24 January 2013

Budaya pesta ulang tahun

Minggu depan Eyang SR genap 82 tahun. Orangnya masih sehat, tiap hari jalan sehat, tidak bisa diam. Malah lebih sehat ketimbang orang yang baru 30an tahun.

Seperti biasa, saya diminta datang saat ulang tahunnya karena ada acara kecil-kecilan. Salaman, kue, minuman ringan. Keluarganya pun datang kasih ucapan selamat. Yang jauh biasanya menelepon happy birthday.

Bukan main! Nenek yang pernah mengalami sekolah Belanda, kemudian Jepang, ini memang punya peradaban yang beda dengan kebanyakan orang Indonesia. Khususnya yang tinggal di kampung-kampung. Khususnya lagi orang NTT, walkhusus Flores.

Di Flores boleh dikata tidak ada kebiasaan merayakan ulang tahun. Tak ada kue, apalagi pesta. Sekadar kasih selamat pun tidak ada. Karena itu, banyak orang Flores yang lupa tanggal lahirnya sendiri.

"Kami sekeluarga pun tidak pernah merayakan ulang tahun," kata Dian asal Jawa Tengah. Setelah saya selidiki memang lebih banyak orang yang tidak mengadakan pesta ulang tahun ketimbang yang punya acara khusus.

Akhirnya, saya simpulkan bahwa mengisi ultah dengan acara kecil sangat erat kaitan dengan peradaban, budaya, ekonomi, dan status sosial seseorang. Orang Tionghoa selalu punya acara birthday karena memang punya tradisi untuk itu. Bahkan ultah ke-17 anak sering dibikin agak besar.

Di gereja sering saya dengar orang minta misa untuk si A atau B yang berulang tahun kesekian. Hampir pasti orang Tionghoa. Bukan Flores atau Jawa. "Kok ulang tahun saja dirayakan seperti itu," kata orang kampung yang memang kurang nyambung dengan peradaban tinggi.

Di kalangan Tionghoa, hari jadi atau ulang tahun ini biasa disebut SEJIT. Yang menarik setiap tahun selalu ada perayaan sejit untuk dewa-dewi tertentu. Pesta ultah Dewi Makco sangat meriah di Sidoarjo. Rangkaian acaranya bisa satu minggu.

Pesta ultah Dewi Kwan Im paling meriah di Kelenteng Pamekasan. Ribuan orang datang untuk sembahyang dan bergembira. Kalau dewa-dewi yang sudah meninggal saja dirayakan ultahnya, apalagi orang yang masih hidup.

3 comments:

  1. Tionghoa Indonesia3:13 AM, January 24, 2013

    Budaya merayakan ultah itu kan karena bersyukur. Jaman dulu, tingkat mortalitas tinggi. Bayi bisa lewat sampai 1 bulan itu suatu yang pantas disyukuri, dalam budaya Tionghoa dirayakan sbg man-yue (satu bulanan) dengan bagi-bagi kue dan telur yang dicat tinta merah.

    Kalau 17 tahunan itu bukan budaya Tionghoa, tapi latah budaya barat. Kalau di Amerika, yang dirayakan itu sweet 16 dan debutante ball. Tujuannya debutante ball itu memperkenalkan gadis yang keluar dari remaja beranjak dewasa, agar dapat jodoh.

    Di Indonesia, latah. Kalau orang tuanya mampu, dipestakan besar2an, di hotel atau restoran berbintang, dengan gaun ala debutante ball.

    Di Amerika sendiri, pesta ultah sweet 16 pun sederhana saja. Kalau debutante ball itu memang meriah, tapi hanya di negara2 bagian Selatan saja, seperti Texas, Alabama, Georgia, Louisiana. Di lain2 negara bagian yang lebih maju dan progresif seperti Californi, New York, Massachussetts, pesta begituan dianggap norak.

    ReplyDelete
  2. setahu saya di jawa memang tidak ada budaya merayakan ulang tahun. yg ada justru memperingati ulang tahun kematian atau disebut haul. haul ini biasanya untuk kiai2 atau tokoh2 terkenal yg dianggap berjasa bagi masyarakat dan umat. tapi seiring kemajuan jaman, kebiasaan merayakan ulang tahun mulai dilakukan masyarakat menengah atas. di sekolah2 juga ada acara ulang tahun sederhana untuk pelajar yg kebetulan berulang tahun. birthday party juga diadakan untuk anak2 TK atau PAUD.

    ReplyDelete
  3. birthday party sering dianggap budaya barat kafir shg masyarakat tidak merayakannya.

    ReplyDelete