26 January 2013

Penduduk Sidoarjo lampaui 2 juta


Sidoarjo mungkin menjadi kabupaten/kota yang pertumbuhan penduduknya paling tinggi di Indonesia. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah sendiri sering takjub dengan kenaikan populasi yang drastis. Syukurlah, Abah Saiful melihatnya sebagai berkat. Juragan tambak yang kaya-raya ini justru welcome terhadap siapa saja yang ingin tinggal dan bekerja di Sidoarjo.

"Semua warga negara Indonesia berhak tinggal di Sidoarjo. Mereka bisa membantu membangun Sidoarjo menjadi lebih maju," katanya dalam berbagai kesempatan.

Jumat, 25 Januari 2013, di halaman SMAN 4 Sidoarjo, Abah Saiful kembali bicara soal populasi. Menurut dia, populasi yang melonjak ini sama sekali bukan karena angka kelahiran, wong Sidoarjo suka manak, tapi karena migrasi. Begitu banyak orang dari kabupaten/kota lain, bahkan luar Jawa Timur, memilih tinggal di Sidoarjo.

Saat menjabat wakil bupati, mendampingi Bupati Win Hendrarso, tahun 2000, penduduk Sidoarjo hanya 1,15 juta jiwa. Angka yang tergolong tinggi mengingat Sidoarjo merupakan kabupaten yang paling sempit di Jawa Timur. Setiap tahun tumbuh 7-8 persen.

Sekarang ketika menjabat bupati, Abah Saiful kembali mengecek ke dinas kependudukan. Wow, saat ini penduduk Kabupaten Sidoarjo 2,047 jiwa. Angka ini belum termasuk penduduk musiman yang tidak ber-KTP Sidoarjo. Ribuan buruh pabrik, yang tersebar di 18 kecamatan, biasanya enggan mengurus KTP baru. Mereka pakai KTP dari kampung halamannya di Madiun, Bojonegoro, Jombang, Jember, Salatiga, dan sebagainya.

Karena tren migrasi terus meningkat, bisa dipastikan 10 tahun ke depan penduduk Sidoarjo bisa mencapai 4,5 juta. Dan itu berarti penduduk pendatang (macam saya) jauh melebih penduduk asli yang keturunan kawula Kerajaan Jenggala dan eks Kabupaten Sidokare, 154 tahun silam.

Abah Saiful juga melihat pertambahan penduduk ini membawa masalah lain yang tak kalah hebat. Salah satunya produksi SAMPAH rumah tangga. Volume sampah memang meningkat drastis, jauh melampaui pertumbuhan penduduk. Pemkab sudah kewalahan karena lima tempat pembuangan akhir (TPA) yang pernah ada, kini tinggal SATU di Tambakkalisogo, Kecamatan Jabon. TPA ini pun sudah berkali-kali didemo warga karena dianggap menimbulkan polusi, bau, dan sebagainya.

Bagaimana kalau pemkab tidak punya solusi mengolah sampah? Pak Bupati sudah lama menjalin kesepakatan dengan investor Swiss (kalau tidak salah), tapi sampai sekarang belum jelas kapan instalasi pengolahan sampah modern itu dibangun di Sidoarjo. Sementara kesadaran warga untuk mengolah sampah rumah tangga belum bagus.

Jangan lupa, para pendatang yang memenuhi Sidoarjo itu waktunya habis terpakai untuk bekerja di pabrik atau berbagai kantor di Surabaya. Tidak ada waktu untuk mengolah sampah. Tak ada waktu untuk terlibat di poskamling. Atau, sekadar cangkrukan bersama warga lain. Ini juga menjadi potensi bahaya di masa mendatang.

Tapi ekonom Kresnayana Yahya dari ITS Surabaya sudah lama melihat pertumbuhan penduduk Sidoarjo ini sangat positif dari sisi ekonomi. Mengapa? Pendatang-pendatang yang masuk Sidoarjo ini hampir semuanya berpendidikan paling rendah SMA/SMK. Mereka menjadi sumber daya manusia berkualitas yang mampu menggerakkan ekonomi.

"Jadi, Kabupaten Sidoarjo menjadi tempat yang paling prospektif di Jawa Timur," kata Kresnayana.

No comments:

Post a Comment