31 March 2013

Olga Lidya Pemandu Misa Paus Fransiskus


Selama dua jam lebih artis Olga Lidya dan Susan Bachtiar memandu siaran langsung misa Paskah dari Basilika Santo Petrus, Vatikan, Minggu (31/3/2013). Dihadiri sekitar 200 ribu jemaat dari berbagai negara, misa peringatan kebangkitan Yesus Kristus ini dipimpin Paus Fransiskus. Pemimpin umat Katolik sedunia asal Argentina itu baru terpilih pada 13 Maret 2013.

"Luar biasa antusiasme umat dalam menyambut Paus Fransiskus. Beliau adalah tipe gembala yang sangat dekat dengan umat," ujar Olga Lidya yang aktif mewawancarai Romo BS Mardiatmadja SJ dan Romo Rudi sepanjang siaran langsung di INDOSIAR. Stasiun televisi ini dalam beberapa tahun terakhir memang selalu menyiarkan misa Paskah dari Kota Vatikan.

Yang paling berkesan bagi Olga adalah kesederhanaan dan keterbukaan paus berusia 76 tahun itu. Usai memimpin misa dalam bahasa Latin dan Italia, paus beberapa kali menyapa dan menggendok anak kecil. Bahkan, seorang bocah laki-laki sepertinya tak mau lepas dari gendongan Sri Paus.

"Mungkin orang-orang yang baru berjabatan tangan dengan Bapa Paus itu malamnya nggak bisa tidur karena sangat terkesan," ujar artis yang ikut membintangi film Soegija itu.

Gara-gara bermain di film tentang Monsinyur Soegijapranata SJ itu pula, Olga mengaku semakin memahami tentang tata cara pemilihan uskup maupun paus. Tak heran, alumnus Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, ini cukup memahami jalannya liturgi Paskah ala Vatikan yang sangat detail dan rumit.

30 March 2013

Kamis Putih bersama Romo Nilo OP di Redemptor Mundi



Suasana misa Kamis Putih di Gereja Redemptor Mundi, Dukuhkupang Barat I/7 Surabaya, petang itu sangat meriah. Gereja penuh sesak seperti biasa, termasuk terop di barat dan timur. Maka, saya terpaksa berdiri selama misa yang berlangsung dua jam lebih.

Misa dipimpin Romo NILO ASUNCION LARDIZABAL, OP, asal Filipina. Romo Arthur bersama dua romo profesor dari Manila ikut mendampingi Romo Nilo. Paroki Redemptor Mundi merupakan satu-satunya paroki di Indonesia yang dilayani pastor ordo Dominikan alias OP.

Dan imam-imam OP mayoritas memang berasal dari Filipina. Jadi, nuansa Filipina sangat terasa kalau kita ikut misa di sini. Lebih-lebih misa bahasa Inggris yang memang didominasi warga negara Filipina di Jawa Timur.

Acara khas Kamis Putih tentu pembasuhan kaki. Romo Nilo ternyata fasih berkhotbah dalam bahasa Indonesia, bahkan punya joke segar yang membuat umat tertawa lepas. Di Filipina, kata Romo Nilo, banyak warga yang kakinya sangat kotor dan bau. Tapi sebagai pastor, dia dituntut untuk mencuci dan mencium kaki itu.

"Ada yang kakinya bau seperti bangkai tikus," cerita Romo Nilo disambut tawa. "Ada yang kakinya berambut seperti kepala. Saya pikir dia perlu sampo dan bukan sabun." Hehehe...

Lantas, upacara pembasuhan kaki berlangsung seperti biasa diiringi lagu JIKA ADA CINTA KASIH. Sejak dulu pembasuhan kaki memang identik dengan lagu gregorian UBI CARITAS EST AMOR.. yang di Flores dikenal dengan BILA KITA SALING CINTA, ALLAH PUN HADIR. Di Jawa yang pakai Puji Syukur menggunakan syair JIKA ADA CINTA KASIH, HADIRLAH TUHAN.

"Orang Flores banyak yang ikut kor," kata sang solis yang ternyata orang Bajawa, Flores, kepada saya. Wah, orang Flores rupanya ada di mana-mana di lingkungan Gereja Katolik.

Sayang, misa yang asyik itu terasa kurang bumbu karena Romo Nilo tidak menyanyikan aklamasi. Bahkan prefasi pun cuma dibaca saja kayak misa harian. Padahal, setahu saya pekan suci akan lebih mantap kalau imam menyanyikan aklamasi.

Oh, rupanya romo takut kelamaan karena sebentar lagi misa bahasa Inggris di tempat yang sama.

24 March 2013

Fredrik Ong bos Sekawan Cosmetics Sidoarjo

Fredrik dan istri, Jaswiati Tan, selalu romantis.
Krisis adalah peluang. Ungkapan ini sudah dibuktikan Fredrik Ong (52). Di saat krisis moneter menimpa berbagai sektor perekonomian di tanah air, Fredrik justru membuat pabrik kosmetik di kawasan Lingkar Timur, Sidoarjo. Kini, berbagai produk Sekawan Cosmetics ini sudah tersebar di berbagai negara, khususnya Timur Tengah.

Saat ini Sekawan Cosmetics memproduksi aneka produk kecantikan. Mulai dari produk beauty care seperti bedak, lulur, dan lipstik. Ada pula produk perawatan kulit seperti body lotion dan krim antisinar matahari. Ada juga sampo. Jika ditotal, jumlah produknya saat ini mencapai lebih dari 100 macam. Produk-produk tersebut menggunakan beberapa merek seperti Holly, Ainie, Romeo, Ratih, Leo, Meme, Srasi, Casabella, dan Laurent.

Ketika terjadi krisis global pada 2008, bisnis pengusaha yang juga tokoh Buddhis Jawa Timur ini malah melejit hingga 40 persen. Dia pun mendapat anugerah Primaniyarta oleh Kementerian Perdagangan sebagai UKM yang berprestasi melakukan ekspor. Setiap tahun Fredrik bisa meraup omzet sekitar USD 2 juta.

Bagaimana tren bisnis kosmetik yang Anda tekuni selama ini?

Semakin hari semakin bagus karena pangsa pasarnya besar. Kita tidak hanya melayani permintaan di dalam negeri, tapi juga ekspor. Bahkan, produk-poduk saya justru lebih banyak yang diekspor ke luar negeri.

Anda mengekspor ke negara-negara mana saja?

Sebagian besar di Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Syria, Nigeria, Ethiopia, dan Yaman. Kemudian kita perluas ke Jepang, Taiwan, Kamboja, Filipina, Swedia, hingga Amerika Serikat. Sekarang kita juga sedang berusaha menembus pasar Tiongkok karena jumlah penduduknya sangat banyak. Yah, porsi ekspor produk-produk kecantikan kami mencapai 60 persen dari total penjualan.

Bagaimana ceritanya produk Anda bisa menembus pasar Timur Tengah?

Tahun 2004 saya coba-coba mengekspor ke Yaman karena potensinya besar. Selain itu, izin peredaran produk kecantikan di negara itu dipermudah oleh pemerintah setempat. Jadi, Yaman menjadi pintu masuk bagi produk-produk kecantikan kami. Dari situlah, produk body lotion dan sampo made in Sidoarjo ini mulai menyebar ke sejumlah negara di Timur Tengah.

Bagaimana cara memperkenalkan produk Anda di luar negeri?

Pertama, kita menyediakan situs di internet (online) yang bisa diakses oleh pembaca dari seluruh dunia. Kedua, rajin mengikuti pameran. Dalam setahun, kami mengikuti 1-2 kali pameran di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Dan, yang tak kalah penting, mengantongi sertifikat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena banyak buyer kami negara-negara Islam di dari Timur Tengah.

Mengapa Anda fokus ke pasar ekspor, padahal produk Anda awalnya kurang dikenal di dalam negeri?

Begini. Untuk memasarkan produk-produk baru di pasar, kita harus punya izin edar dari beberapa instansi pemerintah. Dan itu sering kali membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan, kadang sampai dua atau tiga tahun perizinan itu belum keluar.

Karena itu, pada akhir tahun 2004, saya memutuskan untuk mengekspor produk saya karena izin edarnya tidak kunjung terbit. Nah, rupanya masalah ini justru menjadi peluang saya untuk masuk ke pasar Timur Tengah melalui Yaman. Kita juga sudah masuk pasar Amerika dan Eropa.

Bagaimana proses perizinan di negara-negara lain?

Lebih sederhana dan predictable. Mereka sangat cepat dalam memproses perizinan yang kita ajukan. Rata-rata izin edar itu sudah turun dalam waktu dua minggu. Lha, kalau izin edar tidak turun-turun, maka produk kita tidak akan bisa berkembang karena hanya menumpuk di gudang saja.

Bagaimana Anda melakukan riset pasar untuk mengetahui selera konsumen?

Kami punya tim riset dan pengembangan (R&D) yang bisa menghasilkan lima produk baru per bulannya. Namun, produk-produk itu belum tentu diproduksi massal dan dilempar ke pasar. Kami harus melakukan riset permintaan pasar seperti apa dan harga yang cocok berapa. Mulai dari konsumen hingga supplier. Sering kali dari kelima produk baru itu hanya satu yang layak dipasarkan. Sisanya disimpan dan dikembangkan lagi di kemudian hari. (*)


Pasutri Fredrik-Jaswiati bersama 7 anak mereka. Bahagia!!

21 March 2013

Laptop, internet, dan gairah menulis

Dulu, sebelum ada laptop, kita memakai komputer biasa (PC) untuk menulis, bikin draf, mutar lagu dan sebagainya. Komputer PC lebih mirip mesin ketik elektronik. Belum ada internet karena ISP masih sangat terbatas.

Tapi justru dengan PC lawas yang monitornya besar itu saya sangat rajin menulis. Begitu komputer dinyalakan ada saja ide untuk mengetik artikel, cerita, curhat, atau apa saja. Saya pun sering mencoba menerjemahkan artikel (tepatnya menyadur) ke dalam bahasa Indonesia.

Beberapa waktu kemudian PC lawas yang makan tempat plus makan listrik itu diganti laptop. Komputer seukuran buku, dimasukkan tas, dibawa ke mana saja. Pun tidak boros listrik. PC bersejarahku pun pensiun.

Era laptop dibarengi dengan akses internet yang makin mudah. Semua operator menawarkan paket data sekian mega, sekian giga, untuk internet. Maka, laptop tak hanya berfungsi sebagai mesin ketik atau komputer mobile, tapi jadi ajang untuk browsing. Masuk ke berbagai situs di internet. Kebiasaan yang pada tahun 2006 atau 2007 hanya bisa kita nikmati di warnet atau kantor.

Dengan laptop kita tak perlu lagi ke warnet untuk mengakses internet. Cukup sarungan di kamar sudah membaca berbagai laman yang kita suka. Juga bisa menikmati musik dan video di youtube sambil mengunduh alias download.

Belakangan saya baru sadar terjadi perubahan habit yang luar biasa. Sekarang ini saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk browsing via laptop, termasuk membaca banyak tulisan yang kurang penting. Akibatnya, produktivitas menulis sangat berkurang. Kalau dulu sebelum punya laptop bisa menulis 3-4 artikel, bahkan 7 artikel sehari, sekarang... waduh sangat menyedihkan. Bisa menulis lima artikel dalam seminggu saja sudah bagus.

Internet memang penemuan yang luar biasa. Ibarat perpustakaan raksasa dengan koleksi buku dan informasi yang tak terbatas. Sarana hiburan dan media sosial yang efektif. Tapi juga alat yang ampuh untuk melumpuhkan produktivitas menulis seseorang... kayak saya. Hehehe...

20 March 2013

Jessica Jordanius guru cello di Surabaya

Sejak kanak-kanak Jessica Jordanius sudah gandrung musik klasik. Berbagai instrumen dia pelajari. Namun, akhirnya dia jatuh cinta pada cello.

Di kalangan penggemar musik klasik di Surabaya, nama Jessica Jordanius memang identik dengan cello. Maklum, sebagian besar remaja pemain cello di Kota Pahlawan ini merupakan murid-murid Jessica.

"Saya memang senang membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada anak-anak muda yang mau serius belajar musik, khususnya cello," kata ibu satu anak ini seraya tersenyum.

Ahad (17/3/2013), Jessica ikut mendampingi beberapa anak didiknya yang mengikuti ABRSM High Scorers' Concert di Hotel Bumi Surabaya. Mereka adalah Felicia Liviani Tandiono (Grade 4), Tee Jennifer (Grade 1), Allana Madeline Wibowo (Grade 2), dan Albert Nathanael (Grade 5). Grade atau level seorang pemusik versi ABRSM London mulai Grade 1 (paling rendah) hingga Grade 8 (paling tinggi).

Jessica mengaku sangat gembira melihat kemajuan permainan anak-anak asuhnya itu. Sebab, tidak mudah bagi siswa sekolah atau kursus musik mencapai skor tertinggi di grade masing-masing. "Saya tentu sangat bangga karena ada empat siswa saya yang bisa tampil di konser khusus ini," katanya.

Sebagai pemain cello yang belajar dari bawah, Jessica mengaku tahu persis berbagai kesulitan untuk menaklukkan alat musik gesek berbadan besar itu. Dia pun sudah beberapa kali mengikuti master class bersama sejumlah cellist tingkat dunia. Di antaranya, Rebecca Harris asal Australia. Dia juga sering tampil bersama orkestra besar maupun kecil ini bisa dengan mudah memberikan arahan kepada para siswanya.

"Kalau ada kemauan untuk belajar serius, dan suka, pasti bisa memainkan cello dengan baik. Mereka juga harus rajin berlatih di rumah setiap saat," kata Jessica yang tampak makin langsing ini.

Konsistensi Jesicca dalam mengembangkan alat musik cello di Surabaya berbuah manis. Pada 26 Agustus 2009 lalu dia mendapat penghargaan Muri sebagai pemrakarsa ansembel cello pertama di Indonesia. Ansambel ini menampilkan 26 cellist anak-anak yang tergabung dalam Surabaya Cello Ensemble (SCE). Jaya Suprana, pianis senior yang juga bos Muri, terkagum-kagum dengan kehebatan anak-anak Surabaya bermain cello.

Menurut Jaya Suprana, cello merupakan alat musik dengan suara yang paling indah dalam keluarga musik gesek. Namun, karena sulit dipelajari, tidak banyak orang yang tertarik mempelajarinya. "Tapi Surabaya membuat sejarah dengan menghadirkan ensemble cello. Ini benar–benar dahsyat," katanya.

Apresiasi dari Jaya Suprana ini membuat Jessica makin bersemangat untuk mencetak sebanyak mungkin pemain cello di Surabaya.

18 March 2013

Edi Karimun perintis kursus Mandarin di Surabaya



Sebelum reformasi, 1998, tak boleh ada kursus atau pengajaran bahasa Mandarin di tanah air. Namun, diam-diam, Edi Karum bersama istrinya, Mina Bai, mencoba merintis pembelajaran bahasa Mandarin di Kota Surabaya.

Saat itu Edi Karimun bersama Mina Bai baru saja lulus dari perguruan tinggi terkemuka di Taipei, Taiwan. Selama di Tawan Mina kerap dipercaya menjadi penerjemah bahasa Mandarin untuk sejumlah pengusaha dan tokoh asal Indonesia. Meski kelahiran Indonesia, kemampuan berbahasa Mina tak kalah dengan penutur asli dari Taiwan atau Tiongkok.

“Mereka sering mengira Mina Bai itu asli dari Tiongkok bagian utara karena bahasa Mandarinnya sangat perfek. Maklum, dia belajar habis-habisan intonasi bahasa Mandarin pada dua temannya di Taiwan,” tutur Edi Karimun seraya tersenyum.

Nah, ketika kembali ke Surabaya selepas kuliah, Edi dan Mina berencana membuka usaha layaknya warga Tionghoa umumnya. Namun, keduanya merasa sayang kalau bahasa Mandarin yang sudah dikuasai dengan sangat bagus itu bakal hilang kalau tidak digunakan di Surabaya.

“Bahasa itu kalau tidak dipakai lama-lama akan lupa. Padahal, belajar di luar negeri saat itu tidak gampang. Apalagi, kita belajar bahasa Mandarin pada masa Orde Baru,” kata pria kelahiran 1964 itu.

Melalui berbagai pertimbangan matang, juga berkonsultasi dengan sejumlah tokoh, Edi dan Mina akhirnya sepakat membuka kursus bahasa Mandarin di rumah pada 1991. Tidak ada promosi, woro-woro, iklan, dan sebagainya karena bahasa Mandarin masih dilarang diajarkan di tanah air.

Lantas, mengapa keduanya tetap nekat membuka kursus bahasa Mandarin?

“Kami hanya ingin agar masyarakat Indonesia bisa berbahasa Mandarin. Sebab, tahun 1990-an itu sudah mulai terlihat kebangkitan ekonomi Tiongkok. Dan, cepat atau lambat, bahasa Mandarin akan menjadi bahasa yang sangat penting di dunia,” tegas Edi.



Meski tak banyak siswa, Edi Karimun bersama istrinya, Lidya Mina Bai, tetap mempertahankan kursus bahasa Mandarin yang sudah dirintis sejak 1991. Kursus ini makin berkembang setelah reformasi, 1998.

TUMBANGNYA rezim Orde Baru memberi harapan baru kepada warga Tionghoa di tanah air. Khususnya setelah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai presiden Republik Indonesia. Almarhum Gus Dur mengeluarkan Inpres yang mencabut Inpres 14/1967 tentang larangan ekspresi budaya Tionghoa di tanah ar.

Sejak itulah seni budaya Tionghoa bisa dengan bebas diekspresikan di depan umum. Bahasa Tionghoa (Mandarin) yang sempat dilarang selama 30 tahun lebih kini bisa diajarkan kepada masyarakat. Sekolah-sekolah pun mulai memasukkan bahasa Mandarin sebagai muatan lokal. Bahkan, bermunculan sekolah tiga bahasa yang menjadikan bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris sebagai bahasa pengantar.

Edi Karimun dan istri, Mina Bai, tentu saja bahagia dengan suasana keterbukaan ini. Ternyata, kursus bahasa Mandarin yang sudah dirintis tujuh tahun sebelum reformasi tidak sia-sia. Tak hanya warga Tionghoa, masyarakat non-Tionghoa pun mulai memasukkan anak-anaknya ke kursus bahasa Mandarin. “Antusiasme masyarakat terhadap bahasa Mandarin memang cukup tinggi pada awal reformasi,” paparnya.

Namun, Edi Karimun sadar bahwa Mandarin Education Center yang dibinanya akan sulit menampung banyak siswa. Sebab, kursus yang bermarkas di Jl Manyar Tirtomoyo VII/11 Surabaya ini tidak bernaung di bawah sebuah yayasan atau perkumpulan Tionghoa. Apalagi, biaya kursus yang dipatoknya cukup spesial karena mengambil segmen menengah atas.

Edi pun ingin menjangkau sebanyak mungkin siswa agar bahasa Mandarin tidak menjadi bahasa yang eksklusif untuk golongan tertentu. “Sejak awal saya punya idealisme membuat sebanyak mungkin warga Surabaya, dan Jawa Timur, ini mampu berkomunikasi dalam bahasa Mandarin,” tandasnya berkali-kali.

Gayung bersambut. Idealisme Edi dan Mina akhirnya bisa tersalur setelah bertemu dengan Soetiadji Yudho, direktur utama PT Granting Jaya, pemilik Sanggar Agung di Kenjeran Park, Surabaya. Kebetulan Soetiadji pun baru saja merenovasi Kelenteng Sanggar Agung pada 1999, bertepatan dengan tahun baru Imlek. Soetiadji ingin ada kursus bahasa asing di kompleks kelenteng terkenal di pinggir laut itu.

Singkat cerita, Edi Karimun akhirnya bersedia membina kursus bahasa Mandarin di Sanggar Agung. “Yang di Sanggar Agung ini benar-benar sosial. Bahkan, awalnya kami gratiskan. Semua siswa tidak perlu bayar,” kata pria 49 tahun ini seraya tersenyum.

Rupanya, dalam perjalanan, sistem gratisan ini ternyata tidak efektif. Siswa kurang termotivasi untuk belajar bahasa nasional Tiongkok itu. Maka, peserta kemudian dipungut biaya Rp 5.000. Juga tidak efektif karena sangat murah. Kemudian dinaikkan lagi menjadi Rp 15 ribu. Itu pun belum cukup untuk memotivasi siswa. Kini, dengan iuran Rp 40 ribu sebulan, para siswa lebih rajin mengikuti kursus yang dipandu Mina Ba bersama para siswa seniornya.

“Sebetulnya uang Rp 40 ribu itu pun dikembalikan lagi kepada para siswa dalam bentuk tas, baju, kue bacang, kue bulan, dan sebagainya,” katanya.

Agus Wibisono bos Dian Istana Group

Pak Agus dan istri (Bu Shinta) mengadakan operasi katarak gratis di Klinik Dian Istana.

Nama Agus Wibisono (69) tak asing lagi di dunia properti Surabaya. Ayah dua anak ini bahkan dikenal sebagai pengembang pertama yang membangun sejumlah perumahan dengan sistem kredit BTN. Kini, di usianya yang mendekati kepala tujuh, Agus terus membangun sejumlah properti modern di Kota Pahlawan.

Berikut petikan percakapan Lambertus Hurek dengan Agus Wibisono di salah satu perumahan yang dibangunnya, kompleks Perumahan Dian Istana, Wiyung, Surabaya, Sabtu (9/3/2013):

Proyek apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Salah satunya adalah Marvell City di kawasan Ngagel. Pengerjaannya sedang dilakukan secara intensif. Mudah-mudahan dua tahun mendatang, 2015, sudah selesai. Ini supaya tidak ada lagi kritik tentang bangunan mangkrak atau bangunan yang tidak terurus di Surabaya.

Marvell City itu konsepnya seperti apa?

Itu sebuah kompleks properti modern yang terpadu. Ada hotel bintang empat. Kemudian convention hall untuk pesta, seminar, pameran, pertemuan, dan sebagainya. Kemudian kita juga mendirikan empat tower masing-masing tingginya 36 tingkat. Dan, yang tidak kalah penting, pusat perbelanjaan modern atau mal. Kalau pengerjaan hotelnya sih mengalami progres yang menggembirakan. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa beroperasi.

Ada lagi proyek lain?

Kita juga membangun 10 tower di Dian Istana (Wiyung) ini. Lahan yang diperlukan hanya sekitar lima hektare dan sudah siap.

Berapa tingkat tower di Dian Istana? Apa sama dengan empat tower di Marvell City?

Kalau tower di Dian Istana ini masih dalam proses desain. Jadi, kita belum tahu modelnya seperti apa. Tapi saya ingin segera dikerjakan agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Mengapa Anda mulai getol membangun tower-tower di dalam kota?

Kita mengantisipasi apa yang sudah terjadi di Jakarta. Sekarang ini tren di Jakarta adalah orang memilih tinggal di dalam kota, tidak terlalu jauh dari tempat kerja atau tempat sekolah anak-anak. Sebab, kemacetan di Jakarta sudah sangat parah. Dari bandara ke pusat kota di Jakarta itu rata-rata membutuhkan waktu dua jam. Waktu dan energi kita habis di jalan. Karena itu, orang tidak lagi tertarik membeli rumah di Tangerang atau Depok seperti dulu. Mereka mulai memilih hunian di dalam kota.

Kemacetan di Surabaya kan belum separah Jakarta?

Sekarang memang belum, tapi dalam beberapa tahun ke depan akan mendekati Jakarta yang sekarang. Sebab, pertambahan kendaraan bermotor sekitar 10 persen per tahun, sementara panjang jalan tidak berubah. Artinya, sejak 1998 sampai sekarang kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya sudah naik 150 persen. Kalau tidak diantisipasi dari sekarang, kita di Surabaya pun akan mengalami masalah kemacetan seperti di Jakarta.

Karena itu, pemerintah harus sudah mulai serius memikirkan masalah transportasi ini. Kedua, mau tidak mau, masyarakat akan memilih apartemen (flat) sebagai tempat hunian. Jauh lebih nyaman bila jarak dari rumah ke tempat kerja kurang dari lima kilometer.

Sebagai pengembang yang eksis sejak 1970-an, apa saja kendala dalam menggarap properti atau real estate di Surabaya?

Yang namanya kendala itu pasti ada saja. Mulai dari yang ringan sampai berat seperti krisis moneter tahun 1997/1998. Yang penting, bagaimana kita sebagai pengembang bisa mengatasi dengan perhitungan yang matang.

Bagaimana dengan proses perizinan?

Harus diakui bahwa persoalan izin ini sering kali menghambat business plan dari pengusaha properti. Berdasarkan pengalaman saya, masalah perizinan itu jauh lebih mudah pada zaman Wali Kota Bapak R Soekotjo. Kalau ada properti yang macet, beliau turun langsung dan bertanya apa masalahnya. Kalau masalahnya ini, ya, kerjakan yang itu dulu. Beliau ikut memberikan masukan dan solusi kepada para pengembang. Yah, setiap pemimpin itu memang punya gaya kepemimpinan yang berbeda-beda.

Selama ini sering ada kritik tentang proyek-proyek properti yang mangkrak di dalam kota. Tapi sangat jarang orang yang tahu mengapa sampai terjadi kemacetan pembangunan. Para pengembang, saya kira, tidak akan membiarkan proyeknya mangkrak karena kerugiannya sangat besar. Jadi, harus ada kerja sama yang baik antara pengusaha (pengembang), pemerintah, dan masyarakat. (*)

Pak Agus (kiri) di proyek Marvell City, eks pabrik BAT Ngagel, Surabaya.


Tak Bisa Kuliah Malah Jadi Bos Besar

Sudah ribuan rumah, mulai kelas KPR-BTN hingga hunian kelas atas, kemudian hotel, mal, maupun tower dibangun Agus Wibisono. Yang menarik, tokoh marga Huang Jawa Timur ini sebenarnya tidak punya latar belakang pendidikan teknik arsitektur atau sejenisnya.

Agus hanyalah lulusan SMA Sin Chung, sekolah Tionghoa di Surabaya, yang ditutup pada awal Orde Baru. “Saya tidak bisa kuliah karena tidak punya biaya,” kenang Agus Wibisono seraya tersenyum.

Karena itu, dia mulai belajar menggeluti bisnis pelayaran dan perdagangan antarpulau. Hasil dari usaha ini kemudian dijadikan modal untuk terjun sebagai developer atau pengembang pada 1970-an.

Agus masih ingat betul kalau saat itu pengembang di Surabaya masih bisa dihitung jari sebelah tangan. Selain Agus dari PT Bumi Indah Jaya, ada satu pengembang pelopor di Kota Surabaya, yakni Wisma Surya. Meski tanpa pengalaman, suami Shinta Wibisono ini sangat serius menekuni dunia properti pada pertengahan 1970-an itu.

Dia pun mulai menyulap sawah dan rawa-rawa di Kota Pahlawan ini menjadi permukian yang asri. Sebuah permukiman baru dan modern yang berbeda dari permukiman tradisional di kampung-kampung. Berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial disediakan. Dengan begitu, para penghuni bisa menikmati hidup dengan tenang sambil terus mengembangkan karir.

Nah, selama hampir 40 tahun itu Agus Wibisono berhasil membangun sebagian besar perumahan di Surabaya. Sebut saja real estate di Kertajaya, Dharmahusada, Kalisari, Mulyosari, Manyar, Pepelegi, hingga Dian Istana di Wiyung. Tak hanya di Surabaya, Agus juga ekspansi dengan membangun perumahan modern di Malang, Mojokerto, dan Bangkalan (Madura).

Agus pulalah yang dipercaya menggarap perumahan dengan sistem KPR yang ditangani Bank Tabungan Negara (BTN). Boleh dikata, perumahan-perumahan KPR-BTN yang boming pada akhir 1980-an merupakan garapan pria kelahiran Surabaya, 16 April 1944, itu. kini, Agus mengaku menyerahkan manajemen perusahaan kepada anaknya.

“Kalau tidak begitu, nanti mereka tidak bisa kerja. Apalagi, usia saya sudah hampir 70 tahun,” katanya. (hurek)

12 March 2013

Katolik Surabaya menunggu Paus baru

Kor SMAK Sint Louis saat misa novena konklaf di Katedral Surabaya.


Umat Katolik sedunia tengah menunggu asap putih yang keluar dari cerobong di Kapel Sistina, Vatikan. Asap putih itu menandakan para kardinal dari seluruh dunia sudah berhasil memilih paus baru. Sidang raya pemilihan paus pengganti Benediktus XVI diselenggarakan Selasa (12/3/2013) petang waktu Vatikan (waktu di Surabaya, WIB, lebih cepat 6 jam).

Umat Katolik di gereja-gereja di Surabaya pun mengadakan doa khusus dalam misa mingguan untuk mendoakan konklaf tersebut. "Kita berharap Bapa Suci yang baru segera terpilih karena konklaf akan diadakan hari Selasa," kata Vikjen Keuskupan Surabaya Romo Didik Tri Budi Utomo saat memimpin misa pagi di Gereja Kati Kudus Yesus (Katedral) Surabaya, Minggu (10/3).

Doa untuk pemilihan paus baru ini bahkan diadakan sembilan hari berturut-turut atau biasa disebut dengan Doa Novena. Novena konklaf ini akan terus dilaksanakan hingga asap putih itu terlihat dari cerobong Kapel Sistina.

"Kita hanya bisa berdoa dan memohon penyelenggaraan Tuhan. Sebab, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita," kata Ignatius Indra, umat Katolik asal Sidoarjo, karyawan swasta.

Seperti biasa, hasil dan durasi konklaf sangat sulit diprediksi. Itu tergantung nama yang mengerucut dari 115 kardinal peserta konklaf. Pada 19 April 2005, konklaf hanya berlangsung hanya sekitar 24 jam dengan empat kali pemungutan suara. Hasilnya Kardinal Joseph Ratzinger dari Jerman yang terpilih sebagai paus. Kardinal Ratzinger kemudian mengganti namanya menjadi Paus Benediktus XVI. Paus berusia 85 tahun ini memilih lengser pada 28 Februari 2013.

Akankah konklaf kali ini pun berlangsung singkat? Para pengamat memperkirakan proses pemilihan pemimpin umat Katolik sedunia ini hanya berlangsung dua sampai empat hari. Kita tunggu saja asap putih dari Vatikan.

11 March 2013

Nyepi di zaman hiruk pikuk

Hari raya Nyepi ini sangat menarik. Sangat berbeda dengan hari-hari raya lain. Kalau hari raya lain ada nuansa perayaan, celebration, pesta, bahkan hura-hura, Nyepi justru dilakoni umat Hindu dengan puasa total.

Catur brata penyepian! Berdiam diri, meditasi, mati raga selama 24 jam. Saya membayangkan betapa asyiknya suasana nyepi yang total di Bali. Tak ada listrik, musik, bunyi, ramai-ramai di hari besar itu.

Saya jadi ingat diskusi saya dengan almarhum Pak Bambang Thelo, pelukis Sidoarjo yang sangat sering nyepi meski bukan Hindu. Dia sering berkelana berminggu-minggu ke pelosok hutan untuk menyepi. Meditasi. Cari inspirasi.

"Hidup di kota membuat kita sulit mendengar suara alam dan suara Tuhan. Belum lagi macet di jalan raya dengan suara kendaraan bermotor yang saling bersaing," katanya.

Saat menonton televisi, kita pun dibawa ke suasana yang hiruk-pikuk. Orang tertawa terbahak-bahak dengan lawakan banal ala slapstick nusantara. Dan itu berlangsung selama 24 jam. Makin sulit menemukan suasana kondusif untuk refleksi, meditasi, atau menyepi.

Di kalangan gereja tempo dulu jemaat sangat senang mengikuti retret atau rekoleksi. Biasanya di rumah retret di luar kota yang sejuk. Salah satu acara retret yang penting adalah SILENTIUM atau menyepi total. Peserta tidak boleh bicara dengan siapa pun. Diam seribu bahasa.

Peserta diajak melakukan refleksi. Berdiam diri. Belajar mendengar suara hati yang bicara sangat halus berbisik. Biasanya, peserta mengalami kesulitan untuk menyepi, apalagi yang biasa doyan bicara alias cerewet.

Rupanya acara nyepi atau SILENTIUM ini perlahan-lahan ditinggalkan kaum nasrani. Jemaat lebih suka ikut ibadah raya, KKR, dengan musik rock menggelegar, sound system ribuan watt, nyanyi jingkrak-jingkrak, meriah dan hiruk pikuk. Gereja yang terlalu menekankan SILENTIUM MAGNUM kalah bersaing dengan mega church yang penuh tempik sorak. Haleluya! Haleluya! Allah kita luar biasa!!! Dahsyat!!!

Ah, zaman memang terus berubah Bung! Selamat menyepi!

Tak boleh meliput UPH Choir

Di Surabaya tidak banyak orang yang nonton konser musik klasik. Wartawan yang MAU meliput musik klasik pun tak sampai lima orang. Bahkan konser Surabaya Symphony Orchestra yang megah pun pernah saya sendiri yang meliput. Karena itu, saya selalu percaya diri datang ke hajatan musik klasik.

Tak membawa undangan pun pasti dipersilakan masuk ruang konser. Bahkan bisa wira-wiri untuk memotret asal tidak pakai flash. Saya pun tak pernah membeli tiket karena panitia biasanya memberi perlakukan khusus untuk awak media.

"Anda tidak perlu bayar pakai uang tapi pakai tulisan. Kalau konser ini dimuat di koran, nilainya luar biasa. Apalah artinya tiket yang cuma 100 ribu," kata seorang kenalan yang sering mengurus konser musik klasik.

Betul juga. Diundang, ditraktir makan pun hampir semua wartawan tidak meliput musik klasik - karena tidak populer - apalagi si wartawan disuruh beli tiket. Maka guru-guru klasik atau musisi klasik biasanya sangat senang kalau saya datang menonton pertunjukan mereka. Saya juga senang karena menambah wawasan dan apresiasi saya pada musik klasik Barat.

Tapi rupanya saya terlalu percaya diri. Menganggap remeh sistem booking undangan. Saya kena batunya ketika hendak meliput konser paduan suara mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) di Gedung Cak Durasim Senin malam (11/3/2013). Sebelumnya saya diajak Mariette, humas dan marketing UPH, untuk datang. Oke, kebetulan saya libur. Kebetulan lagi saya suka choir yang bagus.

Tanpa tiket, undangan, cuma kartu pers, saya mampir ke tempat konser. Undangannya mana? tanya nona manis.

"Saya dari media. Wartawan," jawabku seraya tersenyum seramah mungkin.

Rupanya kartu pers tidak laku di UPH Choir. Mahasiswa yang jadi panitia itu tidak mau ambil pusing dengan pers. Tidak butuh diliput. Hehehe....

"Oke, saya beli tiketnya sekarang," kata saya mengeluarkan uang Rp100 ribu.

Si nona manis malah sibuk melayani undangan lain yang datang belakang. Saya malah dicuekin. Dianggap tidak ada. Tidak direken karena tidak booking atau pesan tiket dulu ke panitia. Sementara tempat duduk terbatas.

Asem tenan!

Si Mariette ternyata tak ada di lokasi. Kartu namanya pun lupa. Nomor ponselnya belum ada di phone book. Maka, saya pun langsung cabut. Gak nonton kor gak patheken!


HIKMAH: Jangan pernah meliput konser kalau tidak punya tiket atau undangan!


09 March 2013

Bentoel hilang di Lembata

Waktu saya masih anak-anak di kampung, Lembata, NTT, rokok Bentoel benar-benar laris. Kios rokok kecil di rumah saya selalu diserbu para penggemar rokok kretek itu. Hampir pasti mereka membeli rokok Bentoel.

Rokok merek lain boleh dikata tidak laku. Di bawah Bentoel ada Commodore, rokok putih yang bungkusnya hijau. Tapi tetap kalah jauh sama Bentoel Biru. Kepopuleran Bentoel ikut membuat populer Malang, kota tempat pabrik rokok Bentoel.

Rupanya selera perokok di pelosok NTT berubah perlahan-lahan. Akhir Desember 2012, ketika pulang kampung, saya tidak lagi melihat rokok yang mereknya Bentoel. Seorang kakek yang tempo dulu penggemar berat Bentoel meminta saya membelikan Gudang Garam Surya. "Saya tidak mau rokok lain," kata kakek 80an tahun itu.

Iseng-iseng saya survei di beberapa kios, termasuk yang paling besar. Aha, Bentoel memang sudah lama tidak beredar karena perubahan selera masyarakat. Rokok Surya dari Kediri ternyata sangat digemari remaja hingga kakek-kakek.

Rokok lintingan yang dulu sangat populer tidak ada lagi. Apalagi rokok klobot yang pakai daun lontar alias siwalan. Rupanya, selera rokok orang NTT tidak jauh beda dengan orang Jawa.

Di Surabaya pun Bentoel sangat sulit ditemui di pasar. Bahkan ada yang mengira pabriknya sudah tutup. "Saya paling suka GG Merah," kata Pak Mamat dari Sidoarjo.

Bagaimana dengan Bentoel? "Wah, saya malah sudah lupa rasanya Bentoel," katanya.



Peringatan pemerintah:

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN!

08 March 2013

Bahasa Indonesia Baku, Bahasa Nagi, Bahasa Lamaholot


Bale Nagi 
(Lagu daerah Larantuka) 


Lia lampu menyala di Pante Uste – e
Orang bekarang di angin sejo – e
Inga pa mo ema jao – e
Inga ade mo kaka jao - e

Pengga ole ma wura lewa Tanjo Bunga –e
Malam embo ujan po rinte – e
Tanjo Bunga meking jao-e
Sinyo tedampa lah di tanah orang

Bale Nagi... Bale Nagi, Sinyo – e
No-e kendati nae bero – e
Bale Nagi.... Bale Nagi Sinyo – e
No -e  kendati nae bero - e



Ada guru asal Sumba Barat yang bertugas di Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, NTT. Ibu guru itu bertekad untuk hanya berbahasa Indonesia baku. Bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti yang diajarkan di sekolah.

Tidak belajar bahasa Lamaholot? Bukankah warga Tanjung Bunga itu etnis Lamaholot yang berbahasa Lamaholot? Dan bahasa Lamaholot relatif mudah? Tidak, katanya. Bahasa Indonesia, katanya, lebih bagus karena bisa dipahami siapa saja.

Tanjung Bunga itu tetangga Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Orang Larantuka berbahasa Nagi atau Melayu Larantuka. Semacam Melayu Rendah atau Melayu Tionghoa yang sejak dulu menjadi lingua franca di kawasan Flores Timur dan pulau-pulau sekitar macam Adonara, Solor, Lembata, Alor. Sejak SD, saya yang dari Lembata pun lebih dulu ber-Melayu Larantuka sebelum tahu yang namanya bahasa Indonesia baik dan benar.

Bu Guru itu pun tak mau belajar bahasa Nagi. Mengapa? Bahasa Nagi atau Melayu Larantuka itu merusak bahasa Indonesia. Begitu banyak kata-kata bahasa Indonesia yang dipelesetkan. Ucapannya tidak baku. Sehingga orang luar Flores Timur sulit mengerti.

Contoh:

PEGARI INI ENGKO KE MENA? (Pagi hari ini engkau ke mana?)
KORANG SO MAKAN KA BELOM? (Kamu sudah makan atau belum?)
OA E... KITA SO LUPA LE! (Aduh, Mbak, saya sudah lupa nih!)

Pandangan ibu guru dari Sumba ini bukan hal baru. Saya kira jauh lebih banyak orang Lembata, yang kuliah kemudian sukses jadi orang di Kupang, yang punya paham sama. Mereka selalu berbahasa Indonesia standar di mana pun. Bahkan, saat berada di kampung pelosok, berbicara dengan orang-orang desa yang sederhana, pun pakai bahasa sekolahan. Bahasa akademik. Bahasa buku. Bahasa tinggi.

Begitu bangganya mereka karena menganggap bahasa Indonesia baku adalah segalanya. Bahasa-bahasa lain seperti bahasa daerah, bahasa Indonesia (Melayu) ragam informal, tidak diperlukan. Maka, orang-orang ini biasanya tidak asyik diajak bicara dalam konteks informal. Berbahasa Indonesia baku, formal, terus-menerus sebetulnya hanya bikin capek karena kita dipaksa untuk kuliah atau sekolah atau berkhotbah.

Sikap bu guru Sumba (dan banyak orang NTT lain) menunjukkan bahwa mereka kurang paham ilmu komunikasi. Tidak tahu konteks atau sosiolinguistik. Dia sejatinya justru tidak paham BAIK dan BENAR dan hanya bersikeras dengan BENAR saja. Berbahasa yang BAIK justru mensyaratkan orang melihat konteks komunikasi. Bicara dengan orang kampung tentu beda dengan bicara di depan pelajar atau mahasiswa. Menggunakan bahasa akademis atau sekolahan di pelosok NTT kayak Tanjung Bunga jelas salah tempat.

Sebetulnya kita di NTT, khususnya Flores, sudah mendapat teladan yang luar biasa dari para pastor misionaris Eropa dan Amerika. Mereka-mereka ini misionaris yang sangat paham sosial, budaya, adat, psikologi, hingga bahasa setempat. Pastor-pastor Belanda justru lebih sering berbicara bahasa Lamaholot, bahasa daerah di Flores Timur, ketika berhadapan dengan umat Katolik yang memang semuanya orang desa. Orang yang kurang mampu berbahasa Indonesia baku.

Bahkan, saya terkesan dengan beberapa pastor Belanda seperti Pater Geurtz SVD dan Pater Van der Leur SVD yang sering khotbah dalam bahasa daerah. Dan efeknya memang luar biasa. Meskipun kedua pastor ini sudah meninggal dunia, saya dan orang-orang kampung tak pernah melupakan sang misionaris. Sangat kontras dengan beberapa pastor lokal, etnis Lamaholot, yang berkhotbah dengan cara membaca makalah atau artikel.

Bu guru Sumba ini perlu sadar bahwa berbicara bahasa Lamaholot atau bahasa Nagi tidak akan mengurangi kemampuan berbahasa Indonesia standar. Ada baiknya bu guru ini sekali-sekali studi banding ke Surabaya, Jogja, Malang, atau Jakarta. Dia akan terkejut melihat orang Jawa atau Betawi justru tidak pernah berbahasa baku di luar sekolah, kampus, atau tempat-tempat resmi.

Analoginya sangat sederhana. Setelan jas itu pakaian resmi yang sangat bagus, elegegan, formal. Tapi jas hanya cocok dipakai ke resepsi pernikahan, konser musik klasik, atau pertemuan formal di hotel berbintang atau convention hall. Sebagus-bagusnya jas, pakaian ini tidak cocok dipakai ke sawah, memancing, atau cangkrukan di warung.

Anehnya, banyak orang Flores Timur, juga bu guru Sumba ini, yang pakai jas untuk menemui petani-petani Lamaholot di kebun.

Lanny Chandra pendamping narapidana Tiongkok

Lanny Chandra & Ling Ling.
Kefasihannya berbahasa Mandarin, plus kedekatannya dengan aparat penegak hukum, membuat Lanny Chndra sering dipercaya mendampingi warga negara Tiongkok yang tersandung kasus hukum. Pekan lalu, pekerja sosial dari Yayasan Pelita Kasih ini harus mendampingi beberapa pekerja asal Tiongkok karena diduga punya masalah keimigrasian.

"Tugas utama saya sebagai penerjemah bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Ini pekerjaan sosial yang menantang karena saya harus berhadapan langsung dengan aparat hukum," kata Lanny Chandra.

Mengapa Lanny kerap diminta untuk mendampingi warga Tiongkok atau Taiwan? Bukankah cukup banyak orang Surabaya yang juga fasih berbahasa Mandarin?

Ini tak lepas dari aktivitas sosial Lanny dalam 10 tahun terakhir. Lanny bersama anggota Pelita Kasih punya jadwal tetap mengunjungi para narapidana yang beragama Kristen di penjara atau rutan. Selain memberi santapan jasmani atau obat-obatan, Lanny memperlakukan mereka layaknya keluarga sendiri. Ketika ada yang narapidana yang sakit, dia ikut membantu pengobatan.

Nah, di dalam penjara itu Lanny pun sering bertemu dengan para tahanan atau napi asal Tiongkok. Mereka tidak bisa berbicara bahasa Indonesia atau Inggris. Lanny akhirnya menjadi teman curhat, bahkan dianggap ibu rohani mereka.

"Jadi, Pelita Kasih ini tidak hanya mengurusi naripadana kristiani, tapi juga narapidana asing yang berbahasa Mandarin," kata wanita keturunan Hakka yang kerap mengadakan bakti sosial itu.

Setelah mengikuti kasus-kasus kliennya secara intensif, Lanny menilai banyak orang Tiongkok terpaksa berurusan dengan hamba hukum di Indonesia karena ketidaktahuan belaka. Misalnya soal posisi atau jabatan di sebuah perusahaan. "Itu memberikan celah kepada pihak-pihak tertentu untuk menjebloskan mereka," katanya.

Namun, sebagai interpretor atau penerjemah, Lanny tidak bisa berbuat banyak. Dia menyerahkan persoalan hukum itu kepada advokat atau penasihat hukum. "Saya kan hanya penerjemah. Jadi, saya tidak bisa bertindak terlalu jauh," katanya.

Banyak suka dan duka pernah dialami Lanny selama mendampingi warga negara Tiongkok. Sukanya, dia jadi banyak tahu karakter warga Cungkuo. Dia juga berhasil mengajak para tahanan dan terpidana Cungkuo untuk berdoa dan mengenal agama. Hampir semua narapidana asal Tiongkok menjadi pengikut Kristus ketika dipenjara di Lapas Porong, Rutan Medaeng, Lapas Lowokwaru (Malang), dan sebagainya. Entah setelah keluar dari penjara.

"Saya tidak pernah paksa mereka jad Kristen. Tapi, saya percaya bahwa Tuhan Yesus sangat mencinta mereka," tegas sang evangelis ini.

Lanny mengaku sangat terharu dengan Ling Ling. Wanita Tiongkok ini harus melahirkan di Rutan Medaeng karena terjerat kasus narkoba. Ling Ling yang sebelumnya atheis, tidak kenal agama, berubah menjadi sangat religius. Rajin membaca Alkitan, rajin berdoa, dan mau memberikan kesaksian di depan jemaat di gereja rutan. Bahkan, anak pertamanya itu diberi nama khusus dalam bahasa Tionghoa yang artinya Kasih Yesus Sangat Besar.

"Saya sendiri tidak pernah menyangka Ling Ling mengalami pertobatan seperti itu. Puji Tuhan," kata mantan pengusaha konveksi ini.

Lidya Mina Bai guru bahasa Mandarin di Surabaya


Tujuh tahun sebelum reformasi, tepatnya 1991, Lidya Mina Bai membuka Easy Study, sebuah pusat studi bahasa Mandarin di Surabaya. Ini membuat wanita yang akrab disapa Bai Laoshi ini sering diminta menjadi pembawa acara, bahkan penerjemah bahasa Mandarin untuk kalangan pejabat.

"Saya pernah diminta menjadi penerjemah bahasa Mandarin untuk Bapak Gubernur Soekarwo," kenang Lidya Mina seraya menunjukkan foto ketika sedang bertugas. Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Soekarwo, tengah berbincang dengan tamunya yang berasal dari Tiongkok, sementara Lidya duduk di belakang Pakde Karwo.

Kini, meski tak lagi menjadi penerjemah resmi di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Lidya tetap saja sibuk dengan urusan bahasa Mandarin. Pusat studi Mandarin di kawasan Manyar Tirtomulyo terus berkembang seiring meningkatnya antusiasme generasi muda dalam mempelajari bahasa nasional Tiongkok itu. Lidya juga ikut mengampu kursus Mandarin di Sanggar Agung, Kenjeran.

"Yang di Kenjeran itu sifatnya benar-benar sosial karena bekerja sama dengan pihak kelenteng. Kita hanya ingin membantu masyarakat yang tertarik untuk belajar bahasa Mandarin," tutur laoshi (guru) yang ramah ini.

Di kalangan komunitas penggemar lagu-lagu Mandarin, nama Lidya Mina Bai sudah tak asing lagi. Betapa tidak. Dia sering diminta menjadi pembawa acara saat penyanyi-penyanyi pop Mandarin asal Taiwan, Tiongkok, Malaysia, atau Singapura berkunjung ke Surabaya. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, mengalir lancar, layaknya penutur asli bahasa Zhongwen. Maklum, selama tujuh tahun Lidya tinggal di Taipei.

Di ibukota Taiwan itulah, Lidya memperdalam kemampuan berbahasa Mandarin di Fujen Catholic University. Sebuah kampus papan atas di negeri Formosa itu. "Di Taiwan, kita otomatis terbiasa mendengar warga setempat berbicara bahasa Mandarin. Lama-kelamaan kemampuan kita pun berkembang dan akhirnya bisa berbicara dengan fasih," kata bu guru yang suka memotong pendek rambutnya itu.

Nah, di sela kesibukan mengajar bahasa Tionghoa, Lidya mengisi waktu luangnya dengan menjadi penyiar Strato FM sejak September 2011. Tentu saja program yang diasuh pun masih terkait bahasa Mandarin. Selama empat jam Lidya melayani permintaan lagu-lagu pop Mandarin dari penggemar.

"Saya siaran dua kali seminggu, Senin dan Kamis, pukul 11.00 sampai 15.00," katannya saat ditemui di studio Strato FM pekan lalu.

Lidya mengaku agak kikuk dan aneh pada awal-awal menekuni dunia broadcasting. Sebab, dia harus bicara, menyapa, tersenyum, bahkan sesekali tertawa sendiri di studio berukuran sekitar 3 x 3 meter itu. "Saya kan biasa berhadapan dengan murid-murid atau orang banyak. Lha, sekarang saya harus bicara seorang diri," paparnya seraya tersenyum.

Namun, lama-kelamaan Lidya justru sangat menikmati profesi sampingannya itu. Dia justru punya begitu banyak kenalan baru yang sama-sama suka musik pop oriental. Yang membuatnya bahagia adalah ketika dia menerima telepon dan requiest lagu dari beberapa orang-orang tua yang sakit berat atau pensiunan yang hanya istirahat di rumah.

"Saya senang karena ternyata lagu-lagu yang saya putar bisa menghibur mereka," katanya.

05 March 2013

Fredrik Ong Ketua Teochew Jatim



Perhimpunan Teochew  Jawa Timur akhirnya diresmikan. Terpilih sebagai Ketua Perhimpunan Teochew Jawa Timur periode 2013-2016 adalah Fredrik Ong. Fredrik dilantik oleh Ketua Teochew Indonesia, Eka Tjhandranegara di Hotel JW Marriott Surabaya, Senin (4/3/2013) malam.

Eka mengatakan, Teochew Jatim merupakan cabang ke-18 di Indonesia. Dalam waktu dekat, ada beberapa tempat menusul seperti Kalimantan Barat. "Teochew Jatim seharusnya sudah dua tahun lalu dibentuk. Namun, karena ketua yang lama dalam proses di tengah jalan sudah mendahului kita, akhirnya baru sekarang ini ada ketua baru. Yaitu Pak Fredrik," kata Eka yang juga pemilik Mulia Group.

Menurut Eka, tidak gampang bagi Fredrik yang juga pengusaha untuk mau terlibat sebagai ketua Perhimpunan Teochew Jawa Timur. Sebab, organisasi ini bersifat sosial kemanusiaan. Beberapa program yang dilakukan selama ini antara lain bantuan sosial kemasyarakatan, kebudayaan, dan kesehatan.

Fredrik Ong, ketua Teochew Jawa Timur berharap, perhimpunan ini bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Jika ada teman yang sakit, maka sebaiknya dibantu. Untuk bisa menjalankan berbagai program sosial ini, kata Fredrik, tentu saja bantuan dari para pengurus dan anggota Teochew Jatim sangat diharapkan.

"Semoga Perhimpunan Teochew Jatim bisa langgeng hingga anak cucu kita kelak," kata Fredrik, yang juga bos Sekawan Cosmetic, Sidoarjo.

Hajatan di Surabaya ini dihadiri oleh para pengurus Perhimpunan Teochew dari 18 daerah di Indonesia. Juga ada 28 perkumpulan/perhimpunan di Jatim dan sekitar 750 undangan lain.

Pelukis tua yang gundah gulana

Pelukis itu (umumnya) lintang pukang, miskin, semasa hidup dan baru kaya-raya setelah mati. Ungkapan lama ini mungkin ada benarnya.

Minggu lalu saya diminta Pak GS, 77 tahun, ke rumahnya di kawasan Taman, Sidoarjo. Pak tua ini pelukis, kuat di sketsa, punya pengalaman hidup yang sangat menarik. Sering ditulis panjang lebar di koran karena perjalanan hidupnya memang menarik.

GS masih sehat, semangat, senang menyanyi. Dia menguasai lagu-lagu seriosa lawas, keroncong, lagu perjuangan, hingga paduan suara. "Anda bisa Transeamus?" tanya Pak GS mengetes saya.

Hehehehe... Pak GS ini rupanya Katolik atau setidaknya pernah Katolik karena lagu Transeamus itu hanya diketahui umat Katolik yang aktif di paduan suara. Kalau umat biasa pasti tidak bisa karena komposisi SATB ini punya tingkat kesulitan tinggi. Pak GS kemudian menyanyikan lagu Transeamus yang biasa dibawakan saat Natal itu.

Kemudian GS menceritakan tentang lukisannya yang tidak laku. Belum ada orang yang beli atau koleksi. "Anda bisa bantu menjual? Bisa bantu saya pameran tunggal agar nama saya eksis?" katanya serius.

Syukurlah, GS punya istri dan anak yang ringan tangan. Keduanya bukan warung rujak dan kopi yang cukup laku. Hasilnya dipakai untuk makan minum dan kebutuhan sehari-hari. Termasuk untuk membeli cat, kertas, dan kanvas untuk bapak pelukis.

Mengapa bapak tetap melukis, padahal tidak laku? Gantian saya bertanya. "Sekarang belum laku tapi besok-besok kita belum tahu. Lukisan itu beda dengan makanan atau barang-barang di toko," katanya.

Mengapa bapak pelukis tidak mencoba kerja lain yang lebih cepat mendatangkan uang?

"Kerja apa? Saya sudah tua. Saya hanya bisa menggambar saja. Dulu saya pernah kerja di sawah, jadi petani. Sekarang sudah gak kuat. Dan mana ada sawah di kota," kata bapak satu anak ini.

Pak GS tidak sendiri. Di Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan kota-kota lain di Jawa Timur begitu banyak orang yang nyemplung jadi seniman lukis. Dan lukisan-lukisan mereka sangat sulit terjual. Toh mereka tetap semangat berkarya.

04 March 2013

Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Mahasiswa Kini

Selera makanku rusak gara-garabu warung itu memutar lawakan Sule di Anteve keras-keras. Lawakan slapstick yang tak bisa saya nikmati. Apanya yang lucu? Tapi ibu itu tetap saja ketawa asyik melihat ulah Sule yang konyol.

Sambil membaca majalah TEMPO baru yang membahas kasus Anas dan Demokrat, saya sesekali melirik televisi besar itu. Mencoba menemukan titik kelucuan. Oh ternyata ada. Yakni puluhan mahasiswa pakai jaket almamater bertepuk tangan dan tertawa bersama setiap kali Sule menyelesaikan kalimatnya.

Saya tidak yakin para mahasiswa Jakarta itu tertawa spontan karena saraf ketawanya tergelitik. Saya justru ketawa melihat mahasiswa yang hadir di studio televisi hanya untuk memeriahkan acara lawaknya Sule. Jangan-jangan mereka memang dibayar untuk tertawa dan bertepuk tangan.

Sudah lama saya melihat acara-acara lawak yang konyol di televisi. Penonton diajak tertawa bukan karena humor cerdas melainkan lawakan murahan yang konyol. Ada adegan timpukan, waria, dan sebagainya. Rupanya pengelola televisi kita di Jakarta masih melihat orang Indonesia sebatas konsumen slapstick.

Siang tadi saya menemukan buku lama di kampung ilmu Jl Semarang Surabaya. Catatan harian Soe Hok Gie dan catatan harian Ahmad Wahib tentang pergolakan pemikiran Islam. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kehebatan dua mahasiswa pada era 1960an dan 1970an itu.

Di zaman yang masih sangat sederhana, belum ada HP, belum ada internet... kok bisa ada mahasiswa Indonesia secerdas dan seprogresif Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Betapa kayanya buku-buku yang dibaca kedua almarhum ini. Betapa luasnya pergaulan mereka di komunitas intelektual. Betapa beraninya mereka mengungkapkan pikiran secara terbuka melampaui zamannya.

Amboi, betapa bedanya dunia mahasiswa di era Gie dengan mahasiswa hari ini yang lebih suka menjadi pemandu sorak pelawak-pelawak slapstick di televisi.

Tapi mungkin karena terlalu serius Gie dan Wahib harus mati muda. Karena itu, tertawalah bersama Sule agar umurmu panjang! Hahahahahaha....

KM Ratu Rosari dari NTT ke Halmahera



Minggu 3 Maret 2013.

Om Kornelis Kalu Hurek yang tinggal di Malang sejak 1970-an mengirim SMS minta saya mengecek jadwal KM Ratu Rosari dari Surabaya ke Flores Timur. Dia ingin mengirim pikap seken ke kampung halaman. "Kalau bisa langsung ke Lembata," katanya.

Hehehe.... Saya langsung tertawa dalam hati. Aneh, orang Flores yang sudah karatan di Jawa Timur kok tidak tahu perkembangan Kapal Ratu, nama populer KM Ratu Rosari di kalangan orang Flores sejak 1960-an hingga awal 2000. Om Kornel ternyata tidak tahu kalau Kapal Ratu itu sudah lama dijual oleh Misi Katolik alias Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD).

Dan Om Kornel tidak sendirian. Banyak orang NTT, khususnya Flores, yang juga belum tahu kalau Kapal Ratu sudah lama dijual kepada pengusaha swasta. Dus, kapal bersejarah yang berjasa menghubungkan pula-pulau di NTT dengan Jawa sejak 1960-an hingga 2000-an bukan lagi milik Gereja Katolik. Kapal Ratu memang masih ada, tapi sudah jadi kapal biasa yang tak ada kaitan dengan PELAYARAN MISI. Misi barunya ya misi dagang biasa, khas pengusaha perkapalan.

Beberapa tahun lalu, saya pun dihinggapi pertanyaan yang sama. Di mana Kapal Ratu sekarang? Kok tidak ada lagi papan pengumuman di Biara Soverdi, samping Gereja Katedral Surabaya, Jalan Polisi Istimewa 19?

 Maklum, dulu saya sangat sering mampir ke Soverdi untuk menemui Romo Lambertus Padji Seran SVD (sekarang almarhum), pastor asal Adonara yang dulu mempermandikan saya di kampung, Lembata, NTT. Kunjungan rutin setiap minggu untuk menemani opa pater di masa pensiunnya di biara SVD itu.

Karena itu, sudah pasti saya selalu membaca jadwal Kapal Ratu. Orang-orang Flores di Surabaya (dulu) memang punya kebiasaaan mencari informasi jadwal Kapal Ratu Rosari di Soverdi Surabaya. Sebab, sebelum marak kapal-kapal milik PT Pelni atau armada kapal swasta, hanya Kapal Ratu inilah yang berjasa membuka isolasi atau keterpencilan Flores, Lembata, Adonara, Alor, Oekusi, Sumba, Timor, dan pulau-pulau lain di NTT.

Oh, Kapal Ratu Rosari, jasamu begitu besar untuk NTT!

Saya pun menemui Romo Stanislaw Pikor SVD, pastor di Soverdi Surabaya yang bertahun-tahun menjadi manajer Kapal Ratu. Pater asal Polandia inilah yang paling bertanggung jawab atas manajemen KM Ratu Rosari. Mulai logistik, anak buah kapal, permesinan, hingga kehidupan liturgi untuk awak kapal dan penumpangnya. Oh, ya, naik Kapal Ratu itu seperti masuk ke dalam gereja terapung. Ada jadwal misa, sembahyang malaikat, doa bersama, menyanyikan lagu-lagu rohani... selama pelayaran berlangsung. Ada altar, sakristi, buku-buku misa, busana pastor, dan sebagainya.

Sambil tersenyum, Romo Pikor mengatakan bahwa Kapal Ratu sudah dijual kepada seorang pengusaha. Beliau tidak tahu, dan tidak perlu tahu, di mana kapal Misi Katolik untuk NTT ini berada. "Biaya operasional terlalu mahal. Sekarang kan sudah banyak kapal yang berlayar ke NTT. Jadi, misi utama Kapal Ratu untuk membuka isolasi dan menghubungkan pulau-pulau di NTT sudah selesai," kata sang pastor.

Sangat masuk akal penjelasan Romo Pikor SVD ini. Dari segi bisnis, Kapal Ratu jelas kalah bersaing dengan kapal-kapal besar milik Pelni macam KM Tatamailau, KM Bukit Siguntang, KM Kelimutu dan sebagainya. Kapal-kapal Pelni ini punya jadwal yang teratur. Ukurannya jauh lebih besar. Mesinnya lebih canggih. Lebih cepat. Subsidi dari pemerintah membuat kapal-kapal Pelni pun lebih murah.

Sebaliknya, Kapal Ratu memang kapal tua karena diproduksi tahun 1940-an atau 1950-an. Sehingga dari segi keamanan dan keselamatan jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimanapun juga kapal laut, pesawat, mobil, atau barang apa pun pasti punya umur pakai. Tidak mungkin Kapal Ratu beroperasi dalam usia yang sangat uzur. Orang tua sudah pasti tidak akan menang melawan orang muda dalam balapan lari.

Saya kemudian mencari informasi dari beberapa orang Flores yang saya anggap tahu banyak tentang pelayanan SVD, khususnya Kapal Ratu. Tidak tahu! Tidak tahu! Mereka hanya tahu bahwa Kapal Ratu sudah dijual kepada pengusaha Tionghoa dari Pulau Timor, kalau tidak salah dengar. "Kapal Ratu itu kapal tua sehingga memang layak dijual," kata teman asal Flores Tengah.

Kalau tidak dijual, kapal itu hanya akan jadi bangkai yang tidak ekonomis. Paling hanya dipajang di museum kenangan. Bahwa di masa lalu ada kapal bernama Kapal Ratu yang sangat berjasa bagi masyarakat NTT, khususnya dalam penyebaran agama Katolik. Demikian jalan pikiran orang Flores itu, yang saya setujui.

Setelah menunggu bertahun-tahun, syukurlah, ada orang Maumere bernama Bonaventura menulis di blog SUARA MAUMERE. Wow, secara tak sengaja dia bertemu kembali dengan Kapal Ratu di Pelabuhan Bitung, Manado, Sulawesi Utara, November 2011. Warna lambungnya tidak lagi abu-abu, tetapi biru tua. "Semua kondisi interiornya hampir tidak banyak berubah. Mengesankan sekaligus mengharukan," tulisnya.

Kapal Ratu awalnya dibeli pengusaha di Timor. Tapi kini jadi milik pengusaha Halmahera. Kalau dulu melayani angkutan penumpang dan barang di NTT ke Jawa, khususnya Surabaya, kini KM Ratu Rosari melayani rute reguler Halmahera-Bitung, mengangkut bahan bangunan, hasil bumi, dan air minum mineral.

Bonaventura menulis di blognya:

"Yang mengesankan bagi saya adalah keseluruhan interior kapal tersebut masih utuh. Saya tahu karena dulu memang beberapa kali menumpang kapal ini menuju Surabaya, atau sebaliknya, dari Surabaya menuju Ende. Kapel dalam kapal masih ada, walaupun sesekali digunakan untuk tempat istirahat para awak kapal.

Di altar kecil kapel masih terpampang tegak salib, tempat lilin, dan beberapa atribut Katolik lainnya. Di dalam laci dan rak altar tersebut masih disimpan rapi kasula, stola, hostia besar dan kecil, semuanya merupakan kelengkapan untuk kebutuhan untuk pelayanan misa. Saya memang agak heran, mengapa barang-barang sakral tersebut justru masih disimpan dalam kapal yang kepemilikannya sudah berpindah tangan beberapa kali.

Dalam ruang kapel, saya masih melihat sejumlah foto Bruder Marianus (almarhum) ketika berjabatan tangan dengan Uskup Monsinyur Antonius Thijsen SVD, juga foto Bruder Marianus dengan pimpinan Soverdi di Surabaya. Masih ada radio kuno milik kapal ini. Radio itu dulunya biasa digunakan oleh para awak kapal."

Gabriel, ABK asal Flores, punya cerita unik yang agak misterius. Kapal Ratu yang berganti nahkoda, muslim asal Medan, bernama Buyung menyingkirkan semua atribut kristiani di atas Kapal Ratu. Wajar karena kapal itu bukan lagi kapal milik kongregasi SVD yang punya misi Katolik. Apa yang terjadi?

Malam harinya, cerita Gabriel, nakhoda tadi bermimpi didatangi seseorang berjubah putih dan menyampaikan pesan. “Kapal ini tidak akan pernah tenggelam di laut lepas selama simbol simbol kristiani di kapal ini tetap dipertahankan.”

Akhirnya, Buyung memerintahkan para ABK untuk memasang kembali salib, simbol kepausan di ujung haluan kapal, dan gambar-gambar kudus lainnya. Sejak itu, hingga sekarang logo kepausan di ujung haluan kapal masih terpampang.

Kejadian lain, menurut cerita para awak kapal, belum lama ini Kapal Ratu pernah hampir tenggelam ketika berada 13 mil laut dari daratan. Air sudah masuk ke hampir seluruh badan kapal. Kapal berjalan dalam air. Tapi, aneh bin ajaib, Kapal Ratu bisa sampai ke darat dengan selamat.