08 March 2013

Lidya Mina Bai guru bahasa Mandarin di Surabaya


Tujuh tahun sebelum reformasi, tepatnya 1991, Lidya Mina Bai membuka Easy Study, sebuah pusat studi bahasa Mandarin di Surabaya. Ini membuat wanita yang akrab disapa Bai Laoshi ini sering diminta menjadi pembawa acara, bahkan penerjemah bahasa Mandarin untuk kalangan pejabat.

"Saya pernah diminta menjadi penerjemah bahasa Mandarin untuk Bapak Gubernur Soekarwo," kenang Lidya Mina seraya menunjukkan foto ketika sedang bertugas. Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Soekarwo, tengah berbincang dengan tamunya yang berasal dari Tiongkok, sementara Lidya duduk di belakang Pakde Karwo.

Kini, meski tak lagi menjadi penerjemah resmi di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Lidya tetap saja sibuk dengan urusan bahasa Mandarin. Pusat studi Mandarin di kawasan Manyar Tirtomulyo terus berkembang seiring meningkatnya antusiasme generasi muda dalam mempelajari bahasa nasional Tiongkok itu. Lidya juga ikut mengampu kursus Mandarin di Sanggar Agung, Kenjeran.

"Yang di Kenjeran itu sifatnya benar-benar sosial karena bekerja sama dengan pihak kelenteng. Kita hanya ingin membantu masyarakat yang tertarik untuk belajar bahasa Mandarin," tutur laoshi (guru) yang ramah ini.

Di kalangan komunitas penggemar lagu-lagu Mandarin, nama Lidya Mina Bai sudah tak asing lagi. Betapa tidak. Dia sering diminta menjadi pembawa acara saat penyanyi-penyanyi pop Mandarin asal Taiwan, Tiongkok, Malaysia, atau Singapura berkunjung ke Surabaya. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, mengalir lancar, layaknya penutur asli bahasa Zhongwen. Maklum, selama tujuh tahun Lidya tinggal di Taipei.

Di ibukota Taiwan itulah, Lidya memperdalam kemampuan berbahasa Mandarin di Fujen Catholic University. Sebuah kampus papan atas di negeri Formosa itu. "Di Taiwan, kita otomatis terbiasa mendengar warga setempat berbicara bahasa Mandarin. Lama-kelamaan kemampuan kita pun berkembang dan akhirnya bisa berbicara dengan fasih," kata bu guru yang suka memotong pendek rambutnya itu.

Nah, di sela kesibukan mengajar bahasa Tionghoa, Lidya mengisi waktu luangnya dengan menjadi penyiar Strato FM sejak September 2011. Tentu saja program yang diasuh pun masih terkait bahasa Mandarin. Selama empat jam Lidya melayani permintaan lagu-lagu pop Mandarin dari penggemar.

"Saya siaran dua kali seminggu, Senin dan Kamis, pukul 11.00 sampai 15.00," katannya saat ditemui di studio Strato FM pekan lalu.

Lidya mengaku agak kikuk dan aneh pada awal-awal menekuni dunia broadcasting. Sebab, dia harus bicara, menyapa, tersenyum, bahkan sesekali tertawa sendiri di studio berukuran sekitar 3 x 3 meter itu. "Saya kan biasa berhadapan dengan murid-murid atau orang banyak. Lha, sekarang saya harus bicara seorang diri," paparnya seraya tersenyum.

Namun, lama-kelamaan Lidya justru sangat menikmati profesi sampingannya itu. Dia justru punya begitu banyak kenalan baru yang sama-sama suka musik pop oriental. Yang membuatnya bahagia adalah ketika dia menerima telepon dan requiest lagu dari beberapa orang-orang tua yang sakit berat atau pensiunan yang hanya istirahat di rumah.

"Saya senang karena ternyata lagu-lagu yang saya putar bisa menghibur mereka," katanya.

No comments:

Post a Comment