04 March 2013

KM Ratu Rosari dari NTT ke Halmahera



Minggu 3 Maret 2013.

Om Kornelis Kalu Hurek yang tinggal di Malang sejak 1970-an mengirim SMS minta saya mengecek jadwal KM Ratu Rosari dari Surabaya ke Flores Timur. Dia ingin mengirim pikap seken ke kampung halaman. "Kalau bisa langsung ke Lembata," katanya.

Hehehe.... Saya langsung tertawa dalam hati. Aneh, orang Flores yang sudah karatan di Jawa Timur kok tidak tahu perkembangan Kapal Ratu, nama populer KM Ratu Rosari di kalangan orang Flores sejak 1960-an hingga awal 2000. Om Kornel ternyata tidak tahu kalau Kapal Ratu itu sudah lama dijual oleh Misi Katolik alias Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD).

Dan Om Kornel tidak sendirian. Banyak orang NTT, khususnya Flores, yang juga belum tahu kalau Kapal Ratu sudah lama dijual kepada pengusaha swasta. Dus, kapal bersejarah yang berjasa menghubungkan pula-pulau di NTT dengan Jawa sejak 1960-an hingga 2000-an bukan lagi milik Gereja Katolik. Kapal Ratu memang masih ada, tapi sudah jadi kapal biasa yang tak ada kaitan dengan PELAYARAN MISI. Misi barunya ya misi dagang biasa, khas pengusaha perkapalan.

Beberapa tahun lalu, saya pun dihinggapi pertanyaan yang sama. Di mana Kapal Ratu sekarang? Kok tidak ada lagi papan pengumuman di Biara Soverdi, samping Gereja Katedral Surabaya, Jalan Polisi Istimewa 19?

 Maklum, dulu saya sangat sering mampir ke Soverdi untuk menemui Romo Lambertus Padji Seran SVD (sekarang almarhum), pastor asal Adonara yang dulu mempermandikan saya di kampung, Lembata, NTT. Kunjungan rutin setiap minggu untuk menemani opa pater di masa pensiunnya di biara SVD itu.

Karena itu, sudah pasti saya selalu membaca jadwal Kapal Ratu. Orang-orang Flores di Surabaya (dulu) memang punya kebiasaaan mencari informasi jadwal Kapal Ratu Rosari di Soverdi Surabaya. Sebab, sebelum marak kapal-kapal milik PT Pelni atau armada kapal swasta, hanya Kapal Ratu inilah yang berjasa membuka isolasi atau keterpencilan Flores, Lembata, Adonara, Alor, Oekusi, Sumba, Timor, dan pulau-pulau lain di NTT.

Oh, Kapal Ratu Rosari, jasamu begitu besar untuk NTT!

Saya pun menemui Romo Stanislaw Pikor SVD, pastor di Soverdi Surabaya yang bertahun-tahun menjadi manajer Kapal Ratu. Pater asal Polandia inilah yang paling bertanggung jawab atas manajemen KM Ratu Rosari. Mulai logistik, anak buah kapal, permesinan, hingga kehidupan liturgi untuk awak kapal dan penumpangnya. Oh, ya, naik Kapal Ratu itu seperti masuk ke dalam gereja terapung. Ada jadwal misa, sembahyang malaikat, doa bersama, menyanyikan lagu-lagu rohani... selama pelayaran berlangsung. Ada altar, sakristi, buku-buku misa, busana pastor, dan sebagainya.

Sambil tersenyum, Romo Pikor mengatakan bahwa Kapal Ratu sudah dijual kepada seorang pengusaha. Beliau tidak tahu, dan tidak perlu tahu, di mana kapal Misi Katolik untuk NTT ini berada. "Biaya operasional terlalu mahal. Sekarang kan sudah banyak kapal yang berlayar ke NTT. Jadi, misi utama Kapal Ratu untuk membuka isolasi dan menghubungkan pulau-pulau di NTT sudah selesai," kata sang pastor.

Sangat masuk akal penjelasan Romo Pikor SVD ini. Dari segi bisnis, Kapal Ratu jelas kalah bersaing dengan kapal-kapal besar milik Pelni macam KM Tatamailau, KM Bukit Siguntang, KM Kelimutu dan sebagainya. Kapal-kapal Pelni ini punya jadwal yang teratur. Ukurannya jauh lebih besar. Mesinnya lebih canggih. Lebih cepat. Subsidi dari pemerintah membuat kapal-kapal Pelni pun lebih murah.

Sebaliknya, Kapal Ratu memang kapal tua karena diproduksi tahun 1940-an atau 1950-an. Sehingga dari segi keamanan dan keselamatan jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimanapun juga kapal laut, pesawat, mobil, atau barang apa pun pasti punya umur pakai. Tidak mungkin Kapal Ratu beroperasi dalam usia yang sangat uzur. Orang tua sudah pasti tidak akan menang melawan orang muda dalam balapan lari.

Saya kemudian mencari informasi dari beberapa orang Flores yang saya anggap tahu banyak tentang pelayanan SVD, khususnya Kapal Ratu. Tidak tahu! Tidak tahu! Mereka hanya tahu bahwa Kapal Ratu sudah dijual kepada pengusaha Tionghoa dari Pulau Timor, kalau tidak salah dengar. "Kapal Ratu itu kapal tua sehingga memang layak dijual," kata teman asal Flores Tengah.

Kalau tidak dijual, kapal itu hanya akan jadi bangkai yang tidak ekonomis. Paling hanya dipajang di museum kenangan. Bahwa di masa lalu ada kapal bernama Kapal Ratu yang sangat berjasa bagi masyarakat NTT, khususnya dalam penyebaran agama Katolik. Demikian jalan pikiran orang Flores itu, yang saya setujui.

Setelah menunggu bertahun-tahun, syukurlah, ada orang Maumere bernama Bonaventura menulis di blog SUARA MAUMERE. Wow, secara tak sengaja dia bertemu kembali dengan Kapal Ratu di Pelabuhan Bitung, Manado, Sulawesi Utara, November 2011. Warna lambungnya tidak lagi abu-abu, tetapi biru tua. "Semua kondisi interiornya hampir tidak banyak berubah. Mengesankan sekaligus mengharukan," tulisnya.

Kapal Ratu awalnya dibeli pengusaha di Timor. Tapi kini jadi milik pengusaha Halmahera. Kalau dulu melayani angkutan penumpang dan barang di NTT ke Jawa, khususnya Surabaya, kini KM Ratu Rosari melayani rute reguler Halmahera-Bitung, mengangkut bahan bangunan, hasil bumi, dan air minum mineral.

Bonaventura menulis di blognya:

"Yang mengesankan bagi saya adalah keseluruhan interior kapal tersebut masih utuh. Saya tahu karena dulu memang beberapa kali menumpang kapal ini menuju Surabaya, atau sebaliknya, dari Surabaya menuju Ende. Kapel dalam kapal masih ada, walaupun sesekali digunakan untuk tempat istirahat para awak kapal.

Di altar kecil kapel masih terpampang tegak salib, tempat lilin, dan beberapa atribut Katolik lainnya. Di dalam laci dan rak altar tersebut masih disimpan rapi kasula, stola, hostia besar dan kecil, semuanya merupakan kelengkapan untuk kebutuhan untuk pelayanan misa. Saya memang agak heran, mengapa barang-barang sakral tersebut justru masih disimpan dalam kapal yang kepemilikannya sudah berpindah tangan beberapa kali.

Dalam ruang kapel, saya masih melihat sejumlah foto Bruder Marianus (almarhum) ketika berjabatan tangan dengan Uskup Monsinyur Antonius Thijsen SVD, juga foto Bruder Marianus dengan pimpinan Soverdi di Surabaya. Masih ada radio kuno milik kapal ini. Radio itu dulunya biasa digunakan oleh para awak kapal."

Gabriel, ABK asal Flores, punya cerita unik yang agak misterius. Kapal Ratu yang berganti nahkoda, muslim asal Medan, bernama Buyung menyingkirkan semua atribut kristiani di atas Kapal Ratu. Wajar karena kapal itu bukan lagi kapal milik kongregasi SVD yang punya misi Katolik. Apa yang terjadi?

Malam harinya, cerita Gabriel, nakhoda tadi bermimpi didatangi seseorang berjubah putih dan menyampaikan pesan. “Kapal ini tidak akan pernah tenggelam di laut lepas selama simbol simbol kristiani di kapal ini tetap dipertahankan.”

Akhirnya, Buyung memerintahkan para ABK untuk memasang kembali salib, simbol kepausan di ujung haluan kapal, dan gambar-gambar kudus lainnya. Sejak itu, hingga sekarang logo kepausan di ujung haluan kapal masih terpampang.

Kejadian lain, menurut cerita para awak kapal, belum lama ini Kapal Ratu pernah hampir tenggelam ketika berada 13 mil laut dari daratan. Air sudah masuk ke hampir seluruh badan kapal. Kapal berjalan dalam air. Tapi, aneh bin ajaib, Kapal Ratu bisa sampai ke darat dengan selamat.

16 comments:

  1. Makasih Ratu Rosari...Jasamu sungguh Besar...

    ReplyDelete
  2. luar biasa memang KM ratu rosari ini. kapal ini berjasa menghubungkan pulau2 di NTT sehingga NTT tidak terlalu ketinggalan dgn daerah lain di Indonesia. dan itu tidak lepas dari jasa pastor2 Barat di masa lalu.

    ReplyDelete
  3. Kapal Ratu dulu juga selalu mengangkut para perantau dari Malaysia. Setiap kali Kapal Ratu sandar di Larantuka pasti ramai sekali karena orang2 kampung rame2 datang untuk menjemput keluarganya yg baru pulang merantau. Saya punya kenangan khusus dengan kapal ini.

    ReplyDelete
  4. Informasi yang menarik. Saya baru tahu ada kapal khusus yang dimiliki konggregasi dulu untuk daerah misi. Keluarga saya juga berasal dari Flores, di Maumere dan Ende. Tidak banyak saya ketahui tentang kisah kapal ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya, kongregasi SVD di NTT zaman dulu (biasa disebut Misi) memang punya banyak kapal baik yg besar, sedang, maupun kecil karena misionaris2 itu sadar betul bahwa NTT itu punya begitu banyak pulau kecil. Sementara kapal2 swasta belum banyak, kapal miik pemerintah belum ada. Orang2 NTT pada tahun 1960-an sampai 1990-an tidak punya kemampuan untuk membeli kapal laut yang sangat mahal.

      Selain KM Ratu Rosari, Misi KatolikSVD juga punya KM Stella Maris, Kapal AMA, Kapal Theresia, Kapal Arnoldus (kecil), Kapal Siti Nirmala. Kapal2 ini paling banyak. Kapal AMA dan Theresia dulu jadi kapal favorit jurusan Larantuka ke Lewoleba dan sebaliknya karena paling cepat, tapi tidak singgah di Waiwerang.

      Kapal2 ini kemudian kalah cepat dengan munculnya beberapa BIS LAUT milik pengusaha Tionghoa Lewoleba seperti LEMBATA KARYA pada pertengahan 1980-an. Ini membuat penumpang kapal2 misi makin berkurang. Mungkin karena kalah bersaing, kapal2 misi itu dijual kepada pengusaha perkapalan. Kalau Kapal Arnoldus lebih dulu dibesituakan.

      Sebagai orang Lembata, saya pernah merasakan betul jasa kapal-kapal misi khususnya AMA dan Theresia karena saya sekolah di Larantuka. Bahkan, saya selalu gratis naik Motor Theresia (begitu sebutan KM Theresia di Flores Timur) karena kenal baik dengan salah satu ABK asal Lembata yang tinggal di Balela, Larantuka. Kenangan yg tidak pernah saya lupakan.

      Delete
    2. Lalu bagaimana nasib kapal-kapala itu sekarang? Masih beroperasikah atau nasibnya sama sudah diakuisisi oleh pengusaha kapal?

      Delete
  5. KM Ratu Rosari ini memang sangat menarik krn punya misi pelayanan rohani selama dalam pelayaran. Itu antara lain krn kapal ini punya pastor dan bruder tetap yg jadi staf kapal. Saya yakin dan percaya orang2 yg pernah naik KM Ratu Rosari pasti makin kuat imannya krn ibadat harian dan misa sangat sering.

    ReplyDelete
  6. menyedihkan skali, Dijual tanpa memperhatikan aspek nilai historisnya, .. ayo, kita galang dana, koin untuk Ratu Rosari beli lagi ratu Rosari, bawa pulang ke tanah leluhurnya NTT., dari pada galang dana peringatan 100 tahun SVD di Indonesia yang dihabiskan utk biaya dekorasi, makan minum bir berkrat2 ...

    ReplyDelete
  7. dimanakah kapal KM. Theresia?

    ReplyDelete
  8. menyedihkan, SVD menjualnya tanpa memperhatikan nilai historisnya, anak2 NTT yang lahir kemudian, hanya mendengar kisah - kisah kapal penjasa tanpa bisa melihat dan menikmati pelayaran bersejarah.....ayo, kita galang koin utk ratu rosari, beli n bawa pulang kembali ke tanah leluhurnya NTT, atau uang yang dikumpulkan ratusan juta utk peringatan 100 tahun SVD, sisanya beli kembali KM. Ratu, daripada beli bir utk makan minum 1 malam foya-foya..sedih ingat jasa KM ratu, Km Theresia, krna saya sering naik. saya ingat naik kM Theresia dari Ende ke larantuka dgn Bapa n mama, fotonya masih ada di rumah saya.

    ReplyDelete
  9. yah... nilai historis itu yg tidak bisa dibeli dg uang.

    ReplyDelete
  10. Dulu saya sering melihat bangkai Motor Arnoldus di pantai suster, Lohayong, dekat susteran SSPS. Bangkai kapal misi itu dibiarkan rusak begitu saja krn korosi air laut. Mestinya dicat bagus kemudian ditaruh di taman dekat gereja atau di mana saja di Larantuka sebagai monumen peringatan bersejarah bagaimana misi SVD bekerja mewartakan sabda Tuhan di NTT. Rupanya pastor2 di Nagi kurang kreatif dan kurang sadar sejarah. Sayang sekali!!!

    ReplyDelete
  11. Dulu, saya juga membayangkan dibuat monumen kapal misi di sebuah taman. Mungkin ada patung Bunda Maria dsb. Kayak TNI AL di Surabaya memperlakukan kapal2 selam atau kapal2 perang yg sudah selesai tugasnya atau rusak. Sekarang monumen kapal selam (eks Rusia) jadi taman dan tempat rekreasi paling ramai di Surabaya.

    Kalau anda melintas di kawasan Bandara Juanda, anda bisa melihat bangkai beberapa helikopter TNI AL yang pernah bertugas dalam pertempuran penting di tanah air. Meskipun sudah rusak, pesawat2 itu dipajang di taman untuk monumen.

    Saya pun membayangkan Misi SVD juga memperlakukan kapal2 lamanya seperti itu. Bikinlah monumen misi di beberapa kota. Misalnya Kapal Arnoldus di Lohayong, Larantuka. Kapal Ama di Ende atau Lewoleba. KM Ratu Rosari di Atapupu atau Sumba, dan seterusnya.

    ReplyDelete
  12. Saya pertama kali ke Surabaya naik KM Ratu Rosari. Sebagai seorang calon imam kami dapat privilese dapat kamar.

    Selain RAtu Rosari, kita kenal Stella Maris. Saya tidak sempat menikmati kapal itu. Tetapi suatu saat saya mendamping investor asing di Manado, saya lihat kapal itu ada di pelabuhan Bitung.

    ReplyDelete
  13. Jadi teringat kembali kapal2 yg pernah saya lihat dan naiki ketika masih kecil. Kalo Kapal Arnoldus sekarang ke mana ya? Saya sering ikut ini kapal kalau dari Waiwadan ke Larantuka, itu dulu, sudah lama tidak pulang kampung dan tidak tahu nasib kapal2 ini... sedih memang...

    ReplyDelete
  14. Almarhum ayah pernah menggunakan jasa km.ratu rosari dr ende ke srby

    ReplyDelete