08 March 2013

Lanny Chandra pendamping narapidana Tiongkok

Lanny Chandra & Ling Ling.
Kefasihannya berbahasa Mandarin, plus kedekatannya dengan aparat penegak hukum, membuat Lanny Chndra sering dipercaya mendampingi warga negara Tiongkok yang tersandung kasus hukum. Pekan lalu, pekerja sosial dari Yayasan Pelita Kasih ini harus mendampingi beberapa pekerja asal Tiongkok karena diduga punya masalah keimigrasian.

"Tugas utama saya sebagai penerjemah bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Ini pekerjaan sosial yang menantang karena saya harus berhadapan langsung dengan aparat hukum," kata Lanny Chandra.

Mengapa Lanny kerap diminta untuk mendampingi warga Tiongkok atau Taiwan? Bukankah cukup banyak orang Surabaya yang juga fasih berbahasa Mandarin?

Ini tak lepas dari aktivitas sosial Lanny dalam 10 tahun terakhir. Lanny bersama anggota Pelita Kasih punya jadwal tetap mengunjungi para narapidana yang beragama Kristen di penjara atau rutan. Selain memberi santapan jasmani atau obat-obatan, Lanny memperlakukan mereka layaknya keluarga sendiri. Ketika ada yang narapidana yang sakit, dia ikut membantu pengobatan.

Nah, di dalam penjara itu Lanny pun sering bertemu dengan para tahanan atau napi asal Tiongkok. Mereka tidak bisa berbicara bahasa Indonesia atau Inggris. Lanny akhirnya menjadi teman curhat, bahkan dianggap ibu rohani mereka.

"Jadi, Pelita Kasih ini tidak hanya mengurusi naripadana kristiani, tapi juga narapidana asing yang berbahasa Mandarin," kata wanita keturunan Hakka yang kerap mengadakan bakti sosial itu.

Setelah mengikuti kasus-kasus kliennya secara intensif, Lanny menilai banyak orang Tiongkok terpaksa berurusan dengan hamba hukum di Indonesia karena ketidaktahuan belaka. Misalnya soal posisi atau jabatan di sebuah perusahaan. "Itu memberikan celah kepada pihak-pihak tertentu untuk menjebloskan mereka," katanya.

Namun, sebagai interpretor atau penerjemah, Lanny tidak bisa berbuat banyak. Dia menyerahkan persoalan hukum itu kepada advokat atau penasihat hukum. "Saya kan hanya penerjemah. Jadi, saya tidak bisa bertindak terlalu jauh," katanya.

Banyak suka dan duka pernah dialami Lanny selama mendampingi warga negara Tiongkok. Sukanya, dia jadi banyak tahu karakter warga Cungkuo. Dia juga berhasil mengajak para tahanan dan terpidana Cungkuo untuk berdoa dan mengenal agama. Hampir semua narapidana asal Tiongkok menjadi pengikut Kristus ketika dipenjara di Lapas Porong, Rutan Medaeng, Lapas Lowokwaru (Malang), dan sebagainya. Entah setelah keluar dari penjara.

"Saya tidak pernah paksa mereka jad Kristen. Tapi, saya percaya bahwa Tuhan Yesus sangat mencinta mereka," tegas sang evangelis ini.

Lanny mengaku sangat terharu dengan Ling Ling. Wanita Tiongkok ini harus melahirkan di Rutan Medaeng karena terjerat kasus narkoba. Ling Ling yang sebelumnya atheis, tidak kenal agama, berubah menjadi sangat religius. Rajin membaca Alkitan, rajin berdoa, dan mau memberikan kesaksian di depan jemaat di gereja rutan. Bahkan, anak pertamanya itu diberi nama khusus dalam bahasa Tionghoa yang artinya Kasih Yesus Sangat Besar.

"Saya sendiri tidak pernah menyangka Ling Ling mengalami pertobatan seperti itu. Puji Tuhan," kata mantan pengusaha konveksi ini.

1 comment:

  1. Wah, naskah anda ini dicopy paste mentah2 sama http://yinnihuaren.blogspot.com/2013/03/lanny-chandra-pendamping-narapidana.html

    Hanya diganti TIONGKOK dengan CHINA. bagaimana ini bung????

    ReplyDelete