31 March 2012

Pak Moechtar pamit dari PANJEBAR SEMANGAT



Pak Moechtar boleh sangat fenomenal dalam dunia jurnalistik. Dialah pemimpin redaksi tertua di indonesia dalam waktu lama. Pada 22 februari 2012 tepat usia 87 tahun pak moechtar pamit mundur dari kursi pemimpin redaksi PANJEBAR SEMANGAT.

PS adalah majalah berbahasa jawa terbesar di indonesia yang punya pelanggan setia. Di saat banyak media sudah lama mundur ditelan zaman, PS tetap bertahan. Dan pak moechtar tetap setia nguri-uri bahasa dan budaya jawa bersama PS yang adresnya di bubutan 85 surabaya.

Eyang moechtar tergolong wartawan kawakan yang tangguh, ulet, dan sangat cinta profesi. Mulai jadi wartawan pada 1951 di koran ESPRES, dia kemudian pindah2 media. Geser ke HARIAN UMUM kemudian diajak pak hm said, orang kuat jatim, tokoh golkar jatim, pada 1971. Baru tahun 1978 diajak ke PS sampai lengser 2012.

Acara pamitan pak moechtar dengan keluarga besar PS berlangsung haru. Berat meninggalkan media yang telah dikelolanya selama 34 tahun. Tapi bagaimanapun juga fisik yang menjelang 90 tahun tidak kuat menghadapi dedline mingguan.

Pak moechtar cuma berpesan agar PS ini dipelihara dengan baik, tetap lestari. "Untuk nguri-uri bahasa jawa serta menjadi tuntunan masyarakat," pesan pria yang selalu disiplin waktu itu.

Bagaimana perkembangan PS pascalengsernya pak moechtar? Kita belum tahu. Tapi yang jelas media2 berbahasa daerah makin sulit bertahan di era bisnis media yang sangat ketat saat ini. Kalau tidak salah di indonesia tinggal 3 majalah bahasa jawa yang eksis.

Anak2 muda di jawa sekalipun makin lama makin kurang suka membaca buku2 atau media2 berbahasa jawa. Apalagi PS menggunakan bahasa jawa yang cukup berat untuk ukuran surabaya. Karena itu, PS dan media2 bahasa daerah kesulitan menambah pelanggan dan pembaca baru dari kalangan generasi muda.

Matur nuwun eyang moechtar! Panjenengan sudah tercatat dalam sejarah pers indonesia sebagai tiyang sepuh yang sanggup bertahan di dunia pers hingga era internet. Dan tetap sehat walafiat di usia 87, sementara begitu banyak wartawan yang mati muda.

AMBA PRATIGNYA lagu paskah favorit di Jawa


Pekan suci menyambut Paskah datang lagi. Saat sibuk mengikuti liturgi agung selama 4 hari: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu (malam) Paskah, dan Minggu Paskah.

Di Flores ada lagi ibadat lamentasi pagi hari yang syahdu. Lamentasi ini devosi yang dianjurkan tapi tidak wajib sehingga tidak ada di jawa. Tapi umat Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jogjakarta, punya ragam liturgi sendiri yang khas.

Saya sendiri senang ikut misa bahasa jawa meski krama inggil saya payah. Tapi sebagai mantan aktivis paduan suara, saya larut dalam tembang2 liturgi ala Jawa yang sangat menyentuh.

AMBA PRATIGNYA menjadi lagu Malam Paskah favorit di kalangan umat Katolik Jawi. Melodinya bagus, syairnya sangat menyentuh. Versi bahasa indonesianya SYUKUR KEPADAMU TUHAN biasa dinyanyikan saat pemercikan air pada malam paskah. Jemaat nyanyi sambil pegang lilin bernyala. Sambil memejamkan mata dan kemudian diciprati air suci.

Acara yang membuat orang Flores di rantau sangat kangen ke gereja. Rugi besar kalau kita tidak ikut misa sabtu malam paskah karena ada pembaruan janji permandian.

Lagu AMBA PRATIGNYA ini sering diminta orang2 Katolik asal Indonesia yang tinggal di luar negeri. Mereka sudah cari di Google tapi tidak ada. Ketemunya blog saya yang bahas versi Indonesianya: SYUKUR KEPADAMU TUHAN.


Maka, saudara-saudara, sekarang saya muat di internet biar bisa nongol di google kalau ada orang yang search.


1. AMBA PRATIGNYA MRING GUSTI
SAKIT DUMUGENG TIWAS
BADHE TANSAH TUHU NGABDI
MRING PANGERAN MURBENG RAT
SETYA PASAMUWAN SUCI
AMBA TEMTU UNGGUL JURIT
MENGSAH LAN BALA SETAN


2. AMBA PRACAYENG HYANG AGUNG
SANG HYANG RAMA MA SUCI
PRACAYENG PANGRAN LINANGKUNG PUTRA PAMARTENG BUMI
PRACAYA MRING HYANG ROH SUCI
KANG ASUNG GUNGING KATRESNAN
PRACAYA PRAPTENG DELAHAN


3. AMBA PRATIGNYA MRING PANGRAN
NEDYA SETYENG NGAGESANG
DADOS WADYENG PASAMUWAN
SETYA DENNYA RERENCANG
NADYAN AWRAT TANSAH PANGGAH
TILAR DONYA SEWU BINGAH
TANDHA TUHU MRING ALLAH

30 March 2012

Orang miskin lebih senang ibadah


Suasana prapaskah atau puasa di surabaya tahun ini garing. Khususnya di kawasan elit yg penghuninya orang kaya. Hampir tidak ada pendalaman app, doa bersama, apalagi latihan kor.

Apakah orang2 kaya yang katolik itu tidak ke gereja? Ke gereja, bahkan banyak menyumbang. Ada juga yg ziarah ke eropa atau palestina. Retret khusus. Bikin kkr.

Tapi di lingkungannya sendiri kegiatan liturgis malah hampir tidak ada. Di kawasan ngagel jaya selatan, yg orang katoliknya banyak, tidak ada acara doa bersama. Kajian alkitab atau pendalaman aksi puasa pembangunan (app) tidak ada. Kita bahkan tidak kenal sesama orang katolik yg berada di jalan yg sama saking sibuknya masing2 orang.

Kontras banget dengan masyarakat flores, yang mayoritas katolik dan rata2 miskin. Acara rohani selama 40 hari prapaskah begitu banyak dan meriah. Belum lagi persiapan kor dan liturgi pekan suci yg memang sangat padat.

Bahkan, saya menilai orang flores di kampung2 ini terlalu sibuk dengan urusan gereja dan adat. Saat pulang cuti di kampung, materi pembicaraan berkisar pada urusan liturgi dan adat lamaholot.

Sebaliknya, ketika berkumpul dengan orang2 kaya yg katolik, tak banyak yg berminat bicara soal agama atau liturgi. Tidak berarti mereka tidak paham pekan ruci dan berbagai lika-likunya. Bahkan sebetulnya gereja2 di surabaya penuh sesak saat kamis putih, jumat agung, malam paskah.

Apakah hanya di flores umat katolik sangat aktif bergereja? Tidak juga. Umat katolik di kota2 kecil di jatim seperti jember, pare, atau bojonegoro umatnya sangat rajin bikin acara mengisi prapaskah.

Bahkan, di surabaya sekalipun, dari 20an paroki, paroki2 yg umatnya ekonomi menengah ke bawah acara liturgi di luar gereja sangat hidup. Misalnya paroki manukan, karangpilang, pogot, atau wonokromo.

Saya pernah tinggal di jember cukup lama. Wow, aktivitas liturgi di lingkungan, wilayah, paroki, mudika, pmkri... memang luar biasa. Acara doa rosario pada bulan maria misalnya bahkan dilakukan setiap malam di wilayah patrang. Bukan main!

Minggu palma dan pekan suci



Ribut2 soal BBM membuat kita, yang beragama Katolik, sering lupa bahwa besok sudah masuk Minggu Palma alias Minggu Palem. Kemudian masuk Pekan Suci: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu (malam Paskah), dan Minggu Paskah.

Di Surabaya dan Sidoarjo, yang umat Katoliknya segelintir, suasana prapaskah atau puasa tak terasa. Baru sedikit terasa ketika kita ke gereja. Pulang misa, kembali lihat televisi yang ramai bahas BBM atau sepak bola Champion League, Liga Inggris dan Liga Spanyol. Lagu2 liturgi gregorian khas prapaskah hampir tak bergema sama sekali.

Tapi, buat saya sebagai orang Flores yang punya kultur katolik dan tradisi khas, pekan suci tak bisa hilang meski ada gonjang-ganjing BBM. Saya sudah dapat buku liturgi pekan suci dari Gereja Yohanes Pemandi Wonokromo Surabaya. Buku biru yg memuat lengkap tata liturgi selama pekan suci.

Saya tiba2 diingatkan tentang pekan suci setelah menerima email dari Maria Renny di Jerman. Setelah baca blog saya, dia meminta saya mengirim partitur lagu perarakan minggu palma untuk orang Indonesia yang Katolik di Jerman.

Maria, tiyang Katolik Jawi, justru meminta lagu2 yg biasa dipakai di Flores. "Kebetulan romo kami orang Adonara, Flores Timur," kata Maria.

Maka, saya pun membongkar tumpukan dokumen saya dan ketemu buku nyanyian liturgi terbitan Nusa Indah, Flores: Syukur Kepada Bapa. Buku kenangan semasa saya SD di Lembata, NTT, yang selalu saya pakai untuk mengenang lagu2 gerejawi saat masih anak-anak. Maria senang dapat kiriman lagu dari saya.

Oh, ternyata orang Indonesia di Eropa sangat religius. Rajin misa, latihan kor, belajar lagu2 liturgi untuk pekan suci. Saya jadi malu sama Maria dkk karena saya sudah lama tidak aktif di kor gereja karena kerja malam hari. Latihan kor kan selalu malam.

Email dari Maria membuat saya mulai mempersiapkan pekan suci meski tidak sehebat di Flores. Pekan suci memang luar biasa di Flores karena penduduknya yangg mayoritas Katolik larut dalam macam2 persiapan.

Sejak Minggu Palem, umat rame2 mengadakan persiapan pekan suci Paskah yangg dipusatkan di salah satu gereja secara bergilir. Umat hanya fokus pada liturgi, ibadah. Tidak tahu kalau ada demo BBM terjadi di mana2.

Flores memang beda!

29 March 2012

Tak lama lagi bensin 10.000

Saya lagi ngopi di jalan dinoyo surabaya, dekat pom bensin. Saya perhatikan harga pertamax 9800. Bensin subsidi alias premium masih 4500. Sebentar lagi 6000.

Tahun 2005 bensin hanya 2500. Kemudian dinaikkan 6000, kemudian turun 4500. Melihat tren yang ada serta argumentasi pemerintah dan parlemen (mayoritas), ke depan subsidi bbm akan dihapus total. Diserahkan ke pasar bebas.

Dan masa itu, bbm tanpa subsidi, tak lama lagi kita alami. Kurang 5 tahun semua orang pakai petramax dan sejenisnya sehingga ribut2 bbm kayak sekarang tak ada lagi. Pemerintah entah SBY, Megawati, Prabowo.. sulit mengelakkan kebijakan yg sudah dimulai sejak reformasi itu.

Yah, hidup memang makin berat karena indonesia ternyata bukan negar yg kaya minyak bumi. Indonesia ternyata pengimpor, bukan pengekspor minyak.

Hikmahnya banyak. Salah satunya menyadarkan kita bahwa kendaraan bermotor itu boros bbm yg mahal dan langka. Berani beli mobil atau motor berarti harus berani pula membeli bbm tanpa subsidi. Kalau mau disubsidi ya silakan naik kendaraan umum entah bus kota, kereta api, kapal laut, dsb.

Ketika harga bbm sudah sama dengan pasar dunia, mungkin nafsu memiliki kendaraan2 pribadi bisa dihambat. Ingat, jalan raya di kota2 besar terlalu padat karena orang disubsidi bbm dan dapat kemudahan kredit.

"Di tiongkok orang berpikir 10 kali kalau mau beli sepeda motor karena pajak sangat tinggi, bbm sangat mahal, dan bikin sengsara. Semua orang di tiongkok hanya mau naik kendaraan umum," kata andrean, yang pernah tinggal belasan tahun di tiongkok.

Memang akan lebih afdal kalau orang2 miskin yg tinggal di gubuk2, yg tidak bisa beli sepeda motor, itu yg disubsidi pemerintah. Keliru kalau pemilik mobil atau motor dikasih subsidi bbm.

PDIP tanpa wacana alternatif

PDIP memanfaatkan rencana kenaikan BBM untuk mendapat kredit politik menjelang 2014. Dan itu wajar sebagai partai oposisi di parlemen pusat.

Status oposisi PDIP juga kurang tegas karena sebetulnya banyak kader moncong putih yang jadi gubernur, bupati, wali kota. Akan jadi masalah bila pejabat2 kader PDIP ikut unjuk rasa tolak kenaikan bbm. Bisa kacau tatanan demokrasi kita.

Kinerja PDIP sejak reformasi 98 sangat berbeda dengan pada era Orde Baru dan pascalengsernya Suharto. Saat itu PDIP punya kajian2 ekonomi yang luar biasa. Ada ekonom hebat macam Kwik Kian Gie dan Laksamana Sukardi yang sering tampil di publik.

Tulisan2 Kwik dulu sangat digemari masyarakat. Begitu pula pendapat2 Laksamana benar2 mencerahkan, memberikan tawaran alternatif. PDIP pun tak hanya jadi partai wong cilik tapi partai yang mampu menampilkan wacana2 bermutu. Balitbang PDIP yang dipimpin Kwik Kian Gie luar biasa.

Tapi kini semuanya sudah berubah. Kwik dan Laks serta sejumlah pemikir hebat sudah eksit dari PDIP. Kita tak tahu lagi ekonom2 PDIP yang memberikan kajian alternatif seperti BBM, subsidi, dsb.

Okelah PDIP menolak kenaikan harga BBM. Tapi alternatifnya apa? Solusinya? PDIP tidak punya ekonom2 hebat yang bisa menjelaskan hal ini. Yang muncul di televisi hanya politisi biasa macam Tjahjo Kumolo, Maruarar, Ming, Rieke.

Jangan harap Megawati yang mantan presiden itu bicara dalam situasi sepert ini. Jangan pula mengharap statemen2 cerdas dari Taufik Kiemas atau Puan Maharani.

Kita justru menemukan pemikiran2 kritis dari ekonom seperti Rizal Ramli atau Saparini. Mana ekonom PDIP? Tanpa dukungan ekonom2 alternatif yang berani dan mumpuni, unjuk rasa PDIP di berbagai daerah sulit mengubah keyakinan ekonom2 istana yang sejak dulu ingin menghapus total subsidi bahan bakar minyak.

Mengapa tak ada demo BBM di Singapura dan Tiongkok

Karena disubsidi pemerintah, harga bbm di indonesia jauh lebih murah ketimbang negara2 lain. Kalau tidak salah bensin di Singapura rp8000, sementara di tiongkok sekitar rp10000-12000.

Lantas mengapa tidak ada kehebohan seperti di sini? Beberapa bloger dan diskusi di jejaring sosial mencoba menggunakan argumentasi ini untuk mengkritik gerakan demo bbm.

Ya, memang benar harga bensin di tiongkok dan singapura jauh lebih mahal. Tapi kita lupa kalau warga di kedua negara itu tidak pakai kendaraan pribadi. Tidak ada sepeda motor yang seliweran di jalan.

"Orang tiongkok yang baru tiba di surabaya heran melihat begitu banyak motor di jalan. Mereka itu tidak bisa naik motor," kata mr su, guru mandarin yang tinggal 14 tahun di guangzhou, tiongkok.

Begitu nyaman dan hebatnya angkutan masal di tiongkok. tinggal pilih, kapan saja, jurusan mana saja ada. Begitu pula di tetangga kita singapura. Hampir semua orang pakai kendaraan umum.

Di indonesia sebaliknya. Hampir semua orang menggunakan kendaraan pribadi. Angkutan masal sangat buruk karena tidak diurus pemerintah. Warga pun berlomba memiliki kendaraan pribadi yang fasilitas kreditnya sangat mudah. Maka jangan heran satu rumah bisa punya 5 atau 8 mobil pribadi.

Karena itu, kenaikan harga bbm menjadi masalah besar di indonesia yang warganya konsumen bensin atau solar. Dan ujung2nya ikut menaikkan harga barang2 di pasar.

Kalau memang susah menghentikan kendaraan pribadi, usulan menteri dahlan iskan patut disimak. Bikinlah kendaraan2 bermotor tanpa bbm. Bisa pakai listrik, panas matahari, atau apa saja. Mulai dari sekarang!

Selama motor atau mobil orang indonesia masih makan bbm ya, selama itu pula akan terus ada masalah. Energi kita habis untuk demo dan memaki2 pemerintah yang akhirnya juga menaikkan harga bbm juga.

Demo 1000 kali tidak ada gunanya karena kita sudah kadung masuk perangkap bbm. BBM: benar-benar mabok!

Angkutan umum di Jakarta


Jakarta ternyata tak banyak berubah dibandingkan 30-40 tahun lalu. Setidaknya dalam angkutan umum alias transportasi masal. Sampai sekarang metromini, kopaja, bajaj... masih berseliweran di jalan raya.

Bobroknya minta ampun. Sopir dan kondekturnya pun sama saja: kurang sopan, ugal2an. Tapi warga tetap naik bus2 lawas yang sudah keropos itu karena terpaksa. Syukurlah, sudah ada transjakarta yang lebih modern dan cocok untuk ibukota negara.

Baru2 ini saya ke jakarta, seperti biasa, jalan pagi di kawasan sudirman yang elit. Wuih, ternyata bus2 bobrok metromini kopaja masih lewat di situ. Berbaur dengan mobil2 mewah seharga 3-4 miliar. Betapa hebat gap kaya-miskin di jakarta!

Saya juga menikmati bajaj roda 3 yang tua dan powerless itu. Usianya sudah 40an tahun, bikin macet jalan, tapi masih beroperasi di jakarta. Padahal di malang bajaj sudah dibuang sejak 1980an.

Apa makna semua ini? Pemprov jakarta tidak punya perhatian terhadap angkutan umum. Tidak mau meremajakan kopaja bus kota atau metromini. Bajaj seharusnya sudah lama hilang di jakarta.

Ke mana saja gubernur jakarta selama ini? Menteri2 bahkan presiden yang tiap hari lewat di jalan raya jakarta sepertinya tidak sadar kalau ada yang tidak beres di batavia. Tidak ada subsidi bus2 umum. Tidak ada upaya membuat metromini nyaman, ber-ac, wangi, ala bus2 di shanghai atau singapura.

Ke mana saja uang beredar di jakarta yang konon 80% indonesia itu? Mengapa pemprov tidak membeli bus2 bagus, ber-ac, nyaman, murah semurah-murahnya untuk menarik minat warga jakarta? Omong kosong bicara subsidi atau kompensasi bbm tapi tidak mau membenahi angkutan umum di jakarta.

Kalau jakarta saja bobrok, semrawut, bagaimana pula dengan luar jawa, khususnya ntt? Maka, saya akan sangat terkejut jika bang foke terpilih lagi sebagai gubernur jakarta.

Jangan2 pemprov jakarta memang sengaja membiarkan metromini, kopaja, bajaj sebagai barang antik, benda cagar budaya, kebanggaan ibukota!

Mobil pribadi tak perlu subsidi

Subsidi bbm sejak dulu salah sasaran. Para pemilik kendaraan pribadi sudah bertahun2 menikmati subsidi itu. Sementara orang miskin, yang tak punya motor atau mobil, tidak pernah menikmati subsidi bbm.

Di indonesia orang miskin hanya mendapat subsidi asap, gas buang, dan kemacetan yang parah. Siapa suruh jadi orang miskin? kata sejumlah orang kaya yang antisosial.

Dari struktur subsidi ini, pemerintah seharusnya punya banyak cara untuk menekan subsidi bbm. Bukan hanya menaikkan harga bbm secara terus-menerus yang menimbulkan gejolak panjang.

Cara paling efektif adalah MELARANG semua mobil pribadi menggunakan bbm bersubsidi. Sudah saatnya pemerintah sangat tegas dalam hal ini. Sangat aneh para pemilik mobil pribadi yang sudah pasti kaya disubsidi bbm, sementara orang miskin tidak disubsidi negara.

Untuk sementara, sepeda motor perlu dapat subsidi bbm karena pemakainya rata2 orang tanggung: kaya tidak tapi hampir miskin. Semua mobil pribadi, tak peduli buatan tahun berapa, merek apa, harus dilarang pakai bbm bersubsidi.

Sayangnya, pemerintah yang dipimpin SBY sejak dulu tidak pernah berani membuat kebijakan yang agak keras terhadap pribadi. Padahal, ini juga penting untuk membatasi kepemilikan mobil pribadi yang menjadi biang kerok kemacetan lalu lintas itu.

Sebaliknya, kendaraan2 umum berhak mendapat bbm subsidi, bahkan yang lebih murah dari subsidi. Berapa uang yang bisa dihemat jika pemerintah menghentikan subsidi bbm untuk pemilik mobil? Pasti luar biasa.

Adapun subsidi untuk orang miskin jangan hanya blt yang cuma sesaat saja. Buka lapangan kerja. Proyek padat karya. Sekolah gratis, berobat gratis, nikah gratis, rehab rumah2 gubuk di desa.

Di Lembata, salah satu kabupaten di NTT, sampai saat ini tak punya jalan raya yang bagus. Hampir semua rakyatnya miskin. Tapi pemerintah tak pernah berpikir untuk memperbaiki jalan. Harga bensin saat ini 10000 padahal normalnya 4500.

Kendaraan umum dari pemerintah tidak ada. Maka rakyat miskin itu bertambah melarat.

27 March 2012

Letkol Arh Wirawan Yanuartono melukis kaca




Yang namanya tentara itu jelas identik dengan berbagai senjata dan alutsista (alat utama sistem persenjataan). Namun, tak sedikit personel TNI yang menekuni kesenian di sela-sela tugas utamanya. Letkol Arh Wirawan Yanuartono, mantan komandan Batalyon Arhanudse 8 Gedangan, Sidoarjo, misalnya, sudah membuat ratusan lukisan. Wira, sapaan akrab ayah dua anak ini, bahkan dikenal sebagai salah satu pelukis kaca yang langka.

Berikut petikan percakapan dengan Letkol Arh Wirawan dengan LAMBERTUS HUREK sesaat setelah serah terima jabatan Yon Arhanudse 8 Gedangan, Sidoarjo. Selanjutnya, pria 39 tahun ini ditugaskan di Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara Kodiklat TNI AD, Cimahi, Jawa Barat.



Sejak kapan Anda belajar melukis?


Wah, itu sejak saya masih TK, umur lima tahunan, di Pontianak. Waktu itu saya suka sekali menggambar mencontoh apa yang dilakukan guru saya. Sebetulnya semua bocah TK itu diajari menggambar, tapi saya kayaknya yang paling menikmati pelajaran itu.

Apakah Anda sempat belajar di sanggar lukis?


Tidak. Saya belajar sendiri, otodidak. Makanya, saya bisa mengembangkan gaya saya sendiri dari waktu ke waktu.

Dukungan orang tua bagaimana?


Tentu saja sangat mendukung karena beliau tahu hobi saya itu gambar. Bahkan, kertas-kertas HVS yang dibawa bapak saya ke rumah saya pakai untuk menggambar. Tapi beliau mengingatkan agar saya belajar yang rajin, jangan keasyikan gambar. Pelajaran di sekolah lebih penting.

Setelah berdinas di militer, bagaimana Anda membagi waktu untuk menjalankan kegemaran menggambar Anda?

Begini. Saya biasanya melukis larut malam setelah berdinas. Saya kalau habis dinas malam tidak bisa langsung tidur setelah jam 24.00. Lantas, mau ngapain? Akhirnya, saya melakukan lagi hobi masa kecil saya, yaitu melukis. Dan kegiatan itu selalu saya lakukan kapan saja saya ada waktu dan keinginan karena tidak mengganggu tugas saya.

Bagaimana Anda mengecek pasukan ketika Anda masih melukis?


Nah, kegiatan melukis malam hari ini saya lakukan sambil mengontrol anak buah. Saya jalan keliling, kemudian melnjutkan lukisan. Jadi, saya membuat lukisan dengan cara mencicil. Setelah melukis sekitar dua jam, saya pulang ke mes untuk tidur.

Berapa lama rata-rata Anda membuat satu lukisan?


Tergantung medianya, ukurannya, tingkat kerumitannya. Kalau sketsa atau lukisan sederhana di pakai kertas, ya, cepat selesai. Tapi kalau agak rumit dan ukuran besar bisa dua minggu, bahkan ada yang sampai satu bulan. Soalnya, saya melukis itu spontan saja, tidak pakai target kapan harus selesai.

Objek-objek apa saja yang biasa Anda lukis?


Saya sudah mencoba berbagai macam objek mulai pemandangan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, bunga, figur manusia, peralatan militer, komik, hingga wayang. Kebetulan saya ini penggemar wayang kulit. Media-media yang saya pakai pun macam-macam mulai cat air, oil on canvas, oil on paper, hingga lukisan kaca.

Lukisan jenis apa yang Anda rasa paling menantang?


Lukisan kaca karena sangat unik dan belum banyak seniman yang menekuninya. Kalau melukis di atas kanvas sih sudah sangat umum. Tapi cari seniman yang melukis di atas kaca pasti sangat langka. Saya suka yang unik-unik.

Apa sebetulnya kesulitan melukis di atas kaca?


Banyak. Salah satunya adalah lukisan itu harus selesai sekali jalan. Tidak bisa dicicil atau ditunda karena pasti komposisi dan warnanya tidak akan serasi. Lukisan kaca yang tidak selesai berarti gagal dan tidak boleh diteruskan.

Contoh: warna merah yang kita goreskan di kaca hari ini, besok atau beberapa jam lagi pasti akan berbeda meskipun sama-sama merahnya. Tantangan lain adalah pelukis kaca itu harus menggambar objek-objeknya secara terbalik. Teknik ini sangat berbeda dengan teknik-teknik melukis lain yang menggambar dari depan.

Lantas, bagaimana Anda membagi waktu untuk membuat lukisan kaca?


Sangat sulit karena tidak bisa dicicil. Makanya, sejak menekun lukisan kaca saya tidak bisa produktif.

Ngomong-ngomong, siapa yang mengoleksi lukisan-lukisan Anda itu?


Ya, sebatas untuk teman-teman dan kenalan. Kalau ada yang berminat, ya, silakan. Ternyata penggemar lukisan-lukisan saya cukup banyak lho. Hehehe... (*)



Honor Komik Lebih Besar dari Gaji

KETIKA masih menjadi prajurit biasa, Wirawan Yanuartono biasa mengisi waktu senggang dengan membuat komik. Kegiatan kreatif ini membuatnya harus mengasah imajinasi serta membuat berbagai cerita menarik. Ibarat dalang, pria yang akrab disapa Wira ini harus bisa bercerita lewat gambar.


Adegan perang, perkelahian, hingga guyonan harus bisa terlihat lewat rangkaian gambar dalam karya komiknya. "Bikin komik itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan waktu khusus supaya ceritanya nggak terputus-putus. Tapi kalau sudah jadi, wah, rasanya puas banget," tutur Wirawan seraya tersenyum.

Selain dikoleksi sendiri, iseng-iseng Wira mengirim sejumlah komiknya ke majalah dan surat kabar. Gayung bersambut. Komik-komik goresan pria kelahiran Singkawang, tapi mengaku asli Tuban, ini biasanya dimuat alias nongol di koran.

Tentu saja, dia mendapat honorarium sekadar pengganti ongkos kertas, tinta, dan ide kreatifnya. Wira pun makin getol membuat komik dengan aneka tema sesuai isu atau ide yang muncul spontan saat itu.

"Honornya sih nggak begitu besar. Tapi karena sangat sering dimuat di koran dan majalah, kalau dikumpulkan nilainya malah lebih banyak daripada gaji saya," kenangnya lantas tertawa kecil. (rek)


CV SINGKAT WIRA

Nama : Letkol Arh Wirawan Yanuartono
Lahir : Singkawang, 26 Januari 1973
Istri : Yusanti Dina
Anak : Sangraga Rasendriya Wirawan (9) dan Bramasta Maheswara Wirawan (4)
Hobi : Melukis
Jabatan Baru : Staf Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara Kodiklat TNI AD, Cimahi, Jawa Barat.
Jabatan Lama : Komandan Batalyon Arahanudse 8 Gedangan, Sidoarjo.

Pendidikan
SD-SMA di Singkawang, Kalimantan Barat
Akademi Militer (Akmil) angkatan 1994

Alamat rumah : Candi Mendut Selatan VI/4 Malang

Nyepi 2012 di Sidoarjo


Menyambut Hari Raya Nyepi, 23 Maret 2012, ratusan umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo telah melakukan berbagai persiapan. Salah satunya dengan mengadakan ritual melasti untuk membersihkan alam raya.

Sebagian umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo mengikuti melasti di kawasan pantai Morokrembangan, Surabaya, bersama umat Hindu di wilayah Kota Surabaya. Sedangkan sebagian umat mengikuti melasti di pertitaan Jolotundo, Trawas, Kabupaten Mojokerto.

"Yang ikut melasti di Jolotundo itu umat dari Pura Margo Wening Krembung. Sedangkan umat dari Pura Jalasidhi Amarta Juanda bergabung dengan umat di Surabaya," kata Gusti Ketut Budianta, wakil ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sidoarjo kepada saya.

Menurut Gusti, upacara melasti diadakan di kawasan pantai atau sumber air lainnya seperti sungai atau sumur air di Candi Jolotundo yang sangat terkenal itu. Setelah melasti akan digelar mecaru atau tawur kesanga yang dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh. Untuk tawur kesanga ini, umat Hindu di Sidoarjo bergabung dengan saudara-saudaranya di Surabaya.

"Acara tawur kesanga ini diadakan tanggal 22 Maret di Tugu Pahlawan," kata pekerja sebuah perusahaan telekomunikasi di Surabaya itu.

Adapun puncak Hari Nyepi berlangsung pada Jumat (23/3/2012) dengan catur brata penyepian. Saat itu, menurut Gusti Ketut, umat Hindu mengadakan puasa dan meditasi di rumah masing-masing.

"Catur brata itu meliputi tidak boleh bepergian, tidak boleh bekerja, tidak boleh menyalakan api, dan tidak boleh menikmati hiburan," papar tokoh umat Hindu di Sidoarjo itu.

Usai berpuasa total di rumah masing-masing, menurut Gusti, umat Hindu mengadakan sembahyang di pura keesokan harinya. Ini merupakan perayaan kemenangan setelah umat melakukan catur brata penyepian sehari sebelumnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, persiapan melasti sudah diadakan jauh hari sebelumnya. Mula-mula para pengurus pura memohon petunjuk kepada Pinandita Ketut Sedhana di Pura Jagat Karana Surabaya pada 5 Maret. Kemudian pengambilan pajenengan yang terdiri dari tiga buah keris bertakhtakan batu permata berwarna merah, putih, dan hitam oleh Kadek Sumanila dan Mangku Komang Budiasa di Yayasan Padma Siwa Buana Denpasar pada 7 Maret.

Acara disusul pembuatan banten melasti, penentuan waktu, dan personel, pemasangan tenda, dan nedunang Ida Bhatara oleh Pinandita Ketut Sedhana. Malamnya sebagian umat mekemit di Pura Krembung.

Setelah persiapan rampung, pagi hari rombongan melasti berangkat menuju Pura Penataran Agung Margo Wening di Krembung untuk bersama-sama ke Petirtan Suci Jolotundo. Sedangkan rombongan karawitan Laras Diah Kemulan langsung berangkat ke Jolotundo.

Di kawasan wisata pegunungan yang sejuk ini sudah menunggu para mahasiswa Hindu dari ITS Surabayayang bergabung dengan para Bhakta Pura Penataran Luhur Medang Kamulan dan Bhakta Pura Penataran Agung Margo Wening. Para mahasiswa itu didapuk membawa banten dan jempana dalam prosesi jalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer menempuh jalan yang sangat menanjak.

Petirtan Jolotundo merupakan tempat petirtan Prabu Airlangga. Di sana terdapat dua tempat pemandian yang dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan. Di bawahnya terdapat kolam ikan dengan ikan koi yang besar dan banyak. Pengunjung dilarang mandi menggunakan sabun, sampo, atau benda-benda yang dapat mencemari air suci tersebut.

Sampai di Petirtan Suci Jolotundo, sudah ada bhakta dari pura lain seperti Pura Watukosek dan Pura Bangil yang ikut melasti. Karena itu, suasana menjadi sangat ramai. Apalagi, Pura Margo Wening Krembung membawa baleganjur atau gong bali. Selama para pemangku ngaturang piuning gamelan tiada hentinya berbunyi bersahut-sahutan.

Selanjutnya, pengurus PHDI Sidoarjo menyampaikan makna dari upacara melasti tersebut. Melasti yang merupakan rangkaian Hari Raya Nyepi bermakna membersihkan dan membuang segala macam kotoran baik yang skala maupun niskala, sehingga umat indu bisa lebih khidmat dalam melaksanakan catur brata penyepian.

Sekitar pukul 17.00 rangkaian upacara di Petirtan Suci Jolotundo selesai. Umat Hindu dari Sidoarjo dan sekitarnya pun pulang ke tempat tinggalnya masing-masing.

Menemani mbah Wono Kairun



Sekitar 20-30 tahun lalu Wono Kairun berusia 84 tahun. Sekarang usianya baru 86 tahun alias hanya bertambah 2 tahun. Logatnya sama, centil, sok tahu, tapi masih cerdas.

Juga masih awet membujang dan masih ingin kawin, tapi tidak ada wanita yang mau. Siapa yang mau jadi istri Wono Kairun yang tidak pernah mau cuci sarungnya itu.

Saya datang menemani Mbah Wonokairun di studio Suzana FM kemarin (26/3/2012). Si mbah jadi penasihat kerajaan mendampingi Bung Kaisar Victorio. Si bung yang mantan anggota DPR RI adalah pencipta figur fiktif Wonokairun. Saya salah satu penggemar berat Bung Kaisar dan Wonokairun.

Selama 2 jam mulai 16.00 Bung Kaisar dan Wonokairun mengisi acara PRAKTEK TERANG. Acara interaktif membahas berbagai persoalan aktual. Saat saya datang temanya melamun. Pendengar Radio Suzana tak henti2nya menelepon, bicara, menggoda Wonokairun. Asyik dan lucu! Kita jadi lupa ribut2 bbm di parlemen atau jalan raya.

Saya perhatikan bagaimana Bung Kaisar bermain2 tombol, merespons pendapat pendengar, dan secepat kilat berubah jadi Wonokairun. Bahkan dwitunggal Kaisar-Wonokairun bisa nyanyi dan mengucapkan salam bersama2.

"Wah, mbah Wonokairun itu tetap hebat dan cerdas," goda saya. "Wualah, koen iku ojo puji2 terus..," balasnya. Bung Kaisar ketawa2, nyaman, hidup penuh senyum.

Tema melamun rupanya sangat disukai pendengar. Mereka berlomba2 bicara di radio, nimbrung bersama Wonokairun. Ada yang melamun punya mobil mewah. Cewek 20 tahun melamun bisa menghajikan neneknya yang sudah 75 tahun.

Ada babysitter cerdas yang ngelamun suaminya yang stroke segera sembuh. "Nak, kamu jangan lirak-lirik majikan ya?" sela Wonokairun.

"Majikanku iku single parent," balasnya. Saya tertawa keras di studio radio di Walikota Mustajab 62 Surabaya itu.

Saya takjub melihat Bung Kaisar bersiaran di radio. Orang ini genius, maestro, di dunia radio. Bayangkan, sejak 1970an sudah siaran, cipta figur macam2, dan bertahan sampai sekarang. Orang2 kreatif macam Bung Kaisar inilah yang membuat radio tetap punya daya pikat.

26 March 2012

Film NEGERI 5 MENARA gak asyik


Saya baru saja selesai menonton film NEGERI 5 MENARA di Tunjungan 21 Surabaya, Senin (26/3/2012). Ini kali pertama saya menonton bioskop pada 2012. Itu karena dapat voucher gratis.

Jauh sebelum film ini dibuat, saya sudah membaca novel 5 Menara karangan A Fuadi. Karya yang sangat inspiratif, asyik, humoris, dan kaya nuansa. Bagaimana orang2 kampung dari Maninjau, Gowa, Sumatera.. akhirnya sukses setelah belajar dengan disiplin keras di Pondok Madani Ponorogo.

Membaca novel ini membuat kita jadi tahu (sedikit) sistem pendidikan pesantren serta dinamika santri. Guru2, kiai, ternyata suka musik dan bulutangkis. Mereka bahkan terpaksa 'melanggar' aturan dengan nonton bareng pertandingan Piala Thomas Indonesia vs Malaysia.

Karena sudah baca novelnya, tiga kali, saya tentu sudah paham benar cerita 5 Menara ketika melihat filmnya. Sejak awal sampai tamat. Saya rasa hampir semua penonton di Tunjungan pun demikian.

Tapi justru di sinilah masalahnya. Buku dan film adalah dua hal yang berbeda. Buku jauh lebih kaya warna, penuh detail dan bumbu2 humor, sementara filmnya begitu2 saja. Hanya sekadar potongan fragmen dari buku yang tidak utuh.

Orang yang belum baca bukunya mungkin sulit menangkap benang merah dan pesan 5 Menara. Filmnya sendiri menurut saya kurang menarik sehingga ada 5 penonton yang kabur duluan.

Hal serupa terjadi pada film LASKAR PELANGI yang juga dibuat berdasar novel laris dengan judul sama. Pembaca buku besar kemungkinan kecewa dengan filmnya.

Pelajaran moral:
Lebih baik membaca buku daripada menonton film.

Selamat jalan THEYS WATOPA


Dunia paduan suara kita kembali berduka. Setelah Nortier Simanungkalit dipanggil Tuhan pada 9 Maret 2012, kini menyusul THEYS WATOPA (juga biasa ditulis THEISS WATOPA) pada 23 Maret 2012. Keduanya tokoh paduan suara, dirigen, arranger, pelatih, juri, hingga penyelenggara event paduan suara yang hebat.

Pak Theys Watopa punya kontribusi besar dalam pembinaan paduan suara di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Kor pelajar, mahasiswa, gerejawi, komunitas.. dst. Singkatnya, all about choir, choir and choir.

Berpuluh tahun pria asal Papua yang lebih halus ketimbang orang Jawa ini membaktikan hidupnya untuk paduan suara. Dengan telaten Pak They membentuk suara orang-orang yang sebelumnya tidak kenal kor atau musik klasik menjadi gandrung dan mencintai choir. Kalau sudah suka, cinta mati punya, tidak sulit mencetak prestasi.

Maka, hampir semua kor yang dipegang Pak They dapat prestasi regional, nasional, bahkan internasional. Kor-kor jawara dari Jawa Timur umumnya berkat tangan dingin pria yang suka pakai songkok itu. "Saya hanya mengarahkan. Anak-anak itu yang hebat," katanya kepada saya dalam beberapa kesempatan.

Terakhir kali saya lihat Pak Theys jadi ketua juri festival paduan suara Jingle Bells menyambut Natal 2011 yang diadakan Jawa Pos. Beliau tetap tenang, santun, dan objektif dalam memberikan penilaian. Boleh dikata hampir semua lomba choir di Surabaya melibatkan Theys sebagai juri sekaligus pembina.

Tak dinyana beliau diserang penyakit ganas: gangguan tulang belakang yang menjalar ke mata, jantung, dan kaki. Theys pun tak berdaya di rumah sakit hingga meninggalkan kita untuk selamanya.

Rest in peace!
Selamat jalan Pak Theys!

Sayang, kiprah Theys Watopa dalam paduan suara yang telah mengharumkan nama Surabaya dan Jatim rupanya kurang dikenal publik. Orang sini lebih kenal artis2 koplo macam Inul atau Trio Macan. Bahkan saya kira sampai akhir hidupnya Theys belum pernah mendapat apresiasi dari gubernur atau wali kota.

Anehnya lagi, kepergian Theys Watopa (dan N Simanungkalit) pun tak diberitakan di media.

Terima kasih Pak Theys!

BACA JUGA

They Watopa pelatih paduan suara

25 March 2012

Menimbun BBM salah pemerintah

Sangat wajar masyarakat, yang punya uang, tandon, atau tangki, membeli bensin atau solar dalam jumlah besar menjelang penaikan harga 1 April 2012. Bisa untuk persediaan, bisa dijual lagi, dan seterusnya.

Penimbun2 BBM jelas orang2 yang punya nyali dan naluri bisnis tinggi. Lumayan dapat margin Rp1500 per liter. Siapa pun yang punya uang, peluang, fasilitas saya kira akan membeli BBM dalam jumlah besar karena pasti tidak akan rugi. Risikonya cuma dua: kebakaran atau ditangkap polisi.

Soal timbun-menimbun ini saya teringat kebiasaan orang2 desa yang menimbun padi atau jagung di lumbung. Disimpan dalam jumlah besar untuk persediaan beberapa bulan atau setahun ke depan.

Beras, padi, jagung, ubi yang ditimbun bisa dari kebun sendiri atau memborong di toko. Dulu saya juga suka menimbun mi instan untuk dimasak mana suka. Akan sangat repot kalau pembelian mi, beras, telur, atau minyak goreng dibatasi.

Mengapa hukum dasar ekonomi ini jadi masalah dalam kasus bensin atau solar? Bukankah para penimbun BBM itu membeli solar atau bensin dengan uang sendiri? Lain soalnya kalau dia menggarong truk pengangkut solar atau bensin.

Yang bikin kisruh sebetulnya justru pemerintah karena sudah terlalu lama mengumumkan kenaikan BBM tapi tidak segera dilaksanakan. Interval waktu yang panjang jelas membei ruang bagi masyarakat untuk membeli BBM dalam jumlah besar. Dan ini sangat manusiawi dan ekonomis.. dan sebetulnya bukanlah tindak kejahatan seperti korupsi atau mencuri.

Kalau ingin tak ada penimbunan, pemerintah perlu meniru cara Pak Harto. Tanpa banyak cincong, tanpa banyak wacana, BBM dinaikkan harganya dengan alasan yang sangat rasional dan matang.

Kalau pemimpin kita masih terus ragu2, kasihan polisi dan tentara. Sebab mereka harus menangkap rakyat yang sebetulnya punya naluri bisnis tinggi. Padahal katanya jiwa dagang, wirausaha, harus ditingkatkan. Termasuk bisnis bensin, solar, minyak tanah.

23 March 2012

Messi fantastis karena Barcelona

Lionel messi terus bikin rekor bersama barcelona. Baru saja messi mencetak gol ke-234 sebagai pemain barca paling subur dalam sejarah.

Apakah mungkin messi jadi sebegitu hebat tanpa barca? Jelas tak mungkin. Messi beruntung bermain di klub catalan yang hampir semua pemainnya super dengan pola yang khas dan luar biasa. Cara main barca begitu luar biasa, jauh lebih bagus daripada real madrid meski sama2 punya pemain hebat.

Real madrid diisi pemain2 hebat tapi kerja sama timnya kacau. Umpan2 madrid sangat buruk, beda dengan barca yang passing2nya nyaris tidak pernah meleset. Dengan barca yang nyaris sempurna, kejeniusan messi menjadi semakin kelihatan.

Bagaimana jika messi tidak main di barcelona? Jelas, dia tidak akan sedahsyat sekarang. Ini sudah terlihat di timnas argentina yang diperkuat messi. Di situ messi praktis sama saja dengan pemain2 lain. Gak ada apa2nya karena umpan2 dan cara main tango jauh lebih buruk dari barca.

Karena itu, tidak heran kalau messi menyatakan tidak akan pindah ke klub lain. Messi hanya mau main di barca sampai pensiun. Rupanya dia tahu persis klub2 lain tidak mungkin memberikan asis, bola2 matang, ruang gerak, seperti yang sudah dia nikmati di barca.

Pemain2 seperti messi ini sudah berada di zona nyaman barca. Dan kenyamanan itu tak akan diperoleh messi di klub2 lain, termasuk timnas argentina. Dan messi bukanlah tipe pemain yang berani mencari tantangan di klub lain yang beda sistem dengan barca.

Belum lama ini IBRAMOVIC dari ac milan diwawancara khusus goal.com. Dia menggambarkan dirinya sebagai petarung yang selalu ingin mencari tantangan.

Ibra sudah pindah2 klub, bahkan main di negara2 yang berbeda. Ibra pernah main di barca. Dan dia sukses dapat trofi di berbagai klub itu. Beda dengan messi yang meraih begitu banyak trofi dan gelar pribadi hanya dengan barca.

Barca tetap akan superistimewa tanpa messi. Tetap juara! Tapi tanpa barca, messi tak bisa kinclong.

22 March 2012

Real Madrid sulit juara


Real madrid pantas bersyukur karena tidak kalah dalam 2 pertandingan terakhir: lawan malaga dan villareal. Seharusnya madrid kalah karena permainan ronaldo dkk tidak berkembang. Sangat buruk untuk tim dengan pemain2 mahal seperti madrid.

Seperti biasa umpan2 madrid tidak akurat. Kreativitas untuk menciptakan peluang tidak ada. Beda dengan barcelona yang bisa dengan mudah membuka pertahanan lawan seketat apa pun.

Saya perhatikan, jika madrid belum bisa bikin gol hingga menit 30 maka pemain2nya emosional dan tak terarah. Dan kini casilas, kapten dan kiper, juga jadi titik lemah. Kebobolan 2 kali dari freekick dengan skema yang sama.

Karena itu, saya sanksi real madrid bakal juara laliga. Terlalu berat. Sulit mengharapkan madrid menang 100% sampai liga selesai. Tidak kalah saja sudah bagus. Sebaliknya, barca yang konsisten, ciamik, super, tikitaka... akan dengan mudah menghabisi lawan2nya.

Saat ini beda poin madrid dan barca tinggal 6, padahal sebelumnya 10. Bisa dipastikan akan turun jadi 3 karena madrid bisa dipastikan kalah saat menghadapi barca dalam el clasico. Tinggal menunggu satu atau dua kekalahan madrid dan la liga selesai dengan barca sebagai juara.

Yang bikin jengkel, mourinho dan pemain2 madrid masih suka menyalahkan wasit ketika kalah atau seri. Protes keras ketika freekick senna membatalkan kemenangan madrid. Dua pemain madrid, 2 ofisial madrid, termasuk mou, diusir.

Ini saja sudah memperlihatkan bahwa madrid sebetulnya masih kalah jauh dari barca. Kita tunggu saatna barca mengambil alih klasemen dan menjuarai la liga dan liga champion.

18 March 2012

Zhong Ruiming diplomasi foto


Di mata diplomat Tiongkok, Zhong Ruiming (49), Indonesia memiliki seni budaya dan alam yang sangat kaya dan indah. Tak heran, wakil duta besar Tiongkok untuk Indonesia ini 'ketagihan' memotret berbagai objek menarik di sela-sela kesibukannya sebagai diplomat di tanah air. Dan sebagian hasil jepretan Mr Zhong dipamerkan di Ciputra World Surabaya pada 4-11 Maret 2012.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dari Radar Surabaya dengan Zhong Ruiming sembari menikmati foto-foto human interest karya pria yang fasih berbahasa Indonesia itu.


Sejak kapan Anda menekuni hobi fotografi?


Sebetulnya sudah lama, tapi mulai serius sejak saya ditugaskan di Indonesia, tepatnya Surabaya, di konsulat jenderal Tiongkok. Sejak itu saya mendapat banyak kesempatan untuk mengunjungi berbagai daerah di wilayah kerja konjen Tiongkok (meliputi kawasan Jatim dan Indonesia bagian timur). Lalu, saya mulai mencoba memotret objek-objek yang saya anggap menarik sejak tahun 2006.

Objek apa saja yang Anda anggap menarik?


Hampir semua yang saya lihat di Indonesia itu menarik. Mulai dari pemandangan alamnya, seni budaya, ritual agama, hingga orang-orangnya. Hampir semua orang yang saya temui memberikan sambutan yang hangat.

Apakah Anda membuat perencanaan sebelum hunting foto?


Tidak ada, karena fotografi ini hanya sekadar hobi. Saya memotret di sela-sela tugas saya sebagai diplomat yang sedang berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia. Kalau ada waktu luang, saya usahakan untuk lebih mengenal alam, seni budaya, dan masyarakat setempat. Saya juga mengunjungi tempat-tempat wisata yang sangat indah dan khas. Tentu saja saya langsung memotret objek-objek itu.

Berarti ke mana-mana Anda selalu membawa kamera?


Hehehe... Saya bawa kamera yang sebetulnya tidak terlalu canggih, Cannon biasa. Dengan kamera itulah saya memotret objek-objek yang saya sukai.

Anda juga banyak memotret masyarakat di berbagai daerah seperti penumpang kereta api, pengamen, atau orang yang sedang berwisata. Apakah orang-orang itu tahu kalau mereka sedang dipotret?


Ada yang tahu, ada yang tidak tahu. Biasanya saya ajak mereka bicara, dan mereka senang. Saya juga senang melihat orang-orang Indonesia itu ramah dan murah senyum. Itu yang membuat saya semakin tertarik membuat foto-foto di Indonesia.

Salah satu daerah yang banyak Anda eksplorasi adalah Kalimantan. Mengapa?


Kalimantan itu punya budaya dan alam yang sangat menarik. Di sana ada Sungai Kapuas yang saya kira merupakan salah satu sungai terpanjang di dunia. Saya melihat masyarakat ada pasar di sungai. Itu merupakan pemandangan yang sangat menarik.

(Foto pasar terapung itu diminati banyak kolektor di Surabaya. Bahkan, sebelum pameran dibuka sudah ada kolektor yang membubuhkan nama, tanda jadi, di bawah foto itu.)


Saya juga melihat masyarakat Dayak di Kalimantan itu punya tradisi dan budaya yang unik dan menarik. Sebetulnya bukan hanya Kalimantan, semua daerah di Indonesia itu punya keindahan tersendiri. Seperti Bali, suasana Lebaran di Teluk Jakarta, pencari belerang di Gunung Ijen, abdi dalem keraton, hingga pedagang kaki lima. Bagi saya, semua itu sangat berkesan.

Apa sebetulnya misi Anda dengan rajin melakukan hunting foto ke berbagai wilayah di Indonesia?


Sebagai diplomat, salah satu tugas saya adalah mempererat hubungan antara rakyat Indonesia dan rakyat Tiongkok. Untuk itu, masyarakat Tiongkok perlu mengenal keindahan alam, seni budaya, serta kehidupan orang Indonesia yang beraneka warna. Karena itu, foto-foto saya ini juga akan dipamerkan di Tiongkok agar Indonesia semakin dikenal di negara saya.

Kabarnya, Anda juga sudah menerbitkan buku kumpulan foto-foto Anda?


Ya, buku itu diterbitkan tahun 2010 dengan judul yang sama dengan tema pameran saya di Surabaya, yakni Indonesia di Mata Seorang Diplomat Tiongkok. Saya sering memberikan buku itu sebagai kenang-kenangan untuk teman-teman di Tiongkok maupun Indonesia.

Jadi, kegiatan fotografi tidak mengganggu tugas Anda sebagai diplomat?


Tidak. Justru mendukung kegiatan saya sebagai diplomat yang harus mendorong hubungan yang erat antara kedua negara. Saya senang karena pameran saya di Surabaya ini mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat dan pemerintah provinsi. Wakil Gubernur (Syaifullah Yusuf) juga datang dan memberikan apresiasi untuk karya saya.

Ngomong-ngomong, apakah foto-foto Anda ini juga dijual untuk kolektor?

Kalau soal itu sih urusan panitia yang menyelenggarakan pameran ini. Hehehe... Tapi bisa saja hasilnya dipakai untuk kegiatan-kegiatan sosial. Saya sendiri tidak menjual foto. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 18 Maret 2012

17 March 2012

Satu keluarga 4 agama

Orang tionghoa paling toleran dalam urusan agama atau keyakinan. Benar2 memberi ruang kebebasan kepada istri, suami, anak2 untuk memeluk agama tertentu. Contohnya sangat banyak.

Saya kenal seorang pengusaha tionghoa di surabaya, sebuat saja han jian. Mr han ini islam, bahkan sudah dianggap sebagai tokoh muslim tionghoa. Istrinya, mrs han, beragama khonghucu alias konfusianisme.

Pasutri kaya ini punya dua anak: yang sulung katolik, sedangkan adiknya kristen pentakosta. "Keluarga saya memang bhinneka tunggal ika. Berbeda-beda tapi tetap satu," kata mr han.

Awalnya saya heran mengetahui sebuah keluarga yang empat anggotanya berbeda-beda agama. Satu rumah, satu keluarga, empat agama. Maka, ritual atau ibadah menjadi urusan masing2.

Beberapa waktu lalu si sulung yang katolik menikah di gereja katedral surabaya. Saya yang ikut diundang tentu saja hadir, apalagi saya memang hampir tiap minggu misa di gereja itu. Mr han dan istri mengantar putri tercinta ke altar untuk menerima pemberkatan alias sakramen perkawinan. Kebetulan suaminya sama2 katolik.

Mr han yang muslim dan mrs han yang konfusius tampak terharu mengikuti pemberkatan nikah anak mereka. Sementara si bungsu yang pentakosta tentu lebih akrab dengan liturgi gereja karena bagaimanapun juga katolik dan pentakosta punya kesamaan dalam banyak hal.

"Yah, anak2 saya kan sudah dewasa, bisa menentukan pilihan sendiri. Yang penting konsekuen melaksanakan ajaran agama masing2," kata mrs han ketika saya menyatakan heran dengan banyaknya agama di keluarga mereka.

Saya pun hanya geleng2 kepala. Salut dengan kedewasaan dan kelapangan hati orang Tionghoa. Sikap macam ini akan sulit kita temukan di kalangan kita yang mengaku pribumi. Perbedaan agama justru sering jadi masalah besar.

Di Flores, NTT, hampir tidak ada keluarga seperti mr han. Di Flores ada semacam tradisi satu keluarga satu agama. Dan agamanya pun harus ikut agamanya sang suami. Kalau suami katolik, istri dan anak2 pasti katolik. Tidak mungkin protestan atau pentakosta, apalagi buddha.

16 March 2012

Satu orang satu mobil



Honda Motor menambah investasi di Indonesia Rp3,1 triliun. Perusahaan Jepang ini mau menjadikan Indonesia basis produksi mobil dan motor Honda terbesar di dunia.

Luar biasa! Honda memang tahu betul betapa kendaraan pribadi sudah jadi kebutuhan mutlak di Indonesia karena sistem transportasi umum tidak jalan. Semua orang yang merasa bisa beli motor atau mobil memilih punya kendaraan pribadi daripada naik angkot atau bus yang tidak nyaman, tidak aman, dengan jadwal tidak jelas.

Di Jepang sendiri masyarkat diarahkan menggunakan kendaraan pribadi. Sepeda motor tidak terlihat di jalan raya. Maka Honda, Yamaha, Suzuki dan sejenisnya memilih membuat pabrik motor di Indonesia karena orang Indonesia mau tidak mau butuh motor atau mobil pribadi untuk bepergian.

Rupanya pemerintah kita tidak punya kebijakan untuk membenahi angkutan massal. Menteri MS Hidayat bilang kemacetan dan kepemilikan kendaraan bukan alasan untuk melarang investasi. Yang perlu dibenahi, kata dia, jalan raya dan manajemen lalu lintas. Nah, sangat jelas sikap pemerintah, bukan?

Maka, percuma saja pakar2 perkotaan bicara soal kemacetan dan jumlah kendaraan pribadi. Gak nyambung dengan posisi pemerintah yang diwakili Menteri Hidayat.

Secara tersirat, pernyataan Hidayat ini bisa ditafsirkan bahwa pemerintah pusat sama sekali tidak khawatir dengan angka kepemilikan kendaraan. Makin banyak mobil dan motor yang seliweran di jalan makin baik. Dan suatu saat, kalau daya beli membaik, semua orang akan punya satu mobil.

One car one person! Bukan main! Indonesia memang luar biasa!

SBY ragu, bensin ditimbun

SBY adalah tentara yang cerdas. Banyak membaca, diskusi, menulis lagu, dengar macam2 pertimbangan. Karena itu, beliau tida bisa cepat bikin keputusan meski sudah jadi presiden.

Mengapa pemerintah ragu2 menaikkan harga bensin alias bbm? Karena sang presiden, SBY, ragu2. Begitu banyak suara yang didengar. Minta nasihat menteri2, koalisi partai, tentara, polisi dsb. Padahal, menteri perekonomian dan mayoritas wakil rakyat sudah lama oke.

Maka bensin pun ditimbun orang2 yang punya fasilitas penyimpanan bensin atau solar. Siapa sih yang tidak tergiur keuntungan? Margin 1500 per liter jelas sangat besar. Hitung saja kalau kita bisa menyimpan sekian ribu liter.

Ribut2 kenaikan harga bensin ini tidak terjadi pada era Presiden Suharto. Tak ada ribut2 atau wacana yang berkepanjangan. Diam2 pemerintah orde baru melakukan persiapan.. dan tiba2 bensin sudah naik.

Tidak ada ruang sedikit pun bagi spekulan untuk menimbun bensin dan solar. Kalau ketahuan pasti kena undang2 subversi dengan ancaman hukuman mati. Polisi dan tentara waktu itu tak kenal kompromi.

Pak Harto, apa pun kekurangannya, termasuk pemimpin yang sangat efektif. Berani bertindak dengan risiko yang sudah diperhitungkan. Ketegasan Pak Harto membuat petugas keamanan di lapangan tidak ragu2 menindak aksi unjuk rasa anarkistis.

Sekarang kita lihat di mana2 muncul keraguan. Ketika ada massa yang hendak merusak bangunan, kafe, atau kantor.. petugas tak bisa berbuat banyak. Terkesan membiarkan atau melindungi perusuh.

Jangan heran akhir2 ini orang mulai merindukan sosok Jusuf Kalla yang dinilai paling punya leadership. JK itu berani, bukan peragu, tegas, rasional, berani ambil risiko. Dan... sudah kaya-raya sehingga tidak perlu korupsi atau cari proyek lagi.

Tapi, sayang, Pak JK bukan orang Jawa!

15 March 2012

Asli Flores lahir di Surabaya

Ada kasus pembunuhan besar di Surabaya. Pelakunya Emil Budi Santosa. Koran top di Surabaya menyebut Emil sebagai 'pria asli Flores yang lahir di Surabaya'.

Bagi orang yang lama tinggal di Jawa Timur, frase itu tidak asing lagi. Bisa ditebak maksudnya ayah si Emil berasal atau lahir di Flores. Bukan asli Surabaya dalam arti leluhurnya wong Suroboyo.

Pertanyaannya, mengapa Emil yang lahir di Surabaya, tidak bisa berbahasa daerah Flores, sekolah dari TK sampai universitas di Surabaya... tetap dicap asli Flores? Mengapa tidak disebut warga Surabaya saja? Bukankah dia ber-KTP Surabaya, bayar pajak untuk Surabaya?

Lantas, anak2 Emil yang sudah jelas lahir dan besar di Surabaya, tak pernah ke Flores, tak bisa bahasa lokal di Flores.. juga dianggap 'asli Flores kelahiran Surabaya'? Tidak jelas.

Masalah kependudukan memang mudah diselesaikan dengan KTP. Tapi soal asli tidak asli rupanya agak jelimet. Sampai sekarang generasi ketiga dan seterusnya belum dianggap ASLI hanya karena kakek-neneknya bukan asal Surabaya.

Persoalan ini tak lepas dari budaya mudik yang sangat kuat di Jawa. Mudik jadi ritual wajib dan ditradisikan dari generasi ke generasi. Maka, generasi ketiga atau keempat yang leluhurnya asal Madiun misalnya tetap merasa sebagai orang Madiun meski hanya mudik ke Madiun sekali setahun.

Karena itu, meski penduduk Surabaya bertambah tiap tahun, mendekati 5 juta jiwa, tetap saja orang asli Surabaya tidak pernah bertambah. Bahkan, wali kota Surabaya seperti Tri Rismaharini atau mantan wali kota Surabaya Bambang DH pun tetap ditulis di koran bukan asli Surabaya.

Yang menarik, dan perlu diapresiasi, koran2 Surabaya selalu menulis legenda jazz Bubi Chen atau penyanyi Ervinna sebagai asli arek Surabaya meskipun keturunan Tionghoa. Jadi, tidak ditulis 'pemusik asli Tiongkok yang lahir di Surabaya'. Ini juga menunjukkan bahwa etnis Tionghoa sudah dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Surabaya.

13 March 2012

Kampung Jawa di Tiongkok



Oleh LAN FANG
Novelis, kolumnis, aktivis Perhimpunan Indonesia Tionghoa Jawa Timur



Suara Waljinah mendayu-dayu dari rumah Lie Quan Fang (55). Dengan wajah berbinar, ia memperlihatkan koleksi lagu-lagu Jawa miliknya seperti Walang Kekek, Cublak Cublak Suweng, Rujak Uleg dan lainnya.

Lie Quanfang adalah salah satu penduduk Kampung Jawa di distrik Huaqiau, Desa Xuefeng, Keresidenan Nanan, Kota Quanzhou, Provinsi Fujian, China. Sebelumnya, laki-laki kelahiran Pare, Jawa Timur, ini bersama ayah dan ibunya berada di Surabaya.

Pada tahun 1960 pemerintah Orba mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 60, yaitu sebuah peraturan presiden yang mengharuskan orang-orang asing di Indonesia menutup usaha pedagang eceran sampai tingkat kabupaten ke bawah. Peraturan presiden ini membawa imbas besar bagi nasib para orang Tionghoa di Indonesia. Sebab, sebagian besar mata pencaharian orang Tionghoa di Indonesia adalah pedagang eceran sampai ke tingkat kabupaten dan desa-desa.

Maka, terjadilah eksodus besar-besaran, sekitar 105.000 orang-orang Tionghoa di Indonesia kembali ke China karena telah kehilangan mata pencahariannya. Lie Quanfang berusia lima tahun ketika dibawa kembali ke China oleh ayahnya. Di Xuefeng, ia bersama 700 keluarga Tionghoa dari Indonesia lainnya menjadi buruh tani dengan menggarap tanah negara. “Tidak ada pilihan lain untuk bisa terus bertahan hidup,” begitu ia mengenang masa lalunya.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Wang Kwie Juan (73) yang meninggalkan tempat kelahirannya di Tuban pada usia 23 tahun, dan He Jing Shuung (75) yang meninggalkan Kediri pada saat berusia 27 tahun dengan membawa lima anak.

Walaupun di Indonesia mereka pernah mengalami masa-masa sulit, mereka menyimpan banyak kenangan manis terhadap tanah kelahiran mereka di Jawa. Sekarang mereka masih tetap suka memakai batik, memasak soto, rawon dan rujak serta di halaman rumah menanam serai, jahe, dan kunir yang bisa dipergunakan sebagai bumbu masak.

Bahkan, di ruang tamu, mereka tidak saja menyuguhkan teh sepat seperti kebiasaan orang-orang China pada umumnya tetapi mereka juga ngobrol sambil merokok dengan kepulan secangkir kopi panas seperti layaknya orang-orang di Indonesia.

Dalam berkomunikasi, bahasa Jawa menjadi lingua franca (bahasa sehari-hari) sehingga anak dan cucu mereka juga mengerti dan bisa berbahasa Jawa. Sebaliknya, mereka tidak terlalu memahami Bahasa Indonesia yang mereka sebut sebagai Bahasa Melayu tinggi.

Di Kampung Jawa ini kita akan mendengar sapaan-sapaan akrab seperti “kowe arep lungo neng endi?” (kamu mau pergi kemana?), “aku ono dayoh soko Indonesia” (aku ada tamu dari Indonesia). Juga banyak kosa kata-kosa kata Jawa yang saat ini sudah sangat jarang saya dengar tetapi mereka masih mempergunakannya, seperti : nyentrong (menyorot), gelis (cepat), kali (sungai), lecek (kusut), iyup (teduh-berteduh).

Mereka juga mengkolaborasi beberapa istilah dalam Bahasa Hokkian ke dalam bahasa Jawa seperti “kowe lihay yo, nandur sere ora nganggo lemah yo iso urip.” (kamu hebat ya, menanam serai tanpa tanah bisa juga tumbuh). Bahkan, mereka tetap memakai panggilan-panggilan yang dipergunakan saat berada di Jawa seperti cikde dari singkatan tacik gede untuk memanggil kakak perempuan terbesar, cikngah dari singkatan tacik tengah untuk memanggil kakak perempuan yang berada di urutan tengah, ciklik dari singkatan tacik cilik untuk memanggil kakak perempuan yang paling kecil.

Atau, kohde dari singkatan engkoh gede untuk memanggil kakak laki-laki terbesar, kohngah dari singkatan engkoh tengah untuk memanggil kakak laki-laki yang berada di urutan tengah, kohlik dari singkatan engkoh cilik untuk memanggil kakak laki-laki yang paling kecil.

“Kowe nyeluk aku cik ning ae (kamu memanggilku cik ning saja),” ujar He Jing Shung (77), perempuan kelahiran Kediri, ketika saya memanggilnya dengan sebutan ai, sebutan yang biasa dipakai dalam Bahasa Mandarin yang berarti tante.

Ketika saya menanyakan apa maksudnya cik ning, ia menjelaskan bahwa cik ning artinya tacik (kakak perempuan) dari Jawa, sebagaimana biasanya bila perempuan Surabaya dipanggil dengan sebutan ning. Diam-diam saya berpikir, bila ada cik ning maka seharusnya juga ada koh cak yang diambil dari singkatan engkoh cacak yang berarti engkoh (kakak laki-laki) dari Jawa, sebagaimana laki-laki Surabaya yang biasanya dipanggil dengan sebutan cacak.

“Saat ini yang tinggal di Kampung Jawa hanya tinggal sekitar 200 keluarga. Sebab, sudah banyak orang-orang tua yang meninggal dan sebagian anak-anak mudanya pergi bekerja ke Hongkong atau ke Makau,” ujar Lie Quanfang.

Penduduk Kampung Jawa memang semakin sedikit. Terlebih dengan adanya peraturan keluarga berencana dari Pemerintah China yang membatasi jumlah kelahiran. Setiap pasangan suami istri hanya diperbolehkan mempunyai dua anak dengan jarak kelahiran empat tahun. Untuk pegawai negeri, hanya diperbolehkan mempunyai anak satu. Jadi setiap rumah hanya dihuni oleh 5-6 orang saja.

Menurut Wang Kwie Juan, sejak 1978 kehidupan mereka di China mulai membaik. Pemerintah China memberikan tanah berukuran 11,7 x 8,6 meter dan bantuan sebesar 5.000 yuan (sekitar Rp 6.750.000) untuk membangun rumah tanpa dikenakan pajak. Dengan syarat, rumah yang dibangun harus sesuai dengan gambar design yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Maka, rumah-rumah yang ada di Kampung Jawa ini tampak rapi dan seragam. Mereka menghuni rumah berlantai satu dan mengisinya dengan perabotan-perabotan bagus dan modern seperti sofa, perlengkapan dapur, televisi layar lebar, DVD player dilengkapi seperangkat sound system yang baik.

Pemerintah China juga membangun jalan desa sehingga teraspal dengan baik, menyediakan kantor desa yang bertingkat, taman bermain, asrama panti wreda berlantai dua untuk menampung para lansia yang sudah tidak memiliki sanak saudara lagi.

Penduduk Kampung Jawa juga menerima uang pensiun sebesar 1.000 yuan (sekitar Rp 1.350.000) per orang setiap bulan. Uang pensiun diberikan untuk laki-laki yang telah mencapai usia 60 tahun dan perempuan yang telah berusia 55 tahun. Uang pensiun itu tidak hanya diterima oleh generasi pertama di Kampung Jawa melainkan juga diberikan untuk anak-anak dan menantu-menantu yang tetap menjadi penghuni Kampung Jawa.

Pekerjaan sehari-hari para orang muda di Kampung Jawa ada yang menjadi guru, buruh pabrik, membuka depot di pasar atau mbecak: istilah bagi mereka yang membuka usaha menyewakan mobil atau motor. Pada umumnya, mereka tidak terbebani biaya hidup tinggi karena para orang tua telah mendapatkan pensiun dan hanya menghidupi 1-2 anak saja.

Walaupun kehidupan para generasi pertama di Kampung Jawa bisa dikatakan sudah tercukupi, mereka tetap menyimpan kerinduan terhadap tanah kelahiran mereka di Jawa. Pada 2006, Wang Kwie Juan (73) menyempatkan diri untuk menengok sanak kerabatnya di Jakarta, Surabaya, dan Tuban. He Jing Shuung (77) juga sudah dua kali menenggok tempat kelahirannya di Kediri.

“Kami ini bangsa Jawa di Tiongkok. Kalau ke Tiongkok, jangan lupa mampir ke Kampung Jawa,” ujar Lie Quan Fang (55) dengan sumringah.

Hujan rintik-rintik membuat Desa Xuefeng semakin basah. Tetapi menyeruput kopi Kampung Jawa diselingi suara Waljinah rasanya hangat sekali.

E… ya ye yo…
ya ye yo...
E ya ye yo..
yae yae yae yae yo…

Manuk sriti kecemplung banyu,
bengi ngimpi awan ketemu…

Bensin sudah lama naik di NTT



Apa jadinya kalau harga bensin dinaikkan? Rakyat di pelosok NTT seperti Lembata makin sengsara. Sebab, sejak dulu harga bensin alias BBM di pelosok NTT selalu (jauh) di atas ketentuan pemerintah.

Ketika cuti di Lembata awal 2012 saya kaget saat membeli bensin seharga 10000 untuk 1 liter lebih sedikit. Bensin di SPBU yang hanya satu (kalau tidak salah) pun bukan 4500 tapi di atas 6000. Jadi, sebelum ribut2 menaikkan harga bensin sebetulnya di Lembata, Adonara, Alor, Flores.. bensin sudah naik.

Bensin yang mahal, 2 kali harga resmi, membuat ongkos angkutan umum (yang sangat jelek) itu sangat tidak rasional. Ojek motor dari Bandara Lewoleba ke kampung saya di Bungamuda harus bayar 20-25 ribu. Tapi saya dipaksa bayar 50 ribu hanya karena logat saya sudah seperti orang Jawa. Kalau orang Jawa tulen bisa ditarget 75 ribu. Padahal jarak bandara ke kampung saya hanya 22 km.

Bagaimana kondisi jalan Lewoleba-Ileape? Jelas sangat buruk untuk standar Jawa, tapi dianggap sangat bagus untuk ukuran Lembata. Aspal hanya sekitar 10 km, itu pun sudah rusak, sisanya hanya pengerasan. Juga sudah rusak berat.

Karena itu, kenaikan harga bensin resmi ke 6000 akan menjadi neraka bagi orang Lembata alias NTT. Wong belum dinaikkan saja sudah di atas 6000! Ongkos angdes dan ojek sudah pasti naik banyak, apalagi untuk orang Jawa atau bule yang kebetulan berkunjung ke Lembata.

Katanya subsidi dipakai untuk bangun infrastruktur seperti jalan raya. Tapi nyatanya sejak Indonesia merdeka jalan raya di Lembata tidak disentuh. Lebih buruk daripada jalan2 terburuk di Jawa Timur.

Para perantau yang 10-15 tahun bekerja di Jawa atau Malaysia ketika pulang kampung menikmati jalan yang kondisinya sama bahkan lebih parah. Maka ketika menteri2 di Jakarta bilang subsidi yang dihemat akan dipakai untuk memperbaiki jalan, buka jalan baru... saya dan orang2 kampung di Lembata hanya bisa tertawa di dalam hati.

Mungkin ada benarnya di Jakarta atau Bandung atau Surabaya. Tapi Papua? Maluku? NTT? Yah.. menteri2 kan tidak pernah ke Lembata!

12 March 2012

Ubah zona waktu ke GMT+8

Empat tahun lalu saya sudah mengusulkan perubahan zona waktu, khususnya WIB, karena tidak cocok dengan negara2 tetangga Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand. Negara2 itu pakai GMT+8 atau sama dengan WITENG, sementara WIB pakai GMT+7.

Terasa sekali ketika kita berada di Singapura atau Kuala Lumpur. Dan memang tulisan itu saya buat ketika berada di sana. Ketika hari masih gelap semua orang sudah sedemikian sibuknya. Aktivitas bisnis dan keseharian dimulai.

Kita yang terbiasa di Surabaya atau Jakarta masih tenang2 saja. Harus dibangunkan oleh petugas hotel atau pemandu wisata agar bisa menyesuaikan diri dengan jam Singapura.

Yah, ternyata jam singapura lebih cepat satu jam ketimbang WIB. Kita masih ngopi tunggu matahari naik, sementara orang Malaysia dan Singapura sudah berlari.

Pulang ke Surabaya, kita yang sudah mulai nyaman dengan jam Singapura merasa tidak nyaman dengan jam WIB. Mengapa? Pukul 07.00 di Surabaya atau Jakarta sudah terasa panas, apalagi pukul 09.00.

Kegairan berangkat kerja pada jam 6 pagi di Singapura yang sejuk pun tak terjadi di Surabaya. Jangankan jam 6, jam 5 di Surabaya sudah terang-benderang.

Indonesia memakai pembagian zona waktu ala pelajaran IPA di sekolah. Yakni tiap 1 derajat selisih waktunya 4 menit. Kemudian dibuat 3 zona mengingat Indonesia sangat luas.

Pemerintah Orde Baru sama sekali tidak mempertimbangkan aspek bisnis dan zona waktu di negara2 tetangga. Padahal Singapura dan Malaysia berada pada bujur yang hampir sama dengan Jakarta sehingga masuk GMT+7 menurut pelajaran IPA.

Syukurlah, pemerintah kemudian menyadari kealpaannya itu dengan mengubah zona waktu Bali ke WITENG alias GMT+8 yang berarti sama dengan Malaysia dan Singapura. Mengapa hanya Bali yang diubah? Mengapa tidak semua WIB ditambah 1 jam saja?

Pekan lalu pemerintah kembali mengangkat wacana penyatuan zona waktu Indonesia. Lalu kapan dilaksanakan? Pemerintah tidak perlu berwacana tapi mengeksekusi. Wacana sudah lama, tinggal dieksekusi.

Jangan ragu Pak SBY!

11 March 2012

Widodo C Putro mengigau

Dipermalukan Brunei Darussalam, negara berpenduduk 400 ribu, tim nasional tiba di Jakarta layaknya pemenang. Pelatih Widodo Cahyono Putro punya cari2 alasan untuk membenarkan kekalahan timnas.

Menurut Widodo, seperti yang saya lihat di metrotv, kualitas dan skill timnas lebih baik ketimbang pemain2 Brunei. Kita hanya kurang pengalaman. Widodo tak merasa bersalah sedikit pun.

Saya hanya geleng2 kepala mendengar kata2 Widodo. Geli. Widodo seakan-akan menganggap kita, masyarakat, tidak menonton pertandingan Indonesia v Brunei di RCTI. Seakan-akan kita tidak tahu apa yang terjadi di lapangan.

Benarkah kualitas anak buah Widodo lebih baik dari Brunei? Hehehe... rupanya Widodo ngelindur alias mengigau. Kualitas lebih baik kok kalah dua gol tanpa balas? Kualitas timnas bagus kok gak bisa bikin gol?

Jelas sekali omongan Widodo terbalik dengan kenyataan saat final di Bandar Seri Begawan pekan lalu. Passing pemain2 kita sangat buruk. Umpan salah melulu. Kerja sama kacau. Pola serangan tidak jelas.

Dan skill pemain2 Indonesia sangat buruk. Kualitas Widodo pun buruk karena dia tidak mampu mengarahkan pemainnya saat final itu. Pemain2 kita justru dijadikan bulan2an Brunei.

Tapi kita tidak bisa menyalahkan Widodo. Yang salah justru PSSI yang menunjuk pelatih dengan kualitas seperti Widodo. Jangan2 Widodo sudah dianggap sebagai pelatih yang bagus di mata PSSI.

Sangat menyedihkan, bukan saja karena Indonesia kalah, tapi juga respons pelatih pascakegagalan. Sudah kalah segalanya di final tapi malah menganggap timnya lebih bagus daripada Brunei.

10 March 2012

Selamat jalan Bapak N. SIMANUNGKALIT


Satu lagi seniman besar meninggalkan kita. NORTIER SIMANUNGKALIT wafat pada usia 82 di Jakarta. Selamat jalan Pak Kalit, beristirahatlah dengan tenang di sisi Tuhan!

Pak Kalit, begitu sapaan akrab ompung asal Tarutung, Sumatera Utara, telah membaktikan sebagian besar hidupnya untuk musik, khususnya paduan suara. Begitu banyak komposisi paduan suara yang beliau ciptakan untuk mahasiswa, kor umum, gereja, instansi pemerintah dan swasta.

N Simanungkalit adalah raja mars yang belum ada tandingannya saat ini. Silakan cek mars lembaga2 besar atau partai.. sebagian besar karya komponis kawakan ini.

Bagi kita yang sekolah pada era Orde Baru, karya Pak Kalit dipakai sebagai musik pengiring senam pagi baik SPI (senam pagi Indonesia) maupun SKJ (senam kesegaran jasmani). Komposisi instrumentalia berbasis piano yang memang sangat dikuasai Pak Kalit.

Para aktivis paduan suara mahasiswa (PSM) di seluruh Indonesia tentu tak asing dengan karya2 Pak Kalit yang khas. Beliaulah yang merintis PSM di UGM Jogja tahun 1955. Kampus2 lain kemudian bikin PSM karena N Simanungkalit kemudian merintis lomba PSM nasional sejak 1978.

Lomba2 atau festival paduan suara yang sekarang diikuti para mahasiswa di Indonesia itu sebenarnya gagasan Pak Kalit. "Saya ingin para pelajar dan mahasiswa aktif di paduan suara karena paduan suara itu musik yang sangat ideal untuk pendidikan," kata Pak Kalit kepada saya suatu ketika.

Sebagai mantan aktivis PSM, saya sudah lama mengapresiasi karya Pak Kalit. Saya fotokopi karya2 beliau. Saya pelajari, kemudian saya coba bunyikan. Tidak terlalu panjang tapi punya bobot musikal tinggi dan pas untuk pelajar/mahasiswa.

Saya ingat beberapa komposisi ciptaan Pak Kalit yang sering dibawakan PSM di Jatim: PUING, PERALIHAN, WARISAN, RENUNGAN IBU DI HARI TUA.... Syair2 lagu beliau begitu dalam, menggugah, dan patriotik.

Di usia senjanya, Pak Kalit menerbitkan buku teknik vokal paduan suara. Saya beli dan bikin resensi. Terlalu banyak warisan Pak Kalit untuk paduan suara di tanah air.


Saya ingat betul syair lagu WARISAN karya Pak Kalit. Sangat cocok mengantar kepergian beliau ke pangkuan-Nya:

BUNGA BANGSA PUN SUDAH LAYU
SEMUA PASTI BERLALU...
PAHLAWAN PUN KUSUMA BANGS
SATU DEMI SATU PASTI BERLALU...

Selamat jalan Pak Kalit!
Selamat jalan Ompung!

BACA JUGA
Wawancara saya dengan N. Simanungkalit

09 March 2012

Kalah total dari Brunei

Benar2 dagelan yang tidak lucu. Timnas sepakbola Indonesia kalah 2-0 dari Brunei Darussalam. Kalah segalanya. Passing salah melulu, skema main gak jelas, pokoknya parah.

Kalau timnas kalah sama Malaysia masih bisa dimengerti karena sejak era Dollah Saleh pemain2 Malaysia memang punya kualitas bagus. Tapi Brunei, negara supermini, itu? Yang penduduknya hanya 400 ribu? Hehehe... Sulit dipahami akal sehat kita.

Tapi begitulah faktanya. Indonesia yang penduduknya 230 juta ternyata tak berkutik saat menghadapi Brunei. Saya hanya bisa ngelus dada menyaksikan siara langsung di RCTI 9 Maret 2012. Logika kita jadi jungkir balik. Berantakan.

Indonesia sudah lama terkenal sebagai bangsa penggemar bola. Klub bola banyak. Pemain bola di satu Jawa Timur saja bisa dipastikan lebih banyak ketimbang penduduk negara Brunei.

Tapi mengapa kita tidak bisa membentuk timnas yang kuat yang bisa dibanggakan? Tak usahlah menang lawan Iran atau Qatar atau Bahrain, tapi cukup menangan lawan Brunei, Malaysia, Timor Leste, atau Singapura. Masa kita tetap saja jadi bangsa pecundang, the loser nation!

Sayang, PSSI dan pengurus2 bola kita lebih suka berkelahi tanpa akhir. Bikin liga sepak bola yang lebih dari satu, padahal di dunia ini negara2 yang hebat sepakbolanya macam Spanyol, Italia, Jerman, Brasil, Belanda, Argentina.. hanya punya SATU liga.

Barangkali cara berpikir PSSI dan orang2 bola kita memang beda dengan orang2 Eropa atau Amerika Latin. Indonesia apa boleh buat sudah telanjur menjadi pecundang dan, anehnya, dianggap biasa oleh ketua PSSI dan pelatih Widodo Cahyono Putra.

Usul saya: Indonesia tidak perlu ikut kompetisi apa pun selama 10 tahun. Moratorium total. Kita konsentrasi ke dalam melakukan revolusi total. PSSI bila perlu dibubarkan dibuat asosiasi baru yang diisi orang2 di bawah usia 45 tahun.

Selama orang2 lama yang suka berkelahi itu masih bercokol di PSSI maupun PSSI tandingan, maka timnas akan tetap seperti sekarang. Garuda akan dilindas Brunei atau Timor Leste.

Sejit Kwan Im di Madura




Menjelang perayaan hari jadi (sejit) Dewi Kwan Im, pengurus dan jemaat Kelenteng Kwan Im Kiong terus mengadakan persiapan. Maklum, hajatan besar pada 10 Maret 2012 itu bakal dihadiri ribuan tamu dari berbagai kota di tanah air.

"Sebetulnya persiapan sudah lama karena acara ini sudah diagendakan setiap tahun. Hanya saja, sekarang lebih dimatangkan lagi," kata Kosala Mahinda, ketua panitia sekaligus pengurus Kwan Im Kiong.

Hingga kemarin sebanyak 25 kelenteng dari berbagai kota menyatakan akan mengirim kimsin ke kelenteng terbesar di Madura itu. Kimsin itu antara lain dari Jakarta, Bogor, Bali, Semarang, Blora, Rembang. Dari Jawa Timur antara lain Surabaya, Rogojampi, Besuki, dan Bojonegoro.

Prosesi pengantaran kimsin akan dilakukan ratusan jemaat masing-masing kelenteng ke lokasi di kawasan pantai Talangsiring, Pamekasan. Selain rombongan 25 kelenteng itu, jemaat kelenteng lain pun tak ketinggalan datang untuk memeriahkan sejit dewi welas asih itu. Karena itu, kompleks Kwan Im Kiong bakal dijubeli ribuan jemaat pada Sabtu siang hingga malam hari.

"Puncak keramaian memang hari Sabtu. Ada atraksi barongsai, liang-liong, hingga opera Kwan Im dari Semarang," tutur Kosala yang getol melestarikan seni tradisional Madura itu.

Hanya saja, menurut Kosala, kali ini tidak ada pergelaran wayang kulit seperti biasanya. Ini karena jadwal acara yang ada mulai dari prosesi kimsin, sembahyang bersama, barongsai, liong, dan sebagainya sudah terlalu padat. Karena itu, wayang kulit sengaja ditiadakan.

"Tapi kami tetap berkomitmen untuk melestarikan seni budaya tradisional khususnya melalui Panti Budaya," katanya.

Selain warga Tionghoa, khususnya penganut Tridharma, hajatan Dewi Kwan Im ini biasanya dinikmati warga sekitar kelenteng yang memang haus hiburan. Mereka biasanya ramai-ramai datang ke kompleks kelenteng untuk menyaksikan berbagai atraksi seni budaya yang menarik.

08 March 2012

Indon - Indonesia dan Cina - Tionghoa


Surat kabar BERITA HARIAN di Kuala Lumpur paling senang menggunakan INDON untuk memberitakan hal2 buruk tentang Indonesia.

Nelly Martin menulis artikel berjudul WHY INDON IS NOT PREFERABLE di The Jakarta Post 7 Maret 2012. Tak ada yang baru sebetulnya, selain menyegarkan ingatan kita saja. Bahwa kata INDON kurang sopan untuk menyebut INDONESIA.

INDON ini biasa dipakai koran2 atau media Malaysa untuk menggambarkan pekerja asal Indonesia yang tak terdidik, kuli kasar, sering terlibat jenayah alias kasus kejahatan. INDON sengaja dipakai untuk memojokkan dan menjelek-jelekkan orang Indonesia. Meskipun banyak orang Indonesia biasa2 saja, menganggap INDON hanyalah singkatan dari INDONESIA.

Yang pasti, gara2 INDON ini kedutaan kita di Kualalumpur protes kepada pemerintah dan media2 di Malaysia. Kita di Indonesia, yang belum pernah jadi TKI di Malaysia, umumnya tidak bisa membedakan nuansa INDON dan INDONESIA.

Bicara soal INDON, saya langsung ingat kata CINA. Bagi sebagian besar orang Tionghoa, kata CINA (tanpa H) sangat kasar, bernada pelecehan, menyinggung perasaan, tidak patut. Anda jangan sekali2 menggunakan kata CINA saat bicara dengan anggota paguyuban masyarakat Tionghoa di Jawa Timur. Atau pengurus muslim Tionghoa atau Masjid Cheng Hoo di Surabaya. Pasti Anda akan dikuliahi panjang lebar soal etimologi, sejarah, nuansa, hingga rasa bahasa.

"Anda sebaiknya pakai kata TIONGHOA karena lebih sopan," kata Pak Jono, pengurus paguyuban masyarakat Tionghoa di Surabaya. Kata CHINA (pakai H) yang dibaca CHAINA ala Inggris masih bisa diterima dan dianggap sopan.

Maka, sekitar 80 perkumpulan masyarakat Tionghoa di Surabaya tak ada satu pun yang menyebut nama perkumpulannya dengan CINA. Contoh: Perhimpunan Indonesia Tionghoa. Komunitas Peranakan Tionghoa (bukan peranakan Cina). Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa.

Tapi harus diakui banyak juga orang Tionghoa yang justru tidak peduli istilah CINA, CHINA, TIONGHOA, CHINESE. Jaya Suprana yang jelas2 Tionghoa selalu pakai CINA (tanpa H).

Sastrawan Lan Fang (RIP) yang juga Tionghoa -- seorang penulis terkenal dan pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa Jawa Timur -- selalu menggunakan kata CINA (tanpa H) dalam tulisan2nya. Justru saya yang bukan Tionghoa yang bingung dengan diksi si Lan Fang ini.

Lantas, bagaimana?


Dahlan Iskan, wong Jowo, punya solusi jitu: pakai saja TIONGHOA dan TIONGKOK.

Mengapa? Semua orang Tionghoa pasti senang dengan istilah TIONGHOA. Tapi tidak semua orang Tionghoa suka disebut CINA.

Hal yang sama tentu berlaku untuk MYANMAR dan BURMA. Pemerintah dan rakyat Myanmar meminta dunia internasional menggunakan kata MYANMAR sebagai nama negara, bukan BURMA. Tapi media2 Barat, khususnya Inggris, masih juga memaksakan kata BURMA dalam berbagai pemberitaannya. Tak ambil pusing dengan permintaan pemerintah Myanmar yang dianggap rezim diktator dan antidemokrasi.

07 March 2012

BBM cukup naik Rp 200

Sejak 2005 harga bahan bakar minyak bersubsidi tidak naik. Maka sangat wajar kalau pemerintah mulai tak sabar untuk menaikkan harga bbm per 1 april 2012.

Persoalannya sederhana saja: berapa besar kenaikan itu? Rp 1500 seperti yang diinginkan pemerintah? Didekatkan dengan bbm tanpa subsidi?

Rupanya pemerintah kurang belajar dari pengalaman 2005. Harga bbm naik terlalu banyak atau lebih pas disebut ganti harga sehingga timbul gejolak demo di mana2. Kemudian dibuatlah kebijakan bantuan langsung tunai alias blt.

Mengapa harga bbm tidak dinaikkan secara ajek, tapi dengan besaran yang sangat kecil? Taruhlan setiap tahun harga bbm dinaikkan Rp 100, 200, atau 250 saja. Maka subsidi bisa dihemat cukup besar.

Dan dengan menaikkan bbm 'cuma' sebesar Rp 100 atau 200, maka dampaknya tidak begitu dirasa rakyat. Inflasi pun bisa dikendalikan. Secara psikologis rakyat merasa enteng saja untuk mengikhlaskan 100-200 demi keuangan dan ekonomi negara.

Lain halnya kalau pemerintah lebih suka memilih menaikkan harga bbm dengan margin yang terlalu besar. Harga bensin lama 4500 kemudian jadi 6000 bagi rakyat kecil jelas sangat besar. Belum lagi dampak ikutannya berupa kenaikan harga barang2 di pasar.

Andai saja pemerintah menaikkan harga bensin subsidi 200 sejak 2006, maka tahun 2012 ini harga bensin alias premium di pasar menjadi 6600. Tak terasa sudah makin mendekati nilai ekonominya.

Gus Ali sentil korupsi





Pesona Gus Ali tak pernah pudar. Ini terlihat dari pengajian-pengajian yang digelar pengasuh Ponpes Bumi Sholawat Tulangan itu yang selalu dipadati jamaah.

Tak hanya dari Sidoarjo, jamaah berdatangan dari berbagai daerah di Jatim, bahkan luar Jawa. Mereka memadati kompleks pesantren di Desa Kenongo, Tulangan, itu untuk mendapat siraman rohani dari sang kiai bernama lengkap KH Agoes Ali Mashuri ini. Sebagian besar jamaah bahkan menjadi peserta tetap pengajian Bumi Sholawat.

"Beliau itu kiai yang karismatik. Cara memberikan cermahnya sangat khas, santai, penuh humor, tapi sangat menyentuh hati," kata seorang jamaah yang mengaku datang dari Mojokerto.

Gus Ali, yang juga kolumnis dan pemerhati sepak bola, ini tampil rileks. Gaya bahasanya komunikatif, kadang berbahasa Indonesia kadang Jawa. Sentilan-sentilannya yang humoris kerap membuat jamaah tertawa renyah.

Belum lama ini Gus Ali menyentil kasus korupsi di tanah air yang seakan tak pernah ada habisnya. Menurut dia, korupsi dan pengelolaan negara yang kurang baik inilah yang menyebabkan masih banyak warga miskin di negeri ini. Gelandangan dan pengemis ada di mana-mana, padahal Indonesia sebenarnya dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa oleh Gusti Allah.

"Kita punya kekayaan yang hampir semuanya nomor satu. Kita punya tambang emas, perak, batu bara, kayu jati, palawija... yang nomor satu. Tapi mengapa masih banyak rakyat kita yang miskin?" cetus Gus Ali retoris.

Ini semua, menurut tokoh NU itu, karena salah kelola. Juga karena banyak korupsi. Gus Ali kemudan menceritakan pengalamannya jalan-jalan ke Yordania. Negara di Timur Tengah ini, menurut Gus Ali, sebetulnya tidak punya sumber daya alam sehebat Indonesia kecuali fosfat. Tak punya sumber minyak yang hebat seperti negara-negara Arab lainnya.

"Tapi mengapa masyarakat Yordania yang saya lihat itu sangat makmur? Karena negaranya dikelola dengan benar. Tidak ada korupsi," ujar kiai terkenal itu seraya tersenyum.

Di bagian lain, Gus Ali meminta peserta pengajian untuk tidak pesimistis dan kehilangan semangat dalam mencari rezeki.

05 March 2012

Selamat! Indonesia kalah 10-0



Indonesia kalah 10-0 melawan Bahrain. Aneh? Tidak. Sebelum main pun kita sudah kalah segalanya. Masih untung hanya kalah 10 gol. Seharusnya bisa 15, 20, atau 25 gol.

Materi pemain yang dibawa ke Bahrain jelas main2 alias tidak serius. Hanya pemain2 muda yang miskin pengalaman. Sebaliknya Bahrain sangat serius karena butuh 9 gol agar bisa lolos dengan catatan Qatar kalah dari Iran.

Saya agak geli mendengar komentar beberapa pemain lawas yang bermain pada lima pertandingan sebelumnya. Memangnya mereka pernah menang? Pernah bikin gol? Cuma memang jumlah kebobolan golnya tidak sampai 10.

Begitulah. Indonesia main 6 kali tanpa pernah menang dan tanpa pernah mencetak gol. Dari sini saja sudah terlihat kelas timnas indonesia. Jangankan melawan iran atau bahrain atau qatar, melawan malaysia saja kita sulit menang. Kita dihajar berkali-kali oleh malaysia! Memalukan karena level malaysia sebenarnya sama dengan kita!

Kalah 10 gol - rekor nasional - sangat bagus buat pengurus pssi, isl, ipl, klub2, dan semua pelaku sepakbola di negara ini. Jangan ribut terus! Jangan terlalu sering bikin kongres, saling debat, polemik yang tak ada habis2nya!

Saat ini indonesia punya 2 liga. Luar biasa! Padahal negara2 jago bola macam spanyol, inggris, italia, argentina, brasil, prancis, jerman.. hanya punya SATU liga utama. Rupanya akan lebih baik indonesia tak hanya punya 2 liga tapi 3 atau 4 liga.

Semoga pssi dan sepakbola indonesia semakin hancur!

Makin sulit cari pembantu




Tetangga saya kembali kehilangan pembantu. Sang pembantu pulang kampung. Atau cari kerja baru yang dianggap lebih baik. Atau jadi pembantu di rumah lain yang gajinya lebih baik dan suasana kerja lebih nyaman.

Maka dalam setahun tetangga itu punya 4 pembantu. Cari lagi, kerja sebentar, kemudian eksit lagi. Beda dengan pembantu zaman dulu yang ikut majikan hingga puluhan tahun, jadi bagian dari rumah tangga.

"Susah zaman sekarang, pembantu nggak kayak dulu," keluh seorang ibu lansia yang butuh pembantu tapi belum ketemu yang cocok.

Memang tipe pembantu yang kerja total, nrimo, rame ing gawe.. boleh dikata tidak ada lagi. Mengapa? Wanita2 desa yang jadi sumber rekrutmen pembantu sudah makan sekolah. Ijazahnya smp bahkan sma.

Dengan pendidikan yang memadai, sejatinya tak akan ada orang yang mau jadi pembantu dengan jam kerja dan upah tak jelas. Sampai sekarang status pembantu tidak jelas: apakah karyawan atau bukan? Dibayar dengan patokan upah minimum atau tidak? Kerjanya dari jam berapa sampai jam berapa?

Jangan heran, orang2 menekuni kerja jadi pembantu hanya sebagai batu loncatan. Sambil cari peluang kerja di tempat lain yang bukan domestic worker. Kalaupun jadi babu, mereka lebih suka kerja di luar negeri seperti Taiwan atau Hongkong.

Bagaimanapun juga indonesia makin maju. Pendidikan makin bagus. Sudah tak ada lagi orang desa yang buta huruf yang bisa dieksploitasi seperti pembantu zaman dulu. Maka para pengguna jasa pembantu di kota seharusnya lebih sadar dan mau ikut berubah pola pikir dan cara memperlakukan pembantunya.

Memang ada biro jasa pembantu dan baby sitter di kota. Tapi begitu banyak kasus pembantu menjarah uang majikan di surabaya. Para majikan pengguna jasa pembantu pun tentu saja waswas.

Dangdut tanpa koplo?



Rhoma Irama terpilih kembali sebagai ketua PAMMI, organisasi dangdut indonesia. Rhoma memang belum ada lawan untuk urusan ndankduuuut.

Tapi di sisi lain bercokolnya rhoma selama puluhan tahun juga menunjukkan mandeknya regenerasi figur dangdut. Bisa jadi Rhoma akan menjadi ketua PAMMI seumur hidup.

Dalam kongres di surabaya ini (4/3/2012), rhoma bertekad membersihkan musik dangdut dari koplo. Alasannya: koplo bukan pakemnya dangdut, tidak match. Pemusik2 koplo diminta bikin organisasi sendiri di luar dangdut.

Bisakah koplo dipisahkan dari dangdut seperti diinginkan rhoma? Perlu telaahan khusus. Tapi secara de facto, praktik di lapangan, jelas sulit. Sangat sulit. Koplo yang sangat marak di jawa timur sejak dulu merupakan salah satu bentuk inovasi dangdut. Koplo memberi nuansa tersendiri dengan tabuhan kendang yang rancak dan sangat khas.

Dangdut menjadi sangat dinamis, energetik, merakyat justru berkat bumbu koplo itu. Hanya memang irama koplo itu membuat penyanyi2 cewek membuat gerakan2 yang sensual, erotik, dan sering tidak patut. Inul Daratista dan sejenisnya jelas orang2 koplo yang berhasil memperkaya warna dangdut.

Sama halnya dengan rhoma irama yang memasukkan elemen rock dalam dangdut. Apakah dangdut kemudian harus dibersihkan dari rock karena tidak pakem? Tentu tidak mungkin bung! Yang bisa dibersihkan adalah elemen2 yang jorok dari dangdut seperti goyangan, busana, syair, dan sebagainya.

Kalau mau jujur, dangdut itu produk musik hibrida. Campur2 unsur melayu, india, arab, rock, pop, etnik nusantara, tionghoa, dan entah apa lagi. Jadi, dangdut bukan lagi musik yang benar2 murni. Ia sudah menjadi sebuah produk hibrida yang akan terus berproses mengikuti perkembangan zaman.

Lantas, pakem dangdut itu seperti apa? Sang raja dangdut sekalipun akan sulit menjawab.

Toni Harsono penggerak wayang potehi



Oleh LAMBERTUS HUREK


Perkembangan wayang potehi yang pesat dalam 10 tahun terakhir di tanah air tak lepas dari peran Toni Harsono. Pengusaha emas yang tinggal di kawasan Gudo, Jombang, ini tak henti-hentinya memopulerkan wayang khas Tionghoa ke seluruh tanah air.

Belum lama ini, Toni Harsono menggelar pameran wayang potehi di Hotel Majapahit Surabaya. Dia juga aktif membina para dalang (sehu) wayang potehi di berbagai kota. Berikut petikan wawancara Radar Surabaya dengan Toni Harsono:


Mengapa Anda menghidupkan paguyuban dalang wayang potehi (sehu) Hok Ho An?


Saya ingin ada kerja sama di antara sesama dalang dan pemain musik. Sebab, kenyataannya banyak sehu yang tidak punya pemusik. Mereka harus pinjam atau menyewa dari orang lain. Dan itu tidak gampang karena sehu-sehu ini umumnya tidak punya uang.

Dalang-dalang dari mana saja yang Anda rangkul?


Jombang, Kediri, Tulungagung, Tuban, Surabaya, Semarang, dan beberapa kota lain. Semuanya sepakat untuk bekerja sama menghidupkan seni wayang potehi.

Bisa diceritakan sedikit sejarah paguyuban Hok Ho An?


Ini sebuah paguyuban yang dibentuk oleh almarhum kakek saya, Tok Su Kwie, setelah tiba di tanah Jawa. Paguyuban ini merangkul semua sehu yang sama-sama baru datang ke tanah air. Perkumpulan ini kemudian surut dan tidak aktif lagi setelah kakek saya meninggal. Nah, setelah reformasi, saya mencoba menghidupkan lagi Hok Ho An. Mudah-mudahan paguyuban ini bisa bertahan lama.

Apa manfaat para dalang itu bergabung dengan Hok Ho An?


Mereka dapat memakai properti potehi dari mulai boneka, alat musik, panggung, dan sebagainya. Mereka tidak dikenai biaya sewa sama sekali.


Bagaimana dengan para sehu di luar Hok Ho An?


Mereka juga boleh menggunakan properti yang kami miliki. Saya hanya ingin agar pertunjukan potehi ini tetap lestari di era keterbukaan setelah almarhum Presiden Gus Dur mencabut Inpres 14/1967. Kalau tidak ada pertunjukan, maka kesenian ini akan sulit berkembang.

Kabarnya, Anda juga ikut mengirim perlengkapan potehi ke lokasi pertunjukan?


Benar. Tapi kemudian saya mendata tempat-tempat yang rutin nanggap wayang potehi seperti Kelenteng Teluk Gong Jakarta. Saya menitipkan properti potehi seperti panggung, alat-alat musik, dan boneka di kelenteng tersebut. Jadi, ketika ada pertunjukan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, sehu tinggal mengambil properti di Teluk Gong. Mereka tidak perlu capek-capek membawa properti dari Jombang ke Jakarta. Lebih hemat dan income yang diperoleh para dalang itu akan lebih banyak. Dan ini menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk ikut melestarikan potehi.

Apa lagi upaya Anda dalam membina para dalang pemula?


Saya menyediakan tempat dan fasilitas latihan di Kelenteng Gudo, Jombang. Mereka bisa berlatih mendalang, main musik, membuat boneka potehi, dan sebagainya. Kami juga menyediakan kendaraan untuk mereka.

Bagaimana Anda mengikuti perkembangan potehi di Tiongkok yang sudah begitu maju?


Biasanya, kalau ada teman atau kerabat yang kebetulan pergi ke Tiongkok saya sering titip dibelikan boneka potehi. Ini penting agar kita tidak terlalu ketinggalan zaman. Karena penasaran, akhirnya saya berkunjung langsung ke Tiongkok pada tanggal 21 Mei 2010. Syukurlah, saya bisa melihat langsung kelenteng-kelenteng tua dengan ukiran yang sangat rumit dan indah.
Saya terharu melihat langsung kampung halaman kakek saya yang zaman dulu merantau ke laut selatan (nan yang) hingga menetap dan mengembangkan wayang potehi di Gudo. Ini juga membuat tekad saya makin kuat untuk melestarikan seni potehi yang sudah dirintis oleh kakek saya.

Apa yang paling berkesan dari ayah Anda, Tok Hong Kie, yang dikenal sebagai sehu terkenal pada masanya?


Beliau termasuk sehu yang cermat dan teliti. Beliau selalu membuat ringkasan cerita yang akan dimainkan dalam sebuah buku dengan tulisan tangan. Sampai sekarang beberapa naskah tulisan tangan beliau masih ada. Sinopsis cerita itu ditulis dalam bahasa Melayu Tionghoa yang memang sangat populer di kalangan peranakan Tionghoa di tanah air. Para sehu sebelum bapak saya masih menggunakan bahasa Hokkian.
(*)



Sakit ketika Pertunjukan Akan Selesai

TINGGAL di kompleks Kelenteng Hong San Kiong di Gudo, Kabupaten Jombang, membuat Toni Harsono sangat akrab dengan tradisi dan budaya Tionghoa, khususnya wayang potehi. Apalagi sang ayah, Tok Hong Kie, selain penjaga kelenteng juga sehu potehi yang hebat.


Toni alias Hok Lay pun semakin gandrung dengan pertunjukan potehi. Dia selalu menonton pergelaran yang berlangsung cukup lama itu. "Saya biasanya sakit kalau pertunjukan potehi selesai," kenangnya.

Karena itu, menjelang usai tanggapan, Toni biasanya meninggalkan keramaian potehi untuk menyepi. Betapa wayang boneka ala Tiongkok itu begitu merasuk ke dalam hatinya.

Toni kecil juga sering bermain ke rumah Tan Sun Bing, pemain musik sekaligus penggemar potehi. Tan dikenal mahir membuat boneka potehi. Di saat senggang pria yang kemudian hari menjadi ketua kelenteng tersebut membuat boneka untuk mengganti boneka potehi yang rusak. Dan Toni memperhatikan cara Paman Tan membuat dan mengecat boneka.

Tak dinyana, pengalaman masa kecil ini membuat Toni akhirnya tumbuh sebagai pengusaha yang sangat peduli pada wayang potehi. Toni mau berkorban apa saja demi menghidupi kesenian leluhurnya itu.

***

Sempat mati suri selama tiga dekade, wayang potehi menggeliat lagi setelah reformasi 1998. Geliat wayang khas Tionghoa di tanah air ini tak lepas dari kontribusi Toni Harsono dalam menyediakan properti bagi para sehu alias dalang wayang potehi. Namun, dia mengakui bahwa kualitas pertunjukan potehi saat ini masih kalah greget dibandingkan pada era 1960-an. Karena itu, para pengelola kelenteng harus ikut terbebani untuk meningkatkan kualitas pertunjukan.

Ironisnya, menurut Toni, saat ini tidak semua menanggap wayang potehi dalam acara-acara ritualnya. Mereka malah cenderung mendatangkan artis penyanyi atau menggelar karaoke yang tak ada hubungan dengan tradisi Tionghoa. Mengapa demikian?

Menurut Toni, banyak pengurus kelenteng masa kini yang kurang paham kalau pementasan wayang potehi itu bukan tontonan semata-mata, tapi persembahan untuk para dewa. Potehi juga mengajarkan sifat dan akhlak mulia serta budi pekerti yang luhur. "Jadi, para pengurus kelenteng perlu mendapat pencerahan lagi," katanya.

Toni Harsono bersama teman-temannya juga menggagas pendirian rumah pamer atau museum mini wayang potehi. Museum ini dilengkapi pustaka tentang wayang potehi sejak era Tiongkok kuno, zaman Belanda, kemerdekaan, hingga zaman sekarang. Selain itu, museum ini juga akan menjadi ruang penyimpanan alat-alat musik, proses pembuatan boneka potehi, kostum, dan sebagainya.

"Kita lengkapi dengan ruang audio visual untuk memutar pertunjukan para sehu dari Indonesia maupun mancanegara," katanya.

Dengan demikian,jika masyarakat ingin mengetahui seluk-beluk wayang potehi, maka mereka cukup datang ke museum ini. Museum ini terbuka untuk seluruh masyarakat. (*)

Tentang Toni

Nama : TONI HARSONO
Nama Tionghoa : Tok Hok Lay
Lahir : Jombang, 6 Juli 1969
Pekerjaan : Pengusaha
Pendidikan terakhir :
SD di Gudo, Jombang
SMPN I Jombang
SMA PGRI I Jombang
SMA Kalam Kudus Malang
ITN Malang

Organisasi/Aktivitas sosial
- Pengurus TITD Hong San Kiong Gudo, Jombang
- Pendiri dan pembina paguyuban dalang wayang potehi (sehu) Hok Ho An