19 January 2013

Bersih-bersih kali di Tambakcemandi

Suasana berbeda sangat terasa dalam Roadshow Sidoarjo Bersih dan Hijau Semakin Sehat 2012 di Desa Tambakcemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Sabtu (19/1/2012). Kali ini roadshow difokuskan pada kebersihan sungai. Kebetulan Desa Tambakcemandi berlokasi di muara sungai kecil, tepatnya di Dusun Gisik Kidul.

Dipimpin Wakil Bupati MG Hadi Sutjipto, rombongan peserta Roadshow SBH bisa melihat langsung kondisi sungai kecil di belakang panggung yang penuh dengan sampah. Aneka macam sampah rumah tangga menumpuk sepanjang 200-an meter. Akibatnya, aliran air terhambat dan aroma tak sedap pun menyebar ke mana-mana.

Maka, di hadapan jajaran Muspika Sedati serta Pemerintah Desa Tambakcemandi, Wabup Hadi Sutjipto mengingatkan kembali program kali bersih alias prokasih yang pernah digalakkan beberapa tahun silam. Saat ini prokasih cenderung dilupakan masyarakat. Ini terbukti dari banyaknya sungai-sungai yang kotor di berbagai wilayah Kabupaten Sidoarjo.

"Saya juga meminta agar warga tidak boleh lagi membuang sampah ke sungai. Sungai itu bukan tempat sampah. Kalau warga buang sampah ke sungai, ya, jadinya seperti sekarang ini," kata Pak Cip, sapaan Wabup Hadi Sutjipto, merujuk tumpukan sampah di sungai di belakang panggung.

Pak Cip makin prihatin dengan besarnya volume sampah yang berada di sungai di wilayah Gisik Kidul. Belum sampai dua minggu diangkat, sampah kembali menumpuk lagi karena buangan dari desa-desa 'di atas' terus berlangsung. Karena itu, Pak Cip meminta Camat Sedati untuk melakukan koordinasi dan sosialisasi dengan desa-desa yang warganya diduga kuat menjadi sungai sebagai tempat sampah.

"Bisa diadakan lomba kebersihan sungai antardesa di Kecamatan Sedati. Ajaklah warga untuk bersama-sama memelihara kebersihan sungai. Tidak boleh lagi membuang sampah di sungai," tegasnya. Wabup Hadi Sucipto kemarin mewakili Bupati Saiful Ilah yang diundang ke NTB untuk berbagi pengalaman tentang keberhasilan Sidoarjo dalam program sekolah inklusi.

Usai mendapat pembekalan dari Pak Cip bersama Ketua DPRD Sidoarjo Dawud Budi Sutrisno dan peserta roadshow diajak bersama-sama membersihkan sungai. Jajaran TNI AD, Marinir (TNI AL), Polres Sidoarjo, Dinas Pengairan, dan elemen masyarakat lain kemudian kerja bakti membersihkan sampah yang menumpuk di sungai. Mereka tampak kesulitan karena volume sampah yang sangat besar. Namun, alat berat backhoe cukup efektif mengangkat sampah kemudian dibawa oleh truk-truk yang sudah disiapkan.

"Alhamdulillah, TNI, Polri, dan jajaran pemkab mau datang ke sini untuk kerja bakti di sungai. Kami sendiri sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengatasi sampah-sampah itu," kata Suciati, warga Tambakcemandi.

Gara-gara tumpukan sampah itu, menurut dia, sudah tiga tahun ini warga Tambakcemandi sudah tak bisa lagi memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Mereka terpaksa harus membeli air bersih karena tidak semua kawasan di Dusun Gisik Kidul punya saluran PDAM Delta Tirta. Warga pun harus bersahabat dengan nyamuk.

8 comments:

  1. Masalah sampah umumnya di dunia dan khususnya di Indonesia sudah menjadi ancaman yang sangat serius bagi kelangsungan hidup manusia.
    Saya hanya ingin menguak masalah sampah di Bali.
    Ketika saya dilahirkan di Bali, kala itu seluruh penduduk pulau Bali belum mencapai 1 juta manusia.
    Kebiasaan membuang sampah sembarangan sampai sekarang tidak berubah sejak 7 dasawarsa yang lalu. Problemnya adalah jenis sampahnya.
    Sampah di Bali zaman doeloe 100%, sampah organik,
    kebanyakan terdiri dari alat pembungkus daun pisang, daun jati atau kertas koran. Sampah2 itu akan punah dengan sendirinya atau dimakan babi, kucing, ayam dan anjing. Kalau sudah terlalu banyak menumpuk, ya tinggal dibakar. Kita belum mengenal benda yang disebut plastik. Kita orang Bali waktu itu menyebut Plastik dengan sebutan Atom. Ada sabuk atom, penggaris atom, sisir atom dan bahkan ada restoran atom.
    Buang hajat tinggal pergi ketegalan ( tebe ), disana sudah menunggu babi dan bedude ( kepik ).
    Cewok ? Aah itu hanya ada di Jawa. Kita gosokkan pantat dibatang pohon waru, bereslah, toh sore nya kita pasti mandi di sungai. Proses itu kita sebut meju dan mekilat. Maaf kepada saudara-saudari dari Bali, tiang hanya ingin menunjukkan, bagaimana dulunya kita orang Bali hidup sesuai dengan Natur, alam semesta.
    Sayang seribu sayang, pulau Dewata sekarang menjadi rusak dan kumuh, gara2 ikut2-an cara hidupnya orang2 barat. Lihatlah tumpukan sampah di-mana2, tidak ada daun- pisang,-waru dan -jati,
    yang ada adalah tumpukan Plastik, kresek, PVC, Polystyrol, Polyethylen, Nylon,...dll.
    Bangkitkan kesadaran, jangan membuang sampah sembarangan, pemerintah daerah, para guru, harus bangun dari tidurnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyarakat yang tadinya agraris tidak akan mudah mengubah kebiasaannya begitu saja. Itulah peran pemerintah untuk mendidik rakyatnya mengubah kebiasaan dengan adanya macam2 sampah baru.

      Pemerintah daerah tingkat provinsi dan tingkat kotamadya bisa mengadakan pengumpulan sampah yang diperbarui (sampah organik dan sampah daur ulang), memberdayakan pemulung, dan menyediakan tempat2 sampah yang mudah ditemukan.

      Ini standar di negara2 maju. Kalau tidak, orang akan malas datang ke Bali.

      Delete
  2. Analisis yg bagus. Masyarakat yg tadinya agraris memang sangat sulit mengubah budaya dan kebiasaannya. Khususnya soal sampah.

    Selama 8 tahun saya ikut ngurus lomba kebersihan antardesa di surabaya dan Sidoarjo. Saat lomba ya kampungnya memang bersih dan indah. Hijau dengan aneka tanaman penghijauan dan bunga2. Waktunya cuma tiga empat bulan aja.

    Fokus lomba itu 3R: reduce reuse recycle. Biar masyarakat tidak nyampah sembarangan.

    Tapi ya itu.. kebiasaan buruk itu sulit diubah. Mereka buang sampah sembarangan meskipun sudah disediakan tempatnya. Juga petugas kebersihan sering malas. Macam2 alasan...

    Jangankan wong cilik, di surabaya sidoarjo ini masih banyak orang yg buang sampah di jalan raya. Dari atas mobilnya yg bagus2 dan mahal.

    Perhatikan juga di kantor2. Karyawan juga biarkan sampah di tempat kerjanya. Padahal kotak sampah ada. Diminta buang sampah ke tempatnya sulit banget. Itu kan kerjaannya OB atau petugas kebersihan.

    Capek deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aneh, ya, Pak? Padahal waktu saya masih SD jaman 70an di sekolah Katolik di Gatotan, kita sangat rapi diajari ibu dan bapa guru untuk tidak buang sampah sembarangan. Mengapa oh mengapa rakyatku tidak bisa mencamkan ini

      Delete
    2. Spanyol memiliki kepulauan kecil ditengah Lautan Tengah yang dinamakan kepulauan Baleares, terdiri dari pulau2 Mallorca, Menorca dan Ibiza. Mulai tahun 80-an, semenjak ada penerbangan murah, pulau2 itu diserbu oleh jutaan turis dari Jerman, Belanda, Inggris, Austria,dll. Sekarang juga ikut diserbu oleh para turis dari negara2 Eropa Timur.
      Mula2 semuanya senang, lambat laun timbullah masalah sampah dan tinja.
      Sejak tahun 2001 pemerintah daerah memungut pajak spesial, yaitu pajak sampah dan tinja, yang diperhalus namanya menjadi pajak okologi. Pajak itu dikenakan kepada semua turis, tiap hari 1 sampai 4 Euro per orang, tergantung kelas Hotel atau penginapannya.
      Hal serupa juga dialami oleh kabupaten Sanya dipulau Hainan/Tiongkok. Pemda Sanya pergi ke Spanyol untuk belajar tentang pajak sampah dan tinja itu. Dan langsung juga diterapkan di Sanya.
      Sekarang Baleares dan Sanya jadi kaya raya dan bersih, rapi teratur.
      Mengapa tidak ditiru dan diterapkan di Denpasar dan Kabupaten Badung ? Jika tidak mampu bayar pajak tinja dan sampah, ya tidak usah datang kepulau Bali untuk berlibur. Tinggal saja dirumah, lebih hemat.
      Untuk kesuksesan program tersebut, hanya ada satu orang Indonesia yang sanggup menjalankan. yaitu saudara Ahok.
      Jadikan Ahok Kepala Dinas Koordinator Bidang Pariwisata dan Kebersihan Kabupaten Badung dan Kotamadya Denpasar. Dulu dia punya 3 bintang emas, sekarang kasih juga 3 bintang perak. Ahok orang pintar, tak perlu ada orang yang mengajari nya lagi.
      Setelah mendekam 2 tahun di Mako Brigmob, saya yakin Ahok sudah berubah 180 derajad dalam tutur katanya. Tidak perlu Ahok jadi mualaf, cukup tiap hari membaca 1 kapitel dari buku Taoteking. Pasti Jooss punya Ahok di Bali.

      Delete
  3. Kerja bakti gotong royong seperti zaman saya kecil sudah sulit dilakukan di NKRI. Gak hanya di Surabaya dan Sidoarjo aja. Bersih2 sampah sekarang jadi tugas pasukan kuning, office boy, cleaning service dan apa pun namanya. Kesadaran untuk membuang sampah di boks2 yg tersedia sangat kurang.

    Yang lebih parah lagi: sungai pun dijadikan tempat buang sampah. Makanya sungai2 di NKRI jadi jorok banget.

    Foto di atas adalah kegiatan bersih2 sungai yang dipimpin langsung bupati sidoarjo. Pak bupati abah saiful yg kasih contoh. Tapi saya yg ikut melihat bahwa warga setempat cuek aja. Acuh tak acuh. Gak tergerak untuk kerja bakti bersihkan sampah di kampungnya. Gak ada rasa malu. Seperti gak ada apa2.

    Kalau zaman dulu: sebelum bupati dan rombongan datang, warga setempat sudah bersih2 biar gak malu sama bupati. Mengerikan mentaliteit masyarakat sekarang. 'Itu kan urusan pemerintah. Ada dinas kebersihan, pasukan kuning dsb. Masak warga disuruh bersih2..,' jarene warga setempat.

    ReplyDelete
  4. Idee cemerlang Sandiaga Uno beserta orang2 Jakarta yang dianggap terpandai diseluruh negeri.
    Tumpukan sampah plastik di teluk Jakarta tidak usah disingkirkan, bisa ditanami pohon bakau.
    Jadi orang Jakarta mengira plastik bisa menjadi humus, yang dibutuhkan tanaman bakau. Halleluja !
    Ini sedikit tabel daya tahan plastik :
    Kantongan kresek tahan 15 tahun.
    Bungkus Mie Instant tahan 80 tahun.
    Botol atau gelas Aqua tahan 500 tahun.

    Wong Jakarta harus belajar dari wong Sidoarjo tentang sampah plastik: reduce, reuse, recycle.

    ReplyDelete
  5. Haiya.. baba tenglang ini bisa aja. Plastik jadi masalah besar di seluruh dunia. Praktis efisien tapi jadi gunungan sampah yg tak bisa diurai jarene pakar2 top. Maka plastik harus dikurangi dan dihilangkan secara bertahap. Opo iso?

    Repotnya pabrik plastik yg besar juga ada di sidoarjo. Produksi terus tiap hari. Mungkin profesor2 botak perlu menemukan teknik mengolah plastik jadi pupuk utowo barang yg menguntungkan manusia. Opo iso?

    ReplyDelete