15 December 2012

Tionghoa di Jember sebelum 1795

Oleh ELITA SITORINI

Tak dapat dipungkiri, masyarakat Tionghoa menjadi salah satu pendukung unsur keberagaman di tanah air. Keberadaan mereka telah menambah khazanah kebudayaan kita. Tak terkecuali di Jember. Dari masa ke masa, keberadaan masyarakat Tionghoa ikut berpengaruh pada kemajuan kota tembakau di kawasan timur Jawa Timur itu.

Retno Winarni, dosen Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember (Unej), menjelaskan, pada 1795, Tumenggung Suro Adiwikrama, seorang Tionghoa peranakan, sudah menjabat bupati di Kabupaten Puger. Saat itu Jember merupakan salah satu distrik dari Kabupaten Puger.

Keberadaan Tumenggung Suro Adiwikrama sebagai bupati menunjukkan bahwa saat itu sudah banyak warga Tionghoa di Jember dan sekitarnya. "Lalu, beliau digantikan oleh Tumenggung Surio Adiningrat (1802-1813) yang juga Tionghoa peranakan. Yang juga menantunya," terang Retno belum lama ini.

Meski sangat sulit untuk menentukan waktu yang pasti masyarakat Tionghoa datang ke Jember, pemerintahan Tumenggung Suro Adiwikrama bisa menjadi titik tolak kedatangan perantau Tionghoa ke Jember. Tentu saja, jika pada masa itu sudah ada pengaruh Tionghoa peranakan, bisa diperkirakan keberadaan mereka lebih lama dari tahun itu.

"Sekitar akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19 sudah ada," kata Retno Winarni.

Para penguasa Tionghoa ini, lanjut dia, termasuk keluarga Han dari Surabaya. Para pejabat yang diangkat oleh para bupati ini juga orang-orang Tionghoa. Hanya jabatan rendahan yang diberikan kepada pribumi.

Migrasi orang-orang Tionghoa ke Jember dalam jumlah besar diperkirakan pada pertengahan abad ke-19. Terutama pada masa kejayaan perkebunan tembakau. Hal ini disebabkan adanya pembangunan jalur kereta api.

Nah, orang-orang Tionghoa ini kemudian membentuk permukiman tersendiri yang berpusat di daerah pecinan. Daerah tersebut sekarang menjadi Jalan Untung Suropati dan Jalan Samanhudi atau Pasar Tanjung. Mereka pada umumnya pedagang, rentenir, dan bukan sebagai kuli. Yang datang langsung dari daratan Tiongkok pada awal abad ke-20.

Retno menjelaskan, kedatangan masyarakat Tionghoa ke Jember dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi. Apalagi, dan sejak pertengahan abad ke-19 Jember merupakan daerah yang menjanjikan karena bermunculannya perkebunan swasta, terutama tembakau.

Para perantau asal Hokkian ini dikenal sangat ulet, tahan uji, dan rajin. Karena itu, mereka berperan besar dalam bidang perdagangan di Jember. Mereka bergerak di bidang perdagangan hasil bumi, kelontong, tukang kredit, rentenir, maupun pertanian. Bahkan, pada 1906 beberapa orang Tionghoa dipercaya sebagai pengelola pegadaian.

Pemerintah kolonial kemudian mengadopsi sistem pegadaian ini dari orang-orang Tionghoa. "Kalau sekarang, berdasarkan survei saya yang terakhir, orang-orang Tionghoa menguasai hampir semua sektor perdagangan di Jember," katanya.

3 comments:

  1. bang Hurek,

    Beberapa tahun lalu saya bantu menuliskan kembali buku auto-biografi pak Oei Hong Kian. Sekarang bukunya sudah diterbitkan. Apa bang Hurek sudah pernah liat buku ini?
    Jika sempat, mohon cek link ini ya :-)
    http://catatanpendek.blogspot.sg/2012/08/my-book-project-oei-hong-kian-journey.html

    ReplyDelete
  2. Oh ya jelas saya punya buku yg bahasa indonesia terbitan Intisari. Ceritanya bagus banget, hidup, menarik... kita jadi tahu banyak tentang kehidupan peranakan Tionghoa-Jawa. Kedekan Mr Oei sama Bung Karno, dan betapa Bung Karno sang proklamator, pendiri republik, diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi oleh orde baru. Itu salah satu buku biografi paling menarik di Indonesia.

    Kalau versi Inggris garapan mbak Dyah kita belum tahu. Tapi saya sudah lama membaca review-nya di Catatan Pendeka. Kira2 begitu laoshi. Selamat kerja.

    ReplyDelete
  3. Mbak Dyah dan Bung Hurek, kalau mau lebih mendalami sejarah peranakan Tionghoa di Jawa Timur khususnya Surabaya, yang bahkan menjadi Adipati sejak abad ke-18, bacalah paper2 terbitan Claudine Salmon. Misalnya: http://surabayatempodulu.com/2011/10/claudine-salmon/

    ReplyDelete