21 January 2013

HARRY TANOE TERLALU NAIF



Sebagai raja media, pemilik banyak stasiun televisi, Hary Tanoesoedibjo seharusnya sangat melek politik khas Indonesia. Sayang, arek Surabaya ini terlalu polos. HT termakan retorika yang terus-meneruskan Surya Paloh sebagai pendiri + pemilik Nasdem (Nasional Demokrat).

Idealisme politik itu tidak ada kecuali ketika para pejuang bikin partai di era kolonial seperti PNI-nya Bung Karno. Atau partai-partai yang ikut pemilu 1955. Saat itu ideologi masih sangat kuat. Mangan ora mangan sing penting ideologi!

Rupanya HT sangat percaya pada ideologi. Seakan-akan ada partai yang benar-benar MERESTORASI Indonesia. Seakan-akan Nasdem itu dipenuhi orang-orang idealis yang tak punya nafsu kekuasaan.

Maka, HT kecewa berat dan memilih mundur. Kecewa karena salah satunya Surya Paloh ingin menjadi ketua umum. Mengambil alih kekuasaan setelah Nasdem lolos sebagai peserta pemilu 2014.

Lha, kok HT baru tahu kalau bos Media Group, yang pidatonya selalu disiarkan panjang oleh Metro TV itu ingin jadi ketua umum? Bukankah sejak awal sudah kelihatan sekali gelagatnya?

HT lupa bahwa Surya Paloh gagal menjadi ketua umum Golkar. Kalah sama Aburizal Bakrie. Kemudian bikin ormas Nasdem, kemudian jadi partai. Tentu saja partai ini untuk kendaraan politik Surya Paloh. Maka, sangat wajar Surya berhak jadi ketua umum. Dan wajar pula kalau Surya ingin maju capres dengan kendaraan Nasdem.

Aneh, raja media sekaliber HT tidak bisa membaca dinamika politik yang sangat pragmatis itu. Boleh dikata partai-partai kita cuma sekadar kendaraan atau alat politik tokohnya.

Demokrat dibentuk SBY untuk kendaraan politik jadi presiden. Megawati dengan PDIP. Prabowo dengan Gerindra. Wiranto dengan Hanura. Amien Rais dengan PAN. Golkar jadi rebutan dan dimenangi Bakrie.

Partai ideal sebagaimana disampaikan HT di tvone sore tadi rasanya impossible saat ini. Maka, keputusan HT mundur dari Nasdem layak diapresiasi. HT sudah telanjur menyalahgunakan televisi-televisinya untuk promosi Nasdem.

6 comments:

  1. hary tanoe jadi rebutan parpol2 krn dia punya begitu banyak tv untuk kampanye. ada kemungkinan dia mundur krn ada tekanan dr penguasa atau golkar. yg paling ideal hary tanoe seharusnya netral, tidak usah ikut parpol, krn nanti RCTI, MNCTV, Global TV, Sindo dsb dijadikan media kampanye parpol.

    ReplyDelete
  2. hahahaa..
    kasian HT, terlalu lugu beliau..

    ReplyDelete
  3. manuver utk menggemboskan nasdem. tapi aq juga jenuh dg iklaniklan nasdem di tv yg sangat byk. gak usah politik lah bung hary tanoe, mending ngurusin bisnis aja.

    ReplyDelete
  4. Hary Tanoe iku lulusan SMA St Louis I, 4 tahun neng nduwurku. Biyen terkenal ndablek, saking ndableke sampe wis lulus suwi pun sik krungu jenenge di antara guru lan murid SMA St Louis. Ndableke yo termasuk seneng tawuran karo SMA liyane. Saiki dekne dadi milyarder. Kesimpulan: nek arep sugih nemen kudu dadi wong ndablek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... ndablek pintar golek duwit. makanya kaya sampek tujuh turunan. kalo harta udah byk dia perlu masuk politik biar punya kesempatan aktualisasi diri.

      Delete
  5. HT SUDAH JADI MODEL IKLAN NASDEM, HABIS UANG BANYAK TAPI AKHIRNYA TERSINGKIR JUGA. NASDEM = SURYA PALOH.

    ReplyDelete