30 November 2012

Sandro Tobing - Merah Hitam Cinta Kita

MERAH HITAM CINTA KITA
Ciptaan Donny Hardono

Kusimpan asmara dalam hati
Kala kutahu rindu menanti
Seputih melati bunga kasihku ini
Di dalam diriku engkau tumbuh dan bersemi
Kurasa hasrat diri menyapa
Di sela raga yang tak berdaya
Mungkinkah nurani cinta kita meraja
Asmara tlah tiba dan milik kita berdua
Ada atau juga tiada
Merah hitam cinta milik kita
Senja kini smakin temaram
Di dalam dunia smua pasti ada
Dan merah hitam cinta kita berdua


Acara Zona Memori (sebelumnya Zona 80) sudah tak ada lagi di Metro TV. Tapi biasanya program musik lawas ini diputar ulang pada pukul 02.00 ke atas. Kita yang sulit tidur bisa menikmati lagi artis-artis lama
yang pernah sangat terkenal di masa lalu. Ketika di Indonesia hanya boleh ada satu stasiun televisi, yakni TVRI.

Maka, penyanyi-penyanyi jebolan Aneka Ria Safari, yang dipandu Sri Maryati, atau Selecta Pop, yang dipandu Mariana Ramelan, muncul lagi di depan kita. Mereka kebanyakan sudah mundur rotal dari musik karena industri pop di Indonesia memang hanya untuk orang-orang yang berusia di bawah 30 tahun. Kalau ada artis nyanyi yang bisa bertahan hingga 40 tahun jelas pengecualian.

Gara-gara sulit tidur, dan menunggu siaran langsung bola, saya pun nonton Zona Memori. Habis tak ada lagi acara-acara bagus di jam mati itu. Oh, malam itu muncul SANDRO TOBING. Orangnya sangat gemuk,
tambun, penuh lemak, beda banget dengan saat jaya di TVRI zaman dulu.

Sandro juga ternyata suka bercanda, bahkan candaannya agak overdosis sehingga dia tidak sempat menjawab pertanyaan pembawa acara Ida Arimurti. Ditanya serius sama Ida dan Sys NS, Sandro malah bicara ngelantur ke mana-mana. Sehingga kita tidak bisa mengikuti ceritanya baik tentang masa lalu maupun masa sekarang. Artis-artis kita yang sering nongol di televisi memang sering tidak bisa menjaga ritme humor. Ngocol keterlaluan sehingga lupa bahwa dia dihadirkan di televisi untuk memberikan wawancara. Itu yang saya lihat dari seorang Sandro Tobing di Metro TV.

Nah, terlepas dari sisi kecil itu, kualitas vokal Sandro Tobing yang disiarkan Zona Memori masih sangat prima. Merdu, pakai vibrasi, teknik pernapasan yang sempurna. Dia menyanyi layaknya penyanyi-penyanyi
festival tahun 1980-an dan 1990-an yang sangat menekankan teknik produksi vokal yang prima. Gaya menyanyi yang masih kita lihat jejaknya di sejumlah jebolan Indonesian Idol macam Joy Tobing (ada
hubungan keluarga sama Sandro Tobing???), Delon, Regina, Sean, Helena, dan sebagainya.

Setelah menyaksikan Sandro Tobing, saya pun tertarik menelusuri rekaman beliau di Youtube. Ada beberapa lagu lama yang di-posting seperti Nuansa Kasih dan Merah Hitam Cinta Kita. Beberapa lagu dari
album pertamanya juga ada di Youtube. Sayang, kualitas audionya kurang bagus karena ditransfer dari kaset lama yang memang kurang layak tayang di era digital sekarang. Andai ada orang yang bisa merenovasi
rekaman lama itu, wah, pasti lebih asyik dinikmati.

Lagu Merah Hitam Cinta Kita ini, kalau tak salah rilis 1985, bagi saya, enak sekali. Aransemen orkestra menyayat hati, melodinya manis, dengan syair yang sangat puitis. Ada kesamaan vokal di akhir kalimat
alias rima. Sandro yang terlihat kurus, rupanya masih remaja SMA di Jakarta, bisa menghayati syair lagu karangan Donny Hardono ini dengan apik.

Maklum, lagu ini khusus dbuat untuk lomba cipta lagu tingkat nasional. Ajang bergengsi pada masa lalu ini memang sering melahirkan lagu-lagu bagus, kemudian arranger dan penyanyi jempolan macam Elfa Secioria
(penata musik) atau Harvey Malaiholo atau Emilia Contesa atau Bob Tutupoly.

Lewat internet saya jadi tahu bahwa Sandro Tobing masih punya banyak penggemar. Mereka suka vokal dan lagu-lagu Sandro yang manis tapi berbobot.

25 November 2012

85 Tahun Rumah Sakit Tionghoa Surabaya (Adi Husada)




Jauh sebelum kemerdekaan tokoh-tokoh Tionghoa di Surabaya sangat menyadari pentingnya pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Karena itu, pada 25 November 1927 mereka mendirikan Sishui Zhonghua Yiyuan atau Rumah Sakit Tionghoa Surabaya. Pada 16 Juli 1975 ganti nama menjadi Rumah Sakit Adi Husada.

"Bulan November ini, tepatnya 25 November 2012, keluarga besar RS Adi Husada merayakan ulang tahun ke-85. Momentum untuk bersyukur kepada Tuhan karena sampai sekarang RS Adi Husada masih terus melayani masyarakat," kata dr Edhy Listiyo, CEO RS Adi Husada, kepada saya.

Menurut Edhy, RS Adi Husada alias Sishui Zhonghua Yiyuan ini mula-mula dirintis oleh dr Oei Kiauw Pik, dokter yang juga tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya pada era penjajahan Belanda. Dokter Oei prihatin melihat kondisi masyarakat saat itu yang sangat menderita. Warga begitu miskinnya sehingga tak mampu membeli obat atau berobat ke rumah sakit.

Maka, dr Oei bersama sejumlah tokoh Tionghoa, khususnya Jap Tam Boe, mendirikan poliklinik ibu dan anak di Jl Kembang Jepun 21-23 Surabaya. Poliklinik ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang tinggal di kawasan Surabaya Utara.

Sepuluh tahun kemudian, 1937, poliklinik ini dikembangkan menjadi Rumah Sakit Sishui Zhonghua Yiyuan yang berlokasi di Jl Kapasari. "Jadi, RS Adi Husada itu dimulai dari Jl Kapasari," kata dokter yang humoris ini.

Di masa perang dunia, ketika balatentara Jepang menduduki Nusantara, RS Sishui Zhonghua Yiyuan praktis tidak mengalami gangguan. Masyarakat yang menggunakan jasa hospital ini untuk berobat terus bertambah. Karena itu, pada 1945 dibuka rumah sakit baru di Jl Undaan Wetan. Rumah sakit kedua ini dalam beberapa tahun kemudian justru lebih pesat perkembangannya ketimbang rumah sakit asalnya.

"Boleh dikata, perjalanan Sishui Zhonghua Yiyuan menjadi Rumah Sakit Adi Husada seperti yang kita lihat sekarang memang sangat panjang. Dan, visi rumah sakit ini tidak pernah berubah sejak didirikan, yakni meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," tegas Edhy.  

Tak hanya membangun dan mengembangkan fisik rumah sakit, menurut Edhy, para perintis Perkumpulan Adi Husada juga mempersiapkan sumber daya manusia untuk mengelola rumah sakit ini.

Pada 1964 didirikan Sekolah Pengantur Rawat, yang dikembangkan menjadi Sekolah Penjenang Kesehatan (SPK) pada 1978. Kemudian tahun 1985 RS Adi Husada merintis Akademi Keperawatan Adi Husada.

Menurut Edhy, jejak langkah para pendiri Sishui Zhonghua Yiyuan alias RS Adi Husada Surabaya akan dilanjutkan oleh keluarga besar Adi Husada dari generasi ke generasi. Pengabdian kepada masyarakat tak akan pernah berhenti.

24 November 2012

Sri Mulyani menari keliling Eropa



Sabtu (24/11/2012), Sri Mulyani genap berusia 37 tahun. Di usia yang kian matang ini Sri telah membuktikan diri sebagai salah satu penari Jawa Timur yang punya jam terbang tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Mungkin ibu tiga anak ini merupakan satu-satunya penari kita yang pernah mendapat kesempatan 'ngamen' di puluhan kota di Eropa.

Didukung sang suami, Ki Toro, dalang sekaligus pemusik tradisi, Sri Mulyani telah menciptakan ratusan karya tari yang sudah dipentaskan di berbagai festival regional, nasional, bahkan internasional. Meski begitu, tak ada kata puas bagi Sri Mulyani. Dia terus menari, meracik tarian baru, dan mengajar tari... karena seni tari sudah menjadi napas hidupnya.

Berikut petikan percakapan Lambertus Hurek dengan Sri Mulyani:

Sejak kapan Anda mulai belajar menari?

Sejak masih anak-anak saya sudah ikut berlatih menari. Sebab, saya berasal dari keluarga yang memang sangat dekat dengan seni tari. Awalnya hanya sekadar senang-senang saja, tidak terlalu serius ingin menjadi atau koreografer profesional. Tapi rupanya seni tari sudah telanjur menjadi bagian dari kehidupan saya sampai sekarang.

Lantas, kapan mulai serius menekuni seni tari?

Kira-kira sekitar tahun 1982. Waktu itu saya masih sekolah dasar (SD). Tapi mulai berproses dengan guru-guru tari dan penari-penari senior sejak tahun 1996 di Taman Budaya Jawa Timur.

Rupanya Anda belajar di sanggar tari yang profesional?

Benar. Sebab, saya memang tidak mau setengah-setengah dalam menekuni seni tari. Saya juga belajar di Bina Tari Jawa Timur, Tari Kreasi Bagong Kusumadiarjo, dan Pokja Pelatihan Tari Bali. Saya belajar menari kurang lebih 13 tahun. Selain itu, saya pernah berlatih pada Cak Rofik, Agustinus, dan Tri Broto Wibisono. Mereka semua kemudian menjadi mitra kerja saya dalam seni tari.

Barangkali Anda pernah ikut lomba saat remaja dan berhasil jadi pemenang?

Wah, kalau lomba-lomba menari di tingkat SD sampai perguruan tinggi, saya memang sering ikut dan, alhamdulillah, sering menang. Saya pernah jadi juara tari remo tingkat pelajar SMP-SMA, bahkan berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Bukannya sombong, saya selalu terpilih menjadi peserta terbaik. Saya tiga kali berturut-turut menjadi juara tari remo, sehingga piala bergilirnya saya bawa pulang menjadi piala tetap. Itu pengalaman yang tak pernah saya lupakan.

Anda kini lebih dikenal sebagai pentara tari yang sukses. Dari mana Anda mendapat ide untuk menciptakan tari kreasi?

Idenya bisa dari mana saja. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan karya-karya baru. Saya juga banyak menggali cerita kepahlawanan atau kearifan lokal.

Bisa sebut contohnya?

Tarian Panji Klaras Keboansikep yang terpilih sebagai karya tari terbaik tingkat nasional tahun 2005. Tarian itu saya ambil spirit perjuangan Kiai Hasan Mukmin di daerah Sruni, Gedangan, Sidoarjo, yang pantang menyerah melawan penjajah bersama masyarakat setempat. Mereka bangkit melakukan perlawanan karena mendapat tekanan berat untuk membayar upeti.

Nah, Kiai Hasan Mukmin itu mantan pasukan Pangeran Diponegoro. Meski hanya seorang penjual tikar, namun beliau punya kepedulian sangat tinggi untuk membela rakyat. Saya kemudian menggunakan properti tikar untuk mengekpresikan sarana perang seperti meriam, benteng, bambu runcing, dan sebagainya.

Lantas, bagaimana Anda bisa melakukan pertunjukan keliling di luar negeri?

Nah, kebetulan tahun 1997 saya berkolaborasi dengan Ki Toro (suami Sri, pemusik tradisional dan dalang, Red) berkeliling ke 24 kota di Prancis. Di Prancis saya membawakan karya hasil kolaborasi dengan penata tari Prancis dengan judul L'eppope de Gilgamesh atau Pengembaraan Gilgamesh.

Kemudian tahun 2004 kami berkeliling lagi di 50 kota ke Belanda menampilkan Tari spirit Jaranan. Saya juga pernah pula tampil di Turki tahun 2008.

Bagaimana apresiasi masyararat Eropa terhadap tarian Anda yang berakar pada tradisi Jawa Timur?

Wah, orang Barat itu memang punya apresiasi yang tinggi terhadap semua jenis kesenian. Setiap kali kami pentas selalu ramai. Dan mereka juga suka mendiskusikan kesenian yang sudah ditonton. Juga ada workshop, kolaborasi, dan sebagainya. Yang menarik, pertunjukan tari itu tidak harus dilakukan di dalam gedung kesenian yang bagus. Mereka bisa menyulap tempat apa pun menjadi ajang untuk berkesenian.

Apakah Anda masih diundang pihak luar negeri untuk tampil di festival atau event-event internasional?

Kalau undangan sih selalu ada. Tapi, terus terang saja, sampai sekarang kita selalu kesulitan mendapat sponsor yang mau mendukung kegiatan kesenian, khususnya seni tari. Ini juga yang membuat penari-penari kita kurang mendapat kesempatan untuk menampilkan kebolehannya di luar negeri. Padahal, melalui seni tari, kita bisa mempromosikan seni budaya Indonesia di luar negeri.

CV SINGKAT

Nama : Sri Mulyani
Lahir : Surabaya, 24 November 1975
Suami : Subiyantoro alias Ki Toro
Anak : 3 orang
Pekerjaan : Penari, koreografer
Sanggar : Pusat Olah Seni dan Budaya Sri Production
Alamat : Bluru Permai BH-2 Sidoarjo, Jawa Timur

Pendidikan :

SMP dr Soetomo Surabaya
SMA Dharma Wanita Surabaya
STKW Surabaya

Pengalaman Pentas

Pertunjukan keliling di 25 kota di Prancis selama tiga bulan, 1997
Indonesia Festival di Darling Harbour, Sydney, Australia, 2004
Mundial on Tour selama tiga bulan di Belanda, 2004
Festival Karya Tari Indonesia, 2005
Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur, 2006
Indonesian Dance Festival VIII di Gedung Kesenian Jakarta, 2006.
Festival Ramayana Internasional di Bali, 2006
Indonesia Performing Arts Mart, Solo, 2007.
Festival Cak Durasim, 2007
Egypt Annual Festival di kota Manisa, Turki, 2007
Indonesia Dance Festival IX, 2008, Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Pembukaan IPAM 2009 di Mangkunegaran, Surakarta.
Temu Taman Budaya di Riau, 2010.
Apresiasi Seni bagi Guru dan Siswa di Puspo Agro Jemundo, Sidoarjo.
Pasamuan Kerukunan Antar Umat Beragama Internasional di Gianyar, Bali, 2011

23 November 2012

Tradisi perang tanding dan baku bunuh di Adonara NTT



Perang antardesa di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, bikin kita mengelus dada. Orang Lewobunga dan Lewonara bukan hanya berkelahi, tawuran, tapi baku bunuh. Gara-gara konflik tanah ulayat, orang Adonara yang masih bersaudara, sesama orang Lamaholot, melakukan perang terbuka pakai parang, kelewang, tombak, dan senjata tajam lain.

Belum ada tanda-tanda kapan konflik tradisional Lamaholot, yang lazim terjadi di era Hindia Belanda, ini akan selesai. Kalaupun berhenti perang, karena capek, siapa yang jamin di masa depan tak berulang? Ingat, dendam itu selalu diwarisi dari generasi ke generasi.

Saya, sebagai putra asli etnis Lamaholot, miris, sekaligus malu, melihat berita perang tanding Lewonara vs Lewobunga di televisi. Kok hari gini, era internet, globalisasi, masih ada baku bunuh antarsaudara di Adonara? Beginikah peradaban orang Lamaholot?

Ingat, Adonara, khususnya Adonara Timur, adalah pusat tradisi dan adat Lamaholot yang meliputi Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor. Apa jadinya kalau tradisi baku parang yang sudah tak relevan ini menular ke Lembata, Flotim daratan, Solor, Alor, Lembata, Pantar?

Saya mencoba mengirim SMS ke Pak Paulus, guru SMA di Surabaya, asal Adonara Barat. Kok bisa perang tanding antarkampung masih ada di Lewotanah? Saya jad miris, kata saya.

Pak Paulus membalas:

"MEMANG SESUAI DENGAN ETIMOLOGI, ADONARA ITU ADOK (ADU) DARA. TITE DOA SEMOGA BERA MELA. PADAHAL CAMAT ADONARA TIMUR NE TEMAN GOE, HAMA-HAMA KULIAH DI JOGJA NOLO, AMA."

Memang begitulah pendapat hampir semua orang Adonara kalau diajak bicara tentang perang tanding alias baku parang. Kata ADONARA dalam bahasa Lamaholot dicarikan etimologi sebagai justifikasi atau pembenaran. Bahwa saling bunuh gara-gara masalah tanah, yang sebetulnya bisa dibawa ke meja hukum atau pengadilan, dibicarakan bersama, menjadi hal yang biasa.

Tahun 1980-an ketika perang antardesa Redontena dan Adobala (kalau tidak salah), banyak tokoh di Flores Timur masih bisa menerima argumentasi tentang kebiasaan perang antarsuku itu. Tapi hari ini, tahun 2012? Ketika makin banyak orang Adonara jadi tokoh di NTT seperti Frans Lebu Raya, gubernur NTT sekarang, dan banyak tokoh lain di luar NTT asal Adonara... apakah baku bunuh itu masih relevan?

Teman-teman kita di Jawa tak habis pikir dengan tradisi yang masih primitif ini. Main gila dengan nyawa manusia jelas tak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun. Apalagi hanya alasan etimologis. Belum kita bicara ajaran Katolik, yang melarang pembunuhan dan menekankan CINTA KASIH sesama manusia, yang terlalu sering disuarakan pastor-pastor di Flores. Pembunuhan dengan alasan apa pun tentu melawan hukum cinta kasih!

Dulu saya pernah diskusi dengan Pastor Lambertus Padji Seran SVD (sekarang almarhum) , pastor asli Adonara Timur, yang pensiun di Biara Soverdi Surabaya. Saya singgung masalah perang tanding ini. Pater Lambert waktu itu tak bisa bicara banyak. Sebab, pastor-pastor senior asli Adonara sekaliber beliau atau Monsinyur Pain Ratu SVD (Uskup Atambua emeritus) pun tak bisa berbuat banyak untuk menghentikannya.

"Sekarang sudah sangat jarang terjadi perang tanding. Mudah-mudahan di masa depan tidak ada lagi," kata Pater Lambert yang sangat dihormati di bumi Lamaholot itu.

Pater Lambert Padji sudah meninggalkan kita semua. Sayang, harapan beliau agar kampung halamannya tak ada lagi pertumpahan darah sia-sia belum menjadi kenyataan. Kasus perang tanding Lewonara vs Lewobunga membelalakkan mata kita semua. Bahwa mengikis tradisi dan adat lama di Lamaholot memang tidak mudah. Sama tak mudahnya dengan menyederhanakan adat belis yang sering mencekik leher keluarga para pemuda Lamaholot yang hendak menikah.

Saya tertegun membaca tulisan Laurensius Molan, orang Adonara, di internet. Dia mengutip buku ATA KIWAN karya Pastor Ernst Vatter SVD, misionaris Belanda, yang terbit tahun 1932 . Misionaris ini melukiskan Adonara sebagai Pulau Pembunuh alias The Killer Island. Sangat menyeramkan.

Pater Vatter menulis:

"Di Hindia Belanda bagian timur tidak ada satu tempat lain di mana terjadi begitu banyak pembunuhan seperti di Adonara. Hampir semua pembunuhan dan kekerasan, penyerangan dan kejahatan-kejahatan kasar lain, yang disampaikan ke Larantuka untuk diadili, dilakukan oleh orang-orang Adonara".

Pater Vatter melihat langsung apa yang terjadi pada tahun 1930-an di Pulau Adonara. Ironisnya, sampai sekarang masih terjadi. Sebuah kisah nyata yang kian melegitimasi Adonara sebagai Pulau Pembunuh.

Pastor Paul Ardnt SVD juga menceriterakan soal keganasan di Pulau Adonara. Sejak era 1900-an, kata misionaris ini, nama Adonara sudah dikenal oleh para misionaris dan bangsa Eropa yang singgah ke Flores.

Pater Ardnt menulis:

"Misionaris dari Eropa mengenal Adonara bukan karena keindahan alam atau kecerdasan masyarakatnya, tetapi karena kekejaman dan berbagai tindak kekerasan yang terjadi di sana."

Syukurlah, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, yang asli Adonara, melontarkan pernyataan yang patut disimak. Politikus PDI Perjuangan ini mengatakan:

"Apa yang kita banggakan dengan sebutan Adonara sebagai Pulau Pembunuh? Kita sudah berada pada zaman berbeda. Semua persoalan tidak harus diselesaikan dengan pertumpahan darah. Perang tanding antara suku Lewonara dan Lewobunga harus segera diakhiri!"

Tak hanya Lewonara vs Lewobunga, Pak Gubernur, jangan ada lagi pertumpahan darah di bumi Lamaholot dan NTT!!

Ina ama kaka ari
Ake belo buko wekike
Tite ata koli lolon hena!!!

21 November 2012

An Xiaoshan sekretaris Konjen Tiongkok



Setelah Wang Dandan kembali ke Beijing, kini posisinya digantikan An Xiaoshan. Nona manis ini bertugas sebagai atase sekaligus penerjemah resmi Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya Wang Huagen.

Begitu tiba di Surabaya, An Xiaoshan langsung mendapat tugas berat. Yakni menyiapkan resepsi hari nasional Tiongkok di Hotel Shangri-La akhir September 2012. Maka, dia harus menghubungi sekian banyak relasi Konjen Tiongkok untuk menghadiri peringatan HUT kemerdekaan Tiongkok itu.

"Kami sudah punya daftar nama sehingga saya tinggal menelepon," kata Nona An kepada saya.

An pun lega karena hajatan tahunan ini berlangsung sukses. Resepsi berlangsung meriah, dihadiri ratusan pengusaha dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Tampil dengan gaun biru, An tak canggung ketika bertemu dengan para undangan yang baru pertama kali ditemuinya.

Selain Konjen Wang Huagen, malam itu An Xiaoshan menjadi pusat perhatian hadirin. Maklum, An jadi pembawa acara dwibahasa. Mula-mula An berbicara dalam bahasa nasionalnya, Mandarin, kemudian bahasa Indonesia. Wow, ternyata bahasa Indonesia An Xiaoshan cukup fasih meski logat Tiongkok tak mungkin hilang begitu saja.

"Sebelum bertugas di Surabaya saya mengajar bahasa Indonesia di Tiongkok," kata An seraya tersenyum.

Menurut dia, bahasa Indonesia bagi masyarakat Tiongkok bisa dibilang gampang-gampang susah. Kelihatannya sederhana, tapi tidak mudah ketika diucapkan. Meski begitu, An tertarik belajar bahasa Indonesia karena bertemu dengan Gunawan, warga keturunan Indonesia di Tiongkok.

Gunawan pun jadi guru privatnya selain belajar secara formal di perguruan tinggi. Karena itulah, ucapan An tidak secadel orang Tiongkok yang baru belajar bahasa Indonesia.

Kemampuan berbahasa Indonesia An semakin terasah ketika mendapat tugas belajar ke Jogjakarta. Di kota budaya itu An ditempatkan di Universitas Achmad Dahlan. Selama satu tahun An mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia yang sudah dipelajarinya di kampus maupun Pak Gunawan. Tak hanya belajar bahasa Indonesia, An juga belajar bahasa Jawa serta tradisi budaya Jawa.

16 November 2012

Hermawan Kartajaya: Bangga jadi orang kampung

Oleh Hermawan Kartajaya

Pada 21 Oktober 2012 saya mendengarkan presentasi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Saya hadir dalam acara penutupan Temu Pusaka Indonesia di FK Unair yang diselenggarakan di Surabaya selama tiga hari.

Yang unik, tahun ini tema besarnya adalah Pusaka Saujana, yang antara lain tentang kampung. Ternyata, kampung-kampung Surabaya begitu hebat sekarang. Karena ada wali kota yang mau turun tangan terus ke mana-mana untuk mengajarkan bagaimana punya kampung yang bersih dan indah.

Saya bangga pernah tinggal di kampung. Kampung saya adalah Kapasari Gang 5, rumahnya nomor 1. Benar-benar kampung. Mobil dan motor tak boleh masuk. Ada saluran got di tengah. Kampung gang 5 itu dibagi menjadi dua bagian, terbelah oleh gang 1 yang bisa dilewati mobil dan motor.

Saya tinggal bersama papa, mama, dan adik perempuan saya di sebuah rumah kecil. Itu pun masih dikavling-kavling lagi dengan delapan orang yang indekos. Jadi, kami benar-benar hidup berdesakan di sebuah petak-petak kecil. Begitu kecilnya sehingga selalu kepanasan di dalam rumah. Jadi, harus belajar di luar rumah.

Papa hanya memerintah saya untuk jadi juara kelas karena kami miskin. Supaya masih ada harga diri dan masa depan. Tetapi, karena tidak pernah masuk kuliah, beliau hanya bisa mempertajam pensil saya. Itu dilakukan tiap malam, lalu ditata dengan rapi bersama karet penghapus di dalam kotak.

Rumah kami yang kecil itu masih harus bisa memuat dua sepeda onthel Gazelle. Satu punya papa, satu untuk saya.

Di sekolah, SMPK St Stanislaus maupun SMAK St Louis, terus terang saya minder waktu itu. Kurang bisa bergaul dan tidak masuk hitungan teman-teman yang punya social class lebih tinggi. Setiap ada pesta yang diadakan di resto dan dansa-dansi, saya pasti tidak diundang. Maklum, orang kampung.

Karena itulah, setiap pulang ke rumah, saya baru merasa somebody. Ketika di sekolah saya seolah nobody. Di kampung kami hidup rukun, aman, damai. Jaga malam bareng-bareng di gardu. Juga sering mengobrol bareng ganti-ganti tempat, termasuk di langgar kampung.

Tiap Hari Raya Imlek, tetangga muslim mengirim makanan kepada yang Tionghoa. Begitu sebaliknya, waktu Lebaran, yang Tionghoa kirim kue-kue kering. Makanan dan kuenya buatan sendiri dengan spirit kekeluargaan. Kampung kami sudah bersih dan aman pada waktu itu karena kami membersihkan dan menjaganya bersama.

Dalam bahasa sekarang disebut komunitas kopi darat yang ikatannya human spirit. Saya rasanya ingin memutar mesin waktu agar bisa hidup di kampung Kapasari, Surabaya, pada era sekarang. Surabaya yang bersih, aman, indah, dan makmur. Dengan penyikapan yang horizontal, inklusif, dan sosial seperti sekarang ini, saya dan siapa pun harus bangga jadi orang kampung. Asal jangan kampungan! (*)

Sumber : Jawa Pos 16 November 2012

12 November 2012

Polisi Malaysia perkosa TKI


Belum lama kita bahas iklan tentang pembantu asal Indonesia yang diobral di Malaysia. Sekarang muncul kasus yang lebih mengerikan dan sangat biadab.

Seorang wanita Indonesia diperkosa ramai-ramai oleh tiga polisi Malaysia di kantor polisi Bukit Mertajam, Penang, Malaysia. Polis diraja perkosa TKI di kantor polisi. Jahanam!

Bisa dikata kasus pemerkosaan ini hanya ulah oknum. Kasuistis. Tapi bahwa rape ini dilakukan polisi di kantor polisi.. bagaimana kita menjelaskannya? Ternyata integritas polisi Malaysia serendah itu. Penegak hukum berperilaku seperti binatang. Dan rasanya bintang sekalipun tak pernah lawan jenisnya karena ada mekanisme musim kawin dan sebagainya.

Saya lihat di televisi reaksi pejabat-pejabat kita seperti menlu, menaker, kedutaan sama seperti dulu. Normatif, datar, dan tenang. Tak ada kegemasan atau kegeraman karena mungkin sudah dianggap biasa saja.

Saya sudah lama mengingatkan bahwa TKI di Malaysia yang jumlahnya 3 juta (bahkan 5 juta ditambah ilegal) menjadi masalah serius di Malaysia. Populasinya terlalu banyak dengan pendidikan dan skill yang rendah.

Martabat TKI sangat rendah. Setiap hari jadi bahan pelecehan orang Malaysia, termasuk polisinya. Dan pemerintah tak bisa berbuat apa-apa karena butuh Malaysia sebagai negara majikan. Indonesia masih sebatas negara budak yang hanya bisa jual tenaga.

Bagaimana kita percaya pada hukum di Malaysia kalau kantor polisi pun jadi tempat memperkosa TKI? Bagaimana kita percaya hukum Malaysia kalau seorang Datok Anwar Ibrahim, politikus dan bekas wakil perdana menteri Malaysia, saja dianiaya dan diperlakukan sewenang-wenang oleh penegak hukum Melayu?

Kita sering terbuai oleh jargon BANGSA SERUMPUN yang sering disampaikan orang Malaysia ketika punya masalah dengan Indonesia. Bangsa serumpun kok diperkosa?

Ah, Malaysia... malingsia!

KHOTBAH PANJANG KHOTBAH PENDEK

Berapa durasi khotbah yang baik di gereja? Panjang, sedang, atau pendek? Atau tidak perlu ada khotbah?

Jawabnnya relatif. Tergantung gerejanya. Ada gereja yang memang kerjanya jualan khotbah. Makin panjang khotbah, makin banyak joke, cerita, umat makin senang. Apalagi banyak tepuk tangan dan teriak jargon-jargon seperti Haleluya dan segala macam.

Minggu 11 November 2011 saya mampir ke sebuah hotel di Surabaya. Ada pameran pendidikan Tiongkok. Kok ada pujian dengan lagu-lagu menghentak, full band, tepuk tangan meriah? Rupanya di ruang sebelah ada IBADAH RAYA, istilah baru untuk kebaktian gereja-gereja haleluya alias krismatik.

Silakan masuk, kata resepsionis. Wah, khotbah si pendeta berbusana pengusaha sukses, bukan jubah ala domine protestan, bicara menggebu-gebu. Kutip ayat-ayat Alkitab dengan lincah sesuai temanya yang penuh motivasi.

Khotbahnya sendiri sekitar satu jam lebih. Rupanya umat yang sebagian besar Tionghoa sangat puas. Jemaat juga dikasih amplop untuk diisi uang persembahan dan perpuluhan. Boleh juga via nomor rekening yang dicetak besar-besar di amplop.

Sorenya saya ke gereja lagi di Gereja Katolik Pagesangan. Guru-guru agama saya mulai SD sampai universitas bilang orang Katolik yang ikut kebaktian minggu di gereja protestan dianggap belum ke gereja. Biarpun ikut kebaktian lima kali, nyanyi jingkrak-jingkrak, haleluya, khotbah panjang. Sebab kebaktian protestan atau pentakosta itu bukan perayaan ekaristi.

Misa sore itu dipimpin pastor muda asal Cepu. Jawa banget! Bacaan kitab suci hari itu tentang persembahan janda miskin yang dianggap lebih bernilai ketimbang persembahan orang kaya. Juga tentang janda di Sarfat yang bertemu Elia.

Saya kaget karena homili romo praja ini sangat cair. Pakai ilustrasi bahasa Jawa sehingga umat tertawa kecil. Meskipun tidak baru, khotbah itu mengusik hati kita untuk bersikap seperti kedua janda miskin itu.

Khotbah romo di Gereja Pagesangan, tetangga Masjid Al Akbar Surabaya, hanya tujuh menit. Dan saya cukup terkesan.

09 November 2012

Paduan suara di Jatim makin hebat


Bukan main paduan suara mahasiswa dan pelajar di Surabaya saat ini. Dalam dua minggu ini tiga kor anak muda Kota Pahlawan unjuk kebolehan di luar negara. PSM Universitas Airlangga baru kembali dari kompetisi choir di Polandia. Dan menang!!!

Kemudian dua hari lalu Paduan Suara SMAN 6 berangkat ke Guangzhou, Tiongkok, ikut festival paduan suara internasional. Semoga menang juga karena tahun lalu sudah dapat medali, kalau tak salah. Tak hanya mahasiswa dan pelajar SMA, anak-anak SD Cita Hati juga berangkat ke Tiongkok untuk lomba paduan suara kelas dunia.

Hebat, hebat, hebat!

Dulu, tahun 1990-an, ketika masih jadi penyanyi dan pengurus paduan suara mahasiswa Universitas Jember dan paduan suara di lingkungan Gereja Katolik di Jember, Malang, Surabaya, saya tak pernah membayangkan paduan suara kita bisa ikut kompetisi di luar negeri... dan (hampir selalu) menang.

Sekadar ikut kompetisi tingkat nasional di Bandung, yang diadakan ITB, kompetisi paling bergengsi di Indonesia saja sudah setengah mati. Cari dana, sponsor, latihan yang lama dan intensif, belum harus kuliah dan praktikum.... Dan keluhan itu sudah biasa dilontarkan teman-teman pengurus PSM di universitas lain. Termasuk kampus negeri yang sangat terkenal.

Tapi, setelah reformasi, semuanya berubah drastis. Ikut lomba ke luar negeri, entah Tiongkok, Polandia, Jerman, Korea, Inggris... bahkan kutub utara begitu mudahnya. Kirim 50 orang ke Eropa kayaknya lebih ringan ketimbang kirim 35 orang penyanyi dan ofisial paduan suara dari Jember ke Bandung. Hehehehe....

Jelas, ini membuktikan bahwa hari ini Indonesia punya banyak uang, mungkin dari sponsor atau pemerintah, untuk membiayai misi kesenian yang nonkomersial ini. Makin banyak pihak yang peduli paduan suara. Pak Harun, kepala dinas pendidikan Jawa Timur, kemarin mengatakan siap membiayai grup paduan suara berkualitas yang sanggup mengharumkan nama Jawa Timur di dunia.

Dulu, zaman saya, tidak ada pejabat tinggi yang bicara kayak Pak Harun. Sekadar keluar uang untuk pengadaan kostum saja, wah, susahnya bukan main. Saya masih ingat betapa susahnya meminta uang dari universitas, yang besarnya tak seberapa, untuk konsumsi anggota paduan suara saat latihan. Sekadar beli roti, camilan, dan minum wedhang jahe. Tak ada dana untuk makan di warung, apalagi restoran.

Maka, bebahagialah anak-anak paduan suara yang hidup di zaman internet ini! Ada youtube, kita bisa lihat penampilan kor di seluruh dunia. Cari partitur gampang! Tidak perlu menulis partitur pakai tangan seperti yang saya lakukan dulu.

Bagaimana dengan kualitas paduan suara sekarang? Sonoritas? Harmonisasi sopran, alto, tenor, bas? Teknik vokal?

Ehm... Kayaknya sama saja. Saya bisa jamin kor zaman dulu tak kalah dengan kor sekarang. Bahkan, bisa jadi lebih bagus. Kor-kor sekarang lebih banyak mengeksploitasi olah gerak, tari-tarian, entertaing! Mereka menyanyi dan menari. Bukan cuma menyanyi doang! Tapi, percayalah, kor-kor lawas yang membawakan Ave Verum Corpus atau Hallelujah Handell masih lebih mantap ketimbang kor-kor masa kini yang sangat menekankan visual.

Bagaimanapun juga selamat untuk semua paduan suara di Jawa Timur yang makin hebat! Lama-lama kor-kor pelajar dan mahasiswa tak mau lagi ikut festival paduan suara di Bandung, Jakarta, atau Jogjakarta karena sudah banyak festival di luar negeri. Toh, banyak sponsor yang mau membiayai.  

Sukarno-Hatta baru jadi pahlawan nasional

Aneh bin ajaib! Sukarno dan Hatta yang mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia baru diresmikan sebagai pahlawan nasional kemarin. Setelah 67 tahun! Ganjil nian.

Dua tokoh yang mewakafkan hidupnya untuk membentuk Republik Indonesia, gigih melawan penjajah... baru diakui kepahlawanannya secara resmi oleh negara pada 7 November 2012. Tapi beter telaat dan noit! Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali!

Betapa pun telatnya kita layak bersyukur kepada Presiden SBY yang memberikan gelar pahlawan nasional kepada Bung Karno dan Bung Hatta. Paling tidak negara sudah bisa menangkap aspirasi rakyat yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Masa si A, B, C pahlawan nasional, sementara kedua pahlawan kok tidak? Kriteria pahlawan pun kian dipertanyakan karena dua Bung besar ini tak kunjung mendapat gelar resmi dari pemerintah RI.

Indonesia memang penuh ironi. Ketika berkuasa, Presiden Soeharto secara sistematis menghapus semua jasa Sukarno. Bung Karno bahkan dikarantina, diperlakukan dengan tak manusiawi, hingga meninggal dunia.

Di mata Soeharto yang berkuasa 32 tahun itu, Sukarno bukan pahlawan tapi.... Syukurlah, rakyat tetap menghormati Bung Karno sebagai pahlawan utama Indonesia.

Soeharto akhirnya kena hukum karma. Presiden yang mengangkat dirinya sendiri sebagai jenderal besar ini kemudian meninggal dalam kondisi mengenaskan. Tapi hartanya masih berlimpah, begitu hasil investigasi TIME.

Presiden era reformasi tak banyak membuat kebijakan yang strategis tentang Soekarno-Hatta. Presiden Megawati binti Soekarno pun tidak. Mungkin Bu Mega sungkan karena statusnya sebagai putri sang proklamator.

Syukurlah, SBY akhirnya mau bikin keputusan penting itu. Sebuah kebijakan politik simbolis yang penuh perhitungan khas SBY.

Yang paling penting, dan sangat tak mudah dilakukan hari ini, adalah melaksanakan ajaran-ajaran Soekarno-Hatta khususnya di bidang politik, ekonomi, budaya. Pasal 33 UUD 1945, yang merupakan visi besar Bung Hatta, kini tinggal kata-kata di atas kertas. Merdeka!

08 November 2012

Manado Paling Gemuk, Flores Paling Kurus


Warga Flores Timur sedang pesta adat.


Orang Indonesia makin gemuk. Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan, 12 persen orang Indonesia kegemukan alias terkena obesitas. Dan tren ini akan terus meningkat seiring kemakmuran yang bertambah plus kemalasan berolahraga.

Dari 33 provinsi, orang Sulawesi Utara yang paling gemuk, 22 persen. Ehm... mungkin karena orang Manado suka makan banyak dan doyan daging yang lemaknya banyak itu. Siapa yang tak suka makan banyak kalau rica-ricanya merangsang selera?

Di bawah Sulawesi Utara Kalimantan Timur 17,3 persen obesitas. Disusul Bangka-Belitung 16,5 persen dan DKI Jakarta 16,2 persen. Orang yang kegemukan di Jawa Timur hanya 11 persen.

Yang menarik, Nusa Tenggara Timur (NTT), provinsi tempat lahir beta, menempati posisi 33 alias juru kunci. Amboi, orang NTT, lebih khusus lagi Flores yang punya 10 kabupaten (termasuk Lembata dan Alor) paling kurus di Indonesia.

Angka obesitas NTT cuma 6,5 persen. Artinya, dari 100 orang NTT, hanya enam orang yang berat badannya overdosis. Orang Indonesia paling langsing di Indonesia.

Memang betul bahwa obesitas itu tidak baik. Sangat berisiko terserang bermacam-macam penyakit. Tapi orang NTT jangan dulu senang mengingat data kemenkes ini sejatinya hasil survei status gizi penduduk.

Dus, bisa dikatakan bahwa sebenarnya orang NTT, khususnya Flores, itu paling kurang gizi di Indonesia. Bagaimana bisa gemuk kalau persediaan makanan di kampung-kampung sangat terbatas? Sering rawan pangan karena gagal panen? Curah hujan sangat sedikit?

Karena itu, data indeks massa tubuh yang dirilis kemenkes ini sejalan dengan data hasil kelulusan pelajar. Sejak dulu sampai tahun 2012 ini angka kelulusan di NTT nomor satu dari belakang alias nomor 33 dari 33 provinsi. Orang yang kurang gizi terbukti tidak cerdas. IQ jongkok.

Mungkin yang paling afdal badan sehat, tidak kegemukan, gizi cukup, dan cerdas. Kurusnya artis-artis kita lantaran jadi pelanggan klinik pelangsingan tubuh, langganan gym... sementara kurusnya kita orang di NTT karena... kurang gizi.

Sama-sama kurus, tapi musababnya berbeda! Hehehe....

06 November 2012

Prof Lukas Widyanto, Tokoh Pembauran Jatim, Berpulang

Jenazah Prof Lukas widyanto disemayamkan di auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.


Satu lagi tokoh pembauran di Jawa Timur berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Prof Dr Lukas Widyanto meninggal dunia dalam usia 86 tahun di Rumah Sakit Santo Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya, Minggu (4/11/2012). Jenazah mantan ketua Yayasan Universitas Katolik Widya Mandala ini, menurut rencana, dikremasi  di Krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, Surabaya, Rabu (7/11/2012).

Mendiang Lukas Widyanto meninggalkan istri, Maria Magdalena Lyantini, tiga anak dan lima cucu. Sebelum diperabukan, jenazah dokter senior senior ini lebih dulu dibawa ke Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga untuk mendapat penghormatan terakhir.

"Prof Lukas ini semasa hidupnya sangat aktif dalam gerakan pembauran etnis Tionghoa dan pribumi di Indonesia, khususnya Jawa Timur," kata Benny Hoe, aktivis Jejak Petjinan.

Di kalangan masyarakat Tionghoa, Lukas Widyanto dikenal sebagai mantan ketua Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB). Organisasi ini dibentuk menteri dalam negeri pada 31 Desember 1977 untuk mendorong pembauran etnis di tanah air. Bakom PKB ini menggantikan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) yang berjaya pada era Presiden Sukarno.

Di masa Orde Baru itu tidak mudah bagi orang Tionghoa untuk mengembangkan organisasi dan mengungkapkan ekspresi budayanya di depan publik. Pemerintah kemudian membentuk Bakom PKB sebagai mediator antara warga Tionghoa dan pemerintah. Prof Lukas Widyanto kemudian dipercaya sebagai ketua Bakom PKB Jatim.

"Saat itu Bakom PKB-lah yang banyak menangani naturalisasi bagi orang Tionghoa yang ingin menjadi warga negara Indonesia. Suara Bakom PKB sangat didengar oleh pemerintah Orde Baru," kata Benny.

Sesuai dengan kebijakan politik saat itu, Bakom PKB yang dipimpin Lukas Widyanto ini juga gencar menyerukan asimilasi bagi orang Tionghoa. Kerja sama dan hubungan yang baik antara 'pribumi' dan 'nonpribumi' terus disuarakan. Dalam sejumlah seminar, kakek yang terlahir dengan nama Tjan Hoen Lay ini mengatakan, persoalan etnis di Indonesia perlu diselesaikan secara benar mengingat persoalannya sangat kompleks.

"Kita tidak bisa melihat secara sepihak karena masalahnya terkait satu sama lain," tegas Lukas suatu ketika. Di kalangan Tionghoa sendiri pun, menurut dia, pembauran itu tidak selalu mudah dilakukan mengingat masih ada golongan peranakan Tionghoa dan totok.

"Dengan orang Indonesia sukar membaur, dengan Tionghoa sendiri pun sukar," katanya.

Mengenai warga Tionghoa yang status sosial ekonominya lebih tinggi dibanding golongan mayoritas penduduk, menurut Lukas, juga tak lepas dari perjalanan sejarah para perantau dari dataran Tiongkok. Saat tiba di nusantara, para huaqiao ini awalnya tidak punya keahlian khusus. Jalan satu-satunya untuk bertahan hidup adalah berdagang. Berkat keuletan mereka, akhirnya para perantau ini mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi. Di sisi lain, peluang bagi warga Tionghoa di luar bidang perdagangan sangat terbatas.

05 November 2012

Bila huruf A diganti X

Pxntxi Rix Kenjerxn mxlxm ini terxsx lengxng, mxklum bukxn mxlxm minggu. Txpi suxsxnx yxng sepi ini justru lebih xsyik. Sxyx menikmxti es degxn sxmbil bxcx korxn.

Cxtxtxn Dxhlxn Iskxn di Jxwx Pos hxri ini tetxp xsyik. Luxr bixsx menteri BUMN itu. Sibuk ke mxnx-mxnx ngurus 141 perusxhxxn BUMN txpi rutin menulis tixp minggu. Dxn kuxlitxs tulisxn belixu tetxp bxgus. Cixmik soro.


Mengxpx bisx begitu? 


Jelxs Pxk Dxhlxn punyx bxkxt, txlentx luxr bixsx di bidxng menulis. Runut, cxir, enxk dibxcx, dxn isinyx bernxs. Bxnyxk ilmu bxru yxng diterimx pembxcx.


Txdi pxgi sxyx membxcx tulisxn mentxh seorxng profesor doktor yxng dikirim Pxk Joko vix emxil. Wuih.. bxru bxcx tigx xlinex dxhi sxyx sudxh berkerut. Sxyx pxhxm mxksud pxk prof itu txpi kxlimxt-kxlimxtnyx bikin pusing. Pxnjxng-pxnjxng, kurxng runut. Belum lxgi mxsxslxh txtx bxhxsx, ejxxn, titik komx yxng kurxng cermxt.


Mxkx sxyx txk bisx membxcx sxmpxi selesxi. Bisx txmbxh keriting betx punyx rxmbut! Kok bisx yx profesor kok gxk bisx menulis dengxn enxk xgxr bisx cepxt dipxhxmi.


Selesxi membxcx dux korxn itu sxyx mxu ngeblog pxkxi ponsel. Eh, ternyxtx huruf A hilxng, lebih tepxt sxngxt susxh keluxr... Pxdxhxl sxyx ingin bxnget ngeblog enteng-entengxn kxrenx sudxh lxmx gxk nulis pxkxi ponsel.


Wow, sxyx ingxt seorxng temxn sxyx di Sidoxrjo. Dix sukx iseng menulis SMS pxkxi huruf X untuk menggxnti A. Buxt hiburxn, kxtxnyx. Ide segxr yxng sxyx txngkxp di seberxng pxtung Dewi Kwxn Im yxng berhixskxn lxmpu wxrnx merxh itu.


Mengetik pxkxi jempol memxng hxrus dibixsxskxn bixr txngxn tidxk kxku. 


Selxmxt membxcx semogx tidxk bingung!

Ketika Multiply Menutup Blog

Blog lama saya di www.hurek.multiply.com yang tinggal kenangan.


"Mulai 1 Desember 2012, dengan sangat menyesal, kami tidak akan dapat lagi mendukung aktivitas Multiply dalam bentuk penyediaan layanan jejaring sosial dan berbagi konten (foto, video, blog, dan lainnya)." 

Pernyataan resmi Multiply tentu  saja menjadi pukulan telak bagi teman-teman blogger yang menggunakan jasa Multiply. Kita tahu Multiply menjadi favorit blogger ketika demam blog sedang melanda tanah air, bahkan dunia. Saya perhatikan blog-blog di Multiply sangat berkualitas.

Mengapa Multiply sangat digemari ketimbang Blogspot atau Blogdrive?

Fiturnya (saat itu) paling lengkap. Dan, yang paling disukai orang Indonesia, adalah musik (audio) dan video. Karena itu, para blogger spesialis musik di Indonesia hampir pasti memilih Multiply. Bukan Blogspot yang lebih dominan kata-kata atau gambar belaka. Baru belakangan ini saja Blogspot dilengkapi dengan fitur audiovisual.

Sebagai penggemar lagu lama, juga pemburu kaset-kaset bekas (dulu), saya selalu berkunjung ke blog-blog musik nostalgia yang (hampir pasti) pakai Multiply. Wuih... enak banget! Ada orang Belanda yang punya koleksi unik lagu-lagu lawas yang sudah sangat sulit ditemukan di Indonesia. Kita bisa menikmati nuansa musik lawas sambil membayangkan situasi masa lalu tahun 1950-an, 1960-an, bahkan 1930-an... ketika industri musik masih sangat prematur.

Tapi mau bilang apa?

Multiply memilih tutup sebentar lagi. Berapa juta orang yang harus kehilangan blog yang sudah dirintis susah-payah selama empat, lima, enam, atau tujuh tahun? Berapa juta orang yang kehilangan kesempatan untuk mengunjungi blog-blog pribadi yang luar biasa itu?

Tapi memang begitulah risiko bermain di internet. Selalu ada pasangan naik, surut, kemudian mati. Demam blog memang sudah lama berakhir. Sehingga Multiply merasa tak ada gunanya lagi mempertahankan layanan blog yang pernah sangat unggul itu.

Untung... masih untung.... blog saya di Multiply tidak saya aktifkan karena sejak awal saya buru-buru pindah ke Blogspot. Tapi sampai kapan Blogspot pun bertahan? Kita tidak tahu. Yang jelas, sewaktu-waktu pemilik Blogspot, yakni Google, bisa saja mengumumkan bahwa layanan blogging-nya akan ditutup... kalau dinilai sudah tidak menguntungkan.

Sebelum Multiply tutup, saya sudah pernah mengalami hal serupa di blog milik Yahoo. Saya banyak mengarsip tulisan-tulisan panjang saya di blog yang kurang populer itu. Tiba-tiba Yahoo! mengumumkan layanan blogging-nya ditutup. Maka, blog alternatif saya itu pun jadi almarhum.

Yah... di dunia ini tidak ada yang abadi. Apalagi cuma internet. Apalagi cuma blog.

Teman-teman blogger, yang pakai Multiply, tolong cepat-cepat selamatkan naskah dan data kalian mumpung masih ada waktu beberapa minggu lagi. Segera beralih ke platform lain... agar dunia blog tanah air tidak kehilangan jutaan pemain dan penggemarnya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Cagar Budaya



Oleh LAMBERTUS HUREK

Surabaya baru saja menjadi tuan rumah Temu Pusaka Indonesia 2012. Selama empat hari sekitar 200 peserta dari berbagai daerah di tanah air, termasuk 48 kepala daerah, mengunjungi sejumlah bangunan cagar budaya dan kampung-kampung di Surabaya yang dianggap khas dan unik.

Para peserta mengaku kagum dengan komitmen Tri Rismaharini, wali kota Surabaya, untuk merawat aneka pusaka (heritage) sembari terus membangun Kota Pahlawan ini menjadi lebih maju dan modern. Bu Risma, sapaan akrab Tri Rismaharini, pun menjadi pusat perhatian selama ajang TPI ini digelar.

"Kita bisa belajar banyak dari Bu Risma yang sudah berhasil dalam menata Kota Surabaya. Sehingga sekarang ini Surabaya sangat layak disebut sebagai salah satu kota pusaka di Indonesia," kata I Gede Ardika, ketua BPPI, yang juga menteri pariwisata di era Presiden KH Abdurrahman Wahid, dalam diskusi bersama Bu Risma di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, pekan lalu.

Gede Ardika kemudian memberikan penghargaan khusus kepada Bu Wali yang energetik ini. Sebelumnya, Bu Risma menyampaikan presentase disusul diskusi bersama peserta TPI 2012. Saking banyaknya pertanyaan, diskusi tentang cagar budaya dan pengembangan Kota Surabaya ini pun sengaja diperpanjang Risma. "Kalau masih belum puas, silakan kontak saya lewat e-mail," kata Bu Risma sembari menyebut alamat surat elektroniknya.

Berikut petikan percakapan dengan Wali Kota Surabaya TRI RISMAHARINI:

Kalau boleh tahu, apa komitmen Anda untuk melestarikan heritage di Surabaya?

Begini ya. Jauh sebelum saya menjadi wali kota, saya sudah punya concern pada bangunan-bangunan cagar budaya yang ada di Surabaya. Meskipun saya berada di dalam (pemerintahan), saya tidak setuju dengan rencana penggusuran bangunan yang punya nilai sejarah. Tapi, karena waktu itu belum reformasi, ya, saya tidak bisa turun unjuk melakukan unjuk rasa.

Lantas?

Saya minta bantuan teman-teman yang berada di luar pemerintahan seperti LSM atau dewan seperti Pak Sabrot (Malioboro, mantan anggota DPRD Surabaya) untuk melakukan koordinasi agar gedung itu jangan sampai hilang. Alhamdulillah, sampai sekarang gedung pers itu masih berdiri di Surabaya.

Bagaimana Pemkot Surabaya mengelola heritage (warisan budaya) di tengah modernisasi sekarang?

Mengelola heritage di kota besar seperti Surabaya ini memang berat. Tantangannya banyak. Kenapa? Karena ada kepentingan ekonomi, kepentingan masyarakat, dan kepentingan untuk melestarikannya. Nah, karena tarikan kepentingan-kepentingan itu, maka pengelolaan bangunan cagar budaya di Surabaya menjadi tersendat. Jika memprioritaskan kepentingan ekonomi, maka akan berbenturan dengan kepentingan masyarakat. Sedangkan kami dari pemkot tentu ingin melestarikan semua bangunan cagar budaya.

Sering ada keluhan bahwa pajak yang harus ditanggung pemilik bangunan pusaka itu terlalu berat?

Nah, maka kami memberikan insentif untuk mempermudah melakukan konservasi bangunan-bangunan cagar budaya yang dimiliki perorangan. Pemkot memberikan keringanan PBB (pajak bumi dan bangunan). Kami sudah menuangkan aturan tersebut melalui Perda Nomor 10 Tahun 2012 tentang PBB.

Apa lagi yang dilakukan pemkot?

Kami melakukan Revitalisasi Kalimas. Ini penting untuk mengenang kembali sejarah Kalimas sebagai salah satu saksi perkembangan Kota Surabaya. Pemkot Surabaya telah membangun berbagai taman di pinggir Kalimas. Semenjak ada taman, banyak warga yang berkumpul di situ. Secara tidak langsung, warga bisa mengenang kembali sejarah Kalimas di masa lalu.

Bagaimana dengan revitalisasi kota lama?

Saya sudah punya konsep pengembangan kota lama di kawasan Surabaya Utara. Di sana ada kampung pecinan, kampung Arab, dengan bangunan-bangunan tua yang sangat indah. Tapi memang tidak gampang karena bangunan-bangunan yang ada di sana sebagian besar sudah berubah fungsi. Saya sudah menghubungi para pemilik bangunan dan ahli warisnya dan, alhamdulillah, mereka sangat mendukung rencana pemkot. Nantinya Jl Karet dan sekitarnya akan kita buat menjadi Kampun Pecinan.

Yang agak repot di Jl Panggung, tidak jauh dari Kembang Jepun, karena sebagian besar bangunan sudah rusak atau keropos. Maklum, bangunan-bangunan lama di situ terbuat dari kayu.

Lantas, apa kiat sukses Anda mengajak warga Surabaya peduli lingkungan, kebersihan, maupun heritage?

Harus sering turun ke lapangan. Kalau hanya duduk di kantor saja, ya, pasti tidak akan bisa. Kita harus mengajak warga untuk mau berubah dan merasa memiliki kota. Sebab, kota sebagai tempat tinggal kita ini merupakan rumah kita yang harus dirawat bersama-sama. (*)


Jadi Guru Sekolah Kebangsaan

Bagi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, cagar budaya itu tidak sekadar gedung tua yang punya nilai sejarah tinggi. Yang tak kalah penting adalah menanamkan nilai-nilai sejarah dan kepahlawanan kepada generasi muda. Karena itulah, orang nomor satu di Surabaya yang akrab disapa Risma ini getol memperkenalkan berbagai bangunan cagar budaya kepada para pelajar.

Caranya dengan mengadakan kegiatan Sekolah Kebangsaan menjelang peringatan Hari Pahlawan. Diikuti pelajar dari berbagai sekolah, Risma terjun langsung sebagai pengajar atau guru sejarah. Dia membawa anak-anak muda itu mengunjungi gedung-gedung bersejarah di Surabaya seperti rumah HOS Tjokroaminoto (tempat kos Bung Karno) dan rumah tempat lahir Bung Karno di Jl Peneleh.

Selain itu, selama satu pekan ini para pelajar diajak mengunjungi Museum WR Supratman, markas tentara pelajar, Museum Resolusi Jihad di Jl Bubutan, rumah Roeslan Abdulgani Jl Plampitan, dan markas Polisi Istimewa (cikal bakal Brimob) yang sekarang dipakai sebagai gedung SMAK St Louis. Apakah wali kota perempuan pertama di Surabaya ini hafal sejarah gedung-gedung itu?

“Nggak hafal. Makanya, sebelum menjadi guru di Sekolah Kebangsaan, saya harus membaca dulu sejarahnya biar bisa cerita di depan anak-anak sekolah. Alhamdulillah, anak-anak itu tertarik dengan bangunan-bangunan bersejarah itu,” kata ibu dua anak ini seraya tersenyum.

Saat memandu Sekolah Kebangsaan di rumah HOS Tjokroaminoto, pahlawan nasional, Risma mengingatkan kepada para pelajar betapa susahnya Pak Tjokro dan para perintis kemerdekaan berjuang di masa lalu. Kondisinya serba terbatas. Bung Karno indekos di rumah Pak Tjokro, tidur di atas loteng yang gelap.

“Tapi siapa sangka di rumah yang sederhana ini HOS Tjokroaminoto bisa menggerakkan masyarakat untuk melawan penjajah,” katanya.

Sebagai Kota Pahlawan, Bu Wali berharap warga Surabaya bisa meneruskan semangat kepahlawanan yang diperlihatkan arek-arek Suroboyo dalam peristiwa 10 November 1945. Meski tantangan zaman sekarang sudah berbeda dengan masa perjuangan dulu, Risma percaya nilai-nilai kepahlawanan, egaliter, merakyat, gotong-royong akan tetap relevan dari masa ke masa.

Dengan semangat itulah, Risma optimistis bisa membangun Surabaya menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan karakter khas arek-arek Suroboyo. “Warga Surabaya itu gampang diajak untuk kerja bakti, penghijauan, memproses sampah, membuat taman, asalkan pemimpinnya mau turun ke lapangan,” tegasnya.

Tee Boen Liong Dalang Tionghoa dari Kapasan


Selama dua hari berturut-turut Ki Sabdho Sutedjo menggelar pertunjukan wayang kulit di lapangan Kapasan Dalam, tepat di di belakang Kelenteng Boen Bio, Surabaya. Mendengar suara dan gaya mendalangnya, tak ada yang menyangka kalau pria 47 tahun ini keturunan Tionghoa.

Ya, Ki Sabdho Sutedjo ini tak lain Tee Boen Liong, salah satu dari segelintir dalang Tionghoa di tanah air. Kiprah Boen Liong dalam dunia pewayangan mendapat apresiasi khusus dari Ki Narto Sabdho (almarhum), maestro dalang asal Klaten, Jawa Tengah. Boe Liong bahkan diberi nama Ki Sabdho Sutedjo ketika berguru langsung di padepokan milik Ki Narto Sabdho.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Tee Boen Liong di sela perayaan sedekah bumi di Kapasan Dalam, Surabaya, pekan lalu.

Sudah berapa kali Anda pentas di Kapasan Dalam?

Wah, sudah sangat sering. Wong, saya ini kan aslinya dari Kapasan sini. Dan kebetulan warga Kapasan Dalam sejak zaman dulu punya tradisi mengadakan sedekah bumi atau bersih desa seperti kampung-kampung lain di Jawa. Kalau tidak salah, tradisi sedekah bumi di Kapasan Dalam itu tahun ini sudah mencapai tahun ke-116.

Dan selalu ada pergelaran wayang kulit?

Zaman dulu ada pergelaran wayang potehi, wayang golek, wayang wong, kemudian wayang kulit. Tapi belakangan ini lebih banyak nanggap wayang kulit. Karena saya asli Kapasan, makanya panitia biasanya meminta saya untuk main di sini. Wayangan di Kapasan ini bukan hanya satu kali, tapi dua hari berturut-turut. Hari pertama malam hari setelah ritual tumpengan dan doa bersama, kemudian hari kedua siang hari.

Wah, ki dalang dibayar dua kali dong?

Hehehe.... Kapasan Dalam ini kan kampung saya sendiri. Jadi, biayanya pun sangat minimal. Yang paling penting, kita bisa nguri-uri budaya, melestarikan tradisi sedekah bumi di Kapasan Dalam, yang merupakan kampung Tionghoa, yang sudah berlangsung selama satu abad lebih. Kita juga ingin agar generasi yang lebih muda ikut melestarikan tradisi ini di masa mendatang. Kita boleh saja modern, tapi jangan sampai kehilangan jati diri kita sebagai orang Indonesia.

Sebagai dalang keturunan Tionghoa, apakah Anda mengalami kesulitan di lapangan?

Tidak ada. Buktinya, saya sudah bertahun-tahun bisa main di berbagai lingkungan masyarakat baik di Jawa maupun luar Jawa. Saya malah mendapat apresiasi dari masyarakat karena meskipun Tionghoa, saya mau menekuni dunia pedalangan. Jangankan Tionghoa, orang Jawa yang jadi dalang pun sebetulnya juga sangat terbatas.

Saya pernah main di daerah Lampung dan disaksikan oleh sekitar 2.500 orang. Apresiasi mereka ternyata sangat bagus terhadap wayang kulit. Saya juga biasa main di lingkungan kelenteng, gereja, kampung, pusat perbelanjaan, atau hajatan ulang tahun perusahaan, dan sebagainya. Bahkan, saya pernah tampil bersama dengan dalang keturunan Arab dan Jawa di Jalan Bubutan, Surabaya. Jadi, dalang Tionghoa, Arab, Jawa tampil bareng dalam satu panggung.

Sebagai orang Tionghoa, saya justru punya semacam trade mark khusus. Wah, orang Tionghoa kok bisa mendalang? Ini menjadi semacam nilai tambah bagi saya. Di sisi lain, kalau saya melakukan kesalahan, penonton pun maklum. Wong dalangnya orang Tionghoa, bukan orang Jawa. Hehehe....

Anda tidak memasukkan unsur Tionghoa dalam pergelaran Anda?

Lihat-lihat dulu suasananya. Kalau di hajatan Tionghoa seperti sedekah bumi Kapasan Dalam saya bisa memasang lampion atau aksesoris khas Tionghoa. Tapi pada prinsipnya wayang kulit itu sudah punya pakem yang harus kita turuti meskipun kita bisa melakukan improvisasi agar pertunjukan lebih menarik.

Barangkali Anda mendapat pesan khusus dari guru Anda, mendiang Ki Narto Sabdho?

Yah, beliau berpesan agar saya menjadi dalang yang berkualitas, dalang ternama. Bukan hanya sekadar jadi dalang yang laris. Sebab, yang namanya dalang laris itu ada masanya. Tapi dalang ternama itu yang akan dikenang orang seperti Ki Narto Sabdo. Saya juga diminta puasa Senin-Kamis. Syukurlah, sampai sekarang saya masih mencoba melaksanakan amanat beliau.

Ngomong-ngomong, bagaimana frekuensi tanggapan Anda akhir-akhir ini?

Setiap bulan selalu ada tanggapan. Rata-rata dua tiga kali sebulan. Kalau lagi ramai, ya, bisa banyak kali. Orang bikin hajatan itu kan musimnya. Kalau pas musim, ya, sangat ramai.

Anda optimistis melihat masa depan wayang kulit di Indonesia?

Saya ini orangnya selalu optimistis. Saya yakin sekali bahwa wayang kulit akan tetap eksis di tanah air. Sebab, bibit-bibit dalang muda selalu muncul di berbagai daerah. Festival wayang bocah pun selalu diadakan dan selalu melahirkan calon-calon dalang di masa depan. (*)