11 March 2013

Tak boleh meliput UPH Choir

Di Surabaya tidak banyak orang yang nonton konser musik klasik. Wartawan yang MAU meliput musik klasik pun tak sampai lima orang. Bahkan konser Surabaya Symphony Orchestra yang megah pun pernah saya sendiri yang meliput. Karena itu, saya selalu percaya diri datang ke hajatan musik klasik.

Tak membawa undangan pun pasti dipersilakan masuk ruang konser. Bahkan bisa wira-wiri untuk memotret asal tidak pakai flash. Saya pun tak pernah membeli tiket karena panitia biasanya memberi perlakukan khusus untuk awak media.

"Anda tidak perlu bayar pakai uang tapi pakai tulisan. Kalau konser ini dimuat di koran, nilainya luar biasa. Apalah artinya tiket yang cuma 100 ribu," kata seorang kenalan yang sering mengurus konser musik klasik.

Betul juga. Diundang, ditraktir makan pun hampir semua wartawan tidak meliput musik klasik - karena tidak populer - apalagi si wartawan disuruh beli tiket. Maka guru-guru klasik atau musisi klasik biasanya sangat senang kalau saya datang menonton pertunjukan mereka. Saya juga senang karena menambah wawasan dan apresiasi saya pada musik klasik Barat.

Tapi rupanya saya terlalu percaya diri. Menganggap remeh sistem booking undangan. Saya kena batunya ketika hendak meliput konser paduan suara mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) di Gedung Cak Durasim Senin malam (11/3/2013). Sebelumnya saya diajak Mariette, humas dan marketing UPH, untuk datang. Oke, kebetulan saya libur. Kebetulan lagi saya suka choir yang bagus.

Tanpa tiket, undangan, cuma kartu pers, saya mampir ke tempat konser. Undangannya mana? tanya nona manis.

"Saya dari media. Wartawan," jawabku seraya tersenyum seramah mungkin.

Rupanya kartu pers tidak laku di UPH Choir. Mahasiswa yang jadi panitia itu tidak mau ambil pusing dengan pers. Tidak butuh diliput. Hehehe....

"Oke, saya beli tiketnya sekarang," kata saya mengeluarkan uang Rp100 ribu.

Si nona manis malah sibuk melayani undangan lain yang datang belakang. Saya malah dicuekin. Dianggap tidak ada. Tidak direken karena tidak booking atau pesan tiket dulu ke panitia. Sementara tempat duduk terbatas.

Asem tenan!

Si Mariette ternyata tak ada di lokasi. Kartu namanya pun lupa. Nomor ponselnya belum ada di phone book. Maka, saya pun langsung cabut. Gak nonton kor gak patheken!


HIKMAH: Jangan pernah meliput konser kalau tidak punya tiket atau undangan!


2 comments:

  1. mungkin anak2 mahasiswa UPH yg jadi panitia itu sangat disiplin dan ketat. jadi bisa dimaklumi saja lah....

    ReplyDelete
  2. Betul... bisa jadi bahan introspeksi agar para awak media lebih tertib krn konser memang ada aturannya sendiri.

    ReplyDelete