28 January 2013

Kartu merah rusak sepakbola


Saya selalu kecewa berat ketika melihat wasit mengeluarkan kartu merah dalam permainan sepakbola. Baik kartu merah langsung maupun akumulasi kartu kuning. Begitu salah satu pemain, apalagi dua atau tiga pemain, diusir keluar, maka game over.

Lebih parah lagi kalau kartu merah itu sudah keluar sejak menit-menit awal. Katakanlah pada 45 menit pertama. Permainan sepakbola jadi rusak. Skema main, taktik, strategi tim yang defisit pemain, berubah total. Kita tidak bisa lagi menikmati keindahan sepakbola.

Kasus kartu merah dini ini terjadi saat Barcelona menghabisi Osasuna 5-1 dini hari tadi. Belum apa-apa, ketika skor 1-1, seorang pemain Osasuna terkena kartu merah. Sia-sia sudah pengorbanan saya menahan kantuk hingga 01.30 hanya untuk menikmati permainan indah Messi, Xavi, Iniesta, dan kawan-kawan.

Bagaimana Osasuna bisa menang kalau hanya main dengan 10 orang? Main 11 orang saja susah menang. Bahkan, kalaupun diizinkan main dengan 15 orang pun Osasuna sudah pasti kalah menghadapi kehebatan tim Catalan itu.

Maka, apa boleh buat, saya pun mematikan televisi. Sia-sia menonton Barca vs Osasuna mengingat skor akhir sudah bisa ditebak. Messi bisa dengan mudah memborong empat gol. Berantakan!

Saya memang sudah lama mengeluhkan aturan kartu merah dalam sepakbola. Hukuman yang memang wajar untuk pemain-pemain kasar, tapi di sisi lain merusak permainan. Tidak ada lagi kompetisi ketika jumlah pemain salah satu tim lebih banyak daripada tim lain. Tim yang defisit pemain pasti bertahan total. Mengganti penyerang dengan bek.

Osasuna jelas sangat menderita. Sudah kena kartu merah, dihukum tendangan penalti pula. Melawan tim sehebat Barcelona pula.

Kepada beberapa bekas pemain bola, saya pernah usul bagaimana kalau pemain yang kena kartu merah bisa diganti. Bukankah pemain kasar layak dihukum? Benar. Tapi hukumannya dengan melarang pemain itu untuk beberapa pertandingan. Kalau selama ini pemain yang terkena kartu merah diskor dua pertandingan, kan bisa ditambah jadi lima pertandingan. Bisa juga lebih lama tergantung tingkat kesalahannya.

Begitu pemain pengganti masuk, maka jatah pemain pengganti tinggal dua. Tim akan lebih hati-hati bermain. Tidak kasar. Tidak seenaknya main.

Saya juga senang menonton pertandingan bola basket. Mana ada salah satu tim bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit? Begitu juga bola voli dan olahraga tim lainnya.

26 January 2013

Redenominasi rupiah, jutawan pun langka


Mata uang Indonesia yang namanya rupiah sudah lama jadi bahan olok-olokan orang asing. Turis atau penulis yang baru pertama kali datang ke Indonesia biasanya menulis di internet betapa mereka terkejut karena tiba-tiba jadi jutawan.

Bayangkan saja. Uang USD 1.000 ditukar jadi Rp 10 juta. Membawa uang saku USD 10.000 dirupiahkan jadi Rp 100 juta. "Saya merasa seperti orang kaya baru di Indonesia," tulis seorang petualang di blognya.

Begitulah. Sudah lama orang asing mengeluhkan banyaknya NOL dalam rupiah. Saat ini nominal terkecil adalah Rp 500. Itu pun sudah tidak laku lagi untuk sekadar membayar parkir di Surabaya. Pengemis-pengemis pun sudah enggan menerima sedekah Rp 500. Anak-anak TK di Pulau Lembata, NTT, akan merengek kalau hanya dikasih uang Rp 500.

"Minta seribu, Om. Lima ratus tidak bisa beli permen," kata anak-anak di pelosok Indonesia Timur itu.

Mungkin tidak lama lagi uang Rp 500 kehilangan nilai tukar. Uang recehan koin boleh dikata sudah lama tidak bertaji di bumi Indonesia.

Karena itu, sejak 1990-an saya sudah tertarik dengan wacana redenominasi rupiah yang dilontarkan beberapa tokoh atau pengamat. Dulu, ketika menjabat Uskup Dili, Timor Timur, Monsinyur Belo pernah melontarkan kekagetannya karena jumlah nol rupiah terlalu banyak. "Harusnya satu dolar (USA) sama dengan satu rupiah. Bukan ribuan rupiah seperti ini," katanya suatu ketika.

Maka, setiap kali membaca berita tentang rencana redenominasi rupiah di surat kabar, saya selalu teringat Uskup Belo yang sudah lama pensiun. Oh, ternyata apa yang diwacanakan sang uskup itu kini mulai diseriusi pemerintah. Redenominasi rupiah, pemotongan angka NOL, bukan hanya sekadar wacana tapi kebijakan resmi. Tahun 2014 sudah mulai diterapkan meski masih dalam masa transisi.

Suka tidak suka, redenominasi rupiah perlu dilakukan agar otot rupiah tidak semakin loyo. Contoh sederhananya pisang goreng yang sangat disukai warga kelas bawah sampai atas. Sekarang satu pisang goreng di Surabaya (warung pinggir jalan) Rp 1000. Begitu ada kenaikan BBM atau mekanisme pasar biasa, berapa harga baru?

Bukan Rp 1100 atau Rp 1200 atau Rp 1250, melankan Rp 1500. Bahkan, pedagang yang pandai memanfaatkan situasi menaikkan menjadi Rp 2000. Apa artinya? Terjadi kenaikan harga 100%. SERATUS PERSEN. Kalau tren itu terus terjadi, maka lima tahun ke depan pisang goreng menjadi Rp 5000. Betapa hancurnya nilai tukar mata uang negara kita.

Kelemahan mata uang kita, inflasi tinggi, antara lain juga karena tidak dipakainya uang recehan di Indonesia. Andaikan harga bensin bersubsidi dinaikan dari Rp 4500 ke Rp 4600 atau Rp 4700 atau Rp 5000, niscaya tidak akan terjadi reaksi yang keras seperti tahun lalu. Tapi, karena pecahan kecil tidak berlaku, pemerintah ingin menaikkan menjadi Rp 6000, atau sekalian Rp 10000. Jelas persentase kenaikan yang luar biasa!

Jika redenominasi resmi diterapkan, tiga nol pada rupiah akan dipangkas. Uang Rp 1000 jadi Rp 1. Rp 10000 jadi Rp 10. Rp 100000 jadi Rp 100. Rp 1000000 (satu juta) jadi Rp 1000.

Maka, jumlah jutawan di Indonesia menjadi sangat sedikit. Saat ini semua orang Indonesia adalah JUTAWAN karena gaji minimum buruh rata-rata Rp 2000.000 (bisa kurang sedikit atau lebih sedikit). Ironis, semua pekerja di Indonesia berstatus JUTAWAN tapi hanya cukup untuk membeli makanan sederhana. Nantinya, dengan redenominasi, gelar JUTAWAN hanya disandang para pengusaha kaya yang saat ini punya aset triliunan rupiah.

Ketika ada uang Rp 1, maka istilah SEN yang sudah lenyap di Indonesia selama puluhan tahun otomatis muncul kembali. Rp 1 = 100 sen. Harga pisang goreng bisa menjadi Rp 1. Saya membayangkan, jika terjadi kenaikan harga karena isu BBM, pisang goreng naik menjadi Rp 1,10 atau satu rupiah 10 sen. Atau, cukup Rp 1,05 alias satu rupiah lima sen. Akan sangat berlebihan kalau harga barang dinaikkan dari Rp 1 ke Rp 2 alias naik 100 persen.

Redenominasi ini jelas membutuhkan sosialisasi dan pembiasaan. Orang-orang Indonesia yang sering bepergian ke luar negeri, bahkan tinggal di luar negeri, pasti lebih mudah menyesuaikan diri dengan pemotongan tiga nol. Sebaliknya, mayoritas orang Indonesia, yang lahir di atas tahun 1970, pasti pangling karena tidak pernah mengalami pecahan kecil bernama SEN.

Dengan redenominasi, maka ungkapan SATU SEN PUN SAYA TAK PUNYA ala Pujangga Baru akan muncul lagi di buku-buku sastra atau pelajaran bahasa Indonesia.

Penduduk Sidoarjo lampaui 2 juta


Sidoarjo mungkin menjadi kabupaten/kota yang pertumbuhan penduduknya paling tinggi di Indonesia. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah sendiri sering takjub dengan kenaikan populasi yang drastis. Syukurlah, Abah Saiful melihatnya sebagai berkat. Juragan tambak yang kaya-raya ini justru welcome terhadap siapa saja yang ingin tinggal dan bekerja di Sidoarjo.

"Semua warga negara Indonesia berhak tinggal di Sidoarjo. Mereka bisa membantu membangun Sidoarjo menjadi lebih maju," katanya dalam berbagai kesempatan.

Jumat, 25 Januari 2013, di halaman SMAN 4 Sidoarjo, Abah Saiful kembali bicara soal populasi. Menurut dia, populasi yang melonjak ini sama sekali bukan karena angka kelahiran, wong Sidoarjo suka manak, tapi karena migrasi. Begitu banyak orang dari kabupaten/kota lain, bahkan luar Jawa Timur, memilih tinggal di Sidoarjo.

Saat menjabat wakil bupati, mendampingi Bupati Win Hendrarso, tahun 2000, penduduk Sidoarjo hanya 1,15 juta jiwa. Angka yang tergolong tinggi mengingat Sidoarjo merupakan kabupaten yang paling sempit di Jawa Timur. Setiap tahun tumbuh 7-8 persen.

Sekarang ketika menjabat bupati, Abah Saiful kembali mengecek ke dinas kependudukan. Wow, saat ini penduduk Kabupaten Sidoarjo 2,047 jiwa. Angka ini belum termasuk penduduk musiman yang tidak ber-KTP Sidoarjo. Ribuan buruh pabrik, yang tersebar di 18 kecamatan, biasanya enggan mengurus KTP baru. Mereka pakai KTP dari kampung halamannya di Madiun, Bojonegoro, Jombang, Jember, Salatiga, dan sebagainya.

Karena tren migrasi terus meningkat, bisa dipastikan 10 tahun ke depan penduduk Sidoarjo bisa mencapai 4,5 juta. Dan itu berarti penduduk pendatang (macam saya) jauh melebih penduduk asli yang keturunan kawula Kerajaan Jenggala dan eks Kabupaten Sidokare, 154 tahun silam.

Abah Saiful juga melihat pertambahan penduduk ini membawa masalah lain yang tak kalah hebat. Salah satunya produksi SAMPAH rumah tangga. Volume sampah memang meningkat drastis, jauh melampaui pertumbuhan penduduk. Pemkab sudah kewalahan karena lima tempat pembuangan akhir (TPA) yang pernah ada, kini tinggal SATU di Tambakkalisogo, Kecamatan Jabon. TPA ini pun sudah berkali-kali didemo warga karena dianggap menimbulkan polusi, bau, dan sebagainya.

Bagaimana kalau pemkab tidak punya solusi mengolah sampah? Pak Bupati sudah lama menjalin kesepakatan dengan investor Swiss (kalau tidak salah), tapi sampai sekarang belum jelas kapan instalasi pengolahan sampah modern itu dibangun di Sidoarjo. Sementara kesadaran warga untuk mengolah sampah rumah tangga belum bagus.

Jangan lupa, para pendatang yang memenuhi Sidoarjo itu waktunya habis terpakai untuk bekerja di pabrik atau berbagai kantor di Surabaya. Tidak ada waktu untuk mengolah sampah. Tak ada waktu untuk terlibat di poskamling. Atau, sekadar cangkrukan bersama warga lain. Ini juga menjadi potensi bahaya di masa mendatang.

Tapi ekonom Kresnayana Yahya dari ITS Surabaya sudah lama melihat pertumbuhan penduduk Sidoarjo ini sangat positif dari sisi ekonomi. Mengapa? Pendatang-pendatang yang masuk Sidoarjo ini hampir semuanya berpendidikan paling rendah SMA/SMK. Mereka menjadi sumber daya manusia berkualitas yang mampu menggerakkan ekonomi.

"Jadi, Kabupaten Sidoarjo menjadi tempat yang paling prospektif di Jawa Timur," kata Kresnayana.

Tedja Suminar melukis di Tiongkok


Berbagai negara sudah dikunjungi Tedja Suminar, 76 tahun. Namun, pelukis senior Surabaya ini mengaku paling terkesan mengunjungi kampung halaman leluhurnya di Tiongkok. Tedja pun merekam aktivitasnya selama berada di negara panda itu dalam bentuk compact disk (CD).

"CD itu sengaja saya buat untuk kenang-kenangan. Sekaligus untuk menunjukkan kepada teman-teman betapa maju dan modernnya Tiongkok sekarang ini," ujar Tedja Suminar kepada saya.

Selama ini pelukis yang dikenal sebagai 'raja skesta' itu mengaku sudah mengetahui kemajuan Tiongkok lewat media massa. Namun, ayah dua putri ini tak menyangka kalau saat ini kota-kota di Tiongkok begitu modern layaknya kota-kota di Eropa atau Amerika.

"Padahal, dulu yang namanya Tiongkok itu sangat miskin. Ini yang membuat banyak warga setempat yang merantau ke seluruh dunia," katanya.

Nah, ketika ada kesempatan untuk jalan-jalan, Tedja kemudian mengajak dua anaknya serta seorang cucu untuk bersama-sama ngelencer ke Tiongkok. Berbeda dengan pelancong biasa, Tedja membawa peralatan melukis, khususnya sketsa.

"Saya memang selalu membuat sketsa ketika berkunjung ke kota mana pun baik di dalam maupun luar negeri," kata pelukis yang doyan merokok itu.

Di Lapangan Tiananmen, Beijing, di tengah lalu lalang ribuan pengunjung, Tedja pun asyik mengabadikan suasana kota terlarang di atas kanvasnya. Gairah melukisnya meluap-luap sehingga dia bisa menyelesaikan skesta dengan cepat. Tedja kemudian menggambar Temple of Heaven, Tembok Besar, stadion olimpiade Beijing, yang disebut Bird Nest Olympic Stadium, hingga Summer Palace.

Bukan itu saja. Tedja juga mengabadikan Monumen Dr Sun Yat Sen hingga suasana kota Shenzhen dan Hongkong. Menurut Tedja, Tiongkok yang sangat luas itu memiliki begitu banyak objek wisata kuno yang masih dipelihara hingga saat ini. Tempat-tempat wisata itu dirawat dengan baik sehingga mendatangkan devisa bagi negara.

"Kita di Indonesia pun seharusnya bisa seperti itu. Sebab, negara kita punya begitu banyak objek wisata sejarah dan pemandangan alam yang indah," katanya.

Mau diapakan sketsa-sketsa dari negeri Tiongkok itu?

"Saya ingin karya-karya yang saya buat di Tiongkok itu dipamerkan secara khusus agar bisa dinikmati oleh masyarakat," katanya.

Ciswak jelang tahun ular


 Tahun baru Imlek atau Sincia baru berlangsung pada 10 Februari 2012. Namun, saat ini sejumlah kelenteng telah melakukan persiapan untuk menyambut datangnya tahun ular air.

Sekitar 30 orang pengurus dan jemaat Kelenteng Hong San Ko Tee, Surabaya, misalnya, mengadakan pertemun pada Kamis (24/1) lalu. "Kebetulan bertepatan dengan hari libur nasional (Maulid Nabi Muhammad SAW), ya, kami manfaatkan untuk kumpul-kumpul. Soalnya, sudah lama tidak bertemu," ujar Swie Lioe, pengurus kelenteng di Jl Cokroaminoto 12 itu.

Tak sekadar kumpul-kumpul, para jemaat pun terlihat melakukan sembahyang di altar-altar yang ada di dalam tempat ibadah Tridharma ini. Beberapa pengurus mengecek peralatan sembahyang seperti kertas, lilin (hio), hingga minyak kelapa, yang biasa dipakai untuk bahan bakar hio.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menurut Swie Lioe, menjelang Sincia ini pihaknya menggelar ciswak bersama. Upacara ruwatan ala Tionghoa itu digelar pada Ahad (27/1) besok. Dipimpin Suhu Gunawan, ruwatan ini dimaksudkan untuk membersihkan diri untuk menyambut datangnya tahun yang baru.

"Kita berdoa dan memohon kepada Sang Pencipta agar dijauhkan dari malapetaka dan diberikan berkat yang melimpah. Kita juga sekaligus mendoakan agar Kota Surabaya dan bangsa Indonesia dijauhkan dari bencana alam dan sebagainya," kata wanita yang murah senyum ini.

Sesuai penanggalan Tionghoa, menurut Swie Lioe, ada dua shio yang ciong besar pada tahun ular air, yakni shio ular dan shio babi. Jemaat atau warga Tionghoa yang termasuk kedua shio ini sangat dianjurkan untuk mengikuti ciswak. Shio macan dan shio monyet juga diimbau untuk ikut ciswak karena dikategorikan ciong kecil.

"Orang yang ciong itu ada saja halangannya dalam kehidupan, baik itu usaha, bisnis, dan sebagainya. Nah, ciswak ini semacam upacara khusus untuk tolak bala dalam tradisi Tionghoa," jelasnya.

Bagaimana dengan delapan shio lain yang tidak masuk ciong besar dan ciong kecil?

Swie Lioe menyarankan agar tetap mengikuti ritual khusus ini. "Lebih bagus kalau ikut juga. Toh, tujuannya juga bagus untuk keselamatan orang itu sendiri," katanya.

Adapun syarat mengikuti ciswak di Kelenteng Cokro ini sederhana saja. Di antaranya, membawa pakaian bekas layak pakai untuk disumbangkan. Membawa tiga keping uang logam.

"Jangan lupa membawa handuk untuk dipakai sendiri," pungkas Swie Lioe.

24 January 2013

Budaya pesta ulang tahun

Minggu depan Eyang SR genap 82 tahun. Orangnya masih sehat, tiap hari jalan sehat, tidak bisa diam. Malah lebih sehat ketimbang orang yang baru 30an tahun.

Seperti biasa, saya diminta datang saat ulang tahunnya karena ada acara kecil-kecilan. Salaman, kue, minuman ringan. Keluarganya pun datang kasih ucapan selamat. Yang jauh biasanya menelepon happy birthday.

Bukan main! Nenek yang pernah mengalami sekolah Belanda, kemudian Jepang, ini memang punya peradaban yang beda dengan kebanyakan orang Indonesia. Khususnya yang tinggal di kampung-kampung. Khususnya lagi orang NTT, walkhusus Flores.

Di Flores boleh dikata tidak ada kebiasaan merayakan ulang tahun. Tak ada kue, apalagi pesta. Sekadar kasih selamat pun tidak ada. Karena itu, banyak orang Flores yang lupa tanggal lahirnya sendiri.

"Kami sekeluarga pun tidak pernah merayakan ulang tahun," kata Dian asal Jawa Tengah. Setelah saya selidiki memang lebih banyak orang yang tidak mengadakan pesta ulang tahun ketimbang yang punya acara khusus.

Akhirnya, saya simpulkan bahwa mengisi ultah dengan acara kecil sangat erat kaitan dengan peradaban, budaya, ekonomi, dan status sosial seseorang. Orang Tionghoa selalu punya acara birthday karena memang punya tradisi untuk itu. Bahkan ultah ke-17 anak sering dibikin agak besar.

Di gereja sering saya dengar orang minta misa untuk si A atau B yang berulang tahun kesekian. Hampir pasti orang Tionghoa. Bukan Flores atau Jawa. "Kok ulang tahun saja dirayakan seperti itu," kata orang kampung yang memang kurang nyambung dengan peradaban tinggi.

Di kalangan Tionghoa, hari jadi atau ulang tahun ini biasa disebut SEJIT. Yang menarik setiap tahun selalu ada perayaan sejit untuk dewa-dewi tertentu. Pesta ultah Dewi Makco sangat meriah di Sidoarjo. Rangkaian acaranya bisa satu minggu.

Pesta ultah Dewi Kwan Im paling meriah di Kelenteng Pamekasan. Ribuan orang datang untuk sembahyang dan bergembira. Kalau dewa-dewi yang sudah meninggal saja dirayakan ultahnya, apalagi orang yang masih hidup.

21 January 2013

HARRY TANOE TERLALU NAIF



Sebagai raja media, pemilik banyak stasiun televisi, Hary Tanoesoedibjo seharusnya sangat melek politik khas Indonesia. Sayang, arek Surabaya ini terlalu polos. HT termakan retorika yang terus-meneruskan Surya Paloh sebagai pendiri + pemilik Nasdem (Nasional Demokrat).

Idealisme politik itu tidak ada kecuali ketika para pejuang bikin partai di era kolonial seperti PNI-nya Bung Karno. Atau partai-partai yang ikut pemilu 1955. Saat itu ideologi masih sangat kuat. Mangan ora mangan sing penting ideologi!

Rupanya HT sangat percaya pada ideologi. Seakan-akan ada partai yang benar-benar MERESTORASI Indonesia. Seakan-akan Nasdem itu dipenuhi orang-orang idealis yang tak punya nafsu kekuasaan.

Maka, HT kecewa berat dan memilih mundur. Kecewa karena salah satunya Surya Paloh ingin menjadi ketua umum. Mengambil alih kekuasaan setelah Nasdem lolos sebagai peserta pemilu 2014.

Lha, kok HT baru tahu kalau bos Media Group, yang pidatonya selalu disiarkan panjang oleh Metro TV itu ingin jadi ketua umum? Bukankah sejak awal sudah kelihatan sekali gelagatnya?

HT lupa bahwa Surya Paloh gagal menjadi ketua umum Golkar. Kalah sama Aburizal Bakrie. Kemudian bikin ormas Nasdem, kemudian jadi partai. Tentu saja partai ini untuk kendaraan politik Surya Paloh. Maka, sangat wajar Surya berhak jadi ketua umum. Dan wajar pula kalau Surya ingin maju capres dengan kendaraan Nasdem.

Aneh, raja media sekaliber HT tidak bisa membaca dinamika politik yang sangat pragmatis itu. Boleh dikata partai-partai kita cuma sekadar kendaraan atau alat politik tokohnya.

Demokrat dibentuk SBY untuk kendaraan politik jadi presiden. Megawati dengan PDIP. Prabowo dengan Gerindra. Wiranto dengan Hanura. Amien Rais dengan PAN. Golkar jadi rebutan dan dimenangi Bakrie.

Partai ideal sebagaimana disampaikan HT di tvone sore tadi rasanya impossible saat ini. Maka, keputusan HT mundur dari Nasdem layak diapresiasi. HT sudah telanjur menyalahgunakan televisi-televisinya untuk promosi Nasdem.

19 January 2013

Bersih-bersih kali di Tambakcemandi

Suasana berbeda sangat terasa dalam Roadshow Sidoarjo Bersih dan Hijau Semakin Sehat 2012 di Desa Tambakcemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Sabtu (19/1/2012). Kali ini roadshow difokuskan pada kebersihan sungai. Kebetulan Desa Tambakcemandi berlokasi di muara sungai kecil, tepatnya di Dusun Gisik Kidul.

Dipimpin Wakil Bupati MG Hadi Sutjipto, rombongan peserta Roadshow SBH bisa melihat langsung kondisi sungai kecil di belakang panggung yang penuh dengan sampah. Aneka macam sampah rumah tangga menumpuk sepanjang 200-an meter. Akibatnya, aliran air terhambat dan aroma tak sedap pun menyebar ke mana-mana.

Maka, di hadapan jajaran Muspika Sedati serta Pemerintah Desa Tambakcemandi, Wabup Hadi Sutjipto mengingatkan kembali program kali bersih alias prokasih yang pernah digalakkan beberapa tahun silam. Saat ini prokasih cenderung dilupakan masyarakat. Ini terbukti dari banyaknya sungai-sungai yang kotor di berbagai wilayah Kabupaten Sidoarjo.

"Saya juga meminta agar warga tidak boleh lagi membuang sampah ke sungai. Sungai itu bukan tempat sampah. Kalau warga buang sampah ke sungai, ya, jadinya seperti sekarang ini," kata Pak Cip, sapaan Wabup Hadi Sutjipto, merujuk tumpukan sampah di sungai di belakang panggung.

Pak Cip makin prihatin dengan besarnya volume sampah yang berada di sungai di wilayah Gisik Kidul. Belum sampai dua minggu diangkat, sampah kembali menumpuk lagi karena buangan dari desa-desa 'di atas' terus berlangsung. Karena itu, Pak Cip meminta Camat Sedati untuk melakukan koordinasi dan sosialisasi dengan desa-desa yang warganya diduga kuat menjadi sungai sebagai tempat sampah.

"Bisa diadakan lomba kebersihan sungai antardesa di Kecamatan Sedati. Ajaklah warga untuk bersama-sama memelihara kebersihan sungai. Tidak boleh lagi membuang sampah di sungai," tegasnya. Wabup Hadi Sucipto kemarin mewakili Bupati Saiful Ilah yang diundang ke NTB untuk berbagi pengalaman tentang keberhasilan Sidoarjo dalam program sekolah inklusi.

Usai mendapat pembekalan dari Pak Cip bersama Ketua DPRD Sidoarjo Dawud Budi Sutrisno dan peserta roadshow diajak bersama-sama membersihkan sungai. Jajaran TNI AD, Marinir (TNI AL), Polres Sidoarjo, Dinas Pengairan, dan elemen masyarakat lain kemudian kerja bakti membersihkan sampah yang menumpuk di sungai. Mereka tampak kesulitan karena volume sampah yang sangat besar. Namun, alat berat backhoe cukup efektif mengangkat sampah kemudian dibawa oleh truk-truk yang sudah disiapkan.

"Alhamdulillah, TNI, Polri, dan jajaran pemkab mau datang ke sini untuk kerja bakti di sungai. Kami sendiri sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengatasi sampah-sampah itu," kata Suciati, warga Tambakcemandi.

Gara-gara tumpukan sampah itu, menurut dia, sudah tiga tahun ini warga Tambakcemandi sudah tak bisa lagi memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Mereka terpaksa harus membeli air bersih karena tidak semua kawasan di Dusun Gisik Kidul punya saluran PDAM Delta Tirta. Warga pun harus bersahabat dengan nyamuk.

16 January 2013

Shienny Kurniawati dkk tampilkan Butterfly Lovers


 Memeriahkan tahun baru Imlek 2564 ini, Shienny Kurniawati dan kawan-kawan menggelar konser bertajuk The Legendary Butterfly Concert di Balai Adika, Hotel Majapahit, Surabaya, Jumat (22/2/2012). Shienny, yang juga pemain harpa pertama di Surabaya, Butterfly Lovers ini lebih dikenal dengan legenda Sampek Engtay dari Tiongkok.

"Ceritanya mengenai tragedi romantika antara dua kekasih. Legenda ini sering dianggap sebagai Romeo dan Juliet versi Tiongkok. Jiwa mereka dilahirkan kembali sebagai sepasang kupu-kupu yang terbang bersama," kata Shienny Kurniawati.

Selain Shienny sebagai pemain harpa, konser ini juga menampilkan Glenn Bagus Zulkarnain (piano), Finna Kurniawati (violin), dan Nino Ario Wijaya (klarinet). Keempat musisi muda ini sudah tak asing lagi di kalangan penggemar musik klasik di Surabaya. Apalagi, dulu Shienny Kurniawati dan sauadarinya, Finna Kurniawati, merupakan violinis andalan Surabaya Symphony Orchestra.

Selain komposisi Sampek Engtay, menurut Shienny, mereka juga membawakan musik dari negara-negara di Asia seperti Jepang, Indonesia, dan Thailand. "The Butterfly Lovers Violin Concerto, sebuah komposisi legendaris dari Tiongkok, merupakan tema utama konser ini," katanya.

Gadis yang pernah belajar musik klasik di Beijing ini menambahkan, konser di awal tahun 2013 ini sengaja menampilkan karya-karya yang sangat jarang dibawakan di Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan penampilan perdana di Indonesia.

"Kita ingin penggemar musik di Surabaya bisa menikmati musik yang berkualitas," katanya.

Meski keempat musisi ini punya kesibukan sendiri-sendiri, Shienny optimistis konser ini berlangsung sukses. Mereka berusaha menyisihkan waktu untuk berlatih bersama di Surabaya.

"Sekarang ini saya masih berada di Jakarta. Minggu depan saya akan ke Surabaya untuk memantapkan persiapan konser ini," katanya.

15 January 2013

RS Guangzhou promosi terapi stem cell


Makin hebat saja Tiongkok di bidang medis. Kalau dulu orang Indonesia lebih memilik ke Eropa atau Amerika untuk berobat, kini negeri Cungkuo ini sudah jadi favorit pasien kaya. Terutama pasien penyakit-penyakit kelas berat macam kanker, diabetes, ginjal.

Pekan lalu, tim dokter Modern Cancer Guangzhou Hospital datang ke Surabaya untuk mempromosikan terapi stem cell yang dikembangkan di rumah sakit itu. Prof Peng Qirong, ketua tim dokter, mengatakan Modern Cancer Guangzhou Hospital sudah menjadi jujukan pasien dari berbagai negara. Tak sedikit dari Indonesia. Peng mengklaim 95 persen pasiennya berhasil.

Dokter spesialis stem cell ini menjelaskan, pengobatan dengan terapi stem cell sudah dikembangkan sejak 1970-an dan dalam 10 tahun terakhir mengalami kemajuan pesat. Dia bahkan menyebut stem cell ini sebagai teknologi terapi klinis revolusioner di bidang kedokteran regeneratif.

Stem cell mempunyai kemampuan memperbarui diri secara mengagumkan. Setelah ditranplantasikan ke dalam tubuh pasien, sel-sel yang mati atau rusak bisa diperbaki. Maka, tanpa obat, tanpa operasi, berbagai penyakit bisa diatasi. "Terapi stem cell adalah pengobatan tercanggih di bidang klinis zaman ini," kata Prof Peng Qirong.

Menurut Peng Qirong, penanganan pasien pun tidak ribet. Persiapan sekitar 3-5 hari, kemudian pengobatan hanya 3 sampai 4 kali. "Yang penting, pasien menuruti ada yang diperintahkan dokter, khususnya setelah terapi," katanya.

Modern Cancer Guangzhou Hospital ini sudah buka kantor perwakilan di Surabaya, tepatnya di Wisma BII Lantai 7, Jalan Pemuda Surabaya.

12 January 2013

Sepakbola di Lembata bikin miris

Lapangan bola di Desa Atawatung, Ileape, Lembata.

Belum lama ini, saat berkunjung ke Lembata, NTT, saya diskusi cukup panjang dengan Fransisco. Dia anggota TNI AD, bertugas di Denpasar, Bali, dan baru kali ini sempat mengunjungi kampung halaman orang tuanya di Kedang, tepatnya Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata. Si Frans ini pemain bola bagus, andalan tim PSAD (Persatuan Sepakbola TNI Angkatan Darat) dari Kodam Udayana.

"Saya prihatin melihat perkembangan sepakbola di Lembata," katanya.

Maklum, klub-klub tidak pernah dibina serius. Celakanya lagi, banyak klub yang tidak punya bola untuk sekadar latihan. Saya sendiri melihat pertandingan bola antarkampung di Lewotolok, Kecamatan Ileape, menjelang tahun baru 2013. Bolanya lembek dan sebetulnya sudah tak layak pakai.

Bicara sepakbola di Lembata memang akan sangat panjang. Masalahnya sederhana, tapi komitmen Pemerintah Kabupaten Lembata untuk membina olahraga, khususnya bola kaki (orang NTT jarang pakai istilah SEPAKBOLA), di kampung-kampung. Padahal, kesebelasan Persebata (Persatuan Sepakbola Lembata) punya prestasi bagus di NTT.
Belum lama ini Persebata juara kedua kejuaraan sepakbola Piala Gubernur NTT, kalah di final sama Perse Ende. Apa tidak hebat? Padahal, Lembata kabupaten baru hasil pemekaran sejak 2000. Tempo dulu tim elite di NTT hanya berputar-putar dari Kupang, Ngada, Manggarai, Sikka, Flores Timur, dan Ende. Kini, Lembata ternyata punya tim yang diperhitungkan di seluruh Provinsi NTT.

Anehnya, saya melihat lapangan bola di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, sangat-sangat buruk. Tidak ada rumputnya. Bahkan, tidak ada jala di gawangnya. Ironis, karena lapangan yang jauh lebih buruk ketimbang lapangan galadesa di Jawa Timur itu tidak jauh dari rumah dinas bupati dan wakil bupati. Mungkin pejabat-pejabat di Lembata tidak paham aturan tentang standar minimal sebuah lapangan sepakbola.

Bagaimana pemain-pemain bisa berlatih dengan baik di lapangan brengsek macam itu? "Jangan bahas itulah. Saya sudah malas bicara. Kalau musim hujan, rumput tumbuh, lapangan bola malah jadi tempat menggembala kambing," kata Ama Ire, mantan pemain dan pelatih sepakbola terkenal di Lewoleba.

Setiap kali mampir ke desa-desa di Lembata, saya selalu memperhatikan kondisi lapangan bolanya. Aha, ternyata sama saja dengan zaman saya masih SD di Ileape. Lapangannya bukannya tambah bagus, karena Lembata sudah jadi kabupaten sendiri, malah tambah rusak. Sama sekali tidak ada inisiatif untuk sekadar merapikan lapangan, menanam rumput, menyiangi rumput liar, dan sebagainya.

Lapangan bola di Desa Waowala dikenal sebagai lapangan bola terbaik di Ileape, bahkan Lembata. Eh, saat saya mampir ke sana menjelang Natal 2012 lalu, kondisi lapangan di pinggir jalan ini sangat memprihatinkan. Tidak rata. Yang di dekat jalan (selatan) lebih tinggi daripada bagian utara. Kedua gawangnya tidak dipasang jala. Padahal, orang Waowala (atau Ileape umumnya) sejak dulu dikenal sangat piawai membuat jala atau pukat.

Masa, lapangan bola kok tidak punya jala? Tidak jelas marka-marka atau garis pembatas lapangan.

Lebih prihatin lagi, saat saya menyaksikan pertandingan bola antarkampung di lapangan Lewokea, Desa Lewotolok, di pinggir pantai. Jala di gawang sudah jelas tidak ada. Marka lapangan tidak jelas. Kedua wasit malah memakai daun sebagai pengganti bendera. Padahal, kostum kedua kesebelasan masih tergolong baru dan bagus.

Apakah orang Bungamuda atau Lamawara tidak bisa membuat bendera sederhana dari kain? Tidak bisa bikin jala untuk dipasang di gawang?

Saya hanya bisa mengelus dada melihat peradaban bola yang masih tergolong primitif di pelosok Lembata ini. Ketika daerah-daerah lain sudah puluhan tahun menjadikan bola kaki sebagai instrumen untuk promosi daerah, kita di NTT, khususnya Lembata, masih jalan di tempat.

Terlalu muluk kalau kita bicara sekolah sepakbola, pelatih, skema permainan, dan sebagainya. Sebab, hal yang sangat fundamental saja, seperti jala gawang, ternyata belum dikenal di NTT. Maka, saya tidak heran kalau pemain-pemain tarkam di Lembata sering kali terlibat pertengkaran seru tentang masuk tidaknya bola ke dalam gawang. Hehehe.....

11 January 2013

Cukup DUA Partai Saja



Sepuluh partai jelas jauh lebih baik ketimbang 48 atau 50 partai. Apalagi 80 atau 100 partai. Karena itu, keberanian KPU menetapkan 10 partai sebagai kontestan Pemilu 2014 patut diacungi jempol. Artinya, hanya satu partai baru, yakni Partai Nasdem, yang dinilai layak ikut pemilihan umum tahun depan.

Bagi saya, 10 partai politik ini masih terlalu banyak. Mestinya bisa diperas (meminjam istilah Bung Karno) menjadi DUA partai saja. Melihat ideologi, politisi, visi-misi, dan sebagainya, sebetulnya 10 partai ini punya banyak kesamaan. Mengapa harus banyak partai kalau ideologinya sama? Dan apakah masih relevan bicara ideologi di era the end of ideology ini?

Yang paling menarik adalah Partai Golkar alias Golongan Karya. Partai penguasa Orde Baru (1966-1998) ini punya banyak sempalan. Partai Demokrat pada dasarnya sama dengan Golkar dalam hal ideologi, jaringan, dan sebagainya. Kita tahu Demokrat didirikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 September 2001 sebagai kendaraan politik menjadi calon presiden. SBY tahu bahwa saat itu Golkar tidak mau mencalonkan dirinya sebagai capres. Padahal, SBY sangat populer dan peluang menang sangat besar.

Maka, SBY bikin Partai Demokrat, yang kemudian menang besar. Tugas Partai Demokrat boleh dikata sudah selesai setelah SBY menjabat presiden RI dua periode. Jadi, tidak salah kalau banyak orang bilang Partai Demokrat itu sama saja dengan SBY Fans Club.

Mirip Partai Demokrat, Partai Hanura dan Partai Gerindra didirikan dua tokoh Golkar yang kecewa dengan partai beringin itu. Wiranto (Hanura) dan Prabowo Subianto (Gerindra) sama-sama punya ambisi besar menjadi presiden tapi tidak dicalonkan Golkar. Andai saja Golkar mau mencalonkan dirinya, saya yakin Prabowo tak akan capek-capek bikin partai baru: Gerindra.

Hal yang sama terjadi dengan Wiranto. Gagal dicalonkan Golkar, bekas panglima TNI ini bikin Partai Hanura. Dan, rupanya Hanura berhasil mendapat dukungan suara cukup banyak dalam pemilu lalu.

Bagaimana dengan partai baru, Nasdem? Sami mawon. Nasdem didirikan Surya Paloh setelah kalah dari Aburizal Bakrie dalam perebutan ketua umum Partai Golkar. Karena kecewa berat, dan rupanya punya kalkulasi politik menjadi capres, Surya Paloh bikin ormas Nasdem, yang kemudian jadi Partai Nasdem.

Kesimpulannya: Partai Golkar  melahirkan Demokrat, Hanura, Gerindra, dan Nasdem. Dus, LIMA partai ini sejatinya identik alias punya ideologi yang sama. Sama-sama Golongan Karya dengan visi-misi ala Orde Baru: pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional.

Bagaimana dengan PDI Perjuangan? Ideologi kiri atau sosialisme, yang lebih populer dengan marhaenisme ala Bung Karno, sudah lama redup. Politisi-politisi kiri macam Kwik  Kian Gie sudah lama disingkirkan dari PDIP. Wacana yang disodorkan PDIP selama ini pun hampir sama dengan Demokrat, Golkar, dan sejenisnya. Maka, boleh dikata PDIP ini tak jauh berbeda dengan Golkar.

Adapun empat partai lainnya (PPP, PAN, PKB, PKS) sudah jelas berbasis massa Islam. Katakan saja partai Islam meskipun ada perbedaan nuansa antara keempat partai itu. Toh, sama-sama partai Islam, bukan? Mengapa tidak digabung saja menjadi sebuah partai Islam dengan kekuatan yang besar?

Melihat anatomi 10 partai ini, maka sebaiknya ke depan di Indonesia ini cukup hanya DUA partai saja: Partai nasionalis dan partai Islam (atau apa pun namanya). Dengan sistem dwipartai, maka sistem pemerintahan dan demokrasi di tanah air bisa berjalan dengan jauh lebih efektif.

Minat baca sangat rendah di NTT

Waktu mudik ke Lembata, NTT, belum lama ini saya membawa koran, majalah, dan sejumlah buku. Selain dibaca sendiri, saya ingin tahu minat baca orang di kampung kelahiran saya.

Saya pun meletakkan koran, majalah, buku itu di tempat terbuka. Siapa saja bebas membaca, kata saya. Sayang, tak ada yang berminat membaca. Cuma ada dua bocah SD yang menjadikan majalah dan buku itu sebagai bahan mainan.

Saya memang sudah lama prihatin dengan minat baca di NTT. Ketika masih kecil di kampung, saya melihat banyak surat kabar DIAN, majalah KUNANG-KUNANG, dan majalah HIDUP di beberapa rumah penduduk. Lumayan buat baca-baca, pengisi waktu senggang.

Anehnya, di zaman internet ini, ketika anak-anak muda di kampung doyan main HP, bahan bacaan seperti koran, majalah, buku tak ada lagi. Termasuk di rumah saya sendiri. DIAN sudah lama tidak terbit. Koran-koran lain entah POS KUPANG atau FLORES POS tidak masuk kampung. Maka, di rumah hanya ada buku-buku doa, YUBILATE, dan kitab suci.

Ketiadaan bacaan, alih-alih taman bacaan atau perpustakaan, tentu saja membuat budaya lisan berkembang makin subur di Lembata, khususnya Ileape. Orang kampung begitu doyan bicara. Sebarkan gosip. Ngerasani orang. Omong tak pernah putus.

Kita yang sedang berlibur pun nyaris tak punya waktu lagi untuk membaca karena sikonnya memaksa kita untuk nimbrung dalam obrolan panjang. Tahu-tahu sudah sore. Tahu-tahu sudah malam. Tahu-tahu masa cuti natal sudah berakhir.

08 January 2013

Mabel Garcia, soprano, guru Sekolah Ciputra


Wanita asal Argentina ini yang kini menetap di Surabaya ini bukan sekadar guru musik dan seni pertunjukan di Sekolah Ciputra, kawasan Citraland. Mabel Garcia ternyata seorang penyanyi opera yang sudah pernah tampil dalam sejumlah konser di berbagai negara.

Belum lama ini Mabel Garcia memamerkan suara soprannya dalam konser bersama Surabaya Symphony Orchestra (SSO). Meski belum setahun tinggal di Surabaya, ibu satu anak ini mengaku terkesan dengan keramahan dan kemampuan musikal anak-anak didiknya.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Mabel Garcia di ruang kerjanya, kompleks Sekolah Ciputra, Surabaya, menjelang Natal 2012.

Sejak kapan Anda tinggal di Surabaya?

Baru sekitar setengah tahun di Surabaya. Kebetulan saya dikontrak untuk mengajar di Sekolah Ciputra selama dua tahun sejak Juli 2012. Jadi, saya masih punya banyak waktu untuk mengenal lebih banyak Kota Surabaya dengan segala kekahasannya.

Di Sekolah Ciputra Anda mengajar musik?

Ya, salah satunya memang musik, karena itu dunia saya, passion saya di musik klasik. Tapi sebetulnya saya dipercaya jadi koordinator performing arts. Jadi, tidak hanya musik, tapi juga seni tari (dancing), drama, teater.

Bagaimana Anda menilai apresiasi musik di kalangan masyarakat Surabaya?

 Tentu saya belum bisa menilai terlalu jauh karena selama ini saya lebih banyak berkumpul dengan para siswa saya di Sekolah Ciputra. Saya senang karena para siswa di sini sangat musikal. Mereka cepat sekali menangkap apa yang saya ajarkan. Bahkan, sebagian siswa sebetulnya sudah ikut pelajaran atau kursus musik di luar. Sehingga, ketika performing, persiapannya tidak butuh waktu lama.

Sebelum di Surabaya, Anda bertugas di mana?

Wow, saya sudah berkeliling ke banyak negara. Saya suka traveling dan itu rupanya cocok dengan profesi yang saya tekuni sekarang. Saya tidak hanya mengajar, tapi juga berpartisipasi dalam konser-konser di negara-negara yang saya datangi. Dan itu memberikan banyak sekali pengalaman dan wawasan berharga buat saya. Saya jadi mengenal begitu banyak orang dari beberapa negara dengan karakter yang berbeda. Sangat menarik.

Negara mana saja?

Argentina tentu saja, kemudian Amerika Serikat, Haiti, Singapura, Korea Selatan, Turki, Kolumbia. Saya juga pernah bekerja di Timur Tengah, khususnya Dubai (Uni Emirat Arab). Negara-negara itu sangat jauh dari kota asal saya di Argentina. Anda bisa perhatikan peta ini (menunjuk peta dunia di internet), Argentina dan Indonesia terpisah sangat jauh. Tapi, thanks God, saya diberi kesempatan untuk tinggal dan mengajar di Kota Surabaya, Indonesia.

Sebelum bertugas di Surabaya, Anda sudah pernah ke Indonesia?

 Pernah satu ke Bali, karena Bali itu sangat terkenal di seluruh dunia. Tapi cuma sebentar karena saya hanya jalan-jalan sebagai turis. Jadi, sebetulnya saya kurang mengenal Indonesia secara mendalam.

Bagaimana Anda membandingkan Indonesia dengan negara-negara yang pernah Anda tinggali?

Wow, Indonesia punya kebudayaan yang sangat kaya dan beragam. Karakter masyarakatnya pun beda dengan Singapura atau Malaysia meskipun masih bertetangga. Semua negara yang pernah saya datangi itu unik. Kita tidak bisa meng-copy begitu saja apa yang ada di negara lain karena pasti tidak akan cocok. Biarlah Indonesia tumbuh dan berkembang dengan budaya dan karakternya sendiri.

Di Indonesia pada umumnya peminat musik klasik, opera, atau fine art lainnya sangat sedikit. Orang lebih gandrung budaya pop.

Di negara saya, Argentina, juga sebetulnya penggemar musik klasik atau opera terbatas. Tapi orkes-orkes simfoni dan konser-konser musik klasik di sana cukup banyak. Argentina dan negara-negara Amerika Latin itu kehidupan musik klasiknya tidak semeriah di Eropa. Kalau di Eropa, musik klasik jauh lebih semarak karena mereka kultur mereka sangat mendukung. Beda dengan negara-negara berkembang.

Lantas, bagaimana cara menarik minat masyarakat?

Pemerintah tidak bisa tinggal diam. Harus ada investasi di bidang kebudayaan baik itu musik, seni tari, seni lukis, teater, dan sebagainya. Invetasi budaya ini tidak bisa dipetik hasilnya dalam jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang pasti akan ada hasilnya. Tanpa investasi budaya, suatu ketika masyarakat menjadi kehilangan pegangan dan karakternya.

Investasi budaya seperti apa yang Anda maksud?

Macam-macam. Bisa dengan membuat gedung pertunjukan, concert hall, mendukung sanggar-sanggar kesenian, dan sebagainya. Semua itu butuh uang. Hampir semua orkestra yag bagus di dunia pasti mendapat subsidi dari pemerintah atau swasta. Kita tidak bisa menikmati konser dengan nyaman kalau tidak ada concert hall.

Investasi budaya yang juga sangat penting adalah melalui pendidikan. Anak-anak harus dididik dan dilatih untuk mengenal kesenian, entah musik, dancing, drama, teater, seni tradisional, sejak kecil. Kelak ketika dewasa mereka pasti punya apresiasi seni yang bagus. Dan mereka akan men-support kegiatan-kegiatan kesenian misalnya setelah jadi pengusaha yang sukses. Apa yang kita tanam sejak kecil, itulah yang akan kita panen setelah dewasa. Saya sendiri pun belajar musik sejak masih anak-anak. Akhirnya, saya merasa bahwa passion saya memang ada di musik.

Anda sudah bisa membawakan lagu-lagu Indonesia?

Hehehe.... Belum bisa. Tapi suatu waktu saya coba menyanyikannya. Paling tidak memainkan komposisi Indonesia di piano saya.




Egenson adalah Segalanya

 Begitu bangga dan sayangnya Mabel Garcia pada Egenson Raul. Bocah enam tahun ini diadopsi dari Haiti, negara kecil di Kepulauan Karibia. Di kawasan Citraland, Surabaya, Mabel tinggal bersama anak laki-laki berkulit gelap itu.

"Egenson itu bagian dari jiwa saya. Karena ada dia, saya tidak merasa kesepian meskipun tinggal jauh dari Argentina," kata Mabel Garcia seraya menunjukkan pas foto Egenson Raul.

Sekitar tiga tahun lalu, Haiti diguncang gempa bumi sangat dahsyat. Negara yang penduduknya hanya sekitar 10 ribu jiwa itu pun hancur berantakan. Saat itu Mabel tengah berada di Korea Selatan untuk bekerja sebagai guru musik plus penyanyi opera.

Selama enam hari dia tak bisa tidur karena memikirkan nasib Egenson. Waktunya dihabiskan untuk menelepon dan browsing internet untuk mencari tahu nasib anaknya. Dia kemudian lega karena bocah itu selamat. "Anak saya itu segalanya. Dia adalah hidup saya," katanya.

Karena itu, tak heran, Mabel Garcia memberikan perhatian ekstra kepada si Egenson. Apalagi, di Surabaya tak ada orang lain yang menemani selain dirinya sendiri. Mabel pun bisa membatalkan acaranya sewaktu-waktu jika bocah asal Haiti itu hanya sakit sedikit saja.

"Sejak awal saya biasakan memutar musik yang berkualitas untuk dia nikmati," katanya. (rek)

Senja kala keroncong di Sidoarjo


Nasib musik keroncong di Sidoarjo saat ini ibarat kerakap di atas batu. Hidup segan, mati tak mau. Meski makin ditinggalkan generasi muda, sejumlah komunitas tetap berusaha melestarikan musik yang pernah sangat populer pada awal kemerdekaan itu.

SIANG itu sekitar sekitar 20 penggemar keroncong berkumpul di Pendapa Delta Krida, Sidoarjo. Usia mereka rata-rata di atas 50 tahun. Ada juga satu dua orang yang berusia kepala tiga. Tapi semangat mereka untuk bernyanyi dan main musik layak diacungi jempol.

“Saya minta Keroncong Tanah Airku,” kata Totok Widiarto, warga Siring, Porong, yang rumahnya sudah lama tenggelam oleh lumpur Lapindo. Sang pemusik pun memainkan intro lagu keroncong terkenal ciptaan Kelly Puspito itu.

“Mendalam lembah curam, di sela gunung meninggi....”

Ternyata nadanya ketinggian. Maka, Totok yang memang bersuara rendah itu kesulitan membunyikan nada-nada tinggi. Setelah diturunkan nada dasarnya beberapa kali, penyanyi keroncong senior ini akhirnya bisa menyelesaikan nomor itu. Tepuk tangan pun bergemuruh usai Totok menyelesaikan lagunya.

Belum sempat Totok duduk, Ny Eddy Sukamto mendekati peman keyboard dan memesan lagu keroncong kesukaannya, Rindu Malam. Bu Eddy, sapaan wanita 50-an tahun ini, tampak bernyanyi dengan penuh perasaan. Dia seperti larut dalam melodi keroncong yang mengalir dan melankolis itu.

Begitu seterusnya anggota komunitas ini bergantian menyanyikan lagu-lagu keroncong lawas diiringi organ tunggal. Bukan orkes keroncong yang biasanya diperkuat tujuh hingga 10 pemusik.

“Kalau hanya sekadar latihan dan santai seperti ini cukup satu pemain keyboard saja. Soalnya, sekarang ini kita sangat sulit menemukan orkes keroncong yang masih komplet di seluruh Kabupaten Sidoarjo,” kata Totok Widiarto kepada saya.

Pada 1990-an Totok Widiarto dan kawan-kawan pernah merilis album keroncong berisi lagu-lagu tentang pemandangan alam dan keindahan Kota Delta, Sidoarjo. Meski distribusinya terbatas, album ini cukup dikenal di kalangan komunitas keroncong. Totok juga sempat mencoba menghidupkan beberapa grup keroncong yang mati suri di Sidoarjo.

Namun, gara-gara musibah lumpur Lapindo, yang menenggelamkan rumah sekaligus tempat latihan keroncong di Desa Siring, Kecamatan Porong, tak jauh dari Sumur Banjarpanji I, Totok pun fokus untuk mencari rumah kontrakan. Sempat membuka komunitas musik keroncong di Pondok Mutiara, pria yang juga koordinator Pusat Lembaga Kebudayaaan Jawa (PLKJ) ini harus pindah lagi ke tempat lain.

“Makanya, sekarang ini latihan kami pindah-pindah, tidak menentu. Kalau ingin kumpul, ya, saya tinggal SMS ke teman-teman,” katanya seraya tersenyum.

Menurut Totok, pada tahun 1980-an Sidoarjo punya cukup banyak grup musik keroncong yang tersebar di 18 kecamatan. Ada kecamatan yang punya tiga, bahkan lima orkes keroncong yang aktif pentas di berbagai hajatan. Maklum, saat itu resepsi pernikahan sering menampilkan orkes keroncong untuk menghibur para undangan. Saking banyaknya tanggapan, para pemusik keroncong bisa hidup hanya dengan main keroncong dari satu hajatan ke hajatan yang lain.

Seiring perubahan selera musik masyarakat, menurut dia, orkes keroncong ini perlahan-lahan surut. Di pihak lain, regenerasi tidak jalan karena anak-anak muda kurang tertarik mendalami musik campuran Portugis dan nusantara ini. Akibatnya, pemain-pemain musik maupun penyanyi keroncong mulai didominasi oleh warga senior alias lansia.

“Sudah banyak pemusik keroncong yang meninggal dunia. Dan tidak ada yang melanjutkan,” paparnya.

Setelah tahun 2000, orkes keroncong yang ada di Kabupaten Sidoarjo yang aktif tak sampai 10 grup. Itu pun kondisinya semakin parah karena tak ada lagi tanggapan. “Kalau nggak ada yang nanggap, mau hidup dari mana?” tukasnya.

Karena krisis musisi itulah, saat ini para penyanyi keroncong tidak bisa lagi diiringi orkes keroncong, melainkan organ tunggal alias keyboard. Nuansanya tentu sangat berbeda dibandingkan keroncong asli dengan orkes lengkap.

Nah, para (mantan) penyanyi keroncong dari berbagai grup yang sudah vakum itu kemudian secara berkala mengadakan latihan bersama. Bahkan, beberapa waktu lalu mereka menggelar sebuah even kesenian di pelataran Cand Pari, Porong. Tak hanya keroncong, Totok dan kawan-kawan juga menampilkan mocopat dan campursari.

“Sebab, vokalis keroncong di Jawa itu hampir pasti bisa nyanyi campursari dan mocopat. Bahkan, sekarang ini mereka lebih banyak aktif di campursari karena keroncong sudah hampir tidak ada lagi,” katanya.

Bertemu Romo Zaka Benny di Lewotolok

Romo Zaka Benny (kiri) bersama Ama Niko Nuho.

Banyak pengalaman manis dan pahit saat mudik akhir tahun 2012 ke kampung halaman. Salah satu yang manis adalah bertemu Romo Zakarias Benny Nihamaking. Beliau pastor asal Desa Bungamuda, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, satu kampung dengan saya. Setiap kali mendaki dari Lamawara ke rumah kakek-nenek di pojok Bungamuda, saya pasti lewat di samping rumah sang romo.

Romo Zaka menjadi rohaniwan yang sangat dibanggakan di kampung saya. Maklum, tidak mudah mencetak pastor Katolik karena pendidikan dan penggemblengan yang sangat panjang. Juga faktor panggilan. Biarpun sudah masuk seminari, kuliah lama di Ledalero, kalau panggilan tak ada, tak mungkinlah ditahbiskan jadi pastor.

Sejak 20 tahun terakhir, saya mencatat di kampung saya hanya Romo Zakarias Benny dan Romo Paskalis Hurek yang jadi pastor. Belum ada tanda-tanda akan ada tahbisan imam baru asal Bungamuda-Mawa-Lamawara dalam waktu dekat. Bagaimana ada tahbisan kalau tak ada anak muda setempat yang sekolah di seminari?

Karena itu, saya senang sekali bisa bertemu lagi dengan Romo Zaka. Terakhir saya bertemu dan menjabat tangan beliau saat saya masih SMP di Larantuka. "Sekarang saya sudah pensiun, tinggal di Waiwerang (Adonara Timur)," kata Romo Zaka dengan suaranya yang halus.

Kalau tidak salah Romo Zaka merayakan imamat perak atau 25 tahun menjadi imam pada 2008 di Witihama, Adonara Timur. Berarti beliau sudah 32 tahun memilih membaktikan hidupnya di ladang tahun. Menjadi gembala domba-domba di bumi Lamaholot. Menggantikan imam-imam misionaris asal Eropa yang sekarang sudah RIP semua!

Mungkin, karena dulu sekolah di seminari tinggi di Jogjakarta, Romo Zaka ini sangat halus. Bicara seperlunya saja, cuma yang penting-penting. Tapi ramah, senyum, dan baik dengan umat. Ini pula yang membuat Romo Zaka selalu dicintai umat di paroki-paroki tempatnya bertugas.

Di Gereja Lewotolok, 1 Januari 2013, Romo Zaka memimpin perayaan ekaristi (misa) tahun baru. Seperti biasa, gereja tidak penuh karena malamnya umat ramai-ramai melekan sampai pagi. Tradisi merayakan tahun baru ala kampung-kampung di bumi Lamaholot. Toh, Romo Zaka tidak marah atau mengecam umat yang bangun kesiangan sehingga tidak bisa ke gereja. Romo Zaka ini tipe pastor yang selalu melihat sesuatu dengan kacamata positif.

Setelah misa, saya beruntung dapat kesempatan sarapan bersama Romo Zaka dan para tokoh umat Stasi Lewotolok. Wow, makannya sedikit kayak orang Jawa! Tidak tambah nasi seperti kebiasaan orang-orang Lembata. Mungkin karena makan sedikit inilah tubuh Romo Zaka Benny tidak sampai kegemukan. Setelah makan, Romo Zaka dijemput dengan sepeda motor ke rumahnya di Bungamuda.

Selamat tahun baru dan selamat melayani umat di Lewotanah!

Bahasa daerah memudar di Lembata

Pantai di Desa Mawa, Ileape, Lembata, yang penuh batu.

Seminggu terakhir ini Kompas mengangkat masalah pengajaran bahasa daerah di sekolah. Intinya, para guru, budayawan, pakar, dosen, tokoh masyarakat di Jawa menuntut bahasa daerah HARUS diajarkan di sekolah. Bahasa daerah jangan dihapus di kurikulum baru.

"Bahasa daerah penting untuk menjaga jati diri bangsa," kata Dingding Haerudin, ketua jurusan bahasa Sunda, Universitas Pendidikan Indonesia, seperti dikutip Kompas (8/1/2012). Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan juga mengirim surat kepada Menteri Pendidikan M Nuh. Dia meminta agar bahasa daerah tetap diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa Barat.

Anehnya, di Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores Timur dan Lembata, yang bahasa ibunya bahasa lamaholot, perdebatan soal pengajaran bahasa daerah ini tidak terjadi. Bahasa Lamaholot atau bahasa daerah memang tidak pernah diajarkan di NTT. Bahkan, ada kecenderungan para orang tua saat ini lebih suka mengajarkan anak-anaknya bahasa Indonesia (versi Lewoleba) sebagai bahasa ibu. Bukan lagi bahasa Lamaholot.

Saat mudik ke Lembata baru-baru ini, saya kaget karena beberapa anak kecil yang saya temui selalu bicara dalam bahasa Indonesia. (Meskipun bahasa Indonesianya logat Lembata, campur-baur dengan kata-kata lokal.) Saat saya bicara dalam bahasa Lamaholot, dia tetap saja berbahasa Indonesia. Wow, luar biasa!

Ketika ikut misa malam Natal di Gereja Lewotolok, duduk di luar karena penuh, saya dekat seorang ibu muda. Dua anaknya yang masih kecil suka jalan-jalan, ganggu konsentrasi umat. Wow, saya kaget karena komunikasi mama itu dengan anaknya selalu dalam bahasa Indonesia. Rupanya, saya yang sudah terlalu lama tinggal di Jawa Timur tidak mengikuti perkembangan masyarakat di Lembata, kampung halaman saya sendiri.

Dulu, sebelum tahun 2000, tidak banyak orang Lembata di kampung-kampung yang lancar berbahasa Indonesia. Hanya guru-guru sekolah dasar yang bisa diandalkan kemampuan bahasa Indonesianya. Karena itu, pastor-pastor misionaris asal Eropa pun harus berbahasa Lamaholot kalau ingin berkomunikasi dengan masyarakat di desa-desa di Kecamatan Ileape, Lebatukan, Buyasuri, Omesuri, Nagawutun, atau Atadei.

Saya sendiri baru mulai belajar bicara bahasa Indonesia setelah pindah ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, untuk melanjutkan sekolah ke SMP di San Dominggo. Sangat sulit bicara bahasa Indonesia karena struktur bahasa Lamaholot memang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Belum lagi perbedaharaan kata bahasa Indonesia yang sangat minim.

Rupanya, isu pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah tidak relevan di NTT, khususnya Flores Timur dan Lembata. Kalau orang Jawa akhir-akhir ini meradang karena bahasa daerah bakal dihapus di kurikulum baru, orang NTT malah sudah lama MELARANG murid-murid berbahasa daerah di lingkungan sekolah. Anak-anak yang ketahuan berbahasa daerah (setiap murid dituaskan untuk memata-matai temannya) mendapat hukuman.

"Anak-anak Lembata yang selalu berbahasa daerah akan bodoh di sekolah. Tidak bisa menerima pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Indonesia. Makanya, lebih baik anak-anak dibiasakan berbahasa Indonesia sejak kecil di rumah," kata seorang pensiunan guru di Lembata.

05 January 2013

Diperas tukang ojek di Lembata

Pesawat SUSIAIR mendarat di Bandara Wunopito, Lembata, 24 Desember 2012.
Salah satu profesi baru di NTT, khususnya Lembata, adalah ini: tukang ojek. Mengantarkan orang dari kampung ke kampung atau kampung ke Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata. Jangan kaget, begitu Anda turun di Bandara Wunopito, para tukang ojek berebut menawarkan jasa.

Tukang ojek juga banyak mangkal di pelabuhan, pasar, dan tempat-tempat keramaian lainnya. Mereka cukup sopan menawarkan jasa.

Sayang, tak sedikit tukang ojek itu yang tega memeras konsumen. Khususnya wajah-wajah baru. Khususnya wajah-wajah Jawa yang dianggap uangnya banyak. Ojek jarak pendek, kurang 10 kilometer, pun dipasang tarif tinggi. Alasannya ada-ada saja.

Ketegaan ojek-ojek Lembata ini mulai terasa dalam 10 tahun terakhir karena tekanan ekonomi. Sulitnya mencari uang di kampung (pabrik tidak ada, proyek-proyek sepi, industri nihil, perkebunan tak ada) membuat orang-orang tega menggorok sesama orang Lembata. Uang memang tak kenal saudara atau keluarga.

"Sekarang ini numpang motor sama keponakan pun harus bayar. Paling tidak untuk beli bensin," kata Kewa, orang Ileape.

Beda dengan sebelum tahun 2000, orang bisa nunut motor atau mobil gratis. Dulu, bahkan orang yang naik motor selalu berhenti untuk mengajak orang yang jalan kaki menumpang motornya. Gratis! Kini, jangankan diajak nunut motor, disapa di jalan pun tidak. Perubahan budaya ini, saya kira, membuat para perantau di Malaysia atau Jawa tidak akan betah pulang kampung (apalagi pernah diperas ojek).

Saya baru saja mendapat pengalaman buruk di kampung. Pagi-pagi hujan, tidak deras tapi stabil, sementara saya harus kejar pesawat Susiair di Lewoleba. Motor milik adik saya gembos. Tak ada pilihan selain naik ojek atau mobil carteran. Maka, tukang ojek pun jual mahal. Kesempatan emas untuk dapat uang banyak karena mau tidak mau saya harus mengejar si Susiair itu.

Apa boleh buat. Pagi itu tukang ojek punya rezeki. Saya harus bayar Rp 100.000 hanya untuk jarak 22 kilometer. Daripada tiket hangus, tak jadi terbang ke Kupang, untuk selanjutnya ke Surabaya.

Saya sedih bukan karena uang Rp 100.000 untuk si ojek. Tapi menyayangkan tukang ojek di kampung yang tak punya etika bisnis dan kehilangan rasa kekeluargaan. Cinta uang membuat kekerabatan di bumi Lamaholot makin renggang. Bagaimana mungkin jarak 22 kilometer dipungut Rp 100.000?

Sejahat-jahatnya tukang ojek di Jawa Timur, dia tak akan mengutip tarif selangit untuk jarak pendek. Tukang ojek di Kupang, langganan saya Alfons dan Donny, pun punya kriteria jarak dalam menentukan tarif. Orang Kupang ini akan mengembalikan uang bila kita kasih lebih. Kurang dia bilang kurang, terlalu banyak dia kembalikan.

Sejahat-jahatnya pedagang Tionghoa, dia tidak akan menjual beras raskin Rp 8.000 per kilogram hanya karena pembeli sangat kepepet butuh beras. Etika bisnis ini yang saya rasa tidak dihayati sebagian tukang ojek di Lembata.

04 January 2013

Antre bensin di Lembata jadi profesi

Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, hanya punya SATU pom bensin alias stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Cukup aneh karena sejak 2000 Lembata sudah jadi kabupaten sendiri, pisah dari Flores Timur. Bisa dibayangkan panjangnya antrean sepeda motor dan oto (mobil) di pom bensin itu.

Yang lebih aneh lagi, terutama bagi kita yang lama tinggal di Jawa, antre bensin itu sudah menjadi pekerjaan sehari-hari sebagian orang di Lembata, khususnya Lewoleba, Lamahora, Muroona, dan sekitarnya. Cari uang ya dengan antre bensin.

Bensin yang diisi di tangki motor atau mobil itu kemudian disedot keluar. Lalu dimasukkan ke dalam botol-botol air minuman dalam kemasan 1500 ml. Yah, hanya sekitar satu liter saja. Kemudian dijual lagi di pinggir jalan. Harganya Rp 10.000.

Orang Lembata pengguna motor atau mobil biasanya membeli bensin botolan di pinggir jalan itu. Sebab, antre di SPBU yang cuma ada satu itu lamanya bukan main. Maka, yang antre panjang sampai mengular ke jalan raya itu memang pekerjaannya ya antre bensin (premium).

Harga premium di SPBU Rp 4.500 atau Rp 5.000. Maka, si pengantre alias pedagang kulakan bensin itu dapat untung Rp 5.000 per liter. Silakan hitung sendiri berapa keuntungan yang bisa diraih mereka. Sebab, dia bisa antre berkali-kali dalam sehari.

Karena labanya bagus, saya lihat banyak anak kecil, remaja, orang kampung yang khusus datang ke Lewoleba untuk antre plus kulakan bensin. Modalnya sederhana saja: punya motor (untuk nampung bensin), sabar, berani tahan panas dan hujan. Botol-botol aqua bisa diperoleh di mana saja dengan mudah, bukan?

"Di Lembata ini banyak orang yang sukses mengumpulkan uang banyak dengan antre bensin. Mereka bisa membeli material untuk memperbaiki rumah, beli ikan, beras, dan sebagainya," kata teman saya.

Menurut si teman ini, antre bensin ini justru jauh lebih menghasilkan (uang) daripada bercocok tanam atau kerja di kebun. Biasanya, kerja kebun sehari dibayar Rp 20.000 atau Rp 25.000. Taruh kata sehari dapat 10 liter bensin, uang yang masuk Rp 50.000. Toh, kerjanya cuma duduk santai di atas jok motor sambil menunggu giliran isi tangki.

Banyak anak sekolah di Lembata yang tergiur antre bensin agar bisa pegang uang. Tapi, bahayanya, anak-anak yang punya uang cukup biasanya malas belajar. Kurang niat belajar, bahkan tidak mau sekolah lagi. Buat apa capek-capek sekolah, sementara uang bisa diperoleh dengan kulakan bensin?

"Saya larang anak saya untuk antre bensin meskipun dia sangat ngotot. Saya ingin dia sekolah, kuliah, agar kelak bisa jadi pegawai (negeri)," kat seorang wanita asal Ileape yang tinggal di Lamahora.

Satu-satunya cara untuk menghentikan budaya antre bensin, yang sudah disalahgunakan ini, sederhana saja. Bikin lagi lima atau 10 SPBU di Lewoleba dan beberapa kecamatan di Lembata. Dengan begitu, masyarakat Lembata bisa menjadi end user bensin yang sudah disubsidi pemerintah.

Ironis, orang Lembata yang umumnya miskin itu harus membeli bensin dengan harga Rp 10.000, sementara di Jawa bensin cuma Rp 4.500.

01 January 2013

Pesta tahun baru yang guyub di Lembata


Yang saya suka di kampung halaman (Ileape, Lembata, NTT) adalah acara malam tahun baru. Cara masyarakat desa di pelosok NTT itu untuk melepas tahun lama, dan menyambut tahun baru, bukan dengan hura-hura di jalan, tiup trompet, konser musik, melainkan doa bersama dilanjutkan makan bersama. Acara dipusatkan di NAMANG, semacam alun-alun di kampung.

Dikoordinasi langsung oleh kepala desa, syukuran malam tahun baru ini berlangsung meriah. Tentu saja, meriah di sini untuk ukuran orang desa. Namanya juga makan bersama, ya, harus ada penyembelihan hewan: babi, kambing, ayam. Juga disediakan ikan laut sebagai alternatif.

Sejak H-3 kampung sudah sangat ramai dengan berbagai pertandingan tarkam (antarkampung) sepakbola dan bola voli. Meskipun kualitas permainan di pelosok NTT itu sangat buruk, jarang latihan, penonton membeludak. Permainan kadang sangat keras. Saat melihat pertandingan bola antara Bungamuda dan Lamawara (dua desa tetangga), misalnya, saya geleng-geleng kepala karena beberapa pemain sengaja menendang kaki lawan dengan sengaja.

Penonton pun ikut mengumpat. Bahkan, ada seorang mama yang berteriak-teriak memaki seorang pemain yang menjegal anaknya hingga jatuh terjengkang di lapangan. Hehehe...

Nah, pada 31 Desember 2012 lalu, masyarakat Bungamuda, Lamawara, dan Mawa sibuk menyembelih hewan. Dagingnya kemudian dimasak ibu-ibu. Sekitar pukul 20.00 lapangan mulai ramai. Bawa tikar atau karpet dari rumah untuk lesehan. Lalu, duduk-duduk ngobrol menanti saatnya kebaktian atau doa bersama melepas tahun lama dan menyambut tahun baru.

Tahun ini Desa Bungamuda kedatangan dua tamu istimewa: Wakil Bupati Lembata, Victor Mado Watun, dan Romo Zakarias Benny Nihamaking. Meskipun ada pastornya, tidak ada misa malam itu. Cuma doa bersama karena misa baru dilaksanakan besok pagi jam delapan di Gereja Lewotolok. Nah, doa bersama itu digelar sekitar pukul 22.00 atau dua jam sebelum pergantian kalender.

Setelah doa bersama, dimulailah persiapan makan besar. Saatnya menikmati menu istimewa mengingat orang-orang desa di Pulau Lembata memang sangat jarang makan daging kalau tidak ada hajatan. Cukup aneh, karena hampir semua orang kampung memelihara kambing, ayam, babi, bebek, atau kuda. Hewan berkaki empat sangat tinggi nilainya karena hanya dipakai saat ada pesta yang bertalian dengan adat seperti pernikahan atau kematian.

Tepat pukul 24:00 lonceng gereja dibunyikan. Anak-anak muda menyusul membunyikan apa saja yang bisa dibunyikan. Termasuk kembang api sederhana. Bukan kembang api kelas kakap ala di kota-kota besar. Tapi itu sudah cukup untuk memeriahkan malam tahun baru yang istimewa itu. Lalu, saling bersalaman, mengucapkan selamat tahun baru. Semoga Tuhan memberkati Anda!

Salam-salam tidak lama karena makanan lezat sudah siap. Nyam-nyam-nyam.....

Bukan orang Lamaholot kalau melewatkan pertemuan akbar tanpa tari-tarian rakyat: dolo-dolo, hedung, liang. Acara bebas pun digelar dengan atraksi tarian rakyat dolo-dolo. Luar biasa kegembiraan orang-orang kampung mengisi malam tahun baru itu.

Sayang, malam tahun baru juga (hampir) selalu diwarnai perkelahian anak muda. Rupanya mereka mabuk berat sehingga emosinya tidak terkontrol. Terlepas dari sisi negatif ini, saya mengapresiasi cara masyarakat Lembata di desa-desa dalam merayakan tahun baru.

Selamat tahun baru!!!