke Lembata!" Sebab, jika ketinggalan Susi pula maka saya baru bisa ke kampung halaman seminggu kemudian. Jadwal Susi Air selalu penuh selama satu minggu.

Puji Tuhan, rupanya Tuhan mengabulkan doa saya. Masih ada 15 menit untuk checkin, timbang badan dan barang, di konter Susi Air. Saya yang tadinya lesu darah, galau, sempat naik darah, ikut-ikutan membentak petugas Lion Air di ruang tunggu Bandara Juanda kini berubah sumringah. Bahagia!

Makin bahagia lagi ketika Susi Air yang berbadan putih itu terbang dan 30 menit lagi sampai di kampung halaman saya. Pengalaman buruk dengan Lion Air pun hilang sama sekali karena malamnya saya bisa ikut perayaan ekaristi malam Natal bersama umat Katolik dari setengah kecamatan di Gereja Lewotolok.

Saya memang punya kebiasaan untuk lekas-lekas melupakan pengalaman yang buruk. Buat apa? Lebih baik kita ingat yang baik-baik saja. Mungkin karena saya terlalu sering membaca buku-buku tentang berpikir positif. Kalau suka berpikir negatif, mikir susah terus, rasanya kita akan cepat mati dan tak akan pernah tertawa dalam hidup. Khususnya orang NTT.

Kini, empat bulan kemudian, ketika Lion Air nyemplung laut di dekat Bandara Ngurah Rai, Bali, tiba-tiba pengalaman buruk terbang bersama Lion Air ke Kupang itu pun muncul lagi. Mudah-mudahan Lion Air dengan pesawat yang makin banyak, dengan keuntungan yang makin menggunung, mau memperbaiki kualitas layanan dan keselamatannya.

Jangan nyemplung lagi ke laut! Ingat, harga pesawat itu mahal lho meski Lion punya ratusan pesawat!

Jangan terlambat TIGA JAM! Kalau telat SATU JAM, khusus ke NTT, sih masih bisa ditoleransi oleh orang NTT. Tapi turis-turis dari Eropa atau Amerika yang ingin ke Pulau Komodo atau Flores pasti tidak akan suka dengan delay SATU JAM, apalagi DUA JAM.

Para pramugari Lion Air supaya lebih ramah, tidak ketus! Percuma punya pramugari cantik, muda-muda (di bawah 25 tahun), tapi kurang menghargai penumpang, khususnya jurusan Indonesia Timur.

12 April 2013

Mbah Ratu tanpa wayang kulit


Umat Kelenteng Sam Poo Tay Djien, Jalan Demak 380 Surabaya, masih setia  melestarikan tradisi ritual setiap malam Jumat Legi. Ini terlihat dari  banyaknya pengunjung yang mendatangi kelenteng yang populer dengan  sebutan Mbah Ratu itu. Bahkan, hingga siang kemarin masih didatangi  pengunjung baik dari dalam dan maupun  luar Kota Surabaya.

"Namanya juga tradisi, ya, kita berusaha melestarikannya. Ada umat yang  syukuran, sembahyang biasa, ada juga pengunjung yang penasaran dengan  kegiatan kami di sini. Kita selalu terbuka kok," kata Njoo Tjin Hwee,  pengurus Kelenteng Sam Poo Tay Djien, usai sembahyang bersama, Kamis  malam (11/4/2013).

Jumat Legi di Mbah Ratu merupakan akulturasi budaya Jawa oleh warga  keturunan Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya sejak ratusan tahun lalu.  Para leluhur Tionghoa rutin mengadakan sembahyang, tumpengan, dan  wayangan setiap Jumat Legi. Tradisi ini kemudian diikuti pula oleh  masyarakat sekitar yang bukan Tionghoa.

Tjin Hwee mengaku gembira melihat interaksi budaya Tionghoa dan Jawa  yang sangat harmonis. Betapa tidak. Meski jemaat beribadat dengan cara  Tionghoa, acara syukuran sangat kental dengan budaya Jawa. Ini terlihat  dari tumpengan yang diletakkan di depan altar Sam Poo Tay Djien (juga  disebut Sam Poo Kong, Laksamana Cheng Hoo, atau Zheng He). Ada pula  seorang modin Jawa yang memimpin ritual khas Legian hingga dini hari.

"Sekarang ini boleh dikata yang datang ke kelenteng sini setiap Jumat  Legi separuh Tionghoa dan separuh Jawa. Itulah yang membuat Kelenteng  Mbah Ratu ini sangat unik di Jawa Timur," katanya.

Sayang, pergelaran wayang kulit setiap malam Jumat Legi sudah lama tak  terlihat di halaman Mbah Ratu. Vakumnya wayang kulit ini mulai terasa  sejak krisis moneter menjelang reformasi 1998. Praktis, sejak tahun 2000  pengunjung tak bisa lagi menyaksikan wayang kulit usai mencoba ciamsi  (peramalan nasib) sambil menikmati nasi tumpeng.

"Terus terang, mereka yang biasa nanggap wayang kulit sekarang kesulitan  karena biayanya yang terlalu mahal. Kalau dulu nanggap wayang itu hanya  sekitar Rp 5 juta, sekarang di atas Rp 12 juta," ujar Tjin Hwee seraya  geleng-geleng kepala.

Selain kemahalan, menurut dia, dalang-dalang sekarang ini umumnya tidak  mau menggelar pertunjukan sampai menjelang subuh layaknya tradisi Jumat  Legi. Mereka hanya mau bermain hingga pukul 01.00, bahkan sudah lesu  pada pukul 00.00. "Wayang kulit itu sangat penting, tapi kalau  kondisinya seperti sekarang, ya, susah," tegasnya.

10 April 2013

Romo Zakarias Benny Nihamaking meninggal dunia





Kaka, Romo Zaka Beni naika kae!

Begitu SMS yang saya terima pagi tadi (10/4/2013) dari adik saya di kampung halaman. Pesan pendek dalam bahasa Lamaholot (Flores Timur) ini artinya: Kak, Romo Zaka sudah pergi!

Oh, Tuhan! Saya tak bisa berkata banyak selain hening dan berdoa singkat. Semoga Romo Zakaria Benny Nihamaking Pr berbahagia di sisi Tuhan. Yah, Romo Zakarias Benny meninggal dunia dengan tenang. Jenazah pastor senior asal Desa Bungamuda, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT, ini akan dimakamkan di Larantuka, Flores Timur.

"Keluarga sudah menyerahkan urusan pemakaman kepada Keuskupan Larantuka. Jadi, jenazah Romo Zaka dimakamkan di Nagi Larantuka," kata adik saya yang tinggal di kampung, Ileape, Lembata, NTT.

Romo Zaka, sapaan akrab romo yang ramah ini, merupakan salah satu dari sedikit pastor yang berasal dari wilayah kecamatan kami. Ketika saya masih kecil, jumlah romo asal Ileape bahkan tak sampai lima orang. Karena itu, Romo Zaka menjadi kebanggan penduduk desa kami di pulau yang sebagian besar beragama Katolik itu.

Saya pribadi punya banyak kenangan dengan almarhum. Ketika masih SD di pelosok Lembata, Frater Zaka (belum jadi romo) sering mampir ke rumah saya. Ngopi, makan camilan jagung titi, ngobrol, dan sebagainya. Saat saya sekolah di SMPK San Pankratio, Larantuka, saya pun sering bertemu Romo Zaka yang bertugas di Adonara Timur.

Kenangan terakhir ketika saya mengikuti misa tahun baru, 1 Januari 2013, di Gereja Lewotolok, Ileape, Lembata. Romo Zaka yang memimpin misa pagi itu. Bicaranya tenang, halus, suaranya kurang terdengar karena saya kebetulan duduk di kursi paling belakang. Pengeras suara di kampung memang sangat buruk.

Setelah misa, saya menemui Romo Zaka di pastoran, belakang gereja. Ada bapak saya yang ikut membantu beliau membagi komuni. Juga beberapa bapak dan ibu yang bertugas mengurusi pastoran, khususnya makanan romo, pagi itu. Maka, kami pun makan bersama.

Sebelum makan pagi bersama, Romo Zaka memimpin doa dan memberkati makanan kampung yang sederhana itu. Nasi putih campur jagung, sayur merungge (kelor), ikan laut bakar, air putih. Kami pun menikmati hidangan itu dengan lahap. Tak lama kemudian mendung dan gerimis.

Saya pun sempat memotret Romo Zaka Benny bersama Ama Niko Hurek, bapak kandung saya. Keduanya tersenyum dan berpelukan. Ah, ternyata hari pertama tahun 2013 itulah kali terakhir saya bertemu dan makan bersama Romo Zaka. Begitulah, hidup manusia memang berada di tangan Tuhan. Kita tak tahu kapan harus kembali ke Rumah Bapa.

Pada pertengahan 2008, Romo Zaka Benny merayakan 25 tahun imamatnya di Witihama, Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur. Selama 20 tahun Romo Zaka memang bertugas di paroki itu. Maka, selama ini Romo Zaka sering disindir sebagai 'Dulin alawen' alias orang Adonara di kampung saya. "Kapan pindah ke Ileape?" tanya umat.

"Go koi hala. Kame nepe dore perentah Bapa Uskup Larantuka," katanya kalem. Sebagai pastor, kami hanya taat pada perintah Bapa Uskup Larantuka. Siap ditugaskan di mana saja. Cuma kebetulan tidak pernah ditugaskan di paroki kami, kampung halamannya.

Tahun 2013 ini, Romo Zakarias Benny genap 30 tahun mengabdikan sendiri sebagai pastor praja Keuskupan Larantuka. Sayang, sebelum mengadakan perayaan syukur 30 tahun imamat Romo Benny keburu dipanggil Sang Pencipta.

Selamat jalan Romo Zaka Benny!
Resquescat in pace!

Mo maiko molo, beng kame dore!

09 April 2013

Aneh, preman NTT disambut bak pahlawan!

Nusa Tenggara Timur (NTT) belakangan makin populer di media massa bukan karena prestasi, melainkan premanisme. Yah, empat preman yang ditembak mati di Penjara Cebongan Jogja berasal dari NTT. Empat jenazah itu disambut begitu banyak orang di Bandara Eltari Kupang.

"Aneh, preman kok disambut kayak pahlawan aja!" kata Bung Nas di Surabaya. Sebagai orang NTT yang tinggal di Jawa, saya malu banget dengan komentar warga di warung kopi tentang preman NTT yang makin merajalela di kota-kota di Jawa.

"Yang namanya preman atau penjahat itu harus ditindak secara hukum. Apa pun suku agama ras dsb. Kebetulan saja empat preman yang didor oknum kopassus orang NTT," kata saya diplomatis.

Ulah preman asal NTT di Jawa sebenarnya tergolong baru. Baru 20an terakhir. Dulu kelompok preman berkedok pengaman swasta berasal dari beberapa daerah tertentu. Kalaupun ada yang NTT paling hanya kelas teri. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini merajalela di kota besar. Ironisnya lagi, ada preman yang tadinya polisi seperti kasus Cebongan ini.

Premanisme memang problem sosial ekonomi yang kompleks. Dus, perlu diselesaikan secara komprehensif. Membasmi empat preman di penjara ala oknum itu kelihatannya memberikan efek kejut tapi menimbulkan masalah baru. Seakan hukum negara tak berlaku dan hukum rimba yang bicara. Tapi masyarakat juga bisa memahami mengapa 11 oknum itu terpasa main hakim sendiri karena preman-preman itu sudah keterlaluan sadisnya. Bagaimana rakyat bisa merasa aman kalau dua kopassus saja dikeroyok sampai mati?

Kasus Cebongan ini mengingatkan kita pada kasus petrus, penembakan misterius, pada 1980an ketika preman dihabisi tanpa proses hukum. Rakyat yang gregetan sih senang saja karena preman-preman dibasmi. Tapi bagaimana dengan komitmen kita sebagai negara hukum? Bisakah hukum menjamin rasa aman masyarakat?

Gubernur NTT dan jajarannya perlu kerja keras untuk mendidik rakyatnya agar tidak jadi preman. Tak cukup hanya mengurus jenazah empat preman yang dihabisi oknum kopassus itu.

08 April 2013

Lisa A. Riyanto melayani sesama bersama Perkasih



Artis yang satu ini sudah lama tak terdengar di jagat hiburan atau media infotainmen. Namun, hal ini tak membuat para pengagumnya melupakan begitu saja perempuan cantik bernama lengkap Elisabeth Dhany Retno Putri. Lisa A. Riyanto, begitu nama populernya, saat ini justru lebih aktif melakukan berbagai pelayanan rohani dan sosial.

Belum lama ini, Lisa muncul di Panti Asuhan Bhakti Luhur, Wisma Tropodo, Sidoarjo, bersama rombongan Perkasih atau Persaudaraan Kasih. Perkasih merupakan perkumpulan orang-orang beriman yang peduli pada pelayanan yang dilakukan Yayasan Bhakti Luhur untuk menangani saudara-saudari kita yang mengalami berbagai kekurangan fisik dan mental. Namanya juga penyanyi, Lisa pun didaulat untuk membawakan beberapa lagu rohani saat perayaan ekaristi di Bhakti Luhur.

“Tuhan adalah sumber kekuatan dan kasih. Saya merasa Tuhan menegur, meneguhkan, dan mengasihi saya melalui setiap peristiwa yang saya alami. Saya berusaha untuk selalu dekat dengan-Nya melalui lagu-lagu pujian yang saya nyanyikan, melalui doa yang saya ucapkan," kata putri mendiang Aloysius Riyanto, pencipta lagu pop terkenal di era 1970-an hingga 1980-an ini.

Bagi Lisa, keluarga tetap nomor satu. Ibu tiga anak ini tak mau menyia-nyiakan waktunya bagi keluarga. Dia juga mengaku sangat bahagia memiliki suami (Prof Dr Eko Indrajit) yang mendukung karir, pelayanannya di gereja, dan kegiatannya di beberapa yayasan sosial. “Keluarga mendukung sekali, terlebih suami saya, yang memberikan dorongan luar biasa terhadap seluruh aktivitas saya,” ungkapnya tersenyum.

Sebagai anggota Perkasih, Lisa aktif membantu Yayasan Bhakti Luhur sebagai seksi dana sejak 2006 hingga sekarang. Dia juga aktif mengisi kebaktian kebangunan rohani di gereja, seminar rohani, kegiatan kepemudaan, dan sebagainya. Sedangkan kegiatan sosialnya, dia fokus membantu Yayasan Bhakti Luhur bersama Perkasih.

“Jadi, sifatnya rutin, berkala, dan berkesinambungan, dalam mengadakan satu kegiatan ke kegiatan lain. Saya melakukannya bersama kelompok sukarelawan Perkasih,” kata artis yang beberapa waktu lalu merilis album rohani bertajuk Magnificat itu.

Lisa juga kerap mengunjungi cabang-cabang Yayasan Bhakti Luhur yang ada di Sidoarjo, Malang, Yogyakarta, dan Salatiga. “Kami membuat perencanaan kegiatan untuk penggalangan dana, perekrutan tenaga perawat, dan lain sebagainya,” tambahnya.

Ternyata, setelah menikah dengan Prof Eko Indrajit, Lisa meneruskan pendidikan ke jenjang S2 jurusan Marketing Komunikasi. “Suami seorang akademisi, dia dosen, konsultan, bahkan profesor. Pekerjaan dia belajar dan belajar. Akhirnya, itu yang memotivasi saya untuk ambil S2. Ya, itu cara saya untuk mengimbangi dia,” tuturnya.

Romo Kris Kia Anen SVD di Wonokromo

Romo Kris bersama anaknya Mbak Puji.
Saya sering misa di Gereja Santo Yohanes Pemandi, Wonokromo, Surabaya, karena dulu tempat tinggal saya di Jambangan Baru memang ikut paroki ini. Setelah itu, saya lebih banyak ke Pagesangan, Gereja Sakramen Mahakudus, setelah Paroki Wonokromo dimekarkan. Maka, saya tahu bahwa Paroki Yohanes Pemandi itu digembalakan imam-imam SVD, yang hampir semuanya berasal dari Flores, NTT.

Setelah cukup lama geser ke paroki lain, Sidoarjo, Juanda (Santo Paulus), kemudian Ngagel dan Katedral, saya mulai sering balik lagi ke Wonokromo. Soalnya, gerejanya tidak sepenuh di Ngagel atau Katedral. Terlambat lima menit masih dapat tempat. Beda dengan di HKY alias Katedral, datang 30 menit sebelum misa pun kita hanya bisa duduk di bawah tenda di halaman gereja.

Nah, meskipun sering misa di Wonokromo, saya ternyata tidak tahu kalau Romo Kris Kia Anen SVD ternyata orang Flores Timur, tepatnya Adonara Timur. Satu daerah dengan saya karena sama-sama etnis Lamaholot. Kami biasa berbahasa Lamaholot dalam pergaulan sehari-hari meskipun logatnya agak berbeda. Biasanya, logat Adonara sangat kental sehingga mudah dikenali. Tapi khusus Romo Kris Kia Anen SVD ini tidak kentara.

Saya bertemu Romo Kris ketika kepepet meminta renungan Jumat Agung untuk dimuat di koran. Maklum, dua romo 'langganan tetap' saya (Romo Eko dan Romo Budi) sudah pindah jauh di luar Surabaya. Maka, saya pun nekat ke Paroki Wonokromo karena saya tahu di sini tempatnya romo-romo Flores + Bali. Kedekatan-kedekatan etnisitas macam ini kadang sangat diperlukan dalam keadaan kepepet. Akan sulitlah saya meminta artikel instan dari seorang pendeta Protestan atau Pentakosta karena tidak kenal sebelumnya.

Begitu tahu kalau beliau asli Adonara Timur, saya pun lebih banyak berbahasa daerah. Saya pun senang karena renungan Jumat Agung sudah dia siapkan. "Tunggu sebentar, saya print dulu," katanya ramah. Dan... sepuluh menit kemudian Romo Kris keluar dari ruang kerjanya membawa selembar tulisan tentang makna sengsara dan wafat Yesus Kristus.

"Saya edit sedikit untuk dimuat di surat kabar," kata saya. Romo Kris pun oke-oke saja.

Ditahbiskan di kampung halamannya, Adonara Timur, Romo Kris Kia Anen SVD langsung ditugaskan di luar NTT. Lebih banyak berkutat di Sumatera Utara. Maklum, imam-imam SVD hampir 30 tahun ini tak lagi bertugas di paroki-paroki di NTT, khususnya Flores. Di Lembata misalnya tinggal satu paroki. SVD sebagai misionaris yang babat alas menyerahkan penggembalaan umat Katolik kepada romo-romo praja.

Setelah bertugas di Sumatera Utara, Romo Kris Kia Anen SVD ditarik ke Jawa. Tepatnya di Paroki Santo Yohanes Pemandi, Wonokromo, sejak dua tahun lalu. Rupanya, gaya sang romo yang kalem, murah senyum, bicara dengan nada rendah (bukan nada tinggi ala orang Adonara) cocok dengan umat di parokinya. Umat Katolik di Wonokromo ini dominan etnis Jawa yang masih suka berbahasa krama inggil, guyub, khas kota kecil. Karakter umat pun bukan tipe menengah-atas macam di Citraland atau Ngagel.

Karena bertemu muka pastor asal Adonara, saya menyinggung masalah perang tanding di Adonara Timur belum lama ini gara-gara rebutan tanah. Pemerintah dan aparat keamanan seeprtinya sulit menyelesaikan masalah lawas ini. "Kasus di Adonara ini tidak bisa diselesaikan secara legal formal atau dengan hukum biasa. Harus ada tokoh netral yang bisa dipercaya kedua belah pihak," katanya.

Sayang, diskusi soal kampung halaman alias Lewotanah ini tidak bisa berlanjut karena Romo Kris Kia hari itu sangat sibuk mengurus berbagai acara untuk pekan suci. Selamat melayani umat di Surabaya, Romo Kris!

Peng Liyuan, soprano yang jadi ibu negara Tiongkok

Mayjen Peng Liyuan lagi nyanyi.
Sejak digadang-gadang bakal menjadi ibu negara Tiongkok, saya ikut penasaran mendengar suara Peng Liyuan. Beliau bukan istri pejabat biasa, ibu rumah tangga, melainkan penyanyi klasik Tiongkok yang sangat terkenal di negaranya. Bahkan, orang Tionghoa di berbagai negara, khususnya orang tua (lansia), sangat suka suaranya.

"Suaranya Peng Liyuan itu melengking tinggi, bagus banget. Menyanyinya penuh perasaan. Orang yang paham bahasa Mandarin pasti tersentuh," kata Tante Tok, warga Tionghoa Surabaya yang biasa menonton CCTV, televisi nasional Tiongkok.

Saya pun mencari di Youtube. Dan, benar saja, video Peng Liyuan berhamburan di laman itu. Begitu pertama kali mendengar suaranya, saya mengakui bahwa Peng Liyuan memang soprano jempolan yang dimiliki Tiongkok. Teknik vokalnya agak beda dengan klasik Barat karena penyanyi Tiongkok biasa menggunakan suara hidung (nasal). Tapi justru itulah keunikan lagu-lagu klasik Tiongkok.

Saya juga beberapa kali menyaksikan konser penyanyi Tiongkok di Surabaya. Termasuk artis-artis yang tergabung dalam tentara pembebasan rakyat saat mengisi malam kesenian di Grand City, Surabaya. "Wuah, ini tentara yang seniman atau seniman yang tentara?" batin saya.

Tentara kok penampilan di panggung lebih bagus dan profesional ketimbang seniman kita? Lebih ciamik? Jangan-jangan mereka ini tentara yang tidak berperang, tapi khusus bertugas menjadi seniman penghibur tentara-tentara lain di lapangan? Rupanya, tentara Tiongkok punya divisi khusus kesenian yang sangat profesional dan digembleng sebagai duta budaya baik di dalam maupun luar negara.

Karena itu, saya tidak heran melihat seorang Peng Liyuan, yang berpangkat mayor jenderal, bisa tampil begitu bagus setara artis kawakan. Ambitus suaranya lebar, memungkinkan dia membawakan komposisi dengan nada-nada tinggi. Dia juga tidak kelihatan ngoyo meski nada-nada yang harus dibunyikan tidak sederhana.

Sayang, saya tidak paham bahasa Mandarin. Tapi saya bisa merasakan keindahan 16 lagu nasional Tiongkok yang sengaja saya unduh dari Youtube. "Vokal Peng Liyuan itu begitu indah layaknya alat musik erhu (biola dua dawai) khas Tiongkok," komentar seorang pengamat musik di Youtube.

Seandainya Ibu Peng Liyuan dan suami, Presiden Xi Jinping, berkunjung ke Indonesia suatu ketika (dan kemungkinan itu sangat besar mengingat kedua negara ini sedang mesra-mesranya) Ibu Peng Liyuan bakal membawakan lagu Indonesia yang populer di Tiongkok. Setidaknya ada dua lagu yang selalu dibawakan rombongan artis Tiongkok yang datang ke Indonesia: AYO MAMA dan BENGAWAN SOLO. Dua lagu itu pula yang dibawakan tim kesenian tentara pembebasan rakyat Tiongkok di Surabaya tahun lalu.

Surabaya juara barongsai lantai di Makassar


Grup barongsai Surabaya kini mulai unjuk prestasi di tingkat nasional. Dalam kejuaraan barongsai di Makassar, pekan lalu, Lima Bhakti Surabaya tampil sebagai jawara di nomor barongsai lantai atau tradisional. Dua grup barongsa Lima Bhakti yang diturunkan dalam kejuaraan itu berhasil menjadi juara pertama dan kedua.

Grup Lima Bhakti A meraih nilai 8,08, sementara Lima Bhakti B mndapat skor 8,05. Skor tertinggi dalam kejuaraan barongsai adalah 10. Adapun tempat ketiga diraih GX Lion Dance B dari Makassar dengan nilai 7,36.

Kejuaraan nasional yang berlangsung dua hari ini menampilkan barongsai lantai dan tonggak. Kategori lantai atau tradisional diikuti sembilan tim, sedangkan kategori tonggak 12 tim. Peserta merupakan utusan dari daerah-daerah yang dikenal jago barongsai seperti Jakarta, Surabaya, dan tuan rumah Makassar.

Di nomor tonggak, yang tingkat kesulitannya tinggi, juara pertama diraih Suaka Insan (Jakarta) dengan nilai 9,19. Juara kedua dan ketiga diborong Kong Ha Hong dari Jakarta. Menurut Erni, perolehan nilai dua pemenang di nomor tonggak ini sangat tinggi, yakni 9,1.

Prestasi tim barongsai asal Surabaya ini memang sudah terlihat sejak awal tahun 2013 lalu. Dalam kejuaraan barongsai Piala ITC dalam rangka perayaan tahun baru Imlek, Lima Bhakti pun tampil sebagai juara umum.

"Sekarang ini kualitas permainan barongsai di Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, semakin meningkat. Ini tidak lepas dari kejuaraan dan turnamen yang sering kita adakan di Surabaya," kata Chandra Wurianto, ketua umum Persatuan Olahraga dan Seni Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur.

Sebelumnya, tim-tim barongsai asal Jawa Timur sulit berbicara di tingkat nasional. Daerah-daerah yang terkenal unggul barongsainya adalah Jakarta, Makassar, Medan, dan Tarakan.

"Syukurlah, sekarang kita sudah diperhitungkan di tingkat nasional. Kuncinya adalah pembinaan dan pengalaman bertanding. Kalaupun belum menang, ya, jangan putus asa karena masih ada kesempatan lain untuk berprestasi," tegas Chandra.

03 April 2013

Sejit Dewi Kwan Im di Pamekasan


Kompleks Kelenteng Kwan Im Kiong di Pamekasan, Madura, Jumat (29/3/2013), dipenuhi ribuan warga Tionghoa dari berbagai kota. Tak hanya dari Jawa Timur, banyak pula rombongan peziarah yang datang dari Jakarta, Tangerang, Semarang, bahkan Sumatera. Kedatangan mereka untuk merayakan hari kelahiran (sejit) Dewi Kwan Im.

Tempat ibadah Tridharma di pesisir pantai wisata Talangsiring, Candi, Pamekasan, itu memang sejak dulu dikenal sebagai rumah persembahyangan untuk dewi welas asih asal negeri Tiongkok itu. "Hari kelahiran Dewi Kwan Im ini diperingati setiap tanggal 19 bulan ketiga penanggalan Imlek," jelas Kosala Mahinda, ketua Yayasan TITD Kwan Im Kiong, yang saya hubungi via telepon.

Kebetulan di awal tahun ular air 2564 ini, perayaan sejit Dewi Kwan Im bersamaan dengan hari libur nasional peringatan wafat Yesus Kristus. Karena itu, pengunjung yang melakukan Jut Bio ke Kwan Im Kiong, Pamekasan, lebih banyak dari biasanya. Sejak Kamis malam sejumlah rombongan dari luar kota bahkan sudah tiba di lokasi acara.

Meski dibanjiri ribuan pengunjung dari luar kota, menurut Kosala Mahinda, perayaan sejit Dewi Kwan Im berlangsung sederhana saja. Pengurus kelenteng dan panitia menekankan pada kebaktian atau sembahyang untuk mengucapkan syukur dan perlindungan kepada Tuhan kepada semua umat dan bangsa Indonesia. Acara resmi dimulai pukul empat sore. Kebaktian bersama itu dipimpin para bhiksu dari Sangha Agung Indonesia.

Umat yang hadir didoakan secara khusus dan mendapat percikan air suci dari para rohaniwan Buddhis itu. Mereka juga berebut menyentuh rupang mungil berwarna keemasan itu.

Menurut Kosala, patung atau rupang Avalokitesvara Boddhisatva atau Makco Kwan Im Po Sat sudah ada di lokasi kelenteng sekarang sejak era Kerajaan Majapahit pada tahun 1600-an. Itulah sebabnya, Kelenteng Kwan Im Kiong, Pamekasan, sejak dulu selalu menjadi jujugan warga Tionghoa yang ingin berdoa atau meminta belas kasihan Dewi Kasih Sayang itu.

Seperti biasa, para pengunjung juga dihibur kelompok karawitan dan barongsai binaan Kwan Im Kiong. "Juga ada tari-tarian dari Focus Group Surabaya dan Golden Dragon Band dari Jogjakarta," papar Kosala, alumnus Universitas Kristen Petra Surabaya.

Di akhir acara, panitia mengadakan lelang kalung Makco Kwan Im.

02 April 2013

Ceng Beng di rumah sembahyang keluarga Han

Hubert, generasi ke-10 marga Han di Indonesia.


Banyak cara untuk merayakan Ceng Beng. Robert Rosihan bersama istri, anak, dan kerabatnya melakukan nyekar bersama di perairan kawasan Tanjung Perak, Surabaya. Upacara tahunan ini intinya sama dengan ziarah kubur dan membersihkan makam setiap tahun 10 hari sebelum dan sesudah tanggal 5 April 2013.

"Kami menyewa sebuah kapal untuk melakukan acara larung di laut. Lokasinya persis di tempat abu jenazah keluarga yang dilarung dulu," ujar Robert. Usai berdoa secara Katolik, Robert bersama keluarga secara bergantian melarung berbagai hantaran ke laut.

Upacara Ceng Beng alias Qing Min (bahasa Mandarin) masih berlanjut. Robert bersama istri, Tan Ling Mei, dan dua anaknya, Hubert dan Richard, mengadakan upacara lanjutan di rumah sembahyang keluarga Han di Jalan Karet 72 Surabaya. Di bangunan tua yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Surabaya ini Robert sekeluarga membawa aneka jenis makanan untuk disajikan kepada para leluhur yang sudah tiada.

Jenis penganan yang diletakkan di altar antara lain buah-buahan seperti pisang, apel, jeruk, rambutan, srikaya. Kemudian makanan basah seperti ayam, kepiting, ikan, babi, bebek. Tak lupa kue-kue basah seperti wajik dan roti mangkok. Juga minuman putao chee chiew, sejenis anggur rendah alkohol.

"Acara Ceng Beng di sini hampir sama dengan sembahyang saat tahun baru Imlek. Dalam satu tahun, keluarga besar kami tiga kali mengadakan sembahyang bersama di sini. Setelah ini akan ada sembahyangan lagi saat sembahyang rebutan," jelas Robert, yang tercatat sebagai generasi kesembilan keluarga Han di Indonesia.

Meski sering disebut rumah abu, menurut Robert, tak ada abu jenazah leluhur keluarga Han yang disimpan di sini. Yang ada hanya sinci-sinci atau papan bertuliskan nama-nama leluhur keluarga Han dalam aksara Tionghoa alias hanzi. Sinci-sinci itu disimpan di lemari kaca di atas meja altar.

Rumah sembahyang ini didirikan oleh Han Bwee Ko, generasi keenam keluarga Han pada abad ke-18. Sejarah rumah dengan arsitektur campuran Tionghoa, Jawa, dan Eropa ini diawali dengan kedatangan Han Siong Kong ke Lasem, Jawa Tengah, pada 1673.

Salah satu keturunannya, Han Bwee Koo, diangkat menjadi Kapiten der Chineezen oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi pemimpin masyarakat Tionghoa di Surabaya. Keluarga Han kemudian menjadi pengusaha kaya raya dan terlibat dalam pemerintahan di era prakemerdekaan.

Tak hanya keluarga Robert, beberapa kerabat dan kenalan Robert pun datang untuk sembahyang saat perayaan Ceng Beng ini. Dan, seperti biasa, Robert dan istri, Tan Ling Mei, menunggu beberapa jam hingga para leluhur memberikan 'restu' untuk mengakhiri peribadatan. "Kita harus bertanya dulu pakai cara tertentu," kata Ling Mei.

Di akhir ritual, setelah mendapat izin dari leluhur, Robert sekeluarga membakar aneka hantaran dari kertas seperti uang-uangnya, mobil, laptop, dan aneka aksesoris di depan rumah sembahyang.