05 November 2012

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Cagar Budaya



Oleh LAMBERTUS HUREK

Surabaya baru saja menjadi tuan rumah Temu Pusaka Indonesia 2012. Selama empat hari sekitar 200 peserta dari berbagai daerah di tanah air, termasuk 48 kepala daerah, mengunjungi sejumlah bangunan cagar budaya dan kampung-kampung di Surabaya yang dianggap khas dan unik.

Para peserta mengaku kagum dengan komitmen Tri Rismaharini, wali kota Surabaya, untuk merawat aneka pusaka (heritage) sembari terus membangun Kota Pahlawan ini menjadi lebih maju dan modern. Bu Risma, sapaan akrab Tri Rismaharini, pun menjadi pusat perhatian selama ajang TPI ini digelar.

"Kita bisa belajar banyak dari Bu Risma yang sudah berhasil dalam menata Kota Surabaya. Sehingga sekarang ini Surabaya sangat layak disebut sebagai salah satu kota pusaka di Indonesia," kata I Gede Ardika, ketua BPPI, yang juga menteri pariwisata di era Presiden KH Abdurrahman Wahid, dalam diskusi bersama Bu Risma di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, pekan lalu.

Gede Ardika kemudian memberikan penghargaan khusus kepada Bu Wali yang energetik ini. Sebelumnya, Bu Risma menyampaikan presentase disusul diskusi bersama peserta TPI 2012. Saking banyaknya pertanyaan, diskusi tentang cagar budaya dan pengembangan Kota Surabaya ini pun sengaja diperpanjang Risma. "Kalau masih belum puas, silakan kontak saya lewat e-mail," kata Bu Risma sembari menyebut alamat surat elektroniknya.

Berikut petikan percakapan dengan Wali Kota Surabaya TRI RISMAHARINI:

Kalau boleh tahu, apa komitmen Anda untuk melestarikan heritage di Surabaya?

Begini ya. Jauh sebelum saya menjadi wali kota, saya sudah punya concern pada bangunan-bangunan cagar budaya yang ada di Surabaya. Meskipun saya berada di dalam (pemerintahan), saya tidak setuju dengan rencana penggusuran bangunan yang punya nilai sejarah. Tapi, karena waktu itu belum reformasi, ya, saya tidak bisa turun unjuk melakukan unjuk rasa.

Lantas?

Saya minta bantuan teman-teman yang berada di luar pemerintahan seperti LSM atau dewan seperti Pak Sabrot (Malioboro, mantan anggota DPRD Surabaya) untuk melakukan koordinasi agar gedung itu jangan sampai hilang. Alhamdulillah, sampai sekarang gedung pers itu masih berdiri di Surabaya.

Bagaimana Pemkot Surabaya mengelola heritage (warisan budaya) di tengah modernisasi sekarang?

Mengelola heritage di kota besar seperti Surabaya ini memang berat. Tantangannya banyak. Kenapa? Karena ada kepentingan ekonomi, kepentingan masyarakat, dan kepentingan untuk melestarikannya. Nah, karena tarikan kepentingan-kepentingan itu, maka pengelolaan bangunan cagar budaya di Surabaya menjadi tersendat. Jika memprioritaskan kepentingan ekonomi, maka akan berbenturan dengan kepentingan masyarakat. Sedangkan kami dari pemkot tentu ingin melestarikan semua bangunan cagar budaya.

Sering ada keluhan bahwa pajak yang harus ditanggung pemilik bangunan pusaka itu terlalu berat?

Nah, maka kami memberikan insentif untuk mempermudah melakukan konservasi bangunan-bangunan cagar budaya yang dimiliki perorangan. Pemkot memberikan keringanan PBB (pajak bumi dan bangunan). Kami sudah menuangkan aturan tersebut melalui Perda Nomor 10 Tahun 2012 tentang PBB.

Apa lagi yang dilakukan pemkot?

Kami melakukan Revitalisasi Kalimas. Ini penting untuk mengenang kembali sejarah Kalimas sebagai salah satu saksi perkembangan Kota Surabaya. Pemkot Surabaya telah membangun berbagai taman di pinggir Kalimas. Semenjak ada taman, banyak warga yang berkumpul di situ. Secara tidak langsung, warga bisa mengenang kembali sejarah Kalimas di masa lalu.

Bagaimana dengan revitalisasi kota lama?

Saya sudah punya konsep pengembangan kota lama di kawasan Surabaya Utara. Di sana ada kampung pecinan, kampung Arab, dengan bangunan-bangunan tua yang sangat indah. Tapi memang tidak gampang karena bangunan-bangunan yang ada di sana sebagian besar sudah berubah fungsi. Saya sudah menghubungi para pemilik bangunan dan ahli warisnya dan, alhamdulillah, mereka sangat mendukung rencana pemkot. Nantinya Jl Karet dan sekitarnya akan kita buat menjadi Kampun Pecinan.

Yang agak repot di Jl Panggung, tidak jauh dari Kembang Jepun, karena sebagian besar bangunan sudah rusak atau keropos. Maklum, bangunan-bangunan lama di situ terbuat dari kayu.

Lantas, apa kiat sukses Anda mengajak warga Surabaya peduli lingkungan, kebersihan, maupun heritage?

Harus sering turun ke lapangan. Kalau hanya duduk di kantor saja, ya, pasti tidak akan bisa. Kita harus mengajak warga untuk mau berubah dan merasa memiliki kota. Sebab, kota sebagai tempat tinggal kita ini merupakan rumah kita yang harus dirawat bersama-sama. (*)


Jadi Guru Sekolah Kebangsaan

Bagi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, cagar budaya itu tidak sekadar gedung tua yang punya nilai sejarah tinggi. Yang tak kalah penting adalah menanamkan nilai-nilai sejarah dan kepahlawanan kepada generasi muda. Karena itulah, orang nomor satu di Surabaya yang akrab disapa Risma ini getol memperkenalkan berbagai bangunan cagar budaya kepada para pelajar.

Caranya dengan mengadakan kegiatan Sekolah Kebangsaan menjelang peringatan Hari Pahlawan. Diikuti pelajar dari berbagai sekolah, Risma terjun langsung sebagai pengajar atau guru sejarah. Dia membawa anak-anak muda itu mengunjungi gedung-gedung bersejarah di Surabaya seperti rumah HOS Tjokroaminoto (tempat kos Bung Karno) dan rumah tempat lahir Bung Karno di Jl Peneleh.

Selain itu, selama satu pekan ini para pelajar diajak mengunjungi Museum WR Supratman, markas tentara pelajar, Museum Resolusi Jihad di Jl Bubutan, rumah Roeslan Abdulgani Jl Plampitan, dan markas Polisi Istimewa (cikal bakal Brimob) yang sekarang dipakai sebagai gedung SMAK St Louis. Apakah wali kota perempuan pertama di Surabaya ini hafal sejarah gedung-gedung itu?

“Nggak hafal. Makanya, sebelum menjadi guru di Sekolah Kebangsaan, saya harus membaca dulu sejarahnya biar bisa cerita di depan anak-anak sekolah. Alhamdulillah, anak-anak itu tertarik dengan bangunan-bangunan bersejarah itu,” kata ibu dua anak ini seraya tersenyum.

Saat memandu Sekolah Kebangsaan di rumah HOS Tjokroaminoto, pahlawan nasional, Risma mengingatkan kepada para pelajar betapa susahnya Pak Tjokro dan para perintis kemerdekaan berjuang di masa lalu. Kondisinya serba terbatas. Bung Karno indekos di rumah Pak Tjokro, tidur di atas loteng yang gelap.

“Tapi siapa sangka di rumah yang sederhana ini HOS Tjokroaminoto bisa menggerakkan masyarakat untuk melawan penjajah,” katanya.

Sebagai Kota Pahlawan, Bu Wali berharap warga Surabaya bisa meneruskan semangat kepahlawanan yang diperlihatkan arek-arek Suroboyo dalam peristiwa 10 November 1945. Meski tantangan zaman sekarang sudah berbeda dengan masa perjuangan dulu, Risma percaya nilai-nilai kepahlawanan, egaliter, merakyat, gotong-royong akan tetap relevan dari masa ke masa.

Dengan semangat itulah, Risma optimistis bisa membangun Surabaya menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan karakter khas arek-arek Suroboyo. “Warga Surabaya itu gampang diajak untuk kerja bakti, penghijauan, memproses sampah, membuat taman, asalkan pemimpinnya mau turun ke lapangan,” tegasnya.

3 comments:

  1. halo mas, kalo boleh, saya mau minta alamat email bu risma boleh kah?
    saya ingin bertanya kepada beliau mengenai pengelolaan kebun binatang surabaya yang sempat dilombakan. tapi kemudian lombanya batal diselenggarakan dan tidak ada kejelasan pengembalian dana pendaftaran. terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Saya pingin ini uneg2 bisa sampai bu Risma tentang jasa parkir yg ngawurdan tdk sragam ...tolong di perhatikan jangan memeras rakyat .tertipkan pakir dan kemana itu uangnya

    ReplyDelete