18 March 2013

Agus Wibisono bos Dian Istana Group

Pak Agus dan istri (Bu Shinta) mengadakan operasi katarak gratis di Klinik Dian Istana.

Nama Agus Wibisono (69) tak asing lagi di dunia properti Surabaya. Ayah dua anak ini bahkan dikenal sebagai pengembang pertama yang membangun sejumlah perumahan dengan sistem kredit BTN. Kini, di usianya yang mendekati kepala tujuh, Agus terus membangun sejumlah properti modern di Kota Pahlawan.

Berikut petikan percakapan Lambertus Hurek dengan Agus Wibisono di salah satu perumahan yang dibangunnya, kompleks Perumahan Dian Istana, Wiyung, Surabaya, Sabtu (9/3/2013):

Proyek apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Salah satunya adalah Marvell City di kawasan Ngagel. Pengerjaannya sedang dilakukan secara intensif. Mudah-mudahan dua tahun mendatang, 2015, sudah selesai. Ini supaya tidak ada lagi kritik tentang bangunan mangkrak atau bangunan yang tidak terurus di Surabaya.

Marvell City itu konsepnya seperti apa?

Itu sebuah kompleks properti modern yang terpadu. Ada hotel bintang empat. Kemudian convention hall untuk pesta, seminar, pameran, pertemuan, dan sebagainya. Kemudian kita juga mendirikan empat tower masing-masing tingginya 36 tingkat. Dan, yang tidak kalah penting, pusat perbelanjaan modern atau mal. Kalau pengerjaan hotelnya sih mengalami progres yang menggembirakan. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa beroperasi.

Ada lagi proyek lain?

Kita juga membangun 10 tower di Dian Istana (Wiyung) ini. Lahan yang diperlukan hanya sekitar lima hektare dan sudah siap.

Berapa tingkat tower di Dian Istana? Apa sama dengan empat tower di Marvell City?

Kalau tower di Dian Istana ini masih dalam proses desain. Jadi, kita belum tahu modelnya seperti apa. Tapi saya ingin segera dikerjakan agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Mengapa Anda mulai getol membangun tower-tower di dalam kota?

Kita mengantisipasi apa yang sudah terjadi di Jakarta. Sekarang ini tren di Jakarta adalah orang memilih tinggal di dalam kota, tidak terlalu jauh dari tempat kerja atau tempat sekolah anak-anak. Sebab, kemacetan di Jakarta sudah sangat parah. Dari bandara ke pusat kota di Jakarta itu rata-rata membutuhkan waktu dua jam. Waktu dan energi kita habis di jalan. Karena itu, orang tidak lagi tertarik membeli rumah di Tangerang atau Depok seperti dulu. Mereka mulai memilih hunian di dalam kota.

Kemacetan di Surabaya kan belum separah Jakarta?

Sekarang memang belum, tapi dalam beberapa tahun ke depan akan mendekati Jakarta yang sekarang. Sebab, pertambahan kendaraan bermotor sekitar 10 persen per tahun, sementara panjang jalan tidak berubah. Artinya, sejak 1998 sampai sekarang kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya sudah naik 150 persen. Kalau tidak diantisipasi dari sekarang, kita di Surabaya pun akan mengalami masalah kemacetan seperti di Jakarta.

Karena itu, pemerintah harus sudah mulai serius memikirkan masalah transportasi ini. Kedua, mau tidak mau, masyarakat akan memilih apartemen (flat) sebagai tempat hunian. Jauh lebih nyaman bila jarak dari rumah ke tempat kerja kurang dari lima kilometer.

Sebagai pengembang yang eksis sejak 1970-an, apa saja kendala dalam menggarap properti atau real estate di Surabaya?

Yang namanya kendala itu pasti ada saja. Mulai dari yang ringan sampai berat seperti krisis moneter tahun 1997/1998. Yang penting, bagaimana kita sebagai pengembang bisa mengatasi dengan perhitungan yang matang.

Bagaimana dengan proses perizinan?

Harus diakui bahwa persoalan izin ini sering kali menghambat business plan dari pengusaha properti. Berdasarkan pengalaman saya, masalah perizinan itu jauh lebih mudah pada zaman Wali Kota Bapak R Soekotjo. Kalau ada properti yang macet, beliau turun langsung dan bertanya apa masalahnya. Kalau masalahnya ini, ya, kerjakan yang itu dulu. Beliau ikut memberikan masukan dan solusi kepada para pengembang. Yah, setiap pemimpin itu memang punya gaya kepemimpinan yang berbeda-beda.

Selama ini sering ada kritik tentang proyek-proyek properti yang mangkrak di dalam kota. Tapi sangat jarang orang yang tahu mengapa sampai terjadi kemacetan pembangunan. Para pengembang, saya kira, tidak akan membiarkan proyeknya mangkrak karena kerugiannya sangat besar. Jadi, harus ada kerja sama yang baik antara pengusaha (pengembang), pemerintah, dan masyarakat. (*)

Pak Agus (kiri) di proyek Marvell City, eks pabrik BAT Ngagel, Surabaya.


Tak Bisa Kuliah Malah Jadi Bos Besar

Sudah ribuan rumah, mulai kelas KPR-BTN hingga hunian kelas atas, kemudian hotel, mal, maupun tower dibangun Agus Wibisono. Yang menarik, tokoh marga Huang Jawa Timur ini sebenarnya tidak punya latar belakang pendidikan teknik arsitektur atau sejenisnya.

Agus hanyalah lulusan SMA Sin Chung, sekolah Tionghoa di Surabaya, yang ditutup pada awal Orde Baru. “Saya tidak bisa kuliah karena tidak punya biaya,” kenang Agus Wibisono seraya tersenyum.

Karena itu, dia mulai belajar menggeluti bisnis pelayaran dan perdagangan antarpulau. Hasil dari usaha ini kemudian dijadikan modal untuk terjun sebagai developer atau pengembang pada 1970-an.

Agus masih ingat betul kalau saat itu pengembang di Surabaya masih bisa dihitung jari sebelah tangan. Selain Agus dari PT Bumi Indah Jaya, ada satu pengembang pelopor di Kota Surabaya, yakni Wisma Surya. Meski tanpa pengalaman, suami Shinta Wibisono ini sangat serius menekuni dunia properti pada pertengahan 1970-an itu.

Dia pun mulai menyulap sawah dan rawa-rawa di Kota Pahlawan ini menjadi permukian yang asri. Sebuah permukiman baru dan modern yang berbeda dari permukiman tradisional di kampung-kampung. Berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial disediakan. Dengan begitu, para penghuni bisa menikmati hidup dengan tenang sambil terus mengembangkan karir.

Nah, selama hampir 40 tahun itu Agus Wibisono berhasil membangun sebagian besar perumahan di Surabaya. Sebut saja real estate di Kertajaya, Dharmahusada, Kalisari, Mulyosari, Manyar, Pepelegi, hingga Dian Istana di Wiyung. Tak hanya di Surabaya, Agus juga ekspansi dengan membangun perumahan modern di Malang, Mojokerto, dan Bangkalan (Madura).

Agus pulalah yang dipercaya menggarap perumahan dengan sistem KPR yang ditangani Bank Tabungan Negara (BTN). Boleh dikata, perumahan-perumahan KPR-BTN yang boming pada akhir 1980-an merupakan garapan pria kelahiran Surabaya, 16 April 1944, itu. kini, Agus mengaku menyerahkan manajemen perusahaan kepada anaknya.

“Kalau tidak begitu, nanti mereka tidak bisa kerja. Apalagi, usia saya sudah hampir 70 tahun,” katanya. (hurek)

1 comment:

  1. Saya adalah orang yang banyak belajar dari beliau. Trimakasih Bapak semoga bapak sehat selalu.

    ReplyDelete