26 January 2013

Tedja Suminar melukis di Tiongkok


Berbagai negara sudah dikunjungi Tedja Suminar, 76 tahun. Namun, pelukis senior Surabaya ini mengaku paling terkesan mengunjungi kampung halaman leluhurnya di Tiongkok. Tedja pun merekam aktivitasnya selama berada di negara panda itu dalam bentuk compact disk (CD).

"CD itu sengaja saya buat untuk kenang-kenangan. Sekaligus untuk menunjukkan kepada teman-teman betapa maju dan modernnya Tiongkok sekarang ini," ujar Tedja Suminar kepada saya.

Selama ini pelukis yang dikenal sebagai 'raja skesta' itu mengaku sudah mengetahui kemajuan Tiongkok lewat media massa. Namun, ayah dua putri ini tak menyangka kalau saat ini kota-kota di Tiongkok begitu modern layaknya kota-kota di Eropa atau Amerika.

"Padahal, dulu yang namanya Tiongkok itu sangat miskin. Ini yang membuat banyak warga setempat yang merantau ke seluruh dunia," katanya.

Nah, ketika ada kesempatan untuk jalan-jalan, Tedja kemudian mengajak dua anaknya serta seorang cucu untuk bersama-sama ngelencer ke Tiongkok. Berbeda dengan pelancong biasa, Tedja membawa peralatan melukis, khususnya sketsa.

"Saya memang selalu membuat sketsa ketika berkunjung ke kota mana pun baik di dalam maupun luar negeri," kata pelukis yang doyan merokok itu.

Di Lapangan Tiananmen, Beijing, di tengah lalu lalang ribuan pengunjung, Tedja pun asyik mengabadikan suasana kota terlarang di atas kanvasnya. Gairah melukisnya meluap-luap sehingga dia bisa menyelesaikan skesta dengan cepat. Tedja kemudian menggambar Temple of Heaven, Tembok Besar, stadion olimpiade Beijing, yang disebut Bird Nest Olympic Stadium, hingga Summer Palace.

Bukan itu saja. Tedja juga mengabadikan Monumen Dr Sun Yat Sen hingga suasana kota Shenzhen dan Hongkong. Menurut Tedja, Tiongkok yang sangat luas itu memiliki begitu banyak objek wisata kuno yang masih dipelihara hingga saat ini. Tempat-tempat wisata itu dirawat dengan baik sehingga mendatangkan devisa bagi negara.

"Kita di Indonesia pun seharusnya bisa seperti itu. Sebab, negara kita punya begitu banyak objek wisata sejarah dan pemandangan alam yang indah," katanya.

Mau diapakan sketsa-sketsa dari negeri Tiongkok itu?

"Saya ingin karya-karya yang saya buat di Tiongkok itu dipamerkan secara khusus agar bisa dinikmati oleh masyarakat," katanya.

1 comment:

  1. Saya bisa ikut merasakan, menyelami perasaan engkoh Tedja, ketika dia mengunjungi kampung leluhurnya di Tiongkok, tetapi bukan untuk pamer soal kemajuan negara Tiongkok, yang sekarang sudah diakui dan diketahui oleh manusia seluruh dunia.
    Saya memandang pengalaman engkoh Tedja dari sudut bathin, sesuai dengan Kitab Injil Mattheus Kapitel 1, yang menceritakan asal usal Jesus, dari Abraham Isaak Jakob Juda...sampai David.
    Dari Mattheus Kapitel 1, maka muncullah ungkapan sbb.: Nur wenn Du weisst woher Du kommst, kannst Du auch wissen wohin Du gehst. Terjemahan bebas sbb.: Hanya jika Engkau tahu datang darimana, barulah Engkau akan tahu mau pergi kemana.
    Ungkapan ini harap direnungkan oleh warga Tionghoa khususnya yang ada di Indonesia.
    Teman2 saya, Tionghoa Indonesia, kebanyakan sudah pernah keliling Tiongkok, tahu Beijing, Tembok Besar, Hangzhou, Xiamen, Shanghai,..dll, namun mereka tidak pernah berkunjung kekampung asal usul kakeknya. Mereka juga tidak mau tahu.
    Kalau saya tahu, leluhur saya menetap di Fujian Quanzhou sejak tahun 1400 Masehi, waktu pemerintahan kaisar Yongle, dinasti Ming. Dan jika dilacak lebih lanjut, keluarga kami sudah ada sejak tahun 1116 Sebelum Masehi, di provinsi Henan, Kecamatan Huaibin. Untungnya orang Tiongkok sudah mempunyai tulisan sejak lebih dari 3000 tahun, sehingga riwayat Marga kami adalah bentuk sejarah, bukan dongeng.



    ReplyDelete