28 February 2013

Menikmati Lontong Cap Go Meh di Kapasan


Kawasan Kapasan dan sekitarnya Ahad pagi (24/2/2013) dilanda hujan deras. Sementara sekitar 200 jemaat dan warga sekitar tampak asyik menikmati atraksi barongsai di Kelenteng Boen Bio, Jl Kapasan, Surabaya. Tepuk tangan bergemuruh usai grup kesenian tradisional Tionghoa ini usai unjuk kebolehan.

Charles Tee, seorang jemaat, pun maju memberikan angpao setelah melihat barongsai berhasil berjalan di atas bola raksasa. Sembari menyaksikan permainan barongsai, umat Khonghucu menikmati hidangan lontong cap go meh. Kuliner peranakan Tionghoa itu rupanya sangat lezat. Buktinya, beberapa orang meminta tambah satu porsi lagi.

"Lontong cap go meh ini sangat khas karena dinikmati saat Cap Go Meh," kata seorang jemaat.

Tak hanya di Boen Bio, Kapasan, warga Tionghoa di berbagai daerah kemarin ramai-ramai mengadakan perayaan Yuan Xiao atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan Cap Go Meh. Sesuai namanya, Cap Go Meh merupakan perayaan hari ke-15 bulan pertama penanggalan Imlek atau bulan purnama pertama dalam tahun ular.

Di Tiongkok, Yuan Xiao ini berlangsung sangat meriah dengan arak-arakan dan pesta meriah sekaligus menutup perayaan Sincia atau tahun baru Imlek. Di negara-negara Barat disebut Lantern Festival alias Festival Lampion.

Di Indonesia, khususnya Jawa, Cap Go Meh ini tidak lengkap tanpa menikmati lontong cap go meh. "Lontong seperti ini tidak dikenal di Tiongkok. Tapi kita selalu sediakan untuk dinikmati bersama seluruh jemaat," kata Charles Tee, yang juga aktivis Boen Bio Kapasan.

Tak hanya barongsai dan lontong cap go meh, perayaan Yuan Xiao di Boen Bio juga dimeriahkan dengan konser musik Tionghoa. Berbusana khas Tionghoa, para pemusik memainkan komposisi-komposisi pentatonik ala Tiongkok. Grup ini berlatih dua kali sepekan di rumah ibadah Khonghucu terkenal di Surabaya itu.

Sebelum perayaan Cap Go Meh, umat Khonghucu tampak khusyuk mengadakan doa bersama.

Sri Supadmi, Tionghoa yang Pimpin Liponsos Surabaya



Tak banyak orang Tionghoa yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS), apalagi memimpin sebuah UPTD. Nah, Sri Supadmi merupakan salah satu warga keturunan Tionghoa yang sedikit itu. Dia mengaku sama sekali tidak kikuk bekerja di lingkungan birokrasi yang hampir tidak ada PNS keturunan Tionghoa.

"Saya memang keturunan Tionghoa, tapi sejak kecil tinggal di Kademangan, Blitar. Sebuah permukiman yang sangat kental dengan tradisi dan budaya Jawa. Orang Tionghoanya hanya sembilan keluarga," kenang Sri Supadmi.

Karena biasa berbaur dengan orang Jawa, Sri pun terbiasa berbicara dalam bahasa krama inggil atau Jawa halus. Bermain, belajar, bergaul... semuanya dengan teman-teman sebaya yang asli Jawa. Itu pula yang membuat dia memilih PNS sebagai lahan pengabdiannya. Bukan bidang bisnis atau perdagangan yang selama ini dicitrakan sebagai profesi utama orang Tionghoa.

"Suami saya juga orang Jawa kok," kata Sri merujuk Ani Ruswanto, sang suami, yang telah memberinya dua anak, Denny Rusvendra dan Calvin Rustanto. Putra sulungnya pun kini mengikuti jejak sang ibu, mulai merintis karir di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.

Bagi Sri Supadmi, pekerjaan apa pun harus ditekuni dengan serius, ikhlas, dan penuh pengabdian. Karena itu, ketika dipercaya memimpin UPDT Liponsos sejak 2007, Sri benar-benar total mengabdikan diri untuk mendampingi para penghuni rumah penampungan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) itu. Tak sekadar duduk di belakang meja, Sri sangat mobile terjun ke lapangan untuk memantau kondisi para gelandangan, pengemis, lansia, anak jalan, psikotis, maupun kalangan pekerja seks komersial (PSK) binaannya.

Dia juga mengajak para remaja, yang dicakup karena pacaran yang kebablasan, bicara dari hati ke hati. Sebagai seorang ibu, Sri menasihati mereka untuk menghentikan kebiasaan buruk yang bisa mengancam masa depan mereka.

"Kalian itu masih sangat muda, mbok yo sekolah, belajar serius, untuk hari depan kalian sendiri," katanya.

Setiap pukul 14.30 Sri bersama petugas Liponsos berkeliling dari bangunan yang satu ke bangunan lain untuk layanan pengobatan. Para PMKS, khususnya psikotis (penderita gangguan jiwa), memang sangat membutuhkan pengobatan dan pendampingan. Maklum, mereka-mereka ini sudah tidak diurus, bahkan tidak diakui keluarganya.

"Mereka itu sudah seperti keluarga saya sendiri," katanya.  (lambertus hurek)



               Anggap Penghuni Liponsos Keluarga Sendiri

Sehari setelah Valentine's Day atau Hari Kasih Sayang, Jumat (15/2/2013), Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) di kawasan Keputih Tegal, Surabaya, diserbu ratusan orang. Tujuannya, membebaskan anggota keluarga, kenalan, maupun anak buah mereka yang semalam dirazia petugas Satpol PP dan kepolisian. Sri Supadmi (53), kepala UPTD Liponsos, pun harus menghadap sejumlah laki-laki yang terlihat emosional dan marah-marah.

Sri Supadmi sendiri tampak tenang-tenang saja meskipun beberapa pria berbicara dengan nada tinggi, bahkan membentak-bentak. Ibu dua anak ini kemudian menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. "Semua itu ada prosedurnya. Kami di sini tidak akan pernah mempersulit Anda," katanya seraya tersenyum.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Sri Supadmi di ruang kerjanya:

Mengapa begitu banyak laki-laki yang terlihat sangat emosional?

Hehehe.... Itu sih biasa. Sejak bertugas di Liponsos tahun 2007 saya sudah kenyang menghadapi orang-orang seperti itu. Intinya, mereka memaksa untuk membebaskan orang tertentu yang tadi malam dirazia petugas karena melakukan pelanggaran. Oke, kami akan bebaskan, tapi Anda harus mengikuti prosedur yang berlaku.

Prosedur seperti apa?

Dia harus membuktikan sebagai orang tua atau suami atau keluarga dari orang yang berada di dalam itu (ruang khusus untuk menampung orang-orang yang dirazia petugas). Itu bisa dibuktikan dengan kartu keluarga, surat nikah, atau surat keterangan lainnya. Lha, si bapak yang tadi itu mengaku-ngaku keluarganya, tapi tidak punya bukti apa pun. Dia tidak bisa menunjukkan kartu keluarga atau surat-surat lain. Saya sih sudah sering menghadapi orang-orang yang suka mengaku-ngaku ini.

Rupanya, Anda sudah sangat siap mental menghadapi katakanlah orang-orang di belakang PSK (pekerja seks komersial) yang dicokok petugas?

Begitulah. Liponsos ini kan tempat menampung para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). PMKS itu, menurut kementerian sosial, ada 28 item. Tapi di sini kami hanya punya lima item PMKS, yakni gepeng (gelandangan-pengemis), anak jalanan, lansia telantar, psikotik (gangguan kejiwaan), dan PSK. PSK ini yang paling sulit.

Mengapa?  

Sebagian PSK-PSK itu kan punya germo atau mucikari. Ada jaringan yang punya kepentingan bisnis dengan PSK-PSK itu. Maka, ketika PSK-PSK itu dibawa ke sini, mucikari-mucikari ini kebakaran jenggot. Mereka tidak ingin PSK-PSK itu bertobat, beralih profesi, kembali ke masyarakat, tapi berusaha mempertahankan status quo. Jadi, ada-ada saja usaha mereka untuk membebaskan anak buahnya.

Tapi bukankah sebagian wanita yang dibawa ke sini hanya karena kasus pacaran di tempat umum atau jalan sendirian saat larut malam? 

Karena itu, pihak keluarga harus bisa membuktikan dengan kartu keluarga atau surat keterangan dari RT/RW. Kita ingin ada kerja sama dengan pihak keluarga untuk membina anak-anak muda ini. Jangan sampai mereka-mereka ini menjadi korban perdagangan manusia (trafficking). Saat ini Ibu Wali Kota (Tri Rismaharini) sangat concern dengan kasus-kasus traficking di Kota Surabaya. Dan, Liponsos sebagai UPTD milik Pemkot Surabaya punya tugas dan tanggung jawab untuk mencegah atau paling tidak mengurangi human trafficking. Remaja-remaja putri yang dicakup malam-malam itu kan sangat rawan jadi korban trafficking.

Bagaimana dengan PMKS lain seperti gepeng, lansia telantar, atau psikotik?

Yah, tentu saja, semuanya punya masalah sendiri-sendiri. Tapi tidak serumit PSK yang punya beking dan jaringan trafficking itu tadi. Para gepeng, lansia telantar, atau psikotis ini kan berkeliaran di jalan karena tidak ada keluarga yang mengurusi. Mereka ditampung di sini untuk menjalani perawatan, rehabilitasi, dan sebagainya. Syukurlah, banyak dari mereka yang akhirnya sehat kembali dan bisa dipulangkan ke kampung halamannya. Saya ikut senang dan bahagia karena proses rehabilitasi di Liponsos ini berhasil.

Dari mana saja sih penghuni Liponsos?

Sebagian besar justru bukan masyarakat Surabaya. Boleh dibilang, Liponsos ini seperti miniatur Indonesia. Si Anton yang sedang bikin keset itu (sambil menunjuk pemuda berkulit gelap) berasal dari Ambon. Ada lagi yang dari NTT (Nusa Tenggara Timur), Papua, Kalimantan, Banjarnegara (Jawa Tengah), Madura, Sulawesi, dan sebagainya. Ini juga jadi masalah tersendiri untuk pemulangan ketika kondisi mereka sudah baik. Kalau pulang ke Papua, Maluku, atau NTT kan butuh uang untuk tiket kapal laut dan sebagainya. Sementara Liponsos tidak punya anggaran untuk membeli tiket kapal. Hehehe....

Berapa banyak penghuni dan berapa sih kapasitas ideal Liponsos?

Data yang masuk saat ini (15 Februari) 1.223 orang. Sementara kapasitas idealnya hanya 300-400 orang saja. Artinya, jumlah penghuni sudah jauh melebihi kapasitas atau overload. Selain penghuni kambuhan, bolak-balik masuk kembali ke sini, masalah PMKS di kota besar seperti Surabaya ini makin lama makin banyak. Begitu kompleknya persoalan hidup yang membuat sebagian saudara-saudara kita jadi gelandangan, pengemis, anak jalanan, maupun PSK. Belum lagi lansia telantar karena tidak diurus oleh keluarganya.

Persoalan PMKS ini harus ditangani bersama-sama seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga. PSK-PSK yang dibawa ke sini, setelah keluar, praktik lagi ke jalanan, kemudian ditangkap, dibawa lagi ke sini. Kalau rantai trafficking ini tidak diputus, ya, susah.

Apa solusi untuk menghadapi overkapasitas ini?

Tahun ini, kalau tidak ada halangan, Dinas Sosial membuka Unit Pelayanan Terpadu (UPT) baru khusus lansia di daerah Rungkut. Dengan begitu, PMKS lansia yang ada di Liponsos ini bisa dipindahkan ke sana. Kalau bisa daerah-daerah lain pun memiliki Liponsos seperti di Surabaya untuk menampung warganya. Kalau tidak begitu, ya, jadinya kayak sekarang. PMKS-PMKS ini ramai-ramai datang ke Surabaya.

Bu Risma juga sudah meminta Pemprov Jatim untuk membantu anggaran Liponsos mengingat sebagian besar penghuni justru datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Saya senang karena Pemkab Jember baru saja datang ke sini untuk studi banding Liponsos. Nah, kalau ada Liponsos di Jember, maka penghuni yang berasal dari Jember kita titipkan di Liponsos Jember. Begitu juga dengan daerah-daerah lain.

Anda sudah lima tahun bertugas di Liponsos. Apa tidak jenuh menghadapi penghuni yang tingkahnya sering aneh-aneh?

Oh, tidak! Ketika saya diamanati untuk menjadi kepala Liponsos, saya menerimanya dengan senang hati. Bagi saya, amanat dan kepercayaan itu harus saya jalankan dengan penuh tanggung jawab dan senang hati. (*)

BIODATA SINGKAT

Nama : Sri Supadmi
Lahir, Blitar, Juli 1959
Suami : Ani Ruswanto
Anak : Denny Rusvendra dan Calvin Rustanto

Pendidikan
SMPN 2 Blitar
SMAK Diponegoro Blitar
Akademi Seketariat dan Manajemen (ASMI) Surabaya
FE, Universitas Widya Putra, Surabaya

Riwayat karir
Staf Kecamatan Sawahan, 1986
Kaur Kepegawaian Kecamatan Sawahan, 1990
Kasi Pemberdayaan Perempuan, Dinsos Surabaya, 2002
Kasubag Kepegawaian Dinsos Surabaya, 2005
Kepala UPTD Liponsos, Surabaya, 2007

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 17 Februari 2013.

22 February 2013

Chang-Yau Hoon: Tionghoa Indonesia itu rumit


Masyarakat Tionghoa di Indonesia itu sangat heterogen. Meski sama-sama berasal dari leluhur dan kultur yang sama, orang Tionghoa di Surabaya berbeda dengan Jakarta, Medan, Pontianak, Padang, dan sebagainya.

Hal ini ditekankan Dr Chang-Yau Hoon, asisten profesor kajian Asia di Singapore Management University, Singapura, dalam bedah buku di Toko Buku Togamas Pucang, Surabaya, Jumat (22/2/2013). Mantan dosen University of Western Australia, ini sekaligus memperkenalkan buku barunya berjudul Identitas Tionghoa Pasca-Suharto.

Bedah buku yang diselenggarakan Center for Chinese Indonesian Studies (CCIS), Perpustakaan Universitas Kristen Petra, Yayasan Nabil, Toko Buku Petra Togamas, dan Perpustakaan C2O, ini juga menampilkan pembicara Sri Mastuti, dosen Universitas Negeri Surabaya, dan Dr Budiawan, dosen Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.

Chang-Yau Hoon sendiri lahir di Sarawak, Malaysia, besar di Brunei Darussalam, kuliah di Australia, kemudian bekerja di Singapura. Sebagai orang Tionghoa, Hoon merasakan betapa peliknya identitas orang Tionghoa di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia.

"Tionghoa di Indonesia yang paling kompleks. Ada semacam krisis identitas di kalangan muda serta trauma politik yang luar biasa," papar Hoon dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Menurut dia, upaya asimilasi etnis Tionghoa yang dilakukan rezim Orde baru selama tiga dekade sudah terbukti gagal. Dan, sejak reformasi 1998, Indonesia mulai memasuki era multikulturalisme. Etnis Tionghoa perlahan-lahan mulai menunjukkan identitas budayanya di hadapan publik. Seni budaya khas Tionghoa seperti barongsai, liang-liong, perayaan tahun baru Imlek sangat marak di berbagai daerah.

Meski begitu, Chang-Yau Hoon melihat ada beragam kepentingan dan agenda di kalangan masyarakat Tionghoa sendiri. Ini terlihat dari banyaknya organisasi, perkumpulan, paguyuban, yang marak setelah kejatuhan Presiden Soeharto.

"Tionghoa yang totok dan peranakan punya perbedaan. Tionghoa yang muda dan tua kurang sejalan. Belum lagi perbedaan agama di kalangan Tionghoa," katanya serius.

Bahkan, menurut Hoon, di kalangan totok sendiri pun masih terdapat perbedaan dialek dan asal-usul leluhur. Mereka ingin eksis, ingin bersuara, sehingga membentuk kelompok sendiri-sendiri. "Politik representasi itu yang menonjol di era reformasi," sebutnya.

Dalam perjalanan waktu, menurut Hoon, banyak organisasi Tionghoa yang redup atau kehilangan suara karena tak punya modal. Maka, kelompok yang eksis hanyalah organisasi yang didukung para pemilik modal besar.

"Apakah suara mereka itu bisa dianggap mewakili kepentingan seluruh masyarakat Tionghoa? Ini yang masih menjadi masalah besar di Indonesia," katanya.

Membaca Alkitab bahasa Inggris

Membaca kitab suci atau Alkitab itu gampang-gampang susah. Kelihatan gampang, bisa dipahami karena berbahasa Indonesia, sering kita dengar di gereja, sangat lazim bagi orang kristiani. Tapi bisakah membaca Alkitab itu menjadi daily habit? Kebiasaan setiap hari?

Ini yang susah. Kadang semangat membaca Alkitab begitu menggebu, bisa beberapa buku sekaligus, tapi kadang semangat itu padam. Bahkan berbulan-bulan tidak baca kitab suci. Paling hanya baca potongannya saat misa di gereja.

Itu yang sering saya alami. Kasihan juga Alkitab di kamar, seakan dia berteriak: read me! read me!

Akhirnya, suatu ketika saya mampir ke kiosnya si Lia di Jalan Semarang. Pusat buku-buku bekas di Surabaya. Wow, ada buku berjudul GOOD NEWS BIBLE. Alkitab dalam bahasa Inggris sehari-hari.

Tanpa menawar lagi, saya langsung membeli Alkitab USA itu. Isinya sama dengan ALKITAB BIS (bahasa Indonesia sehari-hari) dari Lembaga Alkitab Indonesia yang sudah saya miliki bertahun-tahun. Tentu saja Alkitab utama tetap versi terjemahan baru yang digunakan hampir semua gereja di Indonesia.

GOOD NEWS BIBLE ini beda dengan KING JAMES BIBLE yang kata-kata Inggrisnya sangat sulit. Orang Indonesia yaang kosa katanya sedang-sedang saja sangat sulit, bahkan mustahil, memahami KING JAMES dengan cepat.

GOOD NEWS BIBLE, puji Tuhan, memberi keasyikan tersendiri bagi saya dalam membaca firman Tuhan. Sambil menyelam minum air. Membaca Alkitab + belajar bahasa Inggris setiap hari.

Jumat 22 Februari 2013, Gereja Katolik di seluruh dunia merefleksikan Matius 16:13-20. Perikop injil ini tentang PETER'S DECLARATION ABOUT JESUS.

Menjadi sangat relevan karena Paus Benediktus XVI akan mundur empat hari lagi. Dus, bagi orang Katolik, Paus adalah pengganti Peter alias Santo Petrus. Kata-kata Yesus kepada Petrus sangat menggetarkan:

"PETER, YOU ARE A ROCK, AND ON THIS ROCK FOUNDATION I WILL BUILD MY CHURCH... I WILL GIVE YOU THE KEYS OF THE KINGDOM OF HEAVEN...."

Bahasa Inggris memang punya power dan kedahsyatan tersendiri.

21 February 2013

Apa kabar Feri AFI & Aan KDI?

Apa kabar Feri AFI? Di mana sekarang? Begitu pertanyaan Pak Sutejo dalam buku tebalnya, 922 halaman, yang baru dirilis di Unesa.

Sambil ngopi menunggu pertandingan AC Milan vs Barca, saya tidak sengaja membaca artikel dosen yang juga penulis produktif itu. Saya pun jadi ingat Aan KDI. Anak Mojosari yang sempat melejit di kontes dangdut TPI, yang jadi juara favorit urutan keempat.

Waktu KDI pertama yang sangat heboh, saya kebetulan mengikuti perjalanan Aan dari dekat. Saya mampir ke rumah tantenya di Candi, Sidoarjo, karena dia sekolah di Surabaya. Ditemani Mas Ipunk, Aan beberapa kali ketemu saya untuk wawancara agar warga Sidoarjo ramai-ramai kirim SMS.

Aan akhirnya cukup sukses di KDI. Tapi kepopulerannya tidak lama. Saat ini kita tidak tahu lagi aktivitas Aan. Hampir sama nasibnya dengan Feri AFI dan bintang-bintang AFI, KDI, atau idol-idol lainnya.

Betapa lekasnya popularitas itu berlalu. Easy come easy go! Bukti bahwa bintang itu tidak bisa dipoles atau disulap begitu saja. Bintang yang diperoleh lewat reality show yang instan di televisi akan suru dengan lekas pula.

Budaya instan mengabaikan proses. Ujug-ujug ngetop, terkenal, dielu-elukan, muncul terus di televisi. Tapi dalam masa yang sangat pendek orang sudah lupa bintang karbitan itu.

Sayang, televisi kita masih tetap saja memproduksi bintang-bintang instan macam Feri dan Aan. Dan begitu banyak anak muda yang antre mendaftarkan diri menjadi calon bintang instan.

Mengapa masyarakat kita suka jalan pintas? Suteja menyebut lima alasan:

1. Malas, etos kerja rendah.

2. Kultur budaya yang buruk.

3. Tidak rasional.

4. Penyakit jiwa.

5. Mentalitas pecundang.

20 February 2013

Soekarwo, calon tunggal, calon pendamping

Pemilihan gubernur Jawa Timur tahun ini ibarat sayur kurang garam. Kompetisi yang ketat hingga tiga putaran seperti lima tahun lalu bakal sulit terulang.

Mengapa? Hampir semua partai merapat ke Soekarwo -Syaifullah Yusuf, gubernur dan wakil gubernur inkumben. Sampai sekarang belum ada calon lain yang muncul untuk berkompetisi dengan Karsa.

Khofifah tentu nama yang layak diperhitungkan. Tapi PKB pun belum sepakat untuk memajukan pesain berat Soekarwo lima tahun lalu itu. Sejumlah kiai sepuh malah memberi dukungan ke Pakde Karwo.

Bagaimana dengan PDIP? Sama saja. Partai nasionalis ini tak punya figur kuat yang bisa mengimbangi Soekarwo. Karena itu, bisa dipahami kalau sampai sekarang PDIP belum punya calon.

PDIP tentu belajar dari pengalaman lima tahun lalu ketika mencalonkan kader sendiri, Soetjipto, yang kalah telak. Bambang DH tidak mau maju. Pramono Anung menolak. Sirmadji tak punya potongan jadi cagub.

Golkar yang dulu mencalonkan ketuanya Soenarjo juga belajar dari pengalaman buruk itu. Apalagi ketua Golkar Jatim sekarang, Martono, lima tahun lalu menjadi ketua tim sukses Soekarwo.

Bagaimana kalau Soekarwo menjadi calon tunggal? Apakah dia akan berkompetisi dengan bumbung kosong seperti pilkades?

Rasa-rasanya tidak. Besar kemungkinan akan ada CALON PENDAMPING seperti pada masa orde baru. Yakni kandidat gubernur yang sengaja dipasang untuk formalitas demokrasi saja. Sebab, mekanisme pemilihan gubernur secara aklamasi atau konsensus tak lagi dikenal di Indonesia.

Quo vadis gubernur NTT?

Kalau di Jawa Timur sulit mencari pasangan yang mau maju sebagai calon gubernur, selain inkumben Soekarwo-Syaifullah Yusuf, di NTT ada LIMA pasangan yang akan bertarung pada pertengahan Maret 2013. Di NTT memang terlalu banyak pasangan yang ikut pemilukada baik pilbub atau pilgub.

Di beberapa kabupaten bahkan calon bupatinya ada enam pasangan. Politikus NTT itu cenderung (kata orang Jawa) RUMONGSO ISO tapi tidak ISO RUMONGSO. Merasa sangat mampu jadi bupati atau gubernur, padahal sebetulnya tidak bisa apa-apa. Orang jadi pejabat zonder know how!

Saya perhatikan pilgub NTT ini sangat elitis. Hanya menjadi konsumsi orang-orang di Kupang. Orang-orang kampung di Flores atau Lembata bahkan tidak paham kalau ada pemilihan gubernur. Boro-boro mengenali lima pasangan yang merasa bisa memperbaiki kesejahteraan rakyat NTT itu.

Awal Januari 2013, saya bertanya kepada seorang tokoh di pelosok Ileape, Lembata, yang sangat paling informatif dan melek politik. Bapak ini ternyata tidak tahu banyak soal pilgub. Dia hanya tahu kalau Gubernur Frans Lebu Raya maju lagi. Dia juga tahu Wagub Esthon Foenay pecah kongsi dan mencalonkan diri.

"Kami di desa tidak punya informasi. Pemilu terus, pilgub terus, tapi kondisi di kampung masih seperti yang engkau lihat sekarang," katanya.

Begitulah. NTT memang tidak punya tokoh yang suka blusukan macam Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Di NTT bupati atau gubernur sama dengan raja yang terpisah dari rakyat di kampung. Orang kampung yang bernasib baik jadi pejabat tiba-tiba lupa blusukan ke kampung. Bahkan, lupa berbahasa daerah.

Lantas, apa prestasi Gubernur Frans selama lima ini? Sulit diukur. Yang jelas, sampai sekarang belum ada program konkret yang bisa membuat orang NTT tidak lagi merantau ke Malaysia Timur. Belum ada industri yang menyerap tenaga kerja di NTT.

Orang NTT yang 20 tahun merantau, ketika pulang kampung, melihat tak banyak perubahan. Kondisi jalan raya bahkan lebih buruk ketimbang zaman Orde Baru. Moga-moga gubernur baru nanti bisa membuat NTT lebih maju.

19 February 2013

Kuliah Stravinsky bersama Slamet Abdul Sjukur

Di Indonesia saya kira belum ada dosen musik yang hebat, jenaka, kritis + sengak seperti Slamat Abdul Sjukur. Kata-katanya penuh kejutan dan inspiratif. Kita ketawa, geli, tapi dibuat malu sendiri.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha mengikuti Pertemuan Musik Surabaya (PMS) bersama Pak Slamet. Beliau berperan sebagai dosen musik dan pemancing diskusi. Asyik banget! Begitu banyak pengetahuan musik yang bisa kita serap dari pianis + komponis + budayawan ini.

Siang tadi Pak Slamet membahas Burung Api karya Igor Stravinsky. Kami diajak menyaksikan Orchestre de Paris dengan dirigen Pierre Boulez di Paris tahun 2008. Orkes ini bermain sempurna menggambarkan cerita tentang burung api itu.

Stravinsky bercerita bukan dengan kata-kata atau gambar, melainkan musik. Ada bebunyian ala burung di taman. Tukang sihir. Monster penjaga. Dialog antara pangeran dan tukang sihir.

Nada-nadanya rumit tapi asyik dinikmati. Penonton di Paris sangat puas menikmati konser di Piramida Kaca yang tersohor itu.

Yang sangat berkesan bagi saya pada PMS ini adalah cara Pak Slamet memperkenalkan berbagai instrumen orkes simfoni. Oboe, english horn, bason, horn, trombon, klaribet, tuba, timpani, silofon, harpa, cello dsb. Kita dilatih cara membedakan klarinet dan oboe yang beda tipis. Mengapa harpa bentuknya seperti itu. Dan seterusnya.

Yang sangat teknis, kita juga dikasih dua fotokopian partitur orkes simfoni. Saya hitung ada 32 part yang harus dikuasai dirigen. Jelas dirigen itu orang super karena dia harus membaca dan menggerakkan sekian puluh musisi dengan karakter instrumen yang berbeda.

Peserta kuliah musik ini cukup beragam. Ada pelajar SMK jurusan musik, guru piano kayak Lidya Lie, dosen musik kayak Pak Isfanhari, komponis muda kayak Gemma, dan orang awam kayak saya.

Semakin sering mengikuti kuliah Slamet A Sjukur semakin membuat saya sadar bahwa wawasan musik saya sebetulnya masih tingkat taman kanak-kanak. Terlalu banyak yang saya belum tahu ketika saya merasa sudah tahu.

Terima kasih Pak Slamet!

18 February 2013

Martin Luther dan reformasi kebablasan

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang om asal NTT di Jatim. Dia pengurus gereja protestan tepatnya GPIB. Orang-orang protestan dari NTT yang merantau ke Jawa biasanya gabung dengan GPIB karena kesamaan aliran dan tradisi.

Sambil ngopi saya pancing om asal Sumba itu. Mengapa orang protestan aliran karismatik dan pentakosta punya hobi bikin gereja baru? Kan sudah ada banyak gereja aliran sejenis di sekitar sini? Umatnya pun tidak banyak?

Om itu tersenyum lalu ketawa. "Itu memang masalah kami orang kristen, khususnya di Jawa," katanya. "Beda dengan kalian orang katolik. Dua puluh ribu orang pun bisa ditampung di satu gereja. Kristen ini terlalu banyak aliran, denominasi."

Saya pura-pura gak ngerti. Om pu maksud bagaimana? "Kalau orang kristen itu mau kebaktian di GPIB, GKJW, atau GKI, maka gereja di kota ini sudah cukup untuk semua orang kristen. Tapi kalau trennya kayak sekarang ya gereja tak akan pernah cukup."

Om yang protestan sejati, pengagum Luther, ini sudah lama resah dengan gerakan gereja-gereja karismatik. Bikin kebaktian di hotel, restoran, ruko, garasi, rumah dan di mana saja. Mereka tidak butuh gereja besar macam GPIB atau GKI permanen.

"Mungkin GPIB tidak menarik untuk orang karismatik dan pentakosta. Mereka bikin reformasi lagi kayak zaman Martin Luther dulu. Reformatio semper reformanda!" pancing saya.

"Hehehehe... Memang ini masalah pelik karena menyangkut keimanan, doktrin dsb. Orang karismatik pasti tidak cocok kebaktian di GPIB yang tenang," katanya.

"Om sendiri cobalah kebaktian di Bethany dan sejenisnya?"

"Waduh, beta sonde cocok! Om sudah tua."

Saya pun merenung. Gereja-gereja yang tumbuh tak terkontrol di Jawa itu lebih karena kebutuhan pendeta. Gereja jadi sumber nafkah keluarganya. Maka, dia tak akan segan-segan memboyong umat GPIB, GKI, Katolik dsb agar gerejanya penuh. Makin banyak umat makan banyak income!

Saya kira Martin Luther akan menangis melihat hasil reformasinya. Kata wong cilik: reformasi kebablasan!

SBY vs Anas - Majikan vs Buruh


Sekali lagi, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terlihat gagap menghadapi Anas Urbaningrum. Pidatonya runut, tenang, ternyata membingungkan rakyat. Khususnya orang yang bukan anggota Partai Demokrat.

Mula-mula, dalam pidato pertama, SBY meminta Anas fokus menghadapi masalah hukumnya. Manajemen PD diambil alih majelis tinggi, dewan pembina, atau apa pun namanya. Orang yang paham bahasa Indonesia, plus unggah-ungguh Jawa, menangkap pidato ini sebagai pelengseran Anas.

Tapi Anas, asli Jawa, membuat tafsiran yang berbeda. Bukannya fokus pada kasusnya, lengser, dia malah aktif ke mana-mana. Seakan-akan perintah SBY, pendiri dan pemilik PD, itu tidak pernah ada. Lucu juga mendengar pernyataan-pernyataan Anas di televisi.

Anehnya lagi, pidato SBY kemarin. Nadanya sudah lain sekali. Bahkan, dia seperti menyalahkan media yang memelintir pernyataannya. Bagaimana dipelintir kalau televisi berklai-kali memutar ulang pernyataan bos Demokrat itu?

Mungkin inilah politik khas Indonesia, khususnya lagi khas Demokrat, khususnya lagi khas SBY. Kata-kata seperti kehilangan makna. Kurang dari satu minggu, logika bisa jungkir balik.
Lagi-lagi kelihatan bahwa SBY ternyata tidak bisa menyingkirkan Anas Urbaningrum. Orang baru yang masuk PD setelah lengser tiba-tiba dari KPU. Anas ternyata sangat kuat, bahkan bisa balik melawan SBY yang sudah merekrutnya ke PD, dan kemudian jadi ketua umum. Bukan main Anas ini!

Semua orang tahu PD itu didirikan SBY, milik SBY, tugasnya menjadi kendaraan politik SBY sebagai presiden RI. Tidak relevan bicara AD/ART pasal sekian, pasal sekian... dalam konteks politik Indonesia. Sebab, SBY itu sejatinya sama dengan big boss pabrik yang memperkerjakan Anas di pabriknya sebagai manajer.

Lha, ketika si tuan pabrik meminta manajernya mundur (dengan alasan ini-itu), si orang upahan itu malah melawan si owner. Bahkan, si owner yang bisa-bisa disuruh mundur oleh manajernya. Bisa-bisa Anas yang malah memecat SBY, dan gantian Anas jadi pemilik pabrik.

Yah, kita lihat saja perkembangannya.

Yang pasti, semakin sering mengikuti konflik di tubuh PD, logika atau akal sehat kita makin rusak.    

13 February 2013

Hubert Han generasi ke-10 Han Siong Kong


Bocah berbadan subur itu tampak gesit di dalam bangunan tua. Dia ikut sibuk menata sesajen dan perlengkapans sembahyang ala Tionghoa. Kue tok, kue mangkok, kue keranjang, kemudian buah-buahan. Ada buah srikaya, jeruk, rambutan, dan tebu. Setelah semua sesajen ini siap, si bocah diajak berdoa bersama ibu dan ayahnya.

"Saya harus ikut melestarikan tradisi leluhur kami," ujar si bocah bernama Hubert Han ini. Sembahyang bersama ini dilakukan di Rumah Abu Keluarga Han, Jalan Karet 72 Surabaya, sehari menjelang tahun baru Imlek 2564, Sabtu (9/2/2013) siang.

Bocah 13 tahun ini merupakan generasi ke-10 keturunan Han Bwee Koo (generasi keenam), yang mendirikan rumah abu ini pada abad ke-18. Han Siong Kong, generasi pertama kali tiba di Lasem, Jawa Tengah, pada 1673. Ayah Hubert, Robert Han, tentu saja masuk generasi kesembilan.

Meskipun masih sangat belia, bahkan tidak merasakan zaman Orde Baru yang kurang kondusif bagi warga Tionghoa, Hubert ternyata well informed. Dia hafal di luar kepala sejarah keluarga Han, rumah abu (sembahyang) keluarga Han, hingga berbagai perlengkapan di dalam bangunan tua tersebut.

"Saya banyak membaca buku dan mendapat informasi dari Papa," kata bocah yang rajin membaca itu.

Tak heran, Robert dan istri, Tan Lin Meng, kerap memberi kesempatan kepada Hubert untuk menjadi 'pemandu wisata' atau guide dadakan. Ketika ada kunjungan mahasiswa atau komunitas pencinta sejarah, Hubert pun memperlihatkan kebolehannya menceritakan asal-usul nenek moyangnya yang berasal dari Provinsi Fujian di Tiongkok itu.

Hubert juga ikut mengoreksi salah kaprah sebutan 'rumah abu' yang sudah telanjur beredar di masyarakat. Menurut dia, meski disebut rumah abu, bangunan berarsitektur campuran Tionghoa, Eropa, dan Jawa ini sebetulnya sama sekali tidak menyimpan abu para leluhur Han. Yang ada hanya papan-papan nama dari kayu jati bertuliskan nama leluhur Han dalam aksara Tionghoa.

"Papan nama itu disebut sinci. Sinci-sinci di sini jumlahnya 131," jelas Hubert seraya menunjukkan sinci-sinci yang disimpan rapi tepat di belakang altar persembahan.

Nah, saat sembahyang, Hubert bersama orang tuanya menghadap ke sinci-sinci tersebut. Sesuai adat Tionghoa, saat upacara sembahyang disediakan teh di cangkir kecil untuk para leluhur. Jumlahnya pun 131.

Sebagai generasi modern yang lahir di era globalisasi, Hubert pun cukup fasih berbahasa Inggris. Karena itu, dia tidak rikuh ketika harus memberi penjelasan dalam bahasa internasional itu. Hubert bahkan terlihat lebih antusias menghadap pengunjung bule karena bisa sekalian memperlancar kemampuan speaking-nya.

"Mereka (bule-bule) itu kan native speaker. Jadi, kita bisa belajar bahasa Inggris langsung dari mereka," katanya seraya tersenyum.

12 February 2013

Gadis cilik di malam Sincia


Biasanya malam Sincia  di Surabaya diwarnai rintik hujan. Tapi malam itu cuaca cerah, hawa malam bahkan terasa gerah. Kota surabaya memang tidak diguyur hujan dalam sepekan terakhir.

Bukankah hujan saat malam tahun baru Imlek pertanda keberuntungan? Hoki yang baik sepanjang tahun? Kata engkong-engkong jadul sih begitu.

Tapi Juliet kecil justru bersyukur karena malam Sincia kali ini tidak turun hujan. "Kalau hujan kan barongsainya nggak bisa main," kata bocah SD tiga bahasa di kawasan HR Muhammad, Surabaya, itu.

Ditemani baby sitter asal Kediri, Juliet memang sangat menikmati permainan barongsai di halaman Kelenteng Hong San Ko Tee, Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya.

Dia sempat maju, seperti bocah-bocah lain, memberikan angpao kepada barongsai. Uang di dalam amplop merah itu langsung disambar barongsai yang mulutnya lebar. Juliet senang bisa memberikan angpao kepada remaja yang berjasa melestarikan budaya Tionghoa itu.

"Kata Mama, memberi angpao kepada barongsai itu justru membawa rezeki untuk kita sendiri. Suatu saat kita dapat hoki," katanya.

Malam kian larut. Jam di ponsel menunjukkan angka 23.55. Lima menit lagi ratusan umat melakukan doa bersama untuk melepas tahun lama, tahun naga, dan menyambut tahun baru, tahun ular. Juliet pun dipanggil ayahnya untuk persiapan sembahyang.

Ikut berdiri di depan altar, Juliet memegang hio warna kuning emas. Akhirnya, dipandu seorang pengurus kelenteng, jemaat melakukan doa bersama khas adat Tionghoa. Juliet menundukkan kepala, mengangkat wajah, mengunjukkan hio beberapa kali ke atas. Oh, rupanya gadis cilik ini sudah biasa melakoninya. Sehingga gerakan-gerakannya sama dengan jemaat dewasa.

Doa bersama itu hanya berlangsung sekitar 20 menit saja. Tak ada khotbah, sambutan, wejangan, dan sebagainya. Beda dengan kebaktian di gereja saya yang khotbahnya sering terlalu panjang. Plus nyanyian yang banyak.

Lalu, perayaan Sincia dilanjutkan dengan makan bersama menikmati hidangan khas jawa: rawon, pecel, lodeh, tahu tempe, telur ceplok. Chinese food malah tidak terlihat di atas meja. "Kita pakai makanan rakyat Jawa Timur saja. Murah meriah," kata Juliani Pudjiastuti, pengurus kelenteng.

Biasanya, Juliet selalu tidur pada pukul 21.00 setelah belajar atau menggarap pekerjaan rumah. Tapi khusus di awal tahun ular ini Juliet bisa tahan melek. Rupanya bocah sembilan tahun ini tak mau meninggalkan Shou Sui, tradisi melekan warga Tionghoa di malam tahun barunya.

Seorang engkong kemudian menceritakan legenda klasik Tiongkok. Katanya, malam tahun baru seperti itu dewa rezeki sedang gentayangan untuk menyebar keberuntungan atau rezeki kepada masyarakat. Maka, engkau sebaiknya tidak tidur hingga subuh.

Sayang, ketika dewa rezeki datang, engkau sedang tidur nyenyak dan bermimpi yang tidak jelas. "Itu sih kata engkong-engkong zaman dulu. Tapi kalau kamu sudah ngantuk ya sebaiknya pulang ke rumah, tidur," kata seorang kakek berkacamata yang duduk di bawah pohon pisang.

Juliet tersenyum mendengar cerita klasik yang sebetulnya sudah dia ketahui itu. Tapi rupanya dia masih kerasan di halaman kelenteng. Apalagi sebentar lagi ada pesta kembang api. Sementara saya dan beberapa wartawan, termasuk awak televisi Jakarta yang bikin siaran langsung, sudah tak tahan bergadang.

Surabaya tak lagi hujan

Musim hujan tahun ini agak aneh. Sempat hujan intensif pada awal Januari, sampai-sampai terjebak di Bandara Juanda karena tergenang, kini hujan tak ada lagi. Sudah hampir dua minggu ini Surabaya tidak diguyur hujan.

Seminggu terakhir sumuknya bukan main. Lebih panas ketimbang musim kemarau. Pakai dua kipas angin pun tidak mempan. "Saya yang jualan kopi di luar rumah saja sumuk. Padahal ini jam sepuluh malam," kata ibu warkop di Jl Arjuna.

Biasanya hari-hari permulaan tahun baru imlek seperti ini selalu hujan. Deras, ada angin, bahkan tergenang di mana-mana. Kok tahun ini malam sincia justru sumuknya bukan main.

Saya lihat banyak jemaat yang mandi keringat saat sembahyang sincia, malam tahun baru imlek, di kelenteng. Aneh! Biasanya justru hujan yang stabil meski tidak deras mengguyur sepanjang malam. Hari kedua tahun ular pun gerahnya sama dengan kemarau.

Bukankah ular air itu katanya banyak air? Hujan lebih deras, potensi banjir di mana-mana? Rupanya ramalam para suhu tionghoa sekarang sudah tidak jitu lagi. Sebab, musim hujan dan kemarau memang tidak lagi punya pola yang jelas.

Alam tak lagi seteratur dulu. BMKG pun sulit jadi pegangan. Jakarta mendadak jadi tambak raksasa, tapi sesaat kemudian jadi kering dalam waktu lama.

Begitu juga di kawasan Ngagel yang selalu basah di musim hujan. Kalau hujan deras genangan air bisa mencapai 30 cm. Jalan di depan kantor KPID Jatim biasa jadi tempat mandi anak-anak kecil.

Tapi dua pekan ini tak ada lagi mendung. Awan tak lagi hitam. Yang ada cuma keringat bercucuran di jalan raya saking panasnya suhu Surabaya. Akan sangat aneh jika musim hujan tahun ini hanya berusia DUA bulan.

09 February 2013

Gebyar Sincia di Singapore National Academy Sidoarjo


Auditorium Singapore National Academy (SNA) di kawasan Pepelegi, Waru, Sidoarjo, Jumat (8/2/2013), merah total. Para siswa, guru, dan orang tua murid mengenakan busana khas Tionghoa yang didominasi warna merah. Aneka hiasan di atas panggung pun menggunakan warna simbol kebahagiaan dan keberuntungan itu.

Bahkan, beberapa guru asal Eropa dan Amerika pun mengenakan busana Tionghoa. Dipandu pembawa acara berbahasa Mandarin dan Inggris, para siswa secara bergantian mengisi acara di atas panggung. Para siswa SNA mulai TK/PG hingga SMA membuktikan bahwa mereka tak hanya piawai di bidang akademik dan kemampuan berbahasa Mandarin dan Inggris, tapi juga berkesenian.

Yang menarik, beberapa lagu daerah Indonesia dibawakan dengan lincah dengan syair bahasa Mandarin. Seperti diketahui, SNA yang diresmikan pada 12 Maret 2005 ini memang merupakan sekolah internasional yang menggunakan kurikulum Singapura dan Indonesia. Selain pelajaran bahasa Indonesia, para pelajar juga dibiasakan berbahasa Mandarin dan Inggris.

"Perayaan tahun baru Imlek seperti ini memang selalu kami adakan setiap tahun. Karena tahun ini tahun ular, maka aksesoris yang dominan pun berupa gambar ular," jelas Leni Lindawati, senior marketing SNA.

Menurut Leni, pihaknya sengaja mengadakan perayaan Sincia lebih awal karena para siswa SNA yang mayoritas etnis Tionghoa ini dipastikan menikmati pergantian shio naga ke shio ular bersama keluarga. Meski begitu, pihak sekolah mengundang semua orang tua atau wali murid untuk bersama-sama menikmati kemeriahan perayaan tahun baru bersama anaknya.

"Dengan begitu, para orang tua bisa mengapresiasi penampilan anak-anak mereka," kata alumnus Universitas Kristen Petra itu.

Seperti perayaan tahun baru Imlek di tempat lain, menurut Leni Lindawati, para guru dan manajemen SNA mengharapkan keberuntungan dan berkat yang berlimpah di tahun yang baru. Ini juga disimbolkan oleh kehadiran Dewa Rezeki yang diperagakan seorang siswa. Para siswa dan undangan pun berebut foto bersama sang dewa keberuntungan itu.

"Asyik aja foto bareng dewa keberuntungan. Beliaunya kan cuma muncul setahun sekali," kata seorang siswi lantas tertawa kecil.

Salah kaprah istilah IMLEK

Empat pastor di Gereja Redemptor Mundi Surabaya ikut memeriahkan tahun baru Tionghoa.


Harian Kompas Sabtu ini, 9 Februari 2013, di halaman 26 menulis berita berjudul MERAYAKAN IMLEK BERSAMA KORBAN. Sepintas tak ada masalah karena memang sudah lazim. Tapi, bagi orang Tionghoa, atau orang bukan Tionghoa, tapi biasa bergaul akrab dengan Tionghoa, kayak saya, istilah IMLEK di situ kurang tepat.
Imlek kok dirayakan? 

Yang benar, orang Tionghoa di seluruh dunia merayakan TAHUN BARU. Orang Barat bilang CHINESE NEW YEAR. Orang Tionghoa di Surabaya bilang SINCIA. 

Tidak ada orang Tionghoa yang bilang: 

"Kita orang mau pigi restoran untuk merayakan IMLEK!" Hehehe....

IMLEK atau YINLI (Mandarin) = penanggalan bulan = LUNAR CALENDAR. 

Kalender Imlek ini beda dengan solar calendar yang dipakai penanggalan masehi. Karena itu, aneh kalau orang menyebut hari raya imlek atau merayakan imlek.

Yang benar ya merayakan TAHUN BARU atau GUO NIAN atau XIN NIAN atau SINCIA. Untuk membedakan dengan tahun baru umum (solar system) maka lengkapnya TAHUN BARU IMLEK. Atau, TAHUN BARU TIONGHOA atau TAHUN BARU CHINA.

Saya baru membaca buku CHINESE FESTIVALS karya Wei Liming. Buku itu hadiah dari Xiao Shan, sekretaris konjen Tiongkok di Surabaya. Xiexie ni! Dari buku itu saya jadi banyak tahu sejarah dan tradisi perayaan-perayaan Tionghoa yang sudah berusia ribuan tahun.

SINCIA disebut juga CHUN JIE atau SPRING FESTIVAL. Pesta musim semi yang sudah berusia 2000 tahun lebih. Selalu ada perubahan, modifikasi, dan penyesuaian di setiap dinasti. Tapi intinya sama dari masa ke masa.

Malam tahun baru merupakan momen penting untuk berkumpul keluarga besar. Makan bersama, minum, main apa saja, santai... sampai pagi datang. Melekan bersama itu dinamakan SHUO SUI. Anak-anak mendapat YA SUI atau ANGPAU istilah populer di Surabaya.

Siang hari tanggal satu bulan satu diadakan BAI NIAN atau mengunjungi keluarga, kerabat, relasi, atau tetangga. Yang muda mengunjungi yang tua. Saling mengucapkan selamat tahun baru. 

GONG XI FA CAI!  

07 February 2013

Pilgub Jatim tanpa greget

Pemilihan gubernur Jawa Timur benar-benar kehilangan greget. Beda betul dengan lima tahun lalu. Saat ini hanya Soekarwo yang sejak awal berniat maju lagi bersama pasangan lamanya Syaifullah Yusuf.

PDIP tak punya calon. Padahal partai nasionalis ini biasanya punya jualan istimewa seperti Jokowi di Jakarta. Bambang DH yang diharapkan maju pun terkesan gamang. Golkar jelas tak akan mencalonkan orangnya.

Tinggallah PKB yang kemungkinan memajukan Khofifah lagi. Kalau PKB pun merapat ke Pakde Karwo, bukan tidak mungkin pilgub nanti hanya ada satu pasangan calon alias Karsa.

Khofifah jelas bukan figur yang lemah. Dia sempat mengalahkan Soekarwo di putaran pertama, kedua versi hitung cepat, tapi kalah di MK. Ini karena Soekarwo bukanlah figur yang sangat kuat seperti Jokowi.

Tapi situasi sekarang berbeda dengan 2008. Waktu itu tidak ada inkumben. Semuanya sama-sama belum pernah jadi gubernur. Sekarang Karsa sudah membuktikan diri sebagai pemimpin Jatim selama lima tahun. Dan, menurut kalangan pengamat, prestasi Soekarwo di atas rata-rata.

Kalau di DKI Jakarta dan Jawa Barat (dan banyak provinsi lain) gubernur gegeran dengan wakilnya, kemudian wagub mundur, di Jatim justru sangat rukun. Gus Ipul komplementer dengan Soekarwo karena latar belakang santri nahdliyin plus kepiawaiannya mbanyol. Suasana menjadi sangat gayeng!

Maka, kalau Khofifah maju lagi, mungkinkah mengulang pilgub lima tahun silam? Kayaknya sangat sulit. Harus ada figur sekuat Jokowi yang disodorkan untuk melawan Soekarwo. Dan Khofifah bukanlah tipe Jokowi.

Sayang, partai-partai terkesan apatis menemukan figur mumpuni yang bisa membuat Jatim lebih dinamis. Sebagai provinsi besar, 40 juta penduduk, Jatim seharusnya dipimpin tokoh sekaliber Dahlan Iskan, Jokowi, atau CEO papan atas. 

Apa boleh buat. Hampir semua partai merapat ke Soekarwo-Syaifullah sehingga pertempuran boleh dikata sudah selesai sebelum dimulai. Kalau sudah tahu bakal kalah sama Pakde Karwo, kenapa harus repot-repot mengusung calon sendiri?

06 February 2013

Pacaran kebablasan di Suramadu

Setiap minggu polisi selalu merazia anak-anak muda yang berpacaran di Suramadu. Tepatnya di pinggir pantai yang berbatu di kaki jembatan kawasan Tambakwedi, Surabaya. Suramadu memang jadi salah satu tempat alternatif kongko-kongko karena pemandangannya menawan.

Mengapa pacaran kok dirazia? Siapa yang berhak melarang pacaran? Bukankah itu wajar untuk kaum muda? Toh bapak-bapak, om-om, tanta-tante pun ada yang pacaran (lagi)?

Pukul 00:00 tadi saya mampir ke Suramadu. Ngopi, menikmati laut di kaki Suramadu, nimbrung sama komunitas sepeda pancal di warung pojok dekat pintu air.

Wow ternyata benar. Cukup banyak remaja yang menyepi berduaan di atas batu. Bermesraan. Asyik cerita sampai lupa kalau sudah jam 12 tengah malam.

Kok belum pulang juga? Apa tidak dimarahi ortu di rumah? Saya hanya membatin, tak berani bertanya.

"Biarin aja anak-anak muda itu pacaran karena sekarang giliran mereka. Kita-kita kan sudah pernah melakukan seperti itu dulu," kata seorang bapak penggemar sepeda.

Menurut dia, pacaran di Suramadu justru aman karena selalu ada banyak orang di sana. Tidak mungkin pasangan muda itu berbuat yang melampaui batas, misalnya berhubungan seks, karena disaksikan banyak orang.

"Yang gawat justru yang suka booking cewek ke hotel kayak makelar impor sapi itu," tambah seorang mas mengacu pada kasus dugaan mafia sapi yang melibatkan petinggi PKS di Jakarta.

Yah, rupanya sulit melarang orang muda berpacaran kecuali di Aceh yang punya qanun-qanun dan sebagainya. Polisi sering razia, khususnya ketika AKBP Anom Wibowo memimpin polsek di kawasan utara, tapi nyatanya pacaran jalan terus. Bagaimana mungkin menghentikan gejolak kawula muda?

Mungkin yang bisa kita lakukan sebatas imbauan agar para ABG ini membatasi jam pacaran. Cukup sampai jam 22:00 atau 23:00 untuk malam minggu. Keterlaluan kalau sampai jam 01:00 masih asyik berduaan di atas batu.

Kapan pulangnya? Apa tidak dicari orangtua? Tugas sekolah/kuliah? Kasihan si cewek kalau terpaksa DO karena hamil, sementara si laki belum bekerja.

05 February 2013

Shio ular mulai 4 Februari 2013

Suhu Dian
Tahun baru Imlek atau Sincia (Xinnian) dimulai pada 10 Februari 2013. Namun, pergantian dari shio naga ke shio ular ternyata sudah terjadi pada 4 Februari pukul 00.31 WIB.

"Jadi, anak-anak yang lahir sesudah tanggal 4 Februari shionya shio ular meskipun belum tahun baru Imlek. Ini merupakan konsep perhitungan dalam kitab Tiongkok kuno yang disebut Tong Shu," ujar Suhu Dian, pakar fengshui, kepada saya.

Suhu Dian baru saja menerbitkan buku Almanak Fengshui 2013 Ular Air. Menurut dia, sebagian masyarakat selama ini beranggapan bahwa perayaan tahun baru Imlek (Yinli) bersamaan dengan pergantian shio atau xiao. Seakan-akan saat malam Sincia terjadi pergantian shio berdasar astrologi Tiongkok.

"Konsep ini kurang tepat karena tidak menyertakan pengaruh matahari terhadap pergantian musim di bumi. Jadi, pergantian shio harus dihitung dari berakhirnya musim dingin dan mulai masuk musim semi," terang suhu yang sudah banyak menulis buku-buku fengshui ini.

Merujuk pada konsep Tong Shu, sambung Dian, pergantian shio jatuh pada tanggal 4 atau 5 Februari. Bisa sebelum atau sesudah tahun baru Imlek atau Sincia. Sebagai contoh, tahun lalu, permulaan shio naga jatuh pada 4 Februari 2012 meskipun tahun baru Imlek jatuh pada 23 Januari 2012.

Menurut pria kelahiran Solo pada 1956 ini, Tong Shu alias Dong Su merupakan catatan tentang kalender bagi masyarakat Tiongkok kuno yang telah digunakan sejak 5.000 tahun silam. Almanak ini ditulis berdasar penelitian pengaruh gravitasi orbit rembulan terhadap kehidupan di bumi. Tong Shu ini menggabungkan pengaruh posisi matahari untuk menentukan pergerakan musim di bumi.

Bagaimana prediksi alam di tahun ular?

Menurut Suhu Dian, tahun ular kali ini disebut Gui Si atau ular berunsur air yang mengalir sampai jauh. Karakternya hampir sama dengan tahun naga yang baru dilewati. Curah hujan masih tetap tinggi dan mendatangkan banjir. Angin dan badai serig terjadi saat pergantian musim.

"Juga sering terjadi bencana kebakaran karena faktor alam dan manusia," paparnya.

03 February 2013

Barongsai lesu tanpa angpao


Barongsai alias lion dance, bagi warga Tionghoa, bukan sekadar tarian biasa. Tarian tradisional dari negeri Tiongkok ini dipercaya bisa membawa keberuntungan dan menghalau anasir jahat di alam raya. Karena itu, warga Tionghoa biasanya secara spontan memberikan angpao kepada barongsai.

"Memberi angpao untuk barongsai itu tidak akan membuat rugi seseorang. Justru bisa dapat hoki karena dia ikut memelihara tradisi leluhur," ujar Gunawan, salah satu pembina barongsai di Surabaya, kemarin.

Makna penting barongsai ini sangat disadari oleh warga Tionghoa, khususnya generasi tua. Begitu mendengar rombongan barongsai lewat di depan rumah, mereka buru-buru menyiapkan angpao untuk diberikan barongsai. Pemain barongsai kemudian beratraksi di depan rumah. Sementara si tuan rumah bersembahyang memohon perlindungan dan rezeki dari Sang Pencipta.

"Saya melihat tradisi memberi angpao kepada barongsai ini mulai merosot di masyarakat. Bahkan, banyak Tionghoa sendiri yang hanya menjadi penonton ketika ada atraksi barongsai," kata Gunawan prihatin.

Dengan memberi angpao, menurut dia, secara tidak langsung masyarakat ikut menjaga kelestarian tarian yang sudah berusia ribuan tahun itu. Uang yang terkumpul bisa dipakai untuk pembinaan grup barongsai atau konsumsi para pemain dan pemusik. "Ini yang rupanya kurang disadari oleh penonton. Ingat, kesenian tradisional hanya bisa hidup kalau ada kontribusi dari masyarakat," tukasnya.

Khusus barongsai, Gunawan menambahkan, kontribusi itu berupa pemberian angpao (uang di dalam amplop merah) yang nilainya sukarela. Biasanya, angpao yang masuk akan dikelola pemimpin sasana atau ketua perkumpulan untuk dibagikan kepada para pemain. Juga dipakai untuk pembinaan grup barongsai itu sendiri.

Di kalangan warga non-Tionghoa, menurut Gunawan, barongsai hanya dilihat sebagai atraksi tarian atau tontonan biasa. Karena itu, sangat jarang ada orang pribumi yang memberikan angpao kepada rombongan barongsai. "Tapi biasanya pejabat-pejabat seperti bupati atau wali kota mau merogoh koceknya untuk barongsai meskipun tidak diamplopi," kata pria 50-an tahun ini lantas tertawa. 

Sumi Yang presenter Metro Xinwen



Setelah Catherine Keng mengundurkan diri dari Metro TV, kini praktis Sumi Yang menjadi satu-satunya presenter berita berbahasa Mandarin di stasiun televisi Indonesia. Wanita kelahiran Bagansiapiapi, Kepulauan Riau, 1984, ini  menjadi guru bahasa Mandarin pertama di  stasiun televisi Indonesia.

Di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah, Malang, Sumi Yang tampak santai dan selalu menebar senyum. Dia kemudian menyapa anak-anak muda itu dengan sapaan khas: "Ni hao ma!"

Para mahasiswa yang memenuhi auditorium UMM ini pun menjawab senada: "Ni hao ma!"

Sumi pun tertawa kecil. "Yang benar, kalian harus menjawab, wo hen hao!" ujarnya ramah.

"Saya ulangi ya! Ni hao ma!"

Mahasiswa UMM pun kompak menjawab, "Wo hen hao!"

"Bagus sekali, murid-murid!" tukas Sumi Yang disambut tepuk tangan meriah para mahasiswa.

Laoshi (guru) cantik ini pun kemudian mengajak murid-murid dadakannya itu untuk menyimak beberapa ungkapan sederhana bahasa Mandarin di giant screen. Meski hanya sekitar lima menit, pelajaran bahasa Mandarin ala Wide Shot Metro TV ini cukup berkesan bagi pemirsa.

Sebelum menjadi presenter Wide Shot, bersama Gilang Ananda dan Putri Ayuningtyas, Sumi Yang dikenal sebagai pembaca berita atau presenter Metro Xinwen. Program berita berbahasa Mandarin Metro TV. Sumi sering mewawancarai pengusaha maupun pejabat Tiongkok dalam bahasa Mandarin yang sangat fasih. Karena itu, tak sedikit pemirsa yang mengira Sumi Yang ini orang Taiwan atau Tiongkok. Bukan warga negara Indonesia.

Anggapan itu terpatahkan setelah melihat penampilan Sumi Yang di Wide Shot. Presenter bernama lengkap Yang Jingling ini ternyata mampu berbahasa Indonesia dengan lancar, ceplas-ceplos, layaknya presenter televisi lainnya. Hanya saja, Sumi Yang masih diberi porsi khusus untuk membawakan Xinwen alias berita bahasa Mandarin di tengah program Wide Shot.

"Sumi Yang memberikan kejutan dalam Wide Shot. Kalau biasanya dia selalu tampil dengan full bahasa Mandarin, maka kini dia menunjukkan kepada pemirsa, kalau dia memang asli orang Indonesia yang juga fasih berbahasa Indonesia," kata Eddy Ginting, produser berita Metro TV.

Sebagai presenter Xinwen, Sumi Yang merasa perlu membumikan bahasa Mandarin agar dikenal dan dipelajari masyarakat di Indonesia. Sebab, bahasa nasional negeri Tiongkok ini sudah menjadi bahasa internasional, selain bahasa Inggris dan Arab. Kian melejitnya Tiongkok sebagai macan ekonomi baru juga semakin membuat Mandarin sebagai bahasa internasional yang strategis.

Karena itulah, setiap hari Sumi Yang setia mengajarkan ungkapan-ungkapan Mandarin praktis untuk pemirsa. Dia rekan presenternya dijadikan model siswa, sementara Sumi berperan sebagai laoshi.

"Pintar murid-muridku," katanya setiap kali dua rekan presenternya bisa mengucapkan lafal Mandarin dengan benar.

Suatu ketika, di acara Xinwen, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyampaikan statement dalam bahasa Mandarin tentang ekonomi dan kebudayaan. Sumi Yang bersam dua temannya di studio rupanya tidak menyangka kalau Dahlan Iskan, yang asli Jawa, kelahiran Magetan, ternyata mampu berbicara dalam bahasa Mandarin dengan fasih.

Setelah rekaman wawancara dengan Dahlan Iskan diputar, Sumi dan dua presenter Metro TV senyam-senyum.

"Kamu bisa nggak bicara kayak Pak Dahlan Iskan," tanya Sumi kepada Robert, salah satu presenter yang dari segi fisiknya keturunan Tionghoa.

"Nggak bisa," jawabnya.

"Makanya, belajar dong biar bisa seperti Pak Dahlan Iskan," pesan Sumi, alumnus Universitas .Bina Nusantara, Jakarta, ini.

Kedua  presenter pun tertawa bersama,

Melihat kemampuan Dahlan Iskan, yang baru belajar bahasa Mandarin pada usia yang tidak muda lagi, Guru Sumi sangat yakin bahwa bahasa Mandarin itu tidak sesulit yang diperkirakan banyak orang. Bisa dipelajari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Karena itu, cukup aneh kalau generasi muda keturunan Tionghoa justru tidak mampu berbicara atau menulis dalam bahasa leluhurnya.

"Saya ingin generasi muda Tionghoa di Indonesia punya sense of belonging yang kuat terhadap bahasa Mandarin, selain bahasa Inggris," katanya di sebuah situs internet.

Di era globalisasi ini, menurut Sumi, kemampuan berbahasa Inggris dan Mandarin (juga bahasa asing lain) menjadi nilai tambah ketika terjun ke dunia kerja. Sayang, begitu banyak peuang lepas begitu saja gara-gara kendala bahasa.

02 February 2013

Koes Plus di Pasar Pucang

Setiap malam puluhan orang cangkrukan di emperan toko Pasar Pucang, Surabaya. Ngopi, njajan gorengan, makan mi instan. Ada lagi yang asyik menonton televisi, khususnya siaran langsung sepakbola.

Saya pun sering mampir untuk cangkrukan di situ. Bersantai, menikmati hawa malam Surabaya. Wow, warung kopi di sebelah kembali memutar lagu-lagu Koes Plus.

Kembali ke Jakarta. Hidupku selalu sepi. Nusantara. Kisah sedih di hari Minggu. Kolam susu. Bis sekolah.

Begitu banyak orang yang ikut bersenandung atau menyanyi. Rupanya penggemar Koes Plus ini sangat bervariasi. Mulai belasan tahun hingga para lansia. Mereka hafal lagu-lagu band lawas asal Tuban itu.

Malam ini lagi-lagi Koes Plus diputar. Udara sejuk selepas diguyur hujan deras. Penikmat kopi tak sebanyak biasanya tapi tetap saja meriah. Asyik memang menikmati lagu lawas Koes Plus yang masih nikmat meski diputar tiap malam.

Koes Plus harus diakui merupakan band fenomenal di Indonesia. Sulit dipercaya, lagu-lagunya masih digemari sampai sekarang, setidaknya seperti yang saya rasakan di Pasar Pucang. Orang tak bosan mendengar lagu-lagu yang sama dari hari ke hari.

Mengapa tidak memutar lagu-lagu baru atau dangdut koplo? Sudah dilakukan. Apalagi stan itu memang berjualan CD/VCD musik dengan koleksi paling banyak lagu-lagu baru.

"Tapi yang bisa dinikmati cuma lagu-lagu lawas, khususnya Koes Plus," kata pedagang CD/VCD.

01 February 2013

Liem Ouyen tetap andalkan sempoa


Di era internet ini, ternyata masih banyak pengusaha Tionghoa yang menggandalkan sempoa ketimbang kalkulator dalam mengelola bisnisnya. Alat hitung tradisional asal Tiongkok itu bahkan dianggap lebih cepat dan akurat ketimbang kalkulator paling canggih sekalipun.

Liem Ouyen, yang bermarkas di Jalan Kembang Jepun, Surabaya, merupakan salah satu pengusaha yang tak bisa lepas dari sempoa. Di atas meja kerjanya ada sebuah sempoa klasik. "Saya punya kalkulator, tapi saya lebih suka pakai sempoa. Menghitung pakai sempoa itu pasti lebih cepat dan akurat," ujar Liem Ouyen kemarin.

Pria 67 tahun ini kemudian meminta seorang tamunya menghitung dengan kalkulator. Liem sendiri memakai sempoa kesayangannya. Hasilnya, dalam waktu singkat Liem sudah menyelesaikan hitungannya. Sementara sang tamu baru selesai beberapa menit kemudian.

"Singkatnya, kalau kita sudah tahu cara pemakaiannya, maka menghitung dengan sempoa itu pasti lebih cepat dan hasilnya benar. Kemungkinan salah sangat kecil karena bilangan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan bisa kita lihat di sempoa," ujarnya seraya tersenyum.

Liem Ouyen sendiri tidak menafikan kecanggihan kalkulator dan alat hitung modern lain, termasuk komputer. Hanya saja, menurut dia, hasil hitungan bisa keliru jika entry datanya salah. Belum lagi kalau terjadi gangguan (error) atau baterai lemah.

"Sempoa tidak pakai baterai atau listrik. Jadi, kemungkinan keliru hampir tidak ada," tukas Liem lantas tertawa kecil.

Selain alasan praktis, menurut koordinator Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya ini, alat hitung tradisional sempoa ini bisa membantu meningkatkan kualitas memori seseorang. Orang tidak cepat lupa atau pikun. Dan, itu dirasakan betul oleh pria kelahiran Muara Teweh, Kalimantan Tengah, 31 Juli 1945, itu.

"Saya ini walaupun sudah tidak muda, tapi tidak cepat lupa. Saya bisa mengingat dengan cepat, ya, antara lain karena tiap hari menggunakan sempoa," katanya.

Karena itu, Liem mengusulkan agar para pelajar, khususnya murid sekolah dasar, diberi pelajaran berhitung dengan sempoa. Jangan membiarkan anak-anak termanja dengan kalkulator. "Waktu kami sekolah dulu, sempoa ini menjadi alat peraga dalam pelajaran berhitung. Dan saya masih merasakan manfaatnya sampai sekarang," katanya.