12 January 2013

Sepakbola di Lembata bikin miris

Lapangan bola di Desa Atawatung, Ileape, Lembata.

Belum lama ini, saat berkunjung ke Lembata, NTT, saya diskusi cukup panjang dengan Fransisco. Dia anggota TNI AD, bertugas di Denpasar, Bali, dan baru kali ini sempat mengunjungi kampung halaman orang tuanya di Kedang, tepatnya Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata. Si Frans ini pemain bola bagus, andalan tim PSAD (Persatuan Sepakbola TNI Angkatan Darat) dari Kodam Udayana.

"Saya prihatin melihat perkembangan sepakbola di Lembata," katanya.

Maklum, klub-klub tidak pernah dibina serius. Celakanya lagi, banyak klub yang tidak punya bola untuk sekadar latihan. Saya sendiri melihat pertandingan bola antarkampung di Lewotolok, Kecamatan Ileape, menjelang tahun baru 2013. Bolanya lembek dan sebetulnya sudah tak layak pakai.

Bicara sepakbola di Lembata memang akan sangat panjang. Masalahnya sederhana, tapi komitmen Pemerintah Kabupaten Lembata untuk membina olahraga, khususnya bola kaki (orang NTT jarang pakai istilah SEPAKBOLA), di kampung-kampung. Padahal, kesebelasan Persebata (Persatuan Sepakbola Lembata) punya prestasi bagus di NTT.
Belum lama ini Persebata juara kedua kejuaraan sepakbola Piala Gubernur NTT, kalah di final sama Perse Ende. Apa tidak hebat? Padahal, Lembata kabupaten baru hasil pemekaran sejak 2000. Tempo dulu tim elite di NTT hanya berputar-putar dari Kupang, Ngada, Manggarai, Sikka, Flores Timur, dan Ende. Kini, Lembata ternyata punya tim yang diperhitungkan di seluruh Provinsi NTT.

Anehnya, saya melihat lapangan bola di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, sangat-sangat buruk. Tidak ada rumputnya. Bahkan, tidak ada jala di gawangnya. Ironis, karena lapangan yang jauh lebih buruk ketimbang lapangan galadesa di Jawa Timur itu tidak jauh dari rumah dinas bupati dan wakil bupati. Mungkin pejabat-pejabat di Lembata tidak paham aturan tentang standar minimal sebuah lapangan sepakbola.

Bagaimana pemain-pemain bisa berlatih dengan baik di lapangan brengsek macam itu? "Jangan bahas itulah. Saya sudah malas bicara. Kalau musim hujan, rumput tumbuh, lapangan bola malah jadi tempat menggembala kambing," kata Ama Ire, mantan pemain dan pelatih sepakbola terkenal di Lewoleba.

Setiap kali mampir ke desa-desa di Lembata, saya selalu memperhatikan kondisi lapangan bolanya. Aha, ternyata sama saja dengan zaman saya masih SD di Ileape. Lapangannya bukannya tambah bagus, karena Lembata sudah jadi kabupaten sendiri, malah tambah rusak. Sama sekali tidak ada inisiatif untuk sekadar merapikan lapangan, menanam rumput, menyiangi rumput liar, dan sebagainya.

Lapangan bola di Desa Waowala dikenal sebagai lapangan bola terbaik di Ileape, bahkan Lembata. Eh, saat saya mampir ke sana menjelang Natal 2012 lalu, kondisi lapangan di pinggir jalan ini sangat memprihatinkan. Tidak rata. Yang di dekat jalan (selatan) lebih tinggi daripada bagian utara. Kedua gawangnya tidak dipasang jala. Padahal, orang Waowala (atau Ileape umumnya) sejak dulu dikenal sangat piawai membuat jala atau pukat.

Masa, lapangan bola kok tidak punya jala? Tidak jelas marka-marka atau garis pembatas lapangan.

Lebih prihatin lagi, saat saya menyaksikan pertandingan bola antarkampung di lapangan Lewokea, Desa Lewotolok, di pinggir pantai. Jala di gawang sudah jelas tidak ada. Marka lapangan tidak jelas. Kedua wasit malah memakai daun sebagai pengganti bendera. Padahal, kostum kedua kesebelasan masih tergolong baru dan bagus.

Apakah orang Bungamuda atau Lamawara tidak bisa membuat bendera sederhana dari kain? Tidak bisa bikin jala untuk dipasang di gawang?

Saya hanya bisa mengelus dada melihat peradaban bola yang masih tergolong primitif di pelosok Lembata ini. Ketika daerah-daerah lain sudah puluhan tahun menjadikan bola kaki sebagai instrumen untuk promosi daerah, kita di NTT, khususnya Lembata, masih jalan di tempat.

Terlalu muluk kalau kita bicara sekolah sepakbola, pelatih, skema permainan, dan sebagainya. Sebab, hal yang sangat fundamental saja, seperti jala gawang, ternyata belum dikenal di NTT. Maka, saya tidak heran kalau pemain-pemain tarkam di Lembata sering kali terlibat pertengkaran seru tentang masuk tidaknya bola ke dalam gawang. Hehehe.....

5 comments:

  1. Kalau pemerintah tidak mau atau mampu, harusnya para penggemar dan pemain urunan dong, baik uang atau kerja bakti. Tidak semua masalah harus diselesaikan oleh pemerintah.

    ReplyDelete
  2. Sy siap mendukung klub sepak bola di Flores dan Lembata sebagai Agen Baju team dan sepatu bola.

    Kami sta di Maumere kunjungi web kami di www.jualbarnagjasa.com

    ReplyDelete
  3. saya guru SM-3T asal Aceh yang sedang mengabdi di kabupaten Lembata selama 1 thn, saya turut merasakan bagaimana sepakbola disini, kurangnya gairah, tp bakat-bakat banyak tersebar di pelosok kecamatan. saya sendiri atlet, pelatih, guru penjaskes yang ingin sepakbola di Lembata ini maju

    ReplyDelete
  4. sejarah sepakbola indonesia 1880/2013
    http://voetbal-nusantara.blogspot.com/

    ReplyDelete
  5. makasih informasinya sangat bermanfaat sekali buat saya yang dari tadi browsing di google cari informasi ini, makasih banyak ya, semoga sukses selalu. Jangan bosan update artikelnya selalu!

    ReplyDelete