08 January 2013

Mabel Garcia, soprano, guru Sekolah Ciputra


Wanita asal Argentina ini yang kini menetap di Surabaya ini bukan sekadar guru musik dan seni pertunjukan di Sekolah Ciputra, kawasan Citraland. Mabel Garcia ternyata seorang penyanyi opera yang sudah pernah tampil dalam sejumlah konser di berbagai negara.

Belum lama ini Mabel Garcia memamerkan suara soprannya dalam konser bersama Surabaya Symphony Orchestra (SSO). Meski belum setahun tinggal di Surabaya, ibu satu anak ini mengaku terkesan dengan keramahan dan kemampuan musikal anak-anak didiknya.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Mabel Garcia di ruang kerjanya, kompleks Sekolah Ciputra, Surabaya, menjelang Natal 2012.

Sejak kapan Anda tinggal di Surabaya?

Baru sekitar setengah tahun di Surabaya. Kebetulan saya dikontrak untuk mengajar di Sekolah Ciputra selama dua tahun sejak Juli 2012. Jadi, saya masih punya banyak waktu untuk mengenal lebih banyak Kota Surabaya dengan segala kekahasannya.

Di Sekolah Ciputra Anda mengajar musik?

Ya, salah satunya memang musik, karena itu dunia saya, passion saya di musik klasik. Tapi sebetulnya saya dipercaya jadi koordinator performing arts. Jadi, tidak hanya musik, tapi juga seni tari (dancing), drama, teater.

Bagaimana Anda menilai apresiasi musik di kalangan masyarakat Surabaya?

 Tentu saya belum bisa menilai terlalu jauh karena selama ini saya lebih banyak berkumpul dengan para siswa saya di Sekolah Ciputra. Saya senang karena para siswa di sini sangat musikal. Mereka cepat sekali menangkap apa yang saya ajarkan. Bahkan, sebagian siswa sebetulnya sudah ikut pelajaran atau kursus musik di luar. Sehingga, ketika performing, persiapannya tidak butuh waktu lama.

Sebelum di Surabaya, Anda bertugas di mana?

Wow, saya sudah berkeliling ke banyak negara. Saya suka traveling dan itu rupanya cocok dengan profesi yang saya tekuni sekarang. Saya tidak hanya mengajar, tapi juga berpartisipasi dalam konser-konser di negara-negara yang saya datangi. Dan itu memberikan banyak sekali pengalaman dan wawasan berharga buat saya. Saya jadi mengenal begitu banyak orang dari beberapa negara dengan karakter yang berbeda. Sangat menarik.

Negara mana saja?

Argentina tentu saja, kemudian Amerika Serikat, Haiti, Singapura, Korea Selatan, Turki, Kolumbia. Saya juga pernah bekerja di Timur Tengah, khususnya Dubai (Uni Emirat Arab). Negara-negara itu sangat jauh dari kota asal saya di Argentina. Anda bisa perhatikan peta ini (menunjuk peta dunia di internet), Argentina dan Indonesia terpisah sangat jauh. Tapi, thanks God, saya diberi kesempatan untuk tinggal dan mengajar di Kota Surabaya, Indonesia.

Sebelum bertugas di Surabaya, Anda sudah pernah ke Indonesia?

 Pernah satu ke Bali, karena Bali itu sangat terkenal di seluruh dunia. Tapi cuma sebentar karena saya hanya jalan-jalan sebagai turis. Jadi, sebetulnya saya kurang mengenal Indonesia secara mendalam.

Bagaimana Anda membandingkan Indonesia dengan negara-negara yang pernah Anda tinggali?

Wow, Indonesia punya kebudayaan yang sangat kaya dan beragam. Karakter masyarakatnya pun beda dengan Singapura atau Malaysia meskipun masih bertetangga. Semua negara yang pernah saya datangi itu unik. Kita tidak bisa meng-copy begitu saja apa yang ada di negara lain karena pasti tidak akan cocok. Biarlah Indonesia tumbuh dan berkembang dengan budaya dan karakternya sendiri.

Di Indonesia pada umumnya peminat musik klasik, opera, atau fine art lainnya sangat sedikit. Orang lebih gandrung budaya pop.

Di negara saya, Argentina, juga sebetulnya penggemar musik klasik atau opera terbatas. Tapi orkes-orkes simfoni dan konser-konser musik klasik di sana cukup banyak. Argentina dan negara-negara Amerika Latin itu kehidupan musik klasiknya tidak semeriah di Eropa. Kalau di Eropa, musik klasik jauh lebih semarak karena mereka kultur mereka sangat mendukung. Beda dengan negara-negara berkembang.

Lantas, bagaimana cara menarik minat masyarakat?

Pemerintah tidak bisa tinggal diam. Harus ada investasi di bidang kebudayaan baik itu musik, seni tari, seni lukis, teater, dan sebagainya. Invetasi budaya ini tidak bisa dipetik hasilnya dalam jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang pasti akan ada hasilnya. Tanpa investasi budaya, suatu ketika masyarakat menjadi kehilangan pegangan dan karakternya.

Investasi budaya seperti apa yang Anda maksud?

Macam-macam. Bisa dengan membuat gedung pertunjukan, concert hall, mendukung sanggar-sanggar kesenian, dan sebagainya. Semua itu butuh uang. Hampir semua orkestra yag bagus di dunia pasti mendapat subsidi dari pemerintah atau swasta. Kita tidak bisa menikmati konser dengan nyaman kalau tidak ada concert hall.

Investasi budaya yang juga sangat penting adalah melalui pendidikan. Anak-anak harus dididik dan dilatih untuk mengenal kesenian, entah musik, dancing, drama, teater, seni tradisional, sejak kecil. Kelak ketika dewasa mereka pasti punya apresiasi seni yang bagus. Dan mereka akan men-support kegiatan-kegiatan kesenian misalnya setelah jadi pengusaha yang sukses. Apa yang kita tanam sejak kecil, itulah yang akan kita panen setelah dewasa. Saya sendiri pun belajar musik sejak masih anak-anak. Akhirnya, saya merasa bahwa passion saya memang ada di musik.

Anda sudah bisa membawakan lagu-lagu Indonesia?

Hehehe.... Belum bisa. Tapi suatu waktu saya coba menyanyikannya. Paling tidak memainkan komposisi Indonesia di piano saya.




Egenson adalah Segalanya

 Begitu bangga dan sayangnya Mabel Garcia pada Egenson Raul. Bocah enam tahun ini diadopsi dari Haiti, negara kecil di Kepulauan Karibia. Di kawasan Citraland, Surabaya, Mabel tinggal bersama anak laki-laki berkulit gelap itu.

"Egenson itu bagian dari jiwa saya. Karena ada dia, saya tidak merasa kesepian meskipun tinggal jauh dari Argentina," kata Mabel Garcia seraya menunjukkan pas foto Egenson Raul.

Sekitar tiga tahun lalu, Haiti diguncang gempa bumi sangat dahsyat. Negara yang penduduknya hanya sekitar 10 ribu jiwa itu pun hancur berantakan. Saat itu Mabel tengah berada di Korea Selatan untuk bekerja sebagai guru musik plus penyanyi opera.

Selama enam hari dia tak bisa tidur karena memikirkan nasib Egenson. Waktunya dihabiskan untuk menelepon dan browsing internet untuk mencari tahu nasib anaknya. Dia kemudian lega karena bocah itu selamat. "Anak saya itu segalanya. Dia adalah hidup saya," katanya.

Karena itu, tak heran, Mabel Garcia memberikan perhatian ekstra kepada si Egenson. Apalagi, di Surabaya tak ada orang lain yang menemani selain dirinya sendiri. Mabel pun bisa membatalkan acaranya sewaktu-waktu jika bocah asal Haiti itu hanya sakit sedikit saja.

"Sejak awal saya biasakan memutar musik yang berkualitas untuk dia nikmati," katanya. (rek)

No comments:

Post a Comment