13 December 2012

Konser 16 tahun Surabaya Symphony Orchestra


Konser Natal Surabaya Symphony Orchestra (SSO) di ballroom Hotel Shangri-La, Surabaya, Selasa (11/12/2012), memiliki makna historis bagi Suwadji Widjaja. Sebagai salah satu pendiri SSO, pengusaha Tionghoa ini mengaku bersyukur SSO bisa bertahan hingga 16 tahun.

Menurut Suwadji, SSO resmi di-launching pada konser pertama di Hotel Westin (sekarang JW Marriot) pada 11 Desember 1996. Saat itu banyak orang skeptis akan masa depan orkestra yang dipimpin Solomon Tong itu.

"Ada yang meramal paling-paling hanya bertahan satu dua tahun saja. Ada yang bilang konser lima kali saja sudah bagus," tutur Suwadji usai menyerahkan karangan bunga kepada sahabatnya, Solomon Tong.

Singkatnya, hampir tidak ada seorang pengusaha pun yang optimistis dengan SSO. Maklum, di Indonesia ini sangat sulit mempertahankan keberadaan sebuah orkestra simfoni yang memang sangat sepi dukungan sponsor. Padahal, biaya produksi dan biaya operasional sangat besar.

Situasi semakin sulit karena pada 1997 terjadi krisis moneter, yang berlanjut ke krisis politik. Nilai mata uang rupiah terjun bebas dari Rp 2.500 ke Rp 15.000 per dolar Amerika. SSO yang baru berusia satu tahun pun harus mengalami pukulan berat. Namun, orkestra klasik ini masih bisa menggelar konser di hotel berbintang lima.

"Semua ini karena pimpinan dan berkat Tuhan semata-mata. Yah, bila kita menoleh ke belakang, jalan yang ditempuh SSO ini tidak rata dan berliku-liku," kenangnya.

Karena itu, Suwadji mengaku seakan tak percaya bisa menyaksikan konser ke-76 SSO di Hotel Shangri-La. Ini berarti dalam setahun SSO rata-rata menggelar lima kali konser setiap tahun. Frekuensi konser yang layak dibanggakan untuk ukuran Indonesia.

"Peristiwa ini patut kita peringati dan rayakan. Mari kita berjuang lebih keras untuk menyukseskan misi agung SSO sebagai satu-satunya symphony orchestra yang permanen dan punya agenda konser tetap," pintanya.

Tak hanya rutin menggelar konser, menurut Suwadji, SSO juga telah membina ratusan, bahkan ribuan murid selama 16 tahun. Sebagian di antaranya diterima di konservatorium dan perguruan tinggi musik di Eropa, Australia, Kanada, hingga Amerika. Ada yang kembali ke tanah air untuk mendedikasikan dirinya pada pengajaran musik.

"Dulu, 16 tahun lalu, pemain biola di Surabaya hanya sekitar 35 orang, termasuk pemain yunior. Sekarang, setelah SSO berdiri, kita punya pemain biola yang sangat banyak. Sekitar seribu anak-anak sedang belajar main biola di berbagai sekolah musik di Surabaya," katanya.

Ke depan, Suwadji Widjaja dan Solomon Tong berencana mendirikan sebuah conservatory kelas dunia di Surabaya. Dengan begitu, anak-anak Surabaya tidak perlu jauh-jauh belajar musik ke luar negeri yang membutuhkan biaya besar. "Cukup belajar di Surabaya saja karena kualitasnya dibuat setara dengan di luar negeri," katanya.

6 comments:

  1. Liputan Anda tentang SSO selalu saya nantikan. Trims telah muncul kembali setelah beberapa kali absen.

    ReplyDelete
  2. pak solomon tong ini termasuk manusia langka yg punya dedikasi dan passion thd musik klasik. beliau menekuni hobi musiknya sejak muda hingga lanjut usia. semoga pak solomon tetap sehat, kuat, dan terus mengajar musik di surabaya,

    ReplyDelete
  3. Salut, salut, dan salut.

    ReplyDelete
  4. SSO PERLU LEBIH DIPERKENALKAN LAGI KEPADA MASYARAKAT LUAS AGAR SEGMEN PASARNYA TIDAK TERBATAS ITU2 SAJA.

    ReplyDelete
  5. meskipun sudah 16 tahun, SSO gak bisa ngetop kayak Twilite Orchestra di Jakarta krn SSO itu kurang pop. Komposisi2nya terlalu berat shg gak bisa merangkul masyarakat banyak. Mungkin Pak Slomon dkk perlu strategi khusus agar SSO bisa diterima secara luas. Dan jangan lupa harus ada kaderisasi mengingat Pak Solomon sudah sangat sepuh. Butuh generasi muda yg mau habis2an untuk musik klasik khususnya symphony orchestra.

    ReplyDelete
  6. saya lihat SSO sering memaksakan anak2 kecil untuk tampil di konser2. itu yg membuat bobot konser SSO tidak istimewa. beda dg orchestra2 di luar negeri yg 100% profesional.

    ReplyDelete