30 December 2012

Renovasi gereja yang tak berujung


 Miris juga melihat kondisi gereja katolik di Stasi Mawa, Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT. Sudah lima tahun ini umat berencana menyelesaikan bangunan yang tinggal separo tapi belum ada kemajuan.

Kemarin saya kembali memotret gereja kecil di pinggir jalan itu. Kondisinya hampir sama dengan tiga tahun lalu. Mungkin 10 tahun lagi gereja itu belum rampung karena tidak ada dana.

Saya heran mengapa Pemkab Lembata tidak tergerak memberikan bantuan yang sebetulnya tidak besar. Mengapa kementerian agama tidak bantu? Keuskupan Larantuka juga sulit diharapkan.

Gereja Mawa hanyalah satu contoh kecil betapa sulitnya membangun gereja di Lembata. Bukan karena sulit izin seperti di sejumlah kawasan di Jawa, tapi kurang... uang. Begitu banyak gereja sederhana, kelas RSS, di Lembata yang baru selesai setelah 10 tahun. Pernah ada yang sampai 20 tahun.

Bahkan, ketua panitianya ganti beberapa kali karena ada yang meninggal. "Pokoknya, renovasi gereja di sini tidak pakai target. Kalau ada uang baru jalan. Tidak ada uang ya kita tunggu dulu," kata seorang tokoh desa.

Toh, misa atau kebaktian atau kegiatan liturgi yang lain tetap berjalan dengan lancar. Stasi Mawa bahkan dikenal sangat dinamis dan kompak dalam kegiatan gerejawi.

Saya heran, Mawa yang sering dilewati bupati, wakil bupati, sering dibahas di internet oleh turis Eropa ternyata tidak bisa merampungkan gerejanya. Sebagai perbandingan, gereja mungil itu kalau di Surabaya paling banter cuma butuh waktu 10 hari. Hehehe...

3 comments:

  1. semangat BERDIKARI itu patut dipujikan krn umat tidak mau mengemis dana kpd pemerintah atau pengusaha.

    ReplyDelete
  2. Seandainya Keuskupan setempat minta bantuan Keuskupan di kota besar seperti Surabaya, Jakarta, untuk menghimbau umatnya agar membantu ...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali! Itulah yg saya harapkan dari dulu. Tapi repot juga karena Keuskupan Larantuka punya ratusan gereja yg kondisinya sama buruknya.

      Beda dengan di Jawa yang satu paroki hanya punya satu gereja besar, di Flores setiap paroki punya sekitar 10-20 stasi yg gerejanya besar2. Tidak ada gereja pusat paroki kayak di Jawa. Konsep paroki di Flores dan di Jawa memang sangat berbeda karena di Flores hampir semua orang beragama Katolik. Di Jawa, umat Katolik itu diaspora, sangat minoritas, dan tersebar di berbagai kampung.

      Delete