12 February 2013

Gadis cilik di malam Sincia


Biasanya malam Sincia  di Surabaya diwarnai rintik hujan. Tapi malam itu cuaca cerah, hawa malam bahkan terasa gerah. Kota surabaya memang tidak diguyur hujan dalam sepekan terakhir.

Bukankah hujan saat malam tahun baru Imlek pertanda keberuntungan? Hoki yang baik sepanjang tahun? Kata engkong-engkong jadul sih begitu.

Tapi Juliet kecil justru bersyukur karena malam Sincia kali ini tidak turun hujan. "Kalau hujan kan barongsainya nggak bisa main," kata bocah SD tiga bahasa di kawasan HR Muhammad, Surabaya, itu.

Ditemani baby sitter asal Kediri, Juliet memang sangat menikmati permainan barongsai di halaman Kelenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya.

Dia sempat maju, seperti bocah-bocah lain, memberikan angpao kepada barongsai. Uang di dalam amplop merah itu langsung disambar barongsai yang mulutnya lebar. Juliet senang bisa memberikan angpao kepada remaja yang berjasa melestarikan budaya Tionghoa itu.

"Kata Mama, memberi angpao kepada barongsai itu justru membawa rezeki untuk kita sendiri. Suatu saat kita dapat hoki," katanya.

Malam kian larut. Jam di ponsel menunjukkan angka 23.55. Lima menit lagi ratusan umat melakukan doa bersama untuk melepas tahun lama, tahun naga, dan menyambut tahun baru, tahun ular. Juliet pun dipanggil ayahnya untuk persiapan sembahyang.

Ikut berdiri di depan altar, Juliet memegang hio warna kuning emas. Akhirnya, dipandu seorang pengurus kelenteng, jemaat melakukan doa bersama khas adat Tionghoa. Juliet menundukkan kepala, mengangkat wajah, mengunjukkan hio beberapa kali ke atas. Oh, rupanya gadis cilik ini sudah biasa melakoninya. Sehingga gerakan-gerakannya sama dengan jemaat dewasa.

Doa bersama itu hanya berlangsung sekitar 20 menit saja. Tak ada khotbah, sambutan, wejangan, dan sebagainya. Beda dengan kebaktian di gereja saya yang khotbahnya sering terlalu panjang. Plus nyanyian yang banyak.

Lalu, perayaan Sincia dilanjutkan dengan makan bersama menikmati hidangan khas jawa: rawon, pecel, lodeh, tahu tempe, telur ceplok. Chinese food malah tidak terlihat di atas meja. "Kita pakai makanan rakyat Jawa Timur saja. Murah meriah," kata Juliani Pudjiastuti, pengurus kelenteng.

Biasanya, Juliet selalu tidur pada pukul 21.00 setelah belajar atau menggarap pekerjaan rumah. Tapi khusus di awal tahun ular ini Juliet bisa tahan melek. Rupanya bocah sembilan tahun ini tak mau meninggalkan Shou Sui, tradisi melekan warga Tionghoa di malam tahun barunya.

Seorang engkong kemudian menceritakan legenda klasik Tiongkok. Katanya, malam tahun baru seperti itu dewa rezeki sedang gentayangan untuk menyebar keberuntungan atau rezeki kepada masyarakat. Maka, engkau sebaiknya tidak tidur hingga subuh.

Sayang, ketika dewa rezeki datang, engkau sedang tidur nyenyak dan bermimpi yang tidak jelas. "Itu sih kata engkong-engkong zaman dulu. Tapi kalau kamu sudah ngantuk ya sebaiknya pulang ke rumah, tidur," kata seorang kakek berkacamata yang duduk di bawah pohon pisang.

Juliet tersenyum mendengar cerita klasik yang sebetulnya sudah dia ketahui itu. Tapi rupanya dia masih kerasan di halaman kelenteng. Apalagi sebentar lagi ada pesta kembang api. Sementara saya dan beberapa wartawan, termasuk awak televisi Jakarta yang bikin siaran langsung, sudah tak tahan bergadang.

No comments:

Post a Comment