24 March 2013

Fredrik Ong bos Sekawan Cosmetics Sidoarjo

Fredrik dan istri, Jaswiati Tan, selalu romantis.
Krisis adalah peluang. Ungkapan ini sudah dibuktikan Fredrik Ong (52). Di saat krisis moneter menimpa berbagai sektor perekonomian di tanah air, Fredrik justru membuat pabrik kosmetik di kawasan Lingkar Timur, Sidoarjo. Kini, berbagai produk Sekawan Cosmetics ini sudah tersebar di berbagai negara, khususnya Timur Tengah.

Saat ini Sekawan Cosmetics memproduksi aneka produk kecantikan. Mulai dari produk beauty care seperti bedak, lulur, dan lipstik. Ada pula produk perawatan kulit seperti body lotion dan krim antisinar matahari. Ada juga sampo. Jika ditotal, jumlah produknya saat ini mencapai lebih dari 100 macam. Produk-produk tersebut menggunakan beberapa merek seperti Holly, Ainie, Romeo, Ratih, Leo, Meme, Srasi, Casabella, dan Laurent.

Ketika terjadi krisis global pada 2008, bisnis pengusaha yang juga tokoh Buddhis Jawa Timur ini malah melejit hingga 40 persen. Dia pun mendapat anugerah Primaniyarta oleh Kementerian Perdagangan sebagai UKM yang berprestasi melakukan ekspor. Setiap tahun Fredrik bisa meraup omzet sekitar USD 2 juta.

Bagaimana tren bisnis kosmetik yang Anda tekuni selama ini?

Semakin hari semakin bagus karena pangsa pasarnya besar. Kita tidak hanya melayani permintaan di dalam negeri, tapi juga ekspor. Bahkan, produk-poduk saya justru lebih banyak yang diekspor ke luar negeri.

Anda mengekspor ke negara-negara mana saja?

Sebagian besar di Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Syria, Nigeria, Ethiopia, dan Yaman. Kemudian kita perluas ke Jepang, Taiwan, Kamboja, Filipina, Swedia, hingga Amerika Serikat. Sekarang kita juga sedang berusaha menembus pasar Tiongkok karena jumlah penduduknya sangat banyak. Yah, porsi ekspor produk-produk kecantikan kami mencapai 60 persen dari total penjualan.

Bagaimana ceritanya produk Anda bisa menembus pasar Timur Tengah?

Tahun 2004 saya coba-coba mengekspor ke Yaman karena potensinya besar. Selain itu, izin peredaran produk kecantikan di negara itu dipermudah oleh pemerintah setempat. Jadi, Yaman menjadi pintu masuk bagi produk-produk kecantikan kami. Dari situlah, produk body lotion dan sampo made in Sidoarjo ini mulai menyebar ke sejumlah negara di Timur Tengah.

Bagaimana cara memperkenalkan produk Anda di luar negeri?

Pertama, kita menyediakan situs di internet (online) yang bisa diakses oleh pembaca dari seluruh dunia. Kedua, rajin mengikuti pameran. Dalam setahun, kami mengikuti 1-2 kali pameran di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Dan, yang tak kalah penting, mengantongi sertifikat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena banyak buyer kami negara-negara Islam di dari Timur Tengah.

Mengapa Anda fokus ke pasar ekspor, padahal produk Anda awalnya kurang dikenal di dalam negeri?

Begini. Untuk memasarkan produk-produk baru di pasar, kita harus punya izin edar dari beberapa instansi pemerintah. Dan itu sering kali membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan, kadang sampai dua atau tiga tahun perizinan itu belum keluar.

Karena itu, pada akhir tahun 2004, saya memutuskan untuk mengekspor produk saya karena izin edarnya tidak kunjung terbit. Nah, rupanya masalah ini justru menjadi peluang saya untuk masuk ke pasar Timur Tengah melalui Yaman. Kita juga sudah masuk pasar Amerika dan Eropa.

Bagaimana proses perizinan di negara-negara lain?

Lebih sederhana dan predictable. Mereka sangat cepat dalam memproses perizinan yang kita ajukan. Rata-rata izin edar itu sudah turun dalam waktu dua minggu. Lha, kalau izin edar tidak turun-turun, maka produk kita tidak akan bisa berkembang karena hanya menumpuk di gudang saja.

Bagaimana Anda melakukan riset pasar untuk mengetahui selera konsumen?

Kami punya tim riset dan pengembangan (R&D) yang bisa menghasilkan lima produk baru per bulannya. Namun, produk-produk itu belum tentu diproduksi massal dan dilempar ke pasar. Kami harus melakukan riset permintaan pasar seperti apa dan harga yang cocok berapa. Mulai dari konsumen hingga supplier. Sering kali dari kelima produk baru itu hanya satu yang layak dipasarkan. Sisanya disimpan dan dikembangkan lagi di kemudian hari. (*)


Pasutri Fredrik-Jaswiati bersama 7 anak mereka. Bahagia!!

No comments:

Post a Comment