13 February 2013

Hubert Han generasi ke-10 Han Siong Kong


Bocah berbadan subur itu tampak gesit di dalam bangunan tua. Dia ikut sibuk menata sesajen dan perlengkapans sembahyang ala Tionghoa. Kue tok, kue mangkok, kue keranjang, kemudian buah-buahan. Ada buah srikaya, jeruk, rambutan, dan tebu. Setelah semua sesajen ini siap, si bocah diajak berdoa bersama ibu dan ayahnya.

"Saya harus ikut melestarikan tradisi leluhur kami," ujar si bocah bernama Hubert Han ini. Sembahyang bersama ini dilakukan di Rumah Abu Keluarga Han, Jalan Karet 72 Surabaya, sehari menjelang tahun baru Imlek 2564, Sabtu (9/2/2013) siang.

Bocah 13 tahun ini merupakan generasi ke-10 keturunan Han Bwee Koo (generasi keenam), yang mendirikan rumah abu ini pada abad ke-18. Han Siong Kong, generasi pertama kali tiba di Lasem, Jawa Tengah, pada 1673. Ayah Hubert, Robert Han, tentu saja masuk generasi kesembilan.

Meskipun masih sangat belia, bahkan tidak merasakan zaman Orde Baru yang kurang kondusif bagi warga Tionghoa, Hubert ternyata well informed. Dia hafal di luar kepala sejarah keluarga Han, rumah abu (sembahyang) keluarga Han, hingga berbagai perlengkapan di dalam bangunan tua tersebut.

"Saya banyak membaca buku dan mendapat informasi dari Papa," kata bocah yang rajin membaca itu.

Tak heran, Robert dan istri, Tan Lin Meng, kerap memberi kesempatan kepada Hubert untuk menjadi 'pemandu wisata' atau guide dadakan. Ketika ada kunjungan mahasiswa atau komunitas pencinta sejarah, Hubert pun memperlihatkan kebolehannya menceritakan asal-usul nenek moyangnya yang berasal dari Provinsi Fujian di Tiongkok itu.

Hubert juga ikut mengoreksi salah kaprah sebutan 'rumah abu' yang sudah telanjur beredar di masyarakat. Menurut dia, meski disebut rumah abu, bangunan berarsitektur campuran Tionghoa, Eropa, dan Jawa ini sebetulnya sama sekali tidak menyimpan abu para leluhur Han. Yang ada hanya papan-papan nama dari kayu jati bertuliskan nama leluhur Han dalam aksara Tionghoa.

"Papan nama itu disebut sinci. Sinci-sinci di sini jumlahnya 131," jelas Hubert seraya menunjukkan sinci-sinci yang disimpan rapi tepat di belakang altar persembahan.

Nah, saat sembahyang, Hubert bersama orang tuanya menghadap ke sinci-sinci tersebut. Sesuai adat Tionghoa, saat upacara sembahyang disediakan teh di cangkir kecil untuk para leluhur. Jumlahnya pun 131.

Sebagai generasi modern yang lahir di era globalisasi, Hubert pun cukup fasih berbahasa Inggris. Karena itu, dia tidak rikuh ketika harus memberi penjelasan dalam bahasa internasional itu. Hubert bahkan terlihat lebih antusias menghadap pengunjung bule karena bisa sekalian memperlancar kemampuan speaking-nya.

"Mereka (bule-bule) itu kan native speaker. Jadi, kita bisa belajar bahasa Inggris langsung dari mereka," katanya seraya tersenyum.

No comments:

Post a Comment