26 January 2013

Redenominasi rupiah, jutawan pun langka


Mata uang Indonesia yang namanya rupiah sudah lama jadi bahan olok-olokan orang asing. Turis atau penulis yang baru pertama kali datang ke Indonesia biasanya menulis di internet betapa mereka terkejut karena tiba-tiba jadi jutawan.

Bayangkan saja. Uang USD 1.000 ditukar jadi Rp 10 juta. Membawa uang saku USD 10.000 dirupiahkan jadi Rp 100 juta. "Saya merasa seperti orang kaya baru di Indonesia," tulis seorang petualang di blognya.

Begitulah. Sudah lama orang asing mengeluhkan banyaknya NOL dalam rupiah. Saat ini nominal terkecil adalah Rp 500. Itu pun sudah tidak laku lagi untuk sekadar membayar parkir di Surabaya. Pengemis-pengemis pun sudah enggan menerima sedekah Rp 500. Anak-anak TK di Pulau Lembata, NTT, akan merengek kalau hanya dikasih uang Rp 500.

"Minta seribu, Om. Lima ratus tidak bisa beli permen," kata anak-anak di pelosok Indonesia Timur itu.

Mungkin tidak lama lagi uang Rp 500 kehilangan nilai tukar. Uang recehan koin boleh dikata sudah lama tidak bertaji di bumi Indonesia.

Karena itu, sejak 1990-an saya sudah tertarik dengan wacana redenominasi rupiah yang dilontarkan beberapa tokoh atau pengamat. Dulu, ketika menjabat Uskup Dili, Timor Timur, Monsinyur Belo pernah melontarkan kekagetannya karena jumlah nol rupiah terlalu banyak. "Harusnya satu dolar (USA) sama dengan satu rupiah. Bukan ribuan rupiah seperti ini," katanya suatu ketika.

Maka, setiap kali membaca berita tentang rencana redenominasi rupiah di surat kabar, saya selalu teringat Uskup Belo yang sudah lama pensiun. Oh, ternyata apa yang diwacanakan sang uskup itu kini mulai diseriusi pemerintah. Redenominasi rupiah, pemotongan angka NOL, bukan hanya sekadar wacana tapi kebijakan resmi. Tahun 2014 sudah mulai diterapkan meski masih dalam masa transisi.

Suka tidak suka, redenominasi rupiah perlu dilakukan agar otot rupiah tidak semakin loyo. Contoh sederhananya pisang goreng yang sangat disukai warga kelas bawah sampai atas. Sekarang satu pisang goreng di Surabaya (warung pinggir jalan) Rp 1000. Begitu ada kenaikan BBM atau mekanisme pasar biasa, berapa harga baru?

Bukan Rp 1100 atau Rp 1200 atau Rp 1250, melankan Rp 1500. Bahkan, pedagang yang pandai memanfaatkan situasi menaikkan menjadi Rp 2000. Apa artinya? Terjadi kenaikan harga 100%. SERATUS PERSEN. Kalau tren itu terus terjadi, maka lima tahun ke depan pisang goreng menjadi Rp 5000. Betapa hancurnya nilai tukar mata uang negara kita.

Kelemahan mata uang kita, inflasi tinggi, antara lain juga karena tidak dipakainya uang recehan di Indonesia. Andaikan harga bensin bersubsidi dinaikan dari Rp 4500 ke Rp 4600 atau Rp 4700 atau Rp 5000, niscaya tidak akan terjadi reaksi yang keras seperti tahun lalu. Tapi, karena pecahan kecil tidak berlaku, pemerintah ingin menaikkan menjadi Rp 6000, atau sekalian Rp 10000. Jelas persentase kenaikan yang luar biasa!

Jika redenominasi resmi diterapkan, tiga nol pada rupiah akan dipangkas. Uang Rp 1000 jadi Rp 1. Rp 10000 jadi Rp 10. Rp 100000 jadi Rp 100. Rp 1000000 (satu juta) jadi Rp 1000.

Maka, jumlah jutawan di Indonesia menjadi sangat sedikit. Saat ini semua orang Indonesia adalah JUTAWAN karena gaji minimum buruh rata-rata Rp 2000.000 (bisa kurang sedikit atau lebih sedikit). Ironis, semua pekerja di Indonesia berstatus JUTAWAN tapi hanya cukup untuk membeli makanan sederhana. Nantinya, dengan redenominasi, gelar JUTAWAN hanya disandang para pengusaha kaya yang saat ini punya aset triliunan rupiah.

Ketika ada uang Rp 1, maka istilah SEN yang sudah lenyap di Indonesia selama puluhan tahun otomatis muncul kembali. Rp 1 = 100 sen. Harga pisang goreng bisa menjadi Rp 1. Saya membayangkan, jika terjadi kenaikan harga karena isu BBM, pisang goreng naik menjadi Rp 1,10 atau satu rupiah 10 sen. Atau, cukup Rp 1,05 alias satu rupiah lima sen. Akan sangat berlebihan kalau harga barang dinaikkan dari Rp 1 ke Rp 2 alias naik 100 persen.

Redenominasi ini jelas membutuhkan sosialisasi dan pembiasaan. Orang-orang Indonesia yang sering bepergian ke luar negeri, bahkan tinggal di luar negeri, pasti lebih mudah menyesuaikan diri dengan pemotongan tiga nol. Sebaliknya, mayoritas orang Indonesia, yang lahir di atas tahun 1970, pasti pangling karena tidak pernah mengalami pecahan kecil bernama SEN.

Dengan redenominasi, maka ungkapan SATU SEN PUN SAYA TAK PUNYA ala Pujangga Baru akan muncul lagi di buku-buku sastra atau pelajaran bahasa Indonesia.

No comments:

Post a Comment