23 December 2012

Suster Magdalena Pardosi - Griya Usila Santo Yosef Surabaya



Oleh Lambertus Hurek

Menjelang Natal ini, Griya Usila Santo Yosef, Jl Jelidro II/33, Sambikerep, Surabaya, setiap hari didatangi ratusan tamu dari berbagai komunitas. Mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan oma-opa penghuni panti wreda milik Kongregasi Suster Santo Yosef (KSSY) itu.


Dipimpin Suster Magdalena Pardosi KSSY (50), para oma-opa ini menyambut para tamu dari berbagai komunitas dan gereja. Berikut petikan percakapan dengan Suster Magdalena Pardosi di sela kunjungan beberapa komunitas gereja dan masyarakat Tionghoa, pekan lalu.

Mengapa KSSY datang ke Surabaya untuk mendirikan dan mengelola graha lansia?

Kota sebesar Surabaya sangat membutuhkan rumah yang representatif untuk para lansia. Tidak hanya tempat penampungan, tapi juga cinta kasih. Kalau hanya sekadar bikin rumah atau panti jompo mungkin tidak sulit. Tapi bagaimana kita melayani para oma-opa ini dengan hati. Membuat mereka bahagia di akhir hidup mereka. Kita kondisikan agar mereka ini seakan-akan tinggal di lingkungan keluarga sendiri.

Anda rupanya menangkap persoalan lansia di kota-kota besar seperti Surabaya?

Betul. Manusia itu ketika baru lahir disambut dengan bahagia oleh orang tuanya dan keluarga besarnya. Tapi, setelah tidak produktif, usia lanjut, kena stroke dan sebagainya, sering kali kurang mendapat perhatian, bahkan dari keluarganya sendiri. Anak-anaknya mungkin terlalu sibuk, tidak punya waktu untuk mengurusi orang tuanya sendiri. Ada anak yang tinggal di luar negeri, sementara ayah atau ibunya tinggal sendiri di Surabaya. Siapa yang harus mengurus? Siapa yang perhatikan mereka?

Apa yang membuat Anda dan para suster KSSY setia mendampingi para lansia ini?

Dalam berbagai pelayanan atau karya sosial, kami punya moto Imago Dei atau Citra Allah. Bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan sendiri dengan sempurna. Karena itu, tidak boleh ada manusia yang dikucilkan atau disingkirkan orang lain. Semua manusia berhak mendapat perhatian dan kasih sayang. Nah, di sini kami berusaha memberikan cinta kasih kepada para oma-opa itu.

Berapa penghuni panti lansia ini?

Sekarang ada 98 orang. Jumlah penghuni naik turun, pernah mencapai 150 orang. Ada yang meninggal dunia, ada yang kembali ke keluarganya. Dan, biasanya selalu ada p enghuni baru yang datang.

Oma-opa ini datang dari mana?

Surabaya, Sidoarjo, Jember, Bondowoso, Jakarta, dan berbagai kota di Indonesia. Ada yang datang sendiri, ada yang dititipkan keluarganya. Karena itu, karakter mereka pun macam-macam. Tapi kami berusaha agar mereka betah, at home. Mereka semua kami anggap keluarga sendiri. Itu yang selalu saya tekankan kepada para karyawan di sini.

Apa saja fasilitas untuk para penghuni?

Kami punya 16 kamar, tiap kamarnya untuk enam. Kemudian delapan kamar masing-masing untuk empat) orang. Kami juga punya ruang makan dan kapel. Juga ruang poli kesehatan umum, poli kesehatan gigi. Ada salon untuk perawatan dan potong rambut.

Ada pemeriksaan kesehatan rutin?

Pasti ada. Setiap hari Selasa para oma-opa ini diperiksa atau konsultasi kesehata dengan dokter. Pemeriksaan kesehatan jiwa setiap hari Rabu. Sementara perawatan rambut (cuci, potong, semir) dan perawatan kuku sebulan sekali oleh ibu-ibu Legio Maria.

Apa kesulitan merawat para lansia ini?

Memang tidak mudah merawat mereka karena faktor usia. Mereka bertingkah laku seperti anak-anak, minta diperhatikan secara khusus. Rasa egoisme tinggi. Karena itu, harus ada pendekatan khusus untuk oma-opa ini.

Misalnya?

Di sini semua penghuni wajib makan bersama di ruang makan. Tidak boleh makan sendiri-sendiri di kamar kamar tidurnya. Puji Tuhan, ternyata dampaknya sangat positif. Bukan saja kamar mereka lebih bersih, keegoisan mereka semakin berkurang. Mereka mau memperhatikan dan saling membantu temannya yang mengalami kesulitan saat menyuap makanan. Kami bangga karena saat ini mereka tidak merasa sebagai orang-orang titipan, tetapi mendapat teman dan keluarga-keluarga baru. Suatu ketika ada penghuni yang dijemput anaknya dan diajak tinggal bersama mereka. Dia tidak mau dan menangis agar tetap tinggal di sini.

Kami selalu terus berusaha memberikan kasih dan pelayanan yang terbaik bagi mereka, karena hanya itulah yang kami punya. Dan bagaimana mencari cara agar mereka selalu kerasan dan menjadi bagian dari keluarga besar. (*)




Dimulai dari Rumah Kontrakan

KONGREGASI Suster Santo Yosef (KSSY) mulai merintis pelayanan di Kota Surabaya sejak 1993. Saat itu para suster yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, itu memilih kawasan Tandes untuk mengawali karya sosialnya. Saat itu kawasan Surabaya Barat memang masih cenderung tertinggal dibandingkan kawasan lain.

Selama dua tahun para biarawati ini tinggal di rumah kontrakan di Jalan Candi Lontar Kidul, tak jauh dari Pastoran Paroki Santo Stefanus, Manukan. Sesuai dengan visi KSSY, pada 1995 mereka membuka rumah singgah di Jalan Jelidro, Lontar, Sambikerep, Surabaya. Rumah yang sederhana itu juga menjadi biara mereka.

"Kami kemudian membuka tempat penitipan anak (TPA) karena waktu itu TPA belum banyak. Sementara di pihak lain banyak keluarga yang membutuhkannya," jelas Suster Magdalena.

Dalam perkembangan, para suster KSSY melihat ada kebutuhan akan sebuah rumah yang representatif untuk warga lanjut usia (lansia). Panti wreda, panti jompo, griya lansia, atau apa pun namanya, dinilai sangat penting di kota sebesar Surabaya. Semakin sibuk warga kota, perhatian untuk para lansia semakin berkurang. Orang kota makin lama makin tak punya waktu untuk mengurusi orang tua, oma-opa, atau keluarga sendiri.

Maka, dibentuklah sebuah tim kecil pembangunan griya usila (usia lanjut). Upaya penggalangan dana dilakukan di berbagai kota. Baru pada Maret 2008, tepatnya pada Hari Raya Santo Yosef, diadakan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Griya Usila Santo Yosef. Upacara dipimpin langsung Uskup Surabaya Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono.

Setahun kemudian, 22 Maret 2009, gedung tahap satu, diresmikan Uskup Sutikno Wisaksono, sekaligus pemberkatan atas dimulainya pembangunan gedung tahap kedua. Menurut rencana, pembangunan akan dilanjutkan agar kapasitas griya lansia ini lebih optimal.

1 comment:

  1. Apakah ada batasan umur untuk penghuni panti jompo? Berapa biayanya setiap bulannya? Terima kasih atas perhatiannya.

    ReplyDelete