28 January 2013

Kartu merah rusak sepakbola


Saya selalu kecewa berat ketika melihat wasit mengeluarkan kartu merah dalam permainan sepakbola. Baik kartu merah langsung maupun akumulasi kartu kuning. Begitu salah satu pemain, apalagi dua atau tiga pemain, diusir keluar, maka game over.

Lebih parah lagi kalau kartu merah itu sudah keluar sejak menit-menit awal. Katakanlah pada 45 menit pertama. Permainan sepakbola jadi rusak. Skema main, taktik, strategi tim yang defisit pemain, berubah total. Kita tidak bisa lagi menikmati keindahan sepakbola.

Kasus kartu merah dini ini terjadi saat Barcelona menghabisi Osasuna 5-1 dini hari tadi. Belum apa-apa, ketika skor 1-1, seorang pemain Osasuna terkena kartu merah. Sia-sia sudah pengorbanan saya menahan kantuk hingga 01.30 hanya untuk menikmati permainan indah Messi, Xavi, Iniesta, dan kawan-kawan.

Bagaimana Osasuna bisa menang kalau hanya main dengan 10 orang? Main 11 orang saja susah menang. Bahkan, kalaupun diizinkan main dengan 15 orang pun Osasuna sudah pasti kalah menghadapi kehebatan tim Catalan itu.

Maka, apa boleh buat, saya pun mematikan televisi. Sia-sia menonton Barca vs Osasuna mengingat skor akhir sudah bisa ditebak. Messi bisa dengan mudah memborong empat gol. Berantakan!

Saya memang sudah lama mengeluhkan aturan kartu merah dalam sepakbola. Hukuman yang memang wajar untuk pemain-pemain kasar, tapi di sisi lain merusak permainan. Tidak ada lagi kompetisi ketika jumlah pemain salah satu tim lebih banyak daripada tim lain. Tim yang defisit pemain pasti bertahan total. Mengganti penyerang dengan bek.

Osasuna jelas sangat menderita. Sudah kena kartu merah, dihukum tendangan penalti pula. Melawan tim sehebat Barcelona pula.

Kepada beberapa bekas pemain bola, saya pernah usul bagaimana kalau pemain yang kena kartu merah bisa diganti. Bukankah pemain kasar layak dihukum? Benar. Tapi hukumannya dengan melarang pemain itu untuk beberapa pertandingan. Kalau selama ini pemain yang terkena kartu merah diskor dua pertandingan, kan bisa ditambah jadi lima pertandingan. Bisa juga lebih lama tergantung tingkat kesalahannya.

Begitu pemain pengganti masuk, maka jatah pemain pengganti tinggal dua. Tim akan lebih hati-hati bermain. Tidak kasar. Tidak seenaknya main.

Saya juga senang menonton pertandingan bola basket. Mana ada salah satu tim bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit? Begitu juga bola voli dan olahraga tim lainnya.

1 comment:

  1. perlu diusulkan ke fifa. jatah pergantian pemain juga hy tiga shg kadang striker terpaksa jadi kiper. isu ini sebetulnya pernah dibahas joy pengamat bola di tv.

    ReplyDelete