19 February 2013

Kuliah Stravinsky bersama Slamet Abdul Sjukur

Di Indonesia saya kira belum ada dosen musik yang hebat, jenaka, kritis + sengak seperti Slamat Abdul Sjukur. Kata-katanya penuh kejutan dan inspiratif. Kita ketawa, geli, tapi dibuat malu sendiri.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha mengikuti Pertemuan Musik Surabaya (PMS) bersama Pak Slamet. Beliau berperan sebagai dosen musik dan pemancing diskusi. Asyik banget! Begitu banyak pengetahuan musik yang bisa kita serap dari pianis + komponis + budayawan ini.

Siang tadi Pak Slamet membahas Burung Api karya Igor Stravinsky. Kami diajak menyaksikan Orchestre de Paris dengan dirigen Pierre Boulez di Paris tahun 2008. Orkes ini bermain sempurna menggambarkan cerita tentang burung api itu.

Stravinsky bercerita bukan dengan kata-kata atau gambar, melainkan musik. Ada bebunyian ala burung di taman. Tukang sihir. Monster penjaga. Dialog antara pangeran dan tukang sihir.

Nada-nadanya rumit tapi asyik dinikmati. Penonton di Paris sangat puas menikmati konser di Piramida Kaca yang tersohor itu.

Yang sangat berkesan bagi saya pada PMS ini adalah cara Pak Slamet memperkenalkan berbagai instrumen orkes simfoni. Oboe, english horn, bason, horn, trombon, klaribet, tuba, timpani, silofon, harpa, cello dsb. Kita dilatih cara membedakan klarinet dan oboe yang beda tipis. Mengapa harpa bentuknya seperti itu. Dan seterusnya.

Yang sangat teknis, kita juga dikasih dua fotokopian partitur orkes simfoni. Saya hitung ada 32 part yang harus dikuasai dirigen. Jelas dirigen itu orang super karena dia harus membaca dan menggerakkan sekian puluh musisi dengan karakter instrumen yang berbeda.

Peserta kuliah musik ini cukup beragam. Ada pelajar SMK jurusan musik, guru piano kayak Lidya Lie, dosen musik kayak Pak Isfanhari, komponis muda kayak Gemma, dan orang awam kayak saya.

Semakin sering mengikuti kuliah Slamet A Sjukur semakin membuat saya sadar bahwa wawasan musik saya sebetulnya masih tingkat taman kanak-kanak. Terlalu banyak yang saya belum tahu ketika saya merasa sudah tahu.

Terima kasih Pak Slamet!

No comments:

Post a Comment