06 February 2013

Pacaran kebablasan di Suramadu

Setiap minggu polisi selalu merazia anak-anak muda yang berpacaran di Suramadu. Tepatnya di pinggir pantai yang berbatu di kaki jembatan kawasan Tambakwedi, Surabaya. Suramadu memang jadi salah satu tempat alternatif kongko-kongko karena pemandangannya menawan.

Mengapa pacaran kok dirazia? Siapa yang berhak melarang pacaran? Bukankah itu wajar untuk kaum muda? Toh bapak-bapak, om-om, tanta-tante pun ada yang pacaran (lagi)?

Pukul 00:00 tadi saya mampir ke Suramadu. Ngopi, menikmati laut di kaki Suramadu, nimbrung sama komunitas sepeda pancal di warung pojok dekat pintu air.

Wow ternyata benar. Cukup banyak remaja yang menyepi berduaan di atas batu. Bermesraan. Asyik cerita sampai lupa kalau sudah jam 12 tengah malam.

Kok belum pulang juga? Apa tidak dimarahi ortu di rumah? Saya hanya membatin, tak berani bertanya.

"Biarin aja anak-anak muda itu pacaran karena sekarang giliran mereka. Kita-kita kan sudah pernah melakukan seperti itu dulu," kata seorang bapak penggemar sepeda.

Menurut dia, pacaran di Suramadu justru aman karena selalu ada banyak orang di sana. Tidak mungkin pasangan muda itu berbuat yang melampaui batas, misalnya berhubungan seks, karena disaksikan banyak orang.

"Yang gawat justru yang suka booking cewek ke hotel kayak makelar impor sapi itu," tambah seorang mas mengacu pada kasus dugaan mafia sapi yang melibatkan petinggi PKS di Jakarta.

Yah, rupanya sulit melarang orang muda berpacaran kecuali di Aceh yang punya qanun-qanun dan sebagainya. Polisi sering razia, khususnya ketika AKBP Anom Wibowo memimpin polsek di kawasan utara, tapi nyatanya pacaran jalan terus. Bagaimana mungkin menghentikan gejolak kawula muda?

Mungkin yang bisa kita lakukan sebatas imbauan agar para ABG ini membatasi jam pacaran. Cukup sampai jam 22:00 atau 23:00 untuk malam minggu. Keterlaluan kalau sampai jam 01:00 masih asyik berduaan di atas batu.

Kapan pulangnya? Apa tidak dicari orangtua? Tugas sekolah/kuliah? Kasihan si cewek kalau terpaksa DO karena hamil, sementara si laki belum bekerja.

No comments:

Post a Comment