15 December 2012

Teliti sebelum jabat tangan wanita

Jumat sore  (14/12), saya berbincang akrab dengan Mabel Garcia, guru musik, paduan suara, orkestra, sekaligus soprano jempolan asal Argentina, yang mengajar di Sekolah Ciputra Surabaya. Orangnya hangat, cerdas, asyik diajak ngobrol berlama-lama, apalagi untuk urusan musik klasik. Dunia terasa sangat indah ketika kita menikmati suara Bu Mabel yang tinggi melengking.

Dari Sekolah Ciputra, masih di Surabaya Barat yang elite, Citraland, saya tertarik melihat kursus bahasa Mandarin. Asyik juga kalau mampir. Bukankah selama ini saya banyak berkutat dengan liputan tentang Tionghoa? Maka, saya pun mampir ke tempat kursus itu.

Resepsionisnya Jawa, wanita, kira-kira 35 tahun, kelihatan ramah. Saya pun berbasa-basi seperti ketika berkunjung ke komunitas Tionghoa.

"Ni hao?" kata saya seraya menyorongkan tangan kanan, hendak menjabat tangan si resepsionis Zhong Wen itu.

Si wanita diam saja. Feeling saya pun tak enak. Pasti ada yang tidak beres. "Anda kan bukan muhrim saya! Jadi, tidak boleh jabat tangan saya!" kata wanita itu agak ketus.

"Maaf, Mbak, maaf... maaf," balas saya.

Mood saya yang sebelumnya gembira, asyik, setelah dapat energi dari wanita Argentina langsung anjlok seketika. Saya kemudian dikasih ceramah singkat tentang teologi: soal muhrim dan sebagainya. Wow, benar-benar di luar dugaan saya.

Sudah bertahun-tahun saya mengunjungi markas komunitas Tionghoa, sekolah Tionghoa, kursus bahasa Tionghoa, Masjid Cheng Hoo yang punya pengusaha muslim Tionghoa, dan berbagai tempat yang ada kaitannya dengan Tionghoa. Tapi baru kali ini saya mengalami 'kecelakaan' yang sama sekali di luar prediksi saya.

Melihat si wanita itu yang tak pakai jilbab, busana biasa, kerja di kursus Tionghoa, yang pakai guru-guru asal Tiongkok... saya sama sekali tidak mengira kalau bakal keluar kata-kata MUHRIM dan sejenisnya.

Beda kalau kita berada di komunitas PKS atau Hizbut Tahrir atau komunitas muslim tertentu yang memang sangat tegas melarang pria bersalaman dengan wanita yang bukan muhrim. Biasanya, seperti yang biasa saya alami, wanita-wanita itu pakai jilbab yang khas dengan bawahan yang juga bukan celana jins, tertutup hingga kaki. Itu sudah jelas tak boleh berjabat tangan atau bersentuhan badan.

Tapi si resepsionis ini? Hehehe.... Saya geli sendiri, tapi juga salah tingkah. Dan malu sendiri. Maka, mood bicara saya hilang. Saya pun minta pamit cepat-cepat meskipun tadinya ingin bicaranya lebih banyak.

Begitulah. Soal jabat tangan laki-perempuan ini memang kembali ke masing-masing individu dan keyakinan pribadi si wanita. Bisa berjabat tangan... atau ditolak seperti yang dilakukan resepsionis kursus bahasa Tionghoa itu.

Yang pakai jilbab, aktivis organisasi Islam tertentu, kadang-kadang malah jauh lebih moderat ketimbang wanita yang tak pakai jilbab, bahkan bekerja di lembaga yang jelas-jelas punya kultur dan religi khas ala Tiongkok. Meskipun sempat salah tingkah dan malu, saya bersyukur mendapat hikmah dari pengalaman sore itu.

Bahwa saya harus lebih hati-hati, teliti, bijaksana, tidak sok akrab... ketika hendak bersalaman dengan wanita yang belum saya kenal. Bisa dikuliahi dogmatika agama dan sebagainya.

Bahwa jabat tangan yang sering kita anggap sebagai simbol keakraban, kehangatan, bisa saja dipandang negatif oleh lawan jenis.

Bahwa lebih baik tidak menyorongkan tangan lebih dulu pada wanita yang belum saya kenal.

Bahwa saya harus paham dan maklum kalau banyak ulama berpendapat jabatan tangan laki-perempuan yang bukan muhrim itu haram hukumnya.

10 comments:

  1. Ya memang kita harus hati2. Saya pun pernah mengalami hal itu. Selayaknya mereka yang tidak mau bersalaman bisa menolak dengan halus, karena tidak semua orang paham akan kebiasaan ini, yang nota bene BARU diimpor dari Arab 20 tahun . Kalau budaya Indonesia yang asli, di Jawa, orang yang baru pertama berkenalan pun boleh bersalaman dengan menyentuh ujung jari. Itu karena budaya kita menganggap tanggung jawab itu ada di diri sang pria yang mampu berpikir secara etis. Sedangkan di budaya Arab yang teramat sangat patriarkal, yang terbebani ialah sang perempuan, untuk berpakaian, bertingkah laku dll. agar tidak sedikitpun menstimulasi kaum pria yang sangat mudah "terangsang".

    Menolak dengan halus mudah kok, tidak usah ketus: "Maaf Mas, saya tidak bersalaman dengan orang lain selain suami atau saudara saya sendiri." Kalau yang ketus itu ialah orang2 yang sok suci.

    Maka itu, Mas Hurek tidak usah malu. Yang patut malu ialah perempuan itu sendiri, yang sudah mengimplementasikan budaya impor (ARAB) dengan kaku, dan merasa sok suci.

    ReplyDelete
  2. hhehehe... ini masalah kebiasaan yg berbalut tradisi serta agama seseorang. tiap2 orang punya prinsip sendiri2 yg perlu dihormati. kalau wanita gak mau jabat tangan, bukan krn sombong tapi masalah iman atau akidah.

    ReplyDelete
  3. Ada artikel tentang HARAMNYA jabat tangan ini:

    http://yusuf-istiqomah.blogspot.com/2010/08/berjabat-tangan-dengan-lawan-jenis-yang.html

    ReplyDelete
  4. bisa dikatakan masalah jabat tangan ini sebagai CLASH OF CIVILISATION, benturan peradaban yg berbeda2. Ada budaya yg menolak, bahkan mengharamkan jabat tangan, sementara yg lain boleh, bahkan bagus. Di sinilah perlunya sensitivitas bersama. Saya sendiri sering mengalami kejadian kayak begini... dan no problem!!!

    ReplyDelete
  5. bung Lambertus, sharing ini bagus jadi pelajaran untuk orang NTT yg baru datang ke Jawa, Sumatera, Sulawesi dsb untuk tanggap terhadap tradisi dan agama Islam. Kita di NTT sering tidak tahu hal2 kecil tapi sangat mendasar macam ini.
    Selama ini pedoman saya saya pegang: sebaiknya tidak menjabat tangan wanita yg pakai jilbab karena ada kemungkinan ditolak. Lain halnya kalo wanita itu kelihatan welcome dan mau membalas jabatan tangan kita. Tapi saya agak terkejut karena yg diceritakan bung ini wanita yg tidak pakai jilbab. Sekian.

    ReplyDelete
  6. Saya asal NTT juga, tinggal di Yogya, pernah mengalami kejadian kayak gitu, tapi biasa aja. Cuma karena kitorang kurang tau etika n budaya setempat. Sekarang saya sudah bisa mengatasi masalah itu, lihat sikon di lapangan. Oke????

    ReplyDelete
  7. no problem. ini masalah kecil saja yg biasa di masyarakat kita. yg penting orang NTT bisa menyesuaikan diri di lingkungan baru yg mayoritas muslim.

    ReplyDelete
  8. bung Lambertus, saya juga pernah mengalami hal demikian ketika itu saya sedang bertransaksi bisnis dengan seorang ibu dan putranya, kejadian itu di sebuah Bank swasta nasional setelah bertransaksi selesai ( sy adalah pembeli) sy mengulurkan tangan menyalami ibu tsb sebagai tanda deal, namun ibu tsb tidak merespon sama sekali, saya menjadi sangat malu dihadapan orang banyak,untunglah putra ibu tsb tanggap dgn mengulurkan tanganya untuk kejadian tsb, dan ini merupakan pengalaman buat saya tuk selanjutnya lebih mengerti. Terima kasih.

    ReplyDelete
  9. setuju! org flores harus sangat hatihati dan tidak sembarangan menyodorkan tangan kpd wanita di jawa, khususnya yg memakai jilbab krn byk yg mengaramkannya. lihat dulu sikon dan baca situasinya daripada malu.

    ReplyDelete
  10. kalo di aceh mungkin ditangkap sama polisi syariah hehehe

    ReplyDelete