18 March 2013

Edi Karimun perintis kursus Mandarin di Surabaya



Sebelum reformasi, 1998, tak boleh ada kursus atau pengajaran bahasa Mandarin di tanah air. Namun, diam-diam, Edi Karum bersama istrinya, Mina Bai, mencoba merintis pembelajaran bahasa Mandarin di Kota Surabaya.

Saat itu Edi Karimun bersama Mina Bai baru saja lulus dari perguruan tinggi terkemuka di Taipei, Taiwan. Selama di Tawan Mina kerap dipercaya menjadi penerjemah bahasa Mandarin untuk sejumlah pengusaha dan tokoh asal Indonesia. Meski kelahiran Indonesia, kemampuan berbahasa Mina tak kalah dengan penutur asli dari Taiwan atau Tiongkok.

“Mereka sering mengira Mina Bai itu asli dari Tiongkok bagian utara karena bahasa Mandarinnya sangat perfek. Maklum, dia belajar habis-habisan intonasi bahasa Mandarin pada dua temannya di Taiwan,” tutur Edi Karimun seraya tersenyum.

Nah, ketika kembali ke Surabaya selepas kuliah, Edi dan Mina berencana membuka usaha layaknya warga Tionghoa umumnya. Namun, keduanya merasa sayang kalau bahasa Mandarin yang sudah dikuasai dengan sangat bagus itu bakal hilang kalau tidak digunakan di Surabaya.

“Bahasa itu kalau tidak dipakai lama-lama akan lupa. Padahal, belajar di luar negeri saat itu tidak gampang. Apalagi, kita belajar bahasa Mandarin pada masa Orde Baru,” kata pria kelahiran 1964 itu.

Melalui berbagai pertimbangan matang, juga berkonsultasi dengan sejumlah tokoh, Edi dan Mina akhirnya sepakat membuka kursus bahasa Mandarin di rumah pada 1991. Tidak ada promosi, woro-woro, iklan, dan sebagainya karena bahasa Mandarin masih dilarang diajarkan di tanah air.

Lantas, mengapa keduanya tetap nekat membuka kursus bahasa Mandarin?

“Kami hanya ingin agar masyarakat Indonesia bisa berbahasa Mandarin. Sebab, tahun 1990-an itu sudah mulai terlihat kebangkitan ekonomi Tiongkok. Dan, cepat atau lambat, bahasa Mandarin akan menjadi bahasa yang sangat penting di dunia,” tegas Edi.



Meski tak banyak siswa, Edi Karimun bersama istrinya, Lidya Mina Bai, tetap mempertahankan kursus bahasa Mandarin yang sudah dirintis sejak 1991. Kursus ini makin berkembang setelah reformasi, 1998.

TUMBANGNYA rezim Orde Baru memberi harapan baru kepada warga Tionghoa di tanah air. Khususnya setelah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai presiden Republik Indonesia. Almarhum Gus Dur mengeluarkan Inpres yang mencabut Inpres 14/1967 tentang larangan ekspresi budaya Tionghoa di tanah ar.

Sejak itulah seni budaya Tionghoa bisa dengan bebas diekspresikan di depan umum. Bahasa Tionghoa (Mandarin) yang sempat dilarang selama 30 tahun lebih kini bisa diajarkan kepada masyarakat. Sekolah-sekolah pun mulai memasukkan bahasa Mandarin sebagai muatan lokal. Bahkan, bermunculan sekolah tiga bahasa yang menjadikan bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris sebagai bahasa pengantar.

Edi Karimun dan istri, Mina Bai, tentu saja bahagia dengan suasana keterbukaan ini. Ternyata, kursus bahasa Mandarin yang sudah dirintis tujuh tahun sebelum reformasi tidak sia-sia. Tak hanya warga Tionghoa, masyarakat non-Tionghoa pun mulai memasukkan anak-anaknya ke kursus bahasa Mandarin. “Antusiasme masyarakat terhadap bahasa Mandarin memang cukup tinggi pada awal reformasi,” paparnya.

Namun, Edi Karimun sadar bahwa Mandarin Education Center yang dibinanya akan sulit menampung banyak siswa. Sebab, kursus yang bermarkas di Jl Manyar Tirtomoyo VII/11 Surabaya ini tidak bernaung di bawah sebuah yayasan atau perkumpulan Tionghoa. Apalagi, biaya kursus yang dipatoknya cukup spesial karena mengambil segmen menengah atas.

Edi pun ingin menjangkau sebanyak mungkin siswa agar bahasa Mandarin tidak menjadi bahasa yang eksklusif untuk golongan tertentu. “Sejak awal saya punya idealisme membuat sebanyak mungkin warga Surabaya, dan Jawa Timur, ini mampu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin,” tandasnya berkali-kali.

Gayung bersambut. Idealisme Edi dan Mina akhirnya bisa tersalur setelah bertemu dengan Soetiadji Yudho, direktur utama PT Granting Jaya, pemilik Sanggar Agung di Kenjeran Park, Surabaya. Kebetulan Soetiadji pun baru saja merenovasi Kelenteng Sanggar Agung pada 1999, bertepatan dengan tahun baru Imlek. Soetiadji ingin ada kursus bahasa asing di kompleks kelenteng terkenal di pinggir laut itu.

Singkat cerita, Edi Karimun akhirnya bersedia membina kursus bahasa Mandarin di Sanggar Agung. “Yang di Sanggar Agung ini benar-benar sosial. Bahkan, awalnya kami gratiskan. Semua siswa tidak perlu bayar,” kata pria 49 tahun ini seraya tersenyum.

Rupanya, dalam perjalanan, sistem gratisan ini ternyata tidak efektif. Siswa kurang termotivasi untuk belajar bahasa nasional Tiongkok itu. Maka, peserta kemudian dipungut biaya Rp 5.000. Juga tidak efektif karena sangat murah. Kemudian dinaikkan lagi menjadi Rp 15 ribu. Itu pun belum cukup untuk memotivasi siswa. Kini, dengan iuran Rp 40 ribu sebulan, para siswa lebih rajin mengikuti kursus yang dipandu Mina Ba bersama para siswa seniornya.

“Sebetulnya uang Rp 40 ribu itu pun dikembalikan lagi kepada para siswa dalam bentuk tas, baju, kue bacang, kue bulan, dan sebagainya,” katanya.

No comments:

Post a Comment