11 January 2013

Cukup DUA Partai Saja



Sepuluh partai jelas jauh lebih baik ketimbang 48 atau 50 partai. Apalagi 80 atau 100 partai. Karena itu, keberanian KPU menetapkan 10 partai sebagai kontestan Pemilu 2014 patut diacungi jempol. Artinya, hanya satu partai baru, yakni Partai Nasdem, yang dinilai layak ikut pemilihan umum tahun depan.

Bagi saya, 10 partai politik ini masih terlalu banyak. Mestinya bisa diperas (meminjam istilah Bung Karno) menjadi DUA partai saja. Melihat ideologi, politisi, visi-misi, dan sebagainya, sebetulnya 10 partai ini punya banyak kesamaan. Mengapa harus banyak partai kalau ideologinya sama? Dan apakah masih relevan bicara ideologi di era the end of ideology ini?

Yang paling menarik adalah Partai Golkar alias Golongan Karya. Partai penguasa Orde Baru (1966-1998) ini punya banyak sempalan. Partai Demokrat pada dasarnya sama dengan Golkar dalam hal ideologi, jaringan, dan sebagainya. Kita tahu Demokrat didirikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 September 2001 sebagai kendaraan politik menjadi calon presiden. SBY tahu bahwa saat itu Golkar tidak mau mencalonkan dirinya sebagai capres. Padahal, SBY sangat populer dan peluang menang sangat besar.

Maka, SBY bikin Partai Demokrat, yang kemudian menang besar. Tugas Partai Demokrat boleh dikata sudah selesai setelah SBY menjabat presiden RI dua periode. Jadi, tidak salah kalau banyak orang bilang Partai Demokrat itu sama saja dengan SBY Fans Club.

Mirip Partai Demokrat, Partai Hanura dan Partai Gerindra didirikan dua tokoh Golkar yang kecewa dengan partai beringin itu. Wiranto (Hanura) dan Prabowo Subianto (Gerindra) sama-sama punya ambisi besar menjadi presiden tapi tidak dicalonkan Golkar. Andai saja Golkar mau mencalonkan dirinya, saya yakin Prabowo tak akan capek-capek bikin partai baru: Gerindra.

Hal yang sama terjadi dengan Wiranto. Gagal dicalonkan Golkar, bekas panglima TNI ini bikin Partai Hanura. Dan, rupanya Hanura berhasil mendapat dukungan suara cukup banyak dalam pemilu lalu.

Bagaimana dengan partai baru, Nasdem? Sami mawon. Nasdem didirikan Surya Paloh setelah kalah dari Aburizal Bakrie dalam perebutan ketua umum Partai Golkar. Karena kecewa berat, dan rupanya punya kalkulasi politik menjadi capres, Surya Paloh bikin ormas Nasdem, yang kemudian jadi Partai Nasdem.

Kesimpulannya: Partai Golkar  melahirkan Demokrat, Hanura, Gerindra, dan Nasdem. Dus, LIMA partai ini sejatinya identik alias punya ideologi yang sama. Sama-sama Golongan Karya dengan visi-misi ala Orde Baru: pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional.

Bagaimana dengan PDI Perjuangan? Ideologi kiri atau sosialisme, yang lebih populer dengan marhaenisme ala Bung Karno, sudah lama redup. Politisi-politisi kiri macam Kwik  Kian Gie sudah lama disingkirkan dari PDIP. Wacana yang disodorkan PDIP selama ini pun hampir sama dengan Demokrat, Golkar, dan sejenisnya. Maka, boleh dikata PDIP ini tak jauh berbeda dengan Golkar.

Adapun empat partai lainnya (PPP, PAN, PKB, PKS) sudah jelas berbasis massa Islam. Katakan saja partai Islam meskipun ada perbedaan nuansa antara keempat partai itu. Toh, sama-sama partai Islam, bukan? Mengapa tidak digabung saja menjadi sebuah partai Islam dengan kekuatan yang besar?

Melihat anatomi 10 partai ini, maka sebaiknya ke depan di Indonesia ini cukup hanya DUA partai saja: Partai nasionalis dan partai Islam (atau apa pun namanya). Dengan sistem dwipartai, maka sistem pemerintahan dan demokrasi di tanah air bisa berjalan dengan jauh lebih efektif.

6 comments:

  1. Pengamat Indonesia3:40 AM, January 12, 2013

    Artikel ini lucu dan banyak benarnya. Di USA, partai besar yang mampu berkuasa hanya dua saja, meskipun banyak partai-partai lainnya. Begitu juga di UK, dua saja. Di Jepang, malah LDP satu partai yang menang terus. Di USA dan UK, dua partai tersebut ideologinya (katanya) berseberangan: kiri (Partai Demokratik, Partai Buruh) yang berpihak kepada rakyat menengah ke bawah, dan kanan (Partai Republiken, Partai Konservatif / Tories) yang berpihak kepada para pemilik modal.

    Di Indonesia kalau mau dikonsolidasi ya balik lagi ke jaman Orde Baru, tapi tidak bisa 2 partai. PKB, dan PAN walaupun bernafaskan Islam, pandangan relijius moderatnya lebih dekat ke PDI-P daripada ke PKS yang relijius fundamentalis.

    Golkar itu sebenarnya partai yang pragmatis, tidak berideologi. Apa yang praktis, itu yang diterapkan. Kalau saja dia tidak dikotori oleh korupsinya Bakrie dan anak2nya Pak Harto, dan dosa2 TNI di Timtim, Aceh, dan lain2, inilah partai yang paling ideal untuk Indonesia.

    Jadi, sebenarnya Gerindra, PKB, PAN, PDI-P dijadikan satu saja: nasionalis, agama dan sosialis (kan komunis sudah gak laku), jadi penerus ajaran Bung Karno, yaitu Nasakom yang diubah menjadi Nasasos, hehehe. Golkar / Hanura / Demokrat itu boleh dilebur jadi satu karena memang semuanya itu partai2 berideologi "yang penting ekonomi tumbuh". Partai2 Islam yang fanatik macam PKS dan PPP tidak akan bisa melebur ke Golkar atau PDI-P. Tetapi mereka akan tetap laku di kalangan pendukung syariah (10-20% umat Islam) jadi ya biarkan saja jadi oposisi abadi.

    ReplyDelete
  2. semua parpol di indonesia sekarang sangat pragmatis dan ideologinya UANG dan KEKUASAAN. teori2 apa pun gak bisa menjelaskan kondisi politik di indonesia. sulit jadi 2 or 5 partai krn begitu banyak petualang politik yg kerjanya bikin partai.

    ReplyDelete
  3. Ada benarnya juga Mas Pengamat. PKB dan PAN itu sebenarnya partai nasionalis, bukan partai Islam, meskipun basis massanya dari NU dan Muhammadiyah. PPP pun sudah sangat moderat, tidak seperti image PPP zaman dulu yang sangat islamis dengan kampanye ayat2 sucinya. Boleh dikata, saat ini hanya PKS yang masih tergolong partai berideologi Islam yang sangat aktif melakukan unjuk rasa tetang isu2 di Timur Tengah, khususnya Palestina.

    Tapi, jika kita buat pembagian kasar antara partai nasionalis dan partai Islam, maka PKB dan PAN (juga PPP) sebaiknya dimasukkan dalam rumpun partai Islam. Kehadiran PKB dan PAN menjadi semacam pengaman ideologi Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI... karena sangat sulit mengandalkan PKS untuk mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. Yang jelas, sebagian orang2 PKB/PAN sendiri biasanya lebih suka kumpul dengan partai2 nasionalis karena faktor psikologi dan ideologi.

    Jadi, memang sangat sulit mengkristalkan dan menyederhanakan partai2 di Indonesia.

    ReplyDelete
  4. Andai bisa begitu
    Sayangnya kepentingan golongan tidak bisa dilebur begitu saja

    ReplyDelete
  5. di indonesia semua orang mau jadi ketua parpol, makanya suka bikin partai baru.

    ReplyDelete
  6. Pengamat Indonesia2:12 AM, January 31, 2013

    Bung Lambertus, mana PPP sangat moderat? Barusan saja Suryadarma Ali menggaet Munarman, dedengkot FPI, yang tidak lain merupakan gerombolan preman bersorban.

    ReplyDelete