08 March 2013

Bahasa Indonesia Baku, Bahasa Nagi, Bahasa Lamaholot


Bale Nagi 
(Lagu daerah Larantuka) 


Lia lampu menyala di Pante Uste – e
Orang bekarang di angin sejo – e
Inga pa mo ema jao – e
Inga ade mo kaka jao - e

Pengga ole ma wura lewa Tanjo Bunga –e
Malam embo ujan po rinte – e
Tanjo Bunga meking jao-e
Sinyo tedampa lah di tanah orang

Bale Nagi... Bale Nagi, Sinyo – e
No-e kendati nae bero – e
Bale Nagi.... Bale Nagi Sinyo – e
No -e  kendati nae bero - e



Ada guru asal Sumba Barat yang bertugas di Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, NTT. Ibu guru itu bertekad untuk hanya berbahasa Indonesia baku. Bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti yang diajarkan di sekolah.

Tidak belajar bahasa Lamaholot? Bukankah warga Tanjung Bunga itu etnis Lamaholot yang berbahasa Lamaholot? Dan bahasa Lamaholot relatif mudah? Tidak, katanya. Bahasa Indonesia, katanya, lebih bagus karena bisa dipahami siapa saja.

Tanjung Bunga itu tetangga Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Orang Larantuka berbahasa Nagi atau Melayu Larantuka. Semacam Melayu Rendah atau Melayu Tionghoa yang sejak dulu menjadi lingua franca di kawasan Flores Timur dan pulau-pulau sekitar macam Adonara, Solor, Lembata, Alor. Sejak SD, saya yang dari Lembata pun lebih dulu ber-Melayu Larantuka sebelum tahu yang namanya bahasa Indonesia baik dan benar.

Bu Guru itu pun tak mau belajar bahasa Nagi. Mengapa? Bahasa Nagi atau Melayu Larantuka itu merusak bahasa Indonesia. Begitu banyak kata-kata bahasa Indonesia yang dipelesetkan. Ucapannya tidak baku. Sehingga orang luar Flores Timur sulit mengerti.

Contoh:

PEGARI INI ENGKO KE MENA? (Pagi hari ini engkau ke mana?)
KORANG SO MAKAN KA BELOM? (Kamu sudah makan atau belum?)
OA E... KITA SO LUPA LE! (Aduh, Mbak, saya sudah lupa nih!)

Pandangan ibu guru dari Sumba ini bukan hal baru. Saya kira jauh lebih banyak orang Lembata, yang kuliah kemudian sukses jadi orang di Kupang, yang punya paham sama. Mereka selalu berbahasa Indonesia standar di mana pun. Bahkan, saat berada di kampung pelosok, berbicara dengan orang-orang desa yang sederhana, pun pakai bahasa sekolahan. Bahasa akademik. Bahasa buku. Bahasa tinggi.

Begitu bangganya mereka karena menganggap bahasa Indonesia baku adalah segalanya. Bahasa-bahasa lain seperti bahasa daerah, bahasa Indonesia (Melayu) ragam informal, tidak diperlukan. Maka, orang-orang ini biasanya tidak asyik diajak bicara dalam konteks informal. Berbahasa Indonesia baku, formal, terus-menerus sebetulnya hanya bikin capek karena kita dipaksa untuk kuliah atau sekolah atau berkhotbah.

Sikap bu guru Sumba (dan banyak orang NTT lain) menunjukkan bahwa mereka kurang paham ilmu komunikasi. Tidak tahu konteks atau sosiolinguistik. Dia sejatinya justru tidak paham BAIK dan BENAR dan hanya bersikeras dengan BENAR saja. Berbahasa yang BAIK justru mensyaratkan orang melihat konteks komunikasi. Bicara dengan orang kampung tentu beda dengan bicara di depan pelajar atau mahasiswa. Menggunakan bahasa akademis atau sekolahan di pelosok NTT kayak Tanjung Bunga jelas salah tempat.

Sebetulnya kita di NTT, khususnya Flores, sudah mendapat teladan yang luar biasa dari para pastor misionaris Eropa dan Amerika. Mereka-mereka ini misionaris yang sangat paham sosial, budaya, adat, psikologi, hingga bahasa setempat. Pastor-pastor Belanda justru lebih sering berbicara bahasa Lamaholot, bahasa daerah di Flores Timur, ketika berhadapan dengan umat Katolik yang memang semuanya orang desa. Orang yang kurang mampu berbahasa Indonesia baku.

Bahkan, saya terkesan dengan beberapa pastor Belanda seperti Pater Geurtz SVD dan Pater Van der Leur SVD yang sering khotbah dalam bahasa daerah. Dan efeknya memang luar biasa. Meskipun kedua pastor ini sudah meninggal dunia, saya dan orang-orang kampung tak pernah melupakan sang misionaris. Sangat kontras dengan beberapa pastor lokal, etnis Lamaholot, yang berkhotbah dengan cara membaca makalah atau artikel.

Bu guru Sumba ini perlu sadar bahwa berbicara bahasa Lamaholot atau bahasa Nagi tidak akan mengurangi kemampuan berbahasa Indonesia standar. Ada baiknya bu guru ini sekali-sekali studi banding ke Surabaya, Jogja, Malang, atau Jakarta. Dia akan terkejut melihat orang Jawa atau Betawi justru tidak pernah berbahasa baku di luar sekolah, kampus, atau tempat-tempat resmi.

Analoginya sangat sederhana. Setelan jas itu pakaian resmi yang sangat bagus, elegegan, formal. Tapi jas hanya cocok dipakai ke resepsi pernikahan, konser musik klasik, atau pertemuan formal di hotel berbintang atau convention hall. Sebagus-bagusnya jas, pakaian ini tidak cocok dipakai ke sawah, memancing, atau cangkrukan di warung.

Anehnya, banyak orang Flores Timur, juga bu guru Sumba ini, yang pakai jas untuk menemui petani-petani Lamaholot di kebun.

No comments:

Post a Comment