20 February 2013

Soekarwo, calon tunggal, calon pendamping

Pemilihan gubernur Jawa Timur tahun ini ibarat sayur kurang garam. Kompetisi yang ketat hingga tiga putaran seperti lima tahun lalu bakal sulit terulang.

Mengapa? Hampir semua partai merapat ke Soekarwo -Syaifullah Yusuf, gubernur dan wakil gubernur inkumben. Sampai sekarang belum ada calon lain yang muncul untuk berkompetisi dengan Karsa.

Khofifah tentu nama yang layak diperhitungkan. Tapi PKB pun belum sepakat untuk memajukan pesain berat Soekarwo lima tahun lalu itu. Sejumlah kiai sepuh malah memberi dukungan ke Pakde Karwo.

Bagaimana dengan PDIP? Sama saja. Partai nasionalis ini tak punya figur kuat yang bisa mengimbangi Soekarwo. Karena itu, bisa dipahami kalau sampai sekarang PDIP belum punya calon.

PDIP tentu belajar dari pengalaman lima tahun lalu ketika mencalonkan kader sendiri, Soetjipto, yang kalah telak. Bambang DH tidak mau maju. Pramono Anung menolak. Sirmadji tak punya potongan jadi cagub.

Golkar yang dulu mencalonkan ketuanya Soenarjo juga belajar dari pengalaman buruk itu. Apalagi ketua Golkar Jatim sekarang, Martono, lima tahun lalu menjadi ketua tim sukses Soekarwo.

Bagaimana kalau Soekarwo menjadi calon tunggal? Apakah dia akan berkompetisi dengan bumbung kosong seperti pilkades?

Rasa-rasanya tidak. Besar kemungkinan akan ada CALON PENDAMPING seperti pada masa orde baru. Yakni kandidat gubernur yang sengaja dipasang untuk formalitas demokrasi saja. Sebab, mekanisme pemilihan gubernur secara aklamasi atau konsensus tak lagi dikenal di Indonesia.

1 comment:

  1. makanya gubernur ditunjuk aja sama presiden sbg wakil pemerintah pusat. pemilihan langsung itu terlalu mahal & tidak efektif.

    ReplyDelete