05 January 2013

Diperas tukang ojek di Lembata

Pesawat SUSIAIR mendarat di Bandara Wunopito, Lembata, 24 Desember 2012.
Salah satu profesi baru di NTT, khususnya Lembata, adalah ini: tukang ojek. Mengantarkan orang dari kampung ke kampung atau kampung ke Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata. Jangan kaget, begitu Anda turun di Bandara Wunopito, para tukang ojek berebut menawarkan jasa.

Tukang ojek juga banyak mangkal di pelabuhan, pasar, dan tempat-tempat keramaian lainnya. Mereka cukup sopan menawarkan jasa.

Sayang, tak sedikit tukang ojek itu yang tega memeras konsumen. Khususnya wajah-wajah baru. Khususnya wajah-wajah Jawa yang dianggap uangnya banyak. Ojek jarak pendek, kurang 10 kilometer, pun dipasang tarif tinggi. Alasannya ada-ada saja.

Ketegaan ojek-ojek Lembata ini mulai terasa dalam 10 tahun terakhir karena tekanan ekonomi. Sulitnya mencari uang di kampung (pabrik tidak ada, proyek-proyek sepi, industri nihil, perkebunan tak ada) membuat orang-orang tega menggorok sesama orang Lembata. Uang memang tak kenal saudara atau keluarga.

"Sekarang ini numpang motor sama keponakan pun harus bayar. Paling tidak untuk beli bensin," kata Kewa, orang Ileape.

Beda dengan sebelum tahun 2000, orang bisa nunut motor atau mobil gratis. Dulu, bahkan orang yang naik motor selalu berhenti untuk mengajak orang yang jalan kaki menumpang motornya. Gratis! Kini, jangankan diajak nunut motor, disapa di jalan pun tidak. Perubahan budaya ini, saya kira, membuat para perantau di Malaysia atau Jawa tidak akan betah pulang kampung (apalagi pernah diperas ojek).

Saya baru saja mendapat pengalaman buruk di kampung. Pagi-pagi hujan, tidak deras tapi stabil, sementara saya harus kejar pesawat Susiair di Lewoleba. Motor milik adik saya gembos. Tak ada pilihan selain naik ojek atau mobil carteran. Maka, tukang ojek pun jual mahal. Kesempatan emas untuk dapat uang banyak karena mau tidak mau saya harus mengejar si Susiair itu.

Apa boleh buat. Pagi itu tukang ojek punya rezeki. Saya harus bayar Rp 100.000 hanya untuk jarak 22 kilometer. Daripada tiket hangus, tak jadi terbang ke Kupang, untuk selanjutnya ke Surabaya.

Saya sedih bukan karena uang Rp 100.000 untuk si ojek. Tapi menyayangkan tukang ojek di kampung yang tak punya etika bisnis dan kehilangan rasa kekeluargaan. Cinta uang membuat kekerabatan di bumi Lamaholot makin renggang. Bagaimana mungkin jarak 22 kilometer dipungut Rp 100.000?

Sejahat-jahatnya tukang ojek di Jawa Timur, dia tak akan mengutip tarif selangit untuk jarak pendek. Tukang ojek di Kupang, langganan saya Alfons dan Donny, pun punya kriteria jarak dalam menentukan tarif. Orang Kupang ini akan mengembalikan uang bila kita kasih lebih. Kurang dia bilang kurang, terlalu banyak dia kembalikan.

Sejahat-jahatnya pedagang Tionghoa, dia tidak akan menjual beras raskin Rp 8.000 per kilogram hanya karena pembeli sangat kepepet butuh beras. Etika bisnis ini yang saya rasa tidak dihayati sebagian tukang ojek di Lembata.

3 comments:

  1. di Bali-pun ada daerah pariwisata yang keadaannya seperti ini, sehingga membuat wisatawan malas untuk berkunjung karena "pemaksaan" dari pedagang2 dan pemandu wisata setempat

    ReplyDelete
  2. Memang butuh pemerintah yg tega untuk memberabtas korupsi & TEGA untuk memperluas penbangunan hingga ke darrah2 terpencil. Kalau begini terus negeri ini, mau jadi apa bertahun-tahun ke depan??? Gila!!!

    John

    ReplyDelete
  3. wah saya baru mampir ke blog ini dan ternyata banyak postingan tentang NTT. saya join blog ini deh :).kalo waktu saya penugasan di ende sih, belom pernah yg namanya diperas / ditipu/ dijahatin tukang ojek di ende. mereka baek2. hahahaha...tapi kalo bayar pake uang pas karena kadang mereka blg gak punya duit kembalian

    http://inarakhmawati.blogspot.com

    ReplyDelete