11 January 2013

Minat baca sangat rendah di NTT

Waktu mudik ke Lembata, NTT, belum lama ini saya membawa koran, majalah, dan sejumlah buku. Selain dibaca sendiri, saya ingin tahu minat baca orang di kampung kelahiran saya.

Saya pun meletakkan koran, majalah, buku itu di tempat terbuka. Siapa saja bebas membaca, kata saya. Sayang, tak ada yang berminat membaca. Cuma ada dua bocah SD yang menjadikan majalah dan buku itu sebagai bahan mainan.

Saya memang sudah lama prihatin dengan minat baca di NTT. Ketika masih kecil di kampung, saya melihat banyak surat kabar DIAN, majalah KUNANG-KUNANG, dan majalah HIDUP di beberapa rumah penduduk. Lumayan buat baca-baca, pengisi waktu senggang.

Anehnya, di zaman internet ini, ketika anak-anak muda di kampung doyan main HP, bahan bacaan seperti koran, majalah, buku tak ada lagi. Termasuk di rumah saya sendiri. DIAN sudah lama tidak terbit. Koran-koran lain entah POS KUPANG atau FLORES POS tidak masuk kampung. Maka, di rumah hanya ada buku-buku doa, YUBILATE, dan kitab suci.

Ketiadaan bacaan, alih-alih taman bacaan atau perpustakaan, tentu saja membuat budaya lisan berkembang makin subur di Lembata, khususnya Ileape. Orang kampung begitu doyan bicara. Sebarkan gosip. Ngerasani orang. Omong tak pernah putus.

Kita yang sedang berlibur pun nyaris tak punya waktu lagi untuk membaca karena sikonnya memaksa kita untuk nimbrung dalam obrolan panjang. Tahu-tahu sudah sore. Tahu-tahu sudah malam. Tahu-tahu masa cuti natal sudah berakhir.

No comments:

Post a Comment