21 February 2013

Apa kabar Feri AFI & Aan KDI?

Apa kabar Feri AFI? Di mana sekarang? Begitu pertanyaan Pak Sutejo dalam buku tebalnya, 922 halaman, yang baru dirilis di Unesa.

Sambil ngopi menunggu pertandingan AC Milan vs Barca, saya tidak sengaja membaca artikel dosen yang juga penulis produktif itu. Saya pun jadi ingat Aan KDI. Anak Mojosari yang sempat melejit di kontes dangdut TPI, yang jadi juara favorit urutan keempat.

Waktu KDI pertama yang sangat heboh, saya kebetulan mengikuti perjalanan Aan dari dekat. Saya mampir ke rumah tantenya di Candi, Sidoarjo, karena dia sekolah di Surabaya. Ditemani Mas Ipunk, Aan beberapa kali ketemu saya untuk wawancara agar warga Sidoarjo ramai-ramai kirim SMS.

Aan akhirnya cukup sukses di KDI. Tapi kepopulerannya tidak lama. Saat ini kita tidak tahu lagi aktivitas Aan. Hampir sama nasibnya dengan Feri AFI dan bintang-bintang AFI, KDI, atau idol-idol lainnya.

Betapa lekasnya popularitas itu berlalu. Easy come easy go! Bukti bahwa bintang itu tidak bisa dipoles atau disulap begitu saja. Bintang yang diperoleh lewat reality show yang instan di televisi akan suru dengan lekas pula.

Budaya instan mengabaikan proses. Ujug-ujug ngetop, terkenal, dielu-elukan, muncul terus di televisi. Tapi dalam masa yang sangat pendek orang sudah lupa bintang karbitan itu.

Sayang, televisi kita masih tetap saja memproduksi bintang-bintang instan macam Feri dan Aan. Dan begitu banyak anak muda yang antre mendaftarkan diri menjadi calon bintang instan.

Mengapa masyarakat kita suka jalan pintas? Suteja menyebut lima alasan:

1. Malas, etos kerja rendah.

2. Kultur budaya yang buruk.

3. Tidak rasional.

4. Penyakit jiwa.

5. Mentalitas pecundang.

No comments:

Post a Comment