16 December 2012

Budaya minum tuak di Lembata

Saya baru saja membeli sebotol legen (1.500 ml) di kawasan Ngagel. Harganya Rp 5.000 karena sudah langganan. Yang belum langganan, orang baru, bisa 6.000 bahkan 7.500. Asyik banget minum legen, campur es batu, apalagi saat Surabaya panas terik.
"Legen saya ini asli dari Tuban. Kalau tidak percaya, lihat KTP saya," kata Mas Joko, penjual legen yang asli Tuban. Di mana-mana semua penjual legen mendaku cairan nira lontar ini asli Tuban, tidak dicampur dengan zat-zat lain, yang mengurangi kualitas.
Benarkah legen-legen yang dijual di Surabaya murni dari Tuban? Tak banyak yang percaya, termasuk saya. Sebab, para pedagang kaki lima ini memang sudah lama dicurigai masyarakat karena ulah beberapa oknum PKL yang nakal.
Orang NTT (Nusa Tenggara Timur), entah Timor, Sabu, Rote, Sumba, Flores, Alor, tak bisa dipisahkan dari kultur legen. Orang NTT menyebut legen ini sebagai tuak manis. Tuak yang belum dikasih campuran ragi sehingga alkoholnya belum ada. Kalau sudah jadi tuak (tanpa embel-embel manis), maka si nira ini bisa memabukkan kalau diminum terlalu banyak.
Tuak benar-benar menjadi minuman adat, pusaka warisan nenek moyang, di NTT, khususnya di Flores Timur, khususnya lagi di Lembata. Tak ada pesta adat di kampung tanpa tuak (manis dan tuak tak manis). Orang bisa betah duduk berlama-lama di tempat pesta, bicara panjang lebar, kalau ada doping tuaknya. Makin lama suasana pembicaraan makin tinggi karena tuak yang ditenggak makin banyak.
Sebelum tahun 2000, khususnya 1980-an, tuak bahkan menjadi minuman sehari-hari pengganti air putih di berbagai kampung di Ile Ape, Lembata. Khususnya kampung-kampung lama yang jauh dari pantai. Kalau haus ya minum tuak. Gampang sekali mencari tuak karena sebagian besar laki-laki di Lewotanah sana punya rutinitas 'iris tuak' pagi dan sore. 
Maka, stok tuak selalu berlebih sehingga dibikin cuka. Ada juga yang nekat membuat arak. Caranya sederhana: tuak itu disuling (destilasi) sehingga kadar air berkurang drastis, alkoholnya meningkat tajam. Orang Tionghoa menyebutnya CIU. Arak alias ciu ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Beda dengan tuak biasa, khususnya tuak manis, yang jadi makanan sehari-hari orang Sabu, Rote, Sawu, dan pulau-pulau kecil di selatan NTT.
Mengapa orang Lembata di pelosok gunung sangat doyan minum tuak dan legen? Memangnya suka mabuk? Tidak juga. Persoalan utama adalah sulit air. Air minum harus diambil dari sumur yang jaraknya 5-8 kilometer dari kampung lama yang beratap alang-alang, daun kelapa, atau daun siwalan itu. 
Sudah jauh, orang harus mendaki dengan kemiringan yang tajam. Capek luar biasa, sementara air yang bisa dijunjung atau dipikul sangat sedikit. Itu sebabnya warga yang tinggal di lereng gunung atau kampung lama ini mengandalkan tuak sebagai penawar haus (dan lapar). Ingat, tuak manis itu mengandung fruktosa alias gula buah yang bisa bikin kenyang.
Setelah kampung lama ini dipindahkan ke dekat pantai pada akhir 1960-an, orang tetap saja minum tuak tapi tak sebanyak orang-orang di kampung lama. Sumur jadi lebih dekat, tak perlu lagi mengandalkan tuak untuk pengganti air minum. Tapi tuak tetap menjadi bagian inheren dari pesta-pesta adat Lamaholot seperti penikahan, kematian, sambut baru, dan sebagainya.
Namun, seiring kemajuan pendidikan, tak ada lagi orang kampung yang tidak sekolah (meski hanya SD), kultur tuak makin lama makin merosot. Mengapa? Sebagian besar anak muda meninggalkan kampung untuk merantau ke Malaysia Timur atau melanjutkan sekolah ke kota-kota. Akibatnya, makin sedikit orang yang setiap memanjat pohon siwalan (lontar) pagi dan sore untuk menyadap nira siwalan yang manis itu. 
Setelah tahun 2006, begitu hasil pengamatan sepintas saya, jumlah orang di kampung saya yang rutin memanjat lontar tak sampai tujuh orang. Beda dengan tahun 1990-an yang mencapai puluhan, bahkan 100 orang. Maka, tuak atau legen pun kini menjadi komoditas langka yang punya nilai sangat tinggi. Kalau dulu orang bebas minum tuak tanpa bayar, gratis segratis-gratisnya, sekarang harus bayar dulu. 
Kalau punya hajatan pun kita harus membeli tuak dalam jumlah besar. Tak ada lagi sumbangan tuak dari mana-mana seperti dulu. Dan ini membuat oran kampung yang bekerja sebagai pemanjat dan penyadap tuak bisa hidup makmur. Mereka bisa membeli berbagai perabotan kelas atas, bahkan punya mobil. Kehidupannya lebih sejahtera ketimbang pegawai negeri sipil atau karyawan perusahaan. 

No comments:

Post a Comment